NovelToon NovelToon
Dibeli Seharga 1 Miliar

Dibeli Seharga 1 Miliar

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jerat yang Mulai Terbuka

Seminggu berlalu sejak penandatanganan kontrak kerja sama. Suasana di Beverly Hills tampak kembali tenang di permukaan, namun di balik tembok tinggi vila milik Alex, kewaspadaan tidak pernah surut sedetik pun. Setiap pagi, laporan dari Javier dan Rio terus mengalir mengawasi setiap gerak-gerik orang asing, memantau jaringan telepon, dan menelusuri jejak Carter Vance yang ternyata memiliki akar yang lebih dalam dan berbahaya dari yang diperkirakan semula.

Di ruang kerja lantai dua, meja panjang itu kini dipenuhi bukan hanya dokumen bisnis, tapi juga tumpukan foto, data transaksi, dan catatan yang ditandai dengan tanda merah tebal. Alex duduk dengan punggung tegak, matanya meneliti setiap baris informasi yang disusun rapi. Di sampingnya, Aulia sibuk menyempurnakan desain kostum utama untuk film yang akan mulai syuting dalam waktu dua minggu. Namun, sesekali ia melirik ke arah Alex, merasakan ketegangan yang tersembunyi di balik wajah pria itu yang biasanya selalu tenang.

“Carter Vance bukan sekadar pengusaha biasa,” gumam Alex tiba-tiba, memecah keheningan. Jarinya menunjuk pada sebuah foto hitam putih yang sudah agak usang. “Dulu, sebelum Surya Corp berkembang sebesar ini, dia pernah bersaing keras dengan kelompok ayahku. Dia kalah telak, dan hampir hilang ditelan bumi. Ternyata dia membangun kekuasaannya kembali di sini, bersembunyi di balik nama perusahaan hiburan dan properti yang sah.”

Aulia meletakkan pensilnya, menatap foto itu dengan saksama. “Jadi ini bukan soal bisnis semata. Ini soal dendam lama?”

“Tepat sekali,” jawab Alex, suaranya terdengar dingin. “Dia ingin membalas kekalahan masa lalunya, dan melihat kehadiranku di sini sebagai kesempatan emas. Dia tahu kelemahanku, dan dia tidak akan ragu menggunakan segala cara untuk menghancurkanku termasuk melibatkanmu.”

Sebelum percakapan mereka berlanjut, pintu ruangan diketuk tiga kali dengan irama khusus. Rio masuk dengan wajah serius, membawa dua perangkat tablet dan sebuah amplop tertutup rapat.

“Bos, ada kabar terbaru dari jaringan kami,” lapornya sambil meletakkan barang-barang itu di atas meja. “Pertama, kami berhasil melacak asal-usul surat ancaman dan foto-foto pengawasan. Alamatnya mengarah ke sebuah gedung perkantoran yang terdaftar atas nama salah satu perusahaan samaran milik Carter Vance. Kedua, ada undangan resmi yang dikirimkan langsung atas nama Tuan Hale.”

Alex membuka amplop itu dan membaca isinya dengan cepat. Sebuah undangan ke pesta malam eksklusif yang diadakan di sebuah gedung megah di pusat kota Los Angeles acara tahunan yang dihadiri oleh para tokoh bisnis, artis, dan orang-orang berpengaruh di industri hiburan. Di catatan tambahan, Victor Hale menuliskan bahwa kehadiran mereka sangat diharapkan untuk membangun citra baik kerja sama baru tersebut.

“Jebakan,” gumam Alex pelan, matanya menyipit. “Ini pasti rencana Carter. Dia tahu kita tidak bisa menolak begitu saja tanpa menimbulkan kecurigaan di dunia bisnis.”

Aulia meraih undangan itu dan membacanya juga. “Kalau kita tidak datang, mereka akan mengira kita takut dan bisa melemahkan posisi kita. Tapi kalau kita datang, kita berjalan langsung ke sarang musuh.”

