NovelToon NovelToon
NAMA LAIN DIBIBIRNYA

NAMA LAIN DIBIBIRNYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mamany Ali

Raya tidak menyangka kalau Suami yang sudah sepuluh tahun menikah dengannya , jatuh cinta lagi dengan wanita lain. Andini adalah nama wanita itu. Saat Bagas suami Raya mengaku mencintai Andini. Dunia Raya terasa runtuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamany Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta dan kebodohan

Andini bergelut manja dilengan Bagas. Wangi parfumnya bercampur dengan bau parkiran basement yang pengap. Beda jauh dengan sabun anak anak yang setiap pagi dicium Bagas.

  “ Kenapa kamu tidak balas pesanku mas? Padahal aku sudah menunggu kamu dari tadi. Bukankah kita baru saja memulai hubungan yang serius.”

 Kalimat Serius itu begitu menusuk telinga Bagas. Serius. Kata yang sama diucapkannya ke Raya sepuluh tahun yang lalu didepan penghulu.

  Bagas mau menarik tangannya, tapi jari jari tangan Andini yang lentik dengan kuku yang merah itu, sudah mengunci lengannya. Kuat. Dan terasa tidak akan lepas lagi.

  “ Din, Aku lagi nggak enak badan,” bohong Bagas. Suaranya serak. Bekas nangis dimeja makan belum hilang.

  Andini mengangkat dagu Bagas. Memaksa mata mereka bertemu. Mata Andini coklat terang, sedangkan mata Raya coklat dan selalu menyimpan rasa lelah.

  “ Sakit, atau karena ada wanita lain selain aku, misalnya istrimu bikin ulah lagi?”

  Kata istrimu itu diucapkan Andini dengan enteng, seperti menyebut nama orang asing yang merusak keharmonisan mereka. Bukan Raya, bukan mama Galang dan Gilang. Bukan perempuan yang tadi pagi menangis histeris dalam pelukannya.

   Bagas diam. Dikepalanya hanya muter kalimat Galang” Papa jahat.”

  Tangan Andini naik, mengusap rahang Bagas yang belum sempat bercukur. “ Mas, kamu itu berhak bahagia. Kamu pasti sudah capek dirumah dan menjadi mesin Atm untuk istri dan anak anakmu? Kamu juga pasti sudah lelah disalah salahkan terus. Padahal kamu kerja banting tulang untuk mereka.”

 Banting tulang. Iya. Tapi buat siapa? Buat anak yang sekarang mau membawa pergi mamanya dari dia?

  “ Bukan begitu Din…” Bagas akhirnya buka suara. Niatnya mau tegas. Mau bilang kita udahan. Seperti saat dijalan saat dia ingin berangkat kerja.

 Tapi Andini keburu menempel padanya. Badannya rapat. Suaranya lembut, tidak ada suara teriak teriak , tidak ada suara bantingan piring yang dicuci dengan kasar.

 Cuma ada Andini yang bisik.” Aku tidak menuntut apa apa, mas. Aku cuman mau sama kamu. Aku bisa mengerti kamu lebih dari siapapun.”

 BOHONG, Bagas tahu itu bohong. Tapi entah kenapa bohong yang keluar dari mulut Andini terasa lebih enak didengar, ketimbang diamankan Raya.

  HP dilakukan Bagas bergetar lagi..pasti Satria bosnya, atau bisa saja itu Raya?

Harapan bodoh itu nyala sedetik. Tapi Bagas tidak berani mengecek. Takut kecewa kalau bukan Raya. Takut lemas ternyata iya.

Andini melihat ekspresi Bagas, lalu tersenyum penuh kemenangan.” Udah jam 07.45, mas. Meeting jam delapanan? Nanti kita telat. Mau aku temenin sampai keatas?” Goda Andini.

 Naik keatas. Naik ke kantor. Tempat dia harus pura pura normal. Tempat dia harus tersenyum ke klien. Tempat dia bisa lari dari meja makan yang dingin dan foto dipantai dua tahun lalu.

Bagas menganguk. Pelan. Sama seperti sikap Raya sekarang.

  “Iya. Ayo naik.”

Dan saat mereka berjalan berdua ke lift, meninggalkan mobil Bagas yang masih hangat. Bagas merasa menjadi orang paling pengecut didunia.

  Dia memilih nyaman. Lagi.

Sementara di jalanan motor matic Raya sedang melawan kemacetan, dengan membonceng dua nyawa yang masih bersih dari noda dunia.

Lift basement bunyi ting. Sepi. Cuman ada mereka berdua. Begitu pintu tertutup. Senyum manja Andini hilang. Diganti tatapan tajam. Tangannya tidak lagi bergelut manja. Sekarang mencengkram lengan kemeja Bagas. Kuku merahnya memekan sampai Bagas bisa merasakan lewat kain.

" Mas." Suaranya rendah, tak ada lagi nada ceng.

" Aku capek menunggu. "

 Bagas kaget. Dia reflek mau mundur. Tapi punggungnya sudah mentok didinding lift yang dingin.

" Din ini kantor.."

" Justru karena ini kantor!" Andini memotong ucapan Bagas. Satu tangannya sekarang mencengkram rahang Bagas. Memaksa Bagas untuk menatap dia. " Dirumah kamu diam, di WA kamu ngilang. Satu satunya tempat aku bisa dapetin kamu ya disini. Mas. Ditempat yang tidak ada istri dan anak anak kamu itu."

kata istri dan anak anak kamu ditekankan. Jijik seperti sampah busuk di tong.

