(𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙄)
𝙂𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙏𝘾𝙂 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙩𝙝𝙚𝙧𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙩𝙪-𝙣𝙮𝙖.
⚙⚙⚙
Mengisahkan tentang seorang mekanik muda bernama Arven yang ditakdirkan untuk menjadi Host Titan Gear bernama Astraeus. Kisah masa lalu dan masa kini akan terkompresi menjadi satu dalam mengungkap kehancuran peradaban Astreya. Unsur Action, Misteri, Politik, Perang Kerajaan akan menjadi fokus cerita ini.
Mari bergabung bersama Arven dalam petualangannya di dunia Valtheria.
—T28J
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T28J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRAKENFORD ARC 3 - SUMPAH LOGAM
...Kadang warisan tidak diberikan dengan gratis......
......melainkan dengan beban yang harus dipikul....
...⚙⚙⚙...
Cahaya terakhir matahari tenggelam di balik Pegunungan Kharvendal, menyerahkan lembah sepenuhnya pada bayangan panjang yang merayap dari mulut tambang. Astraeus masih berdiri diam, namun sisa pendar kebiruan dari dalam rongga mesinnya berdenyut pelan.
Arven berhenti sejenak dan mulai turun kembali ke tanah tambang. Di bawah remang cahaya, Astraeus tidak lagi terlihat seperti tumpukan besi tambang yang kaku. Ada sesuatu yang berbeda, sebuah identitas purba yang baru saja mulai ia singkap.
“Aku harus pergi,” bisik Arven lirih, suaranya nyaris hilang ditelan sunyi. “Ibu sendirian di rumah.”
Ia terdiam sesaat, seolah menunggu jawaban dari raga baja itu, lalu menambahkan dengan nada yang lebih rendah, “Aku akan kembali besok.”
Tidak ada sahutan, hanya desis angin gunung yang membawa hawa dingin dari puncak-puncak es. Arven memutar tubuh dan mulai melangkah.
Ia tidak memperlambat langkahnya meski udara dingin mulai menusuk kulit. Pikirannya masih tertinggal di dalam panel servis di dada Astraeus. Denyut energi itu dan cahaya biru yang misterius membekas di matanya.
Saat memasuki jalan utama desa, langkahnya melambat. Suara-suara penjaga terdengar lebih tajam malam ini, membelah kesunyian dengan nada waspada. “Tetap siaga di sisi utara! Jaga obor jangan sampai padam!”
Dua penjaga berjalan berlawanan arah dengannya. Cahaya oranye dari obor mereka bergoyang ditiup angin, memantul pada ujung tombak mekanis yang mereka genggam erat.
Arven menangkap bunyi halus saat salah satu penjaga mengencangkan pegangannya, suara pegas mekanis yang sudah terkunci dan siap dilepaskan. Ia mengenali mekanisme itu, karya ayahnya. Eldric tidak pernah membuat sesuatu yang indah atau rumit, tapi setiap ciptaannya adalah jaminan bahwa fungsinya tidak akan pernah gagal.
Brakenford tidak pernah setegang ini sebelumnya. Arven merasakannya di setiap sudut jalan. Pintu-pintu rumah kayu sudah tertutup rapat, cahaya dari balik celah jendela tampak redup dan ragu-ragu, para penduduk desa memilih untuk tidak menarik perhatian dari kegelapan di luar.
Tiba-tiba, sebuah suara merambat di udara. Rendah, panjang, dan bergetar. Itu bukan suara angin dan jelas bukan raungan hewan yang biasa mereka temui di hutan. Anjing-anjing penjaga langsung menyalak histeris, suara rantai besi yang berderak keras melawan tiang pengikat memenuhi malam. Di atas menara pengawas, obor bergoyang hebat saat sosok penjaga di sana menoleh dengan panik ke arah pegunungan.
Arven mengangkat kepala, menatap menembus kabut yang kian menebal. Hutan di kaki gunung kini hanya tampak seperti dinding hitam pekat yang diam membisu.
Seorang penambang senior yang sedang bertugas jaga mendekat dari samping. “Arven.”
Arven mengangguk pelan, matanya masih terpaku pada kegelapan di utara. “Kau juga mendengarnya?” tanya pria itu dengan nada serius.
“Dari arah hutan utara, dekat gerbang desa,” jawab Arven pendek.
“Jejak-jejak aneh ditemukan di sana pagi tadi,” penjaga itu berbisik, seolah takut sesuatu di dalam hutan bisa mendengarnya. “Besar. Lebih besar dari serigala gunung mana pun yang pernah kulihat.”
Arven tetap diam, membiarkan angin gunung menyapu wajahnya yang kotor. Penjaga itu akhirnya menghela napas panjang, mencoba membuang ketegangan yang menggantung di bahunya. “Mungkin hanya makhluk hutan yang tersesat,” gumamnya, meski nada suaranya sama sekali tidak terdengar yakin.
Arven menatap ke arah hutan itu sedikit lebih lama sebelum akhirnya memalingkan wajah. “Aku akan pulang dulu,” katanya.
