Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17
Saat jam makan siang berlalu tanpa ia sadari, Elara akhirnya meletakkan penanya.
Ia memiliki rencana. Rencana itu logis, efisien, dan tidak menggunakan satu koin pun yang dialokasikan untuk militer. Ia menemukan dana cadangan dari penjualan kulit hewan buruan yang selama ini hanya ditumpuk di gudang dan membusuk.
Sekarang, ia hanya butuh satu hal: Tanda tangan Iblis Utara.
Elara menemukan Kaelen di Gudang Senjata Utama.
Silas memberitahunya bahwa Duke sedang melakukan inventarisasi senjata sebelum pengiriman ke perbatasan besok pagi. Elara berjalan menuju area itu, membawa gulungan kertasnya seperti membawa pernyataan perang.
Gudang senjata itu bising. Suara palu pandai besi yang sedang memperbaiki zirah terdengar berdentang ritmis tang-tang-tang, diiringi suara asahan pedang yang menyilukan telinga. Udara berbau logam panas, minyak pelumas, dan keringat laki-laki.
Saat Elara melangkah masuk, keheningan aneh menyebar seperti gelombang. Para prajurit dan pandai besi berhenti bekerja. Mereka menatap sosok wanita berbaju biru yang tampak sangat tidak pada tempatnya di antara rak-rak tombak dan perisai.
Kaelen berdiri di ujung ruangan, membelakangi pintu. Ia sedang memeriksa ketajaman sebuah pedang panjang, mengayunkannya perlahan untuk menguji keseimbangannya. Di sebelahnya berdiri seorang perwira tinggi berbadan tegap yang sedang memegang papan tulis.
"Keseimbangannya miring ke kiri," suara Kaelen terdengar berat, menembus keheningan. "Lelehkan ulang. Jangan kirim sampah ini ke pasukanku."
Ia menyerahkan pedang itu pada perwira di sebelahnya, lalu berbalik.
Matanya langsung menemukan Elara.
Untuk sesaat, Kaelen tampak terkejut. Alisnya berkerut. Mungkin dia berpikir Elara datang untuk membahas kue semalam, atau untuk menuntut pembicaraan emosional yang canggung. Tubuhnya menegang secara refleks, postur defensif yang sudah menjadi nalurinya.
Elara tidak memberinya waktu untuk membangun tembok. Ia berjalan mendekat, melewati barisan prajurit yang menatapnya dengan mulut ternganga. Ia berhenti tiga langkah di depan suaminya.
"Aku butuh tanda tanganmu," kata Elara langsung, suaranya jernih mengatasi kebisingan latar belakang yang mulai muncul kembali.
Kaelen menatapnya, lalu menatap gulungan kertas di tangan Elara. "Apa ini? Surat cerai?"
Nada suaranya sarkastis, tapi tidak tajam. Ada sedikit kelelahan di sana.
"Bukan," jawab Elara tenang. "Ini izin perbaikan sistem pemanas kastil. Dan izin penjualan kulit buruan di gudang selatan."
Kaelen mendengus pelan, seolah lelucon itu tidak lucu. Ia memberi isyarat pada perwiranya untuk pergi, lalu melipat tangannya di dada. "Elara, kita sudah membahas ini. Aku tidak punya dana untuk kemewahan. Setiap koin emas dibutuhkan untuk..."
"Aku tidak minta uang militermu," potong Elara.
Mata Kaelen menyipit. Memotong pembicaraan Duke di depan anak buahnya adalah tindakan berani. "Apa?"
"Baca ini," Elara menyodorkan kertas itu ke dada bidang Kaelen.
Kaelen menatap kertas itu dengan enggan, lalu mengambilnya dengan kasar. Ia mulai membaca. Awalnya, matanya bergerak cepat, meremehkan. Tapi perlahan, gerakannya melambat. Ia membaca baris demi baris. Alisnya yang tadi berkerut marah kini terangkat sedikit karena heran.
Elara menunggu dengan sabar. Ia memperhatikan wajah suaminya. Pria ini cerdas, Elara tahu itu. Dia akan melihat logika di balik angka-angka itu.
"Kau ingin menjual stok kulit serigala dan beruang di gudang selatan?" tanya Kaelen tanpa mendongak.