“Tepatnya begitu,” Alex menatapnya, sorot matanya berubah menjadi lembut namun tetap penuh waspada. “Tapi kita tidak akan pergi tanpa persiapan. Kau yakin ingin ikut? Situasinya bisa sangat berbahaya.”

Aulia tersenyum tipis, lalu mengangguk tegas. “Ini juga bagian dari peran kita. Aku kepala desainer, aku harus hadir untuk membangun hubungan. Dan aku tidak mau menunggu di sini sambil memikirkan apa yang mungkin terjadi padamu. Kita hadapi bersama.”

Alex terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan. Ia tidak bisa menahan rasa bangga yang bercampur rasa khawatir. Wanita di hadapannya ini bukan lagi gadis yang ia beli untuk dijadikan pelindung atau alat tukar; ia telah menjadi mitra sejati yang berani berdiri di sampingnya, bahkan di tengah bahaya terbesar sekalipun.

“Baiklah,” ucap Alex akhirnya. “Kita akan datang. Tapi dengan syarat ketat. Kau tidak boleh berjalan sendirian. Setiap sudut ruangan akan dipantau oleh orang-orang kita. Dan jika ada sesuatu yang terasa tidak beres, kau harus segera mendekatiku, tidak peduli seberapa kecilnya.”

“Aku mengerti,” jawab Aulia mantap.

Tiga hari kemudian, malam pesta tiba. Langit Los Angeles dihiasi cahaya bulan yang redup, namun digantikan oleh lautan lampu gemerlap dari gedung-gedung pencakar langit. Di dalam kamar utama vila, suasana berubah menjadi hening namun penuh antisipasi.

Aulia berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun malam rancangannya sendiri berwarna biru tua yang memancarkan kilauan halus seperti permata, dengan potongan yang anggun namun tidak berlebihan. Rambutnya disusun rapi dengan sedikit rambut terurai di bahu, menonjolkan lekuk wajahnya yang tegas namun tetap lembut. Alex mendekat dari belakang, mengenakan jas hitam yang pas di badan, memancarkan wibawa yang membuat siapa pun segan untuk mendekat. Ia melingkarkan tangan di pinggang Aulia, menatap pantulan mereka berdua di cermin.

“Kau terlihat luar biasa,” bisik Alex, suaranya hanya terdengar oleh mereka berdua. “Tapi ingat, di sana banyak mata yang mengawasi. Jangan biarkan mereka melihat keraguan sedikit pun.”

Aulia menoleh, menatap matanya. “Aku tidak ragu, selama kau ada di sampingku.”

Mereka berangkat dengan iring-iringan mobil yang dijaga ketat, diikuti oleh beberapa kendaraan lain yang berisi pengawal yang menyamar sebagai tamu biasa. Sesampainya di lokasi, gedung itu tampak megah, dipenuhi lampu gantung kristal yang berkilauan dan alunan musik lembut. Begitu melangkah masuk, semua mata tertuju pada mereka pada wibawa Alex yang tak terbantahkan, dan pada keanggunan Aulia yang memancarkan percaya diri.

Victor Hale segera menyambut mereka dengan senyum yang tampak lebih tulus dari sebelumnya, meski masih terlihat sedikit gelisah. “Selamat datang, Tuan Alex, Nona Aulia. Terima kasih sudah meluangkan waktu datang. Ini kesempatan bagus untuk memperkenalkan kerja sama kita kepada rekan-rekan lainnya.”

Mereka berkeliling menyapa beberapa tokoh penting, membicarakan rencana film, dan menjawab pertanyaan seputar visi desain yang diusung Aulia. Namun, di balik senyum dan percakapan sopan, Alex terus mengamati setiap sudut ruangan, matanya terus mencari sosok yang menjadi ancaman utama.

Dan tidak lama kemudian, sosok itu muncul.

