NovelToon NovelToon
Surat Dari Cafe Senja

Surat Dari Cafe Senja

Status: tamat
Genre:Fantasi / Misteri / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis Singkat:*

Kafe Senja terkenal di Jogja karena satu hal aneh: setiap minggu, di meja nomor 7 selalu ada surat tanpa pengirim. Isinya selalu puisi, cerita pendek, atau nasihat yang seolah ditulis khusus untuk orang yang membacanya minggu itu.

Alya, barista baru di kafe itu, iseng buka salah satu surat yang ketinggalan. Sejak saat itu, hidupnya mulai berubah. Surat-surat itu seperti tahu masa lalunya, ketakutannya, bahkan orang yang diam-diam ia sukai.

Masalahnya… siapa yang menulisnya?
Dan kenapa surat terakhir yang datang, menyebut namanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

*Bab 10: Revan di Ambang Pergi*

Hujan turun lagi di Jogja hari itu.

Bukan hujan deras yang bikin banjir, tapi gerimis kecil yang bikin udara dingin dan lengket di kulit.

Meja 7 sepi. Alya lagi ngedit bab 3 novel keduanya di pojok, sementara Revan lagi stok susu di belakang bar.

Jam 2 siang, kurir masuk bawa amplop cokelat tebal.

“Buat Mas Revan,” katanya.

Revan nerima, ngeliat nama pengirimnya, dan tangannya berhenti sebentar.

_The Ocean Brew Bali._

Cafe terbesar di Seminyak. Cabang mereka lagi buka lowongan Head Barista + Training Manager. Gaji tiga kali lipat dari yang Revan terima sekarang.

Mas Bayu yang lihat dari jauh langsung manggil,

“Ada apa, Van?”

Revan nggak jawab. Dia masuk ke belakang, buka amplop itu sendirian.

Di dalamnya ada surat tawaran kerja, brosur cafe, dan satu kartu nama.

Di bagian bawah surat, ada catatan tulisan tangan:

_“Kita butuh orang kayak kamu, Revan. Udah 2 tahun aku tunggu kamu bales emailku.”_

Revan keluar 20 menit kemudian. Wajahnya datar.

Alya ngeliat itu, langsung nutup laptop. “Ada apa?”

Revan dorong amplop itu ke meja 7.

“Tawaran kerja. Bali.”

Alya buka. Baca pelan-pelan. Makin baca, makin diem.

Gaji besar. Jabatan tinggi. Fasilitas lengkap.

Semua hal yang dulu Revan bilang dia nggak butuh.

“Kamu bakal pergi?” tanya Alya pelan.

Suara itu ketahan. Kayak takut denger jawabannya.

Revan duduk. “Aku belum jawab.”

---

Malam itu kafe tutup jam 8. Lebih cepat 2 jam dari biasa.

Mas Bayu ngerti, jadi dia pulang duluan.

Bilang, “Kalian ngobrol aja. Meja 7 nggak kemana-mana.”

Mereka duduk di meja 7, tapi nggak ada kopi. Nggak ada laptop. Cuma amplop cokelat itu di tengah.

“Kenapa baru sekarang mereka ngirim?” tanya Alya.

“Karena aku nggak bales email mereka 2 tahun lalu,” jawab Revan. “Waktu itu aku baru jaga Rani yang sering masuk rumah sakit. Aku nggak bisa pergi.”

Alya ngangguk pelan. “Sekarang Rani udah nggak ada.”

Revan ngangkat kepala. Matanya ketemu mata Alya.

“Dan kamu ada.”

Alya nahan napas.

“Tapi ini kesempatan besar, Van. Head Barista di Bali. Kamu bisa ngembangin resep kamu. Kamu bisa ngajarin orang. Kamu nggak bakal stuck di sini aja.”

Revan ketawa kecil, tapi nggak ada senangnya.

“Stuck? Alya, sejak kamu datang, aku nggak merasa stuck. Aku merasa hidup lagi.”