"Kulit-kulit itu sudah menumpuk selama tiga tahun," jelas Elara, suaranya penuh percaya diri. "Bagian bawahnya mulai dimakan ngengat. Jika kita menjualnya sekarang ke pedagang dari Selatan yang akan lewat minggu depan, harganya masih tinggi. Dana itu cukup untuk membiayai perbaikan pipa pemanas di aula utama, menara barat, dan sayap pelayan, serta membeli kaca baru."
"Dan kenapa aku harus peduli pada pipa pemanas?" tanya Kaelen, menatap Elara tajam. "Kita sedang berperang, Elara. Dingin tidak membunuh kita."
"Dingin membuat pelayan lambat," bantah Elara. "Dingin membuat makanan cepat basi. Dingin membuat prajurit yang beristirahat di kastil tidak pulih sepenuhnya karena tidur mereka terganggu. Dan..." Elara menelan ludah, lalu menambahkan dengan suara lebih pelan namun menusuk, "...dingin membuat atap rumah ini rapuh. Jika kau ingin benteng ini berdiri seratus tahun lagi untuk anak cucumu, kau harus merawat batunya, bukan hanya pedangnya."
Kata 'anak cucu' menggantung di udara sejenak, menciptakan ketegangan yang berbeda. Kaelen tidak bereaksi terhadap kata itu secara verbal, tapi rahangnya mengeras.
Dia menatap Elara, lalu kembali ke kertas itu. Dia sedang mencari celah. Dia sedang mencari kesalahan hitungan, atau tanda-tanda pemborosan. Tapi tidak ada. Proposal itu solid. Itu adalah proposal bisnis, bukan rengekan manja.
"Siapa yang membantumu menghitung ini?" tanya Kaelen curiga. "Silas sudah terlalu tua untuk melihat detail sekecil ini."
"Aku menghitungnya sendiri," jawab Elara. "Ayahku mungkin seorang penjudi yang buruk, tapi dia memastikan aku tahu cara menghitung kerugian sebelum dia menjualku padamu."
Kata-kata itu keluar lebih tajam dari yang dimaksudkan Elara. Itu adalah tusukan kecil pada harga dirinya sendiri, pengingat bahwa dia adalah barang dagangan.
Mata Kaelen melembut sedikit—hanya sedikit, seperti retakan rambut di atas es. Dia menatap Elara dengan pandangan baru. Dia tidak melihat gadis manja dari ibu kota. Dia melihat seorang wanita yang berdiri di gudang senjata yang kotor, dengan noda tinta di gaunnya, berdebat tentang efisiensi logistik.
Kaelen berjalan menuju sebuah meja kerja di dekat dinding, mengambil pena celup yang tergeletak di sana, dan mencoretkan tanda tangannya di bagian bawah kertas itu dengan gerakan cepat dan kuat.
Dia berjalan kembali dan menyerahkan kertas itu pada Elara.
"Lakukan," katanya singkat. "Tapi jika hitunganmu salah dan kita kekurangan uang untuk gandum kuda, aku akan memotong jatah makan malammu."
Itu ancaman, tapi nada suaranya tidak mengandung bisa. Itu terdengar hampir seperti... tantangan.
Elara menerima kertas itu, merasakan kemenangan yang hangat menjalar di dadanya. "Hitunganku tidak pernah salah, Tuanku."
"Kita lihat saja," gumam Kaelen. Dia berbalik badan, kembali memunggungi Elara, mengambil pedang lain dari rak. "Sekarang pergilah. Gudang senjata bukan tempat untuk Duchess. Gaunmu kotor."
Elara mundur selangkah, memeluk kertas berharga itu di dadanya. "Terima kasih, Kaelen."
Kaelen tidak menjawab, tapi dia tidak menyuruhnya diam. Dia hanya mengayunkan pedang itu, suaranya membelah udara. Wush.
Saat Elara berjalan keluar dari gudang senjata, dia bisa merasakan tatapan para prajurit padanya. Kali ini, tatapan itu bukan lagi tatapan meremehkan atau kasihan. Itu adalah tatapan hormat. Mereka baru saja melihat Nyonya mereka bernegosiasi dengan Sang Jenderal dan menang.
Elara tersenyum tipis saat melangkah kembali ke koridor batu yang dingin. Dia belum memenangkan hati suaminya, belum. Tapi hari ini, dia telah memenangkan hak untuk mengatur rumahnya. Dan besok, dia akan memastikan kastil ini menjadi cukup hangat sehingga es di hati Kaelen tidak memiliki pilihan lain selain mulai mencair.