Carter Vance melangkah turun dari tangga utama, mengenakan jas putih yang kontras dengan suasana, disertai dua orang pengawal yang tampak sangat terlatih. Senyumnya terukir di wajah, namun matanya memancarkan kebencian yang tersembunyi. Ia berjalan mendekat dengan langkah santai, seolah menguasai seluruh ruangan.

“Ternyata Anda benar-benar datang,” sapa Carter dengan nada ramah yang palsu. “Saya sempat berpikir Anda akan memilih bermain aman dan tinggal di balik tembok tinggi vila Anda.”

Alex menatapnya dengan tatapan datar, tidak tergoyahkan sedikit pun. “Saya tidak pernah lari dari undangan terbuka, Tuan Vance. Apalagi undangan yang terasa begitu ‘menarik’.”

Carter tertawa kecil, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Aulia dengan tatapan yang membuat kulit merinding. “Dan Nona Aulia… sungguh mempesona. Saya mendengar Anda adalah otak di balik desain film ini. Apakah Anda tidak merasa takut terlibat dalam dunia yang jauh lebih kejam daripada sekadar kertas dan pensil?”

Sebelum Alex sempat menjawab dengan nada mengancam, Aulia justru tersenyum tipis dan menjawab dengan tenang namun tajam: “Dunia yang kejam justru membutuhkan keindahan untuk menyeimbangkannya, Tuan Vance. Dan saya tidak takut menghadapi apa pun selama saya berdiri di atas prinsip saya. Mungkin Anda yang harusnya belajar melihat sesuatu lebih dari sekadar kekuasaan dan dendam.”

Senyum Carter memudar sedikit, digantikan sorot mata yang gelap. “Kata-kata yang berani. Semoga keberanian itu tidak membuat Anda menyesal nantinya. Selamat bersenang-senang… selagi masih bisa.”

Ia berbalik pergi, namun Alex tahu ini baru permulaan. Ia segera memerintahkan Rio melalui alat komunikasi tersembunyi di telinga untuk memperketat pengawalan, terutama di area pintu keluar dan lorong-lorong belakang.

Beberapa jam berlalu, pesta berjalan dengan lancar. Namun, saat suasana mulai agak lengang, seorang asisten datang menghampiri mereka dengan wajah sopan. “Permisi, Tuan Alex, Nona Aulia. Tuan Hale meminta Anda datang sebentar ke ruang pertemuan kecil di lantai atas. Ada detail penting terkait anggaran produksi yang ingin dibicarakan secara pribadi sebelum ditetapkan secara resmi.”

Alex mengerutkan kening. Ia merasa ada yang janggal Victor seharusnya sudah membahas hal ini di kantor. Namun, mengingat banyaknya orang di sekitar, ia tidak ingin menimbulkan keributan. “Baiklah, kami akan datang.”

Mereka berjalan menuju tangga, diikuti oleh dua pengawal yang menyamar. Sesampainya di depan ruangan yang dimaksud, pintu terbuka sedikit. Alex memeriksa sekeliling, lalu memberi isyarat agar pengawal menunggu di luar. Ia melangkah masuk lebih dulu, diikuti Aulia. Namun, begitu pintu tertutup rapat di belakang mereka, suasana berubah drastis.

Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya samar dari lampu lorong yang menembus celah pintu. Di sana, bukan Victor Hale yang menunggu, melainkan Carter Vance beserta empat orang pria bertubuh besar yang bersenjata.

“Selamat datang di ruang belakang,” ucap Carter sambil tersenyum miring. “Maaf atas tipuannya, tapi saya rasa kita butuh tempat yang lebih privat untuk berbicara.”

Alex segera menarik Aulia ke belakang tubuhnya, tangannya siap meraih senjata yang tersembunyi di balik jasnya, namun ia sadar jumlah lawan terlalu banyak dan posisi mereka terjebak.

“Kau berani mengatur jebakan di tempat umum?” tanya Alex dingin. “Apakah kau tidak takut menimbulkan keributan besar dan menghancurkan namamu sendiri?”