Alya menggigit bibir.

“Tapi kalau kamu nolak, kamu bakal nyesel nggak? Nyesel karena milih aku?”

Revan diem lama. Luar biasa lamanya sampai Alya hampir mau bilang ‘lupakan’.

Terus dia jawab, pelan:

“Aku lebih takut nyesel karena nggak milih kamu.”

---

Tapi masalahnya nggak berhenti di situ.

Besoknya, editor Alya dari Jakarta telepon.

“Al, kita mau gas promosi besar-besaran. Tapi kita butuh kamu 2 bulan di Jakarta. Book tour, podcast, meet and greet. Kontraknya udah ada.”

Alya tutup telepon, tangan gemetar.

2 bulan di Jakarta. Artinya dia bakal jauh dari Jogja. Jauh dari kafe. Jauh dari Revan.

Revan lihat ekspresi itu, langsung paham.

“Pergi aja,” katanya cepat.

“Ini kesempatan kamu, Al. Jangan ditahan gara-gara aku.”

Alya geleng. “Jangan gitu. Kita baru mulai…”

“Kita nggak mulai kalau kamu nolak kesempatan ini,” potong Revan. “Aku nggak mau jadi alasan kamu mundur lagi.”

---

Malam itu mereka berantem kecil.

Pertama kali sejak kenal.

Bukan teriak-teriak. Tapi dingin.

Alya nginep di kamar atas kafe. Revan tidur di sofa bawah.

Besok paginya, Alya bangun, meja 7 udah kosong.

Di atasnya ada secarik kertas dan kunci cafe.

Tulisan Revan:

_“Aku ke Bali buat ketemu mereka. Ngobrol. Nggak janji nerima.

Jaga kafe. Jaga diri kamu.

Kalau aku balik, aku balik karena aku milih pulang.

Kalau aku nggak balik, artinya aku harus belajar jalan sendiri dulu.

Tunggu aku di meja 7.

—R”_

Alya baca itu 5 kali. Terus dia lipat, simpan di saku celemeknya.

Dia nggak nangis.

Dia buka laptop, buka file novel kedua, dan nulis kalimat pertama:

> _Kadang, orang yang kamu sayang harus pergi dulu, biar kamu belajar tinggal dengan diri sendiri._

---

Dua hari setelah Revan berangkat, komentar di internet mulai reda.

Penjualan buku stabil.

Tapi kafe terasa kosong. Mas Bayu ngomong lebih pelan. Meja 7 nggak ada yang dudukin.

Alya sibuk. Sibuk banget.

Dia jawab email editor, nyusun jadwal book tour, ngurusin desain cover novel kedua.

Tapi setiap jam 5 sore, dia selalu balik ke meja 7. Duduk. Nunggu.

Dia nggak tahu nunggu apa.

Nunggu Revan balik? Nunggu surat? Nunggu dirinya sendiri berani ngomong kalau dia takut ditinggal lagi?

Hari ketiga, ada DM masuk.

Dari akun @theoceanbrew.bali.

_“Mas Revan bilang, kalau kami mau dia, kami harus ngizinin dia balik ke Jogja 2 minggu sekali.

Katanya, ada kafe kecil di Jogja yang nggak bisa ditinggal.

Kami setuju.

Orang kayak dia langka, Mbak.”_

Alya baca itu, terus ketawa. Sendiri. Di meja 7.

Di luar, hujan mulai reda.

Di atas meja, buku catatan Rani terbuka di halaman kosong.

Alya ambil pulpen, tulis satu kalimat:

> _Jadi kamu milih pulang juga, ya?_

---

*[Bersambung:

---

1
Nobitaku
baca dari awal sampai akhir mewek mulu, gimana ini thor
Febriana Hanifah: huaaa maaf ya qhaqha ceritanya melow 🥺
total 1 replies
Murti Ningsih
sampai disini ceritanya lumayan bagus
Febriana Hanifah: halo kak, Terimakasih sudah membaca Karya saya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!