HP Bagas kembali berbunyi dari saku. Andini dengar. Matanya nyalang ke saku Bagas. Seperti berkata kalau mereka sedang ingin bermesraan namun ada yang mengganggu.

" Mengganggu saja." Andini membuang mukanya. " Angkatlah!" lanjutnya.

" Tidak penting Din..!"

   " Angkat, atau aku yang angkat." Jari Andini sudah masuk kesaku celana Bagas, mengacak. Bukan menggoda melainkan geledah. Kasar. Bagas mencoba menahan tangan itu. Tapi Andini lebih cepat. HP keluar . layar menyala. Nama Satria tertera dilayar, missed calon dua kali dari nomornya.

Andini senyum miring." Bos kamu yang nyariin kamu, bukan istri kamu." Dia melempar HP ke dada Bagas. " Lihat kan? bahkan dunia tidak peduli kamu hancur. Cuma aku."

Lift ting lagi. lantai tiga. Untung tidak ada yang masuk. Andini belum selesai. Dia maju selangkah lagi, jarak mereka tinggal nafas. Wangi parfumnya sekarang menyengat, bikin sesak.

" Aku sudah korbankan semuanya untuk kamu, mas Bagas. " bisiknya, tapi tiap kata seperti paku yang dipukulkan dengan palu.

Bagas terdiam sebentar, Karena entah kenapa mulutnya terasa kelu dan menikmati setiap sentuhan dari Andini.

" Dan kamu tahu apa yang lucu ,mas?" Andini menaruh telapak tangannya di dada Bagas. Tepat di jantungnya. Andini bisa merasakan detak jantung Bagas yang berdetak kencang dan dia suka itu.

Bibir Andini sudah mendekat kearah bibir Bagas, sedetik lagi..

lift ting. lantai delapan. pintu terbuka.

Andini mundur setengah langkah. Untuk membenarkan rambut pirangnya yang agak acak acakkan. Senyum manisnya balik lagi dalam sedetik. Topeng." Meeting jam delapan, pak Bagas," katanya dengan suara profesional yang nyaris sempurna." Jangan lupa ,materi revisi klien udah aku taruh dimeja kamu. Aku yang lembur mengerjakannya semalam."

Andini keluar dari lift duluan. Tumitnya berbunyi tegas dilantai marmer. Meninggalkan Bagas yang masih membeku didalam lift, dengan dada yang sesak dan penu dosa.

Sebelum pintu menutup.Andini menengok. Bisik, tapi cukup jelas ditelinga Bagas.

" Pilih, mas mau terus jadi Papa jahat yang pengecut, atau jadi laki laki aku yang berani mengaku? Aku tunggu kamu diruang meeting.Jangan buat aku menunggu seperti istri kamu yang menunggu kamu pulang dengan bau bawangnya."

Jleb.

Pintu lift menutup. Bagas sendirian dan kalimat Andini yang terakhir cukup membuat hatinya terenyuh, memang benar Raya bau bawang. Andini tahu itu, karena dia yang memberitahunya.

AC dingin. Papan tulis penuh dengan coretan revisi. Bau kopi sachet bercampur dengan rasa tegang.

Satria duduk diujung meja, alisnya sudah naik turun dari tadi. " Bagas, slide ke tiga, klien minta ganti tone warna. Mana hasilnya?".

Bagas cukup tegang sekarang,ditambah dia sudah ditelpon sama Satria beberapa kali,Namun dia tidak menjawab panggilannya.

1
Rini Anggraini
maaf point q habis thor😭😭 g bissa kasih hadiah...🙏🥲
Mamany Ali: iya kk, terimakasih sudah membaca ya kk😍
total 1 replies
Rini Anggraini
jadi g seru thor,soalnya g ada gregetnya dari bagas,g ada usaha sama sekali buat yakinin istrinya buat balikan,cuma pasarah doank,kaya novel² lainnya 🙏🙏
Mamany Ali: iya ya kk🤭
total 1 replies
Rini Anggraini
gimana jadinya thor,kaya sinetron rumah tangga sebelah...🤣🤣
ditunggu upnya ya semoga bagas masih punya kesempatan balik sama keluarganya lagi...💪🙏
Mamany Ali: iya kk🤣🤣🤣
total 1 replies
Masitoh Masitoh
bagi pelempang dua kali ke pipinya biar tau rasa andini
Ma Em
Semoga Raya memergoki Bagas dgn Andini dirumah nya saat Bagas bermesraan dgn Andini agar Raya tdk jadi kembali pada Bagas , lbh baik Raya berpisah saja dgn Bagas .
Ma Em
Raya emang lbh baik berpisah dari Bagas apa yg hrs dipertahankan oleh Raya Bagas sebagai suami selingkuh sedangkan mertua bkn nya bela menantu malah bela selingkuhan anaknya dan selalu menghina Raya , Raya bagaimana mau bahagia hdp nya tdk ada yg akan tahan kalau nasib nya seperti Raya .
Mamany Ali
semoga terhibur, ditunggu kritik dan sarannya🥰
Mamany Ali: ini udah di up kk, belum bisa sama noveltoon masih di review 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!