“Keributan akan segera diurus,” jawab Carter santai. “Dan tidak ada yang akan tahu apa yang terjadi di sini. Lihatlah, Alex Surya. Dulu ayahmu menghancurkan masa depanku, merebut semua yang kumiliki. Sekarang giliranku membalas. Aku bisa menghancurkan reputasimu, membongkar semua rahasia gelap Surya Corp, dan merebut seluruh asetmu di kota ini. Atau… kau bisa menyerahkan semua sahammu dalam proyek ini dan pergi dari Los Angeles selamanya.”

“Dan jika aku menolak?” tantang Alex.

Carter menoleh, menatap Aulia dengan pandangan yang membuat darah Alex mendidih. “Kalau begitu, aku punya aset lain yang bisa digunakan. Wanita ini terlihat sangat berharga bagimu. Siapa tahu, dia bisa menjadi jaminan yang bagus sampai kau mempertimbangkan tawaranku.”

Saat itu juga, dua pria melangkah maju berusaha menangkap Aulia. Namun, mereka tidak menyangka bahwa wanita itu tidak akan diam saja. Berkat latihan intensif yang ia jalani selama berbulan-bulan bersama tim keamanan Alex, Aulia dengan sigap mengelak dari genggaman salah satu pria, lalu menggunakan siku untuk menekan titik lemah di lehernya, membuat pria itu terbatuk dan mundur.

Melihat kesempatan itu, Alex langsung bergerak. Ia melumpuhkan pria terdekatnya dalam sekejap, gerakannya cepat dan mematikan seperti yang biasa ia tunjukkan di medan perang. Suara benturan tubuh dan langkah kaki bergema di ruangan sempit itu. Namun, jumlah lawan memang lebih banyak, dan salah satu dari mereka berhasil mengarahkan senjata ke arah Alex.

“Berhenti! Atau aku tembak!” teriak pria itu.

Carter tertawa dingin. “Lihatlah, sekuat apa pun kau, kau tetap terjebak. Serahkan saja”

Namun, sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, pintu ruangan terbuka paksa. Rio dan beberapa pengawal Alex menerobos masuk dengan senjata siap, diikuti oleh dua orang polisi yang sudah diperingatkan sebelumnya bagian dari rencana cadangan Alex yang selalu ia siapkan. Suasana menjadi tegang, kedua pihak saling mengarahkan senjata.

“Permainanmu berakhir, Carter,” ucap Alex dengan suara berat namun tenang. “Orang-orangku sudah mengumpulkan bukti kerja samamu dengan kartel dan rencana penipuan bisnis. Kau tidak akan bisa melarikan diri kali ini.”

Wajah Carter memucat. Ia sadar dirinya sudah terjebak dalam jebakan yang justru ia buat sendiri. Sebelum sempat melarikan diri, ia dan anak buahnya sudah ditangkap oleh pengawal dan polisi.

Malam itu, setelah situasi aman dan Carter dibawa pergi, Alex dan Aulia berdiri di teras vila, menghirup udara segar yang terasa begitu lega. Alex memeluk Aulia erat-erat, seolah takut ia akan hilang begitu saja.

“Kau tidak terluka, kan?” tanyanya dengan nada khawatir yang jarang ia tunjukkan.

Aulia menggeleng, lalu memeluk pinggangnya erat. “Aku baik-baik saja. Dan kau juga.”

Alex mencium puncak kepalanya, napasnya teratur kembali. “Maaf telah membawamu ke dalam bahaya seperti ini. Tapi terima kasih karena tetap tegar. Kau membuatku semakin yakin bahwa kita bisa melewati apa pun bersama.”

Aulia menatap matanya, tersenyum lembut namun penuh keyakinan. “Kita berjanji, kan? Tidak ada jalan mundur. Selama kita bersama, tidak ada musuh yang bisa menjatuhkan kita.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!