Pria itu hanya mengangguk singkat. “Jangan terlalu lama di luar, Arven.”
Arven tidak menyahut. Ia sudah kembali melangkah menembus kabut.
Rumahnya berada di ujung desa, tidak begitu jauh dari tambang. Rumah kecil yang berdiri sedikit terpisah dari rumah warga lain, dekat sebuah aliran sungai kecil yang mengalir dari pegunungan.
Bangunannya sederhana. Dinding kayu tua. Atap miring dari lembaran logam. Di samping rumah berdiri bengkel kecil yang dulu sering digunakan ayahnya. Kini sebagian besar alat di bengkel itu jarang dipakai.
Arven mendorong pintu kayu rumahnya perlahan, membiarkan engsel itu berderit pelan membelah kesunyian malam.
“Arven...?”
Sebuah suara lembut, namun terdengar rapuh, menyambutnya dari kegelapan ruang tengah.
“Aku pulang, Ibu,” jawab Arven segera. Ia melangkah masuk, membiarkan aroma kayu tua dan minyak lampu menyapanya.
Di dalam rumah, hanya ada satu lampu minyak yang menyala di atas meja kayu yang kasar. Cahayanya yang kuning dan berkedip-kedip memberikan bayangan panjang yang menari di dinding, namun cukup untuk menerangi sosok wanita yang duduk di kursi kayu dekat jendela.
Wanita itu adalah Mira. Ia memaksakan sebuah senyum kecil saat melihat putranya mendekat.
“Kamu pulang lebih malam dari biasanya,” ucapnya pelan.
Arven meletakkan kotak perkakasnya di dekat pintu. “Ada sedikit pekerjaan tambahan di tambang,” jawab Arven singkat tanpa ingin membebani ibunya dengan keganjilan yang ia temukan pada Astraeus malam ini.
Ia melangkah mendekat dan berhenti tepat di depan Mira. Matanya menatap tajam pada garis-garis kelelahan di wajah ibunya. “Kau seharusnya tidak duduk di sini, Ibu. Udara gunung sedang tidak bersahabat malam ini.”
Mira tersenyum tipis, matanya beralih menatap kegelapan di balik kaca jendela. “Rumah ini terasa terlalu sunyi kalau aku hanya berbaring di kamar. Aku butuh mendengar suara malam.”
Arven duduk di kursi di hadapannya. Ia memperhatikan ritme napas ibunya yang terdengar sedikit berat dan pendek.
Mira menangkap gurat kecemasan di wajah putranya. “Jangan menatapku seperti itu, Arven. Kamu tidak perlu terlihat begitu khawatir setiap kali kita duduk bersama.”
Arven menunduk sedikit, menatap tangannya yang masih menyisakan noda oli. “Aku hanya tidak suka melihatmu harus menanggung sakit ini sendirian.”
Mira tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan kertas halus. “Kamu benar-benar mirip ayahmu ketika mengatakan hal seperti itu.”
Nama itu membuat Arven terdiam. Eldric selalu menjadi bayang-bayang yang menggantung di antara mereka. Keheningan segera menyergap, hanya menyisakan suara derit kayu rumah yang tertiup angin gunung yang kencang di luar sana.
Mira akhirnya memecah kesunyian. “Bagaimana kondisi di tambang hari ini? Apakah semua mesin berjalan baik?”
Arven mengangguk pelan. “Sebagian besar baik. Hanya beberapa mesin yang perlu disetel ulang.” Ia berhenti sejenak, ragu untuk melanjutkan, namun akhirnya berucap, “Raksasa tambang itu juga masih stabil.”
Mira menatap Arven dengan pandangan yang lebih dalam. “Mesin besar itu, dia masih bekerja dengan baik, bukan?”
“Jauh lebih baik dari mesin mana pun yang pernah ku lihat,”jawab Arven jujur.
Mira kembali memandang ke arah jendela, ke arah kegelapan tempat tambang berada di kejauhan. Tatapannya kosong namun penuh arti. “Mesin itu selalu terasa berbeda. Sejak hari pertama ayahmu membawanya keluar dari tanah.”
Arven mencondongkan tubuhnya, rasa ingin tahunya terusik. “Ibu tahu sesuatu tentang mesin itu? Sesuatu yang tidak pernah Ayah ceritakan padaku?”
Mira menggeleng tipis sambil tersenyum misterius. “Ayahmu adalah pria yang menyimpan rahasianya di balik deru mesin. Ia jarang menjelaskan hal-hal teknis seperti itu padaku.” Ia tertawa pelan, sebuah kenangan seolah melintas di matanya. “Namun, aku tahu satu hal pasti.”
Arven menunggu dengan napas tertahan.
Mira kembali menatap putranya, sorot matanya melembut namun penuh penekanan. “Ayahmu sangat bangga dengan mesin itu. Lebih dari apa pun yang pernah ia ciptakan.”
Arven sedikit terkejut. “Bangga?”
“Ya,” Mira mengangguk, matanya kini tertuju pada api lampu minyak yang menari-nari. “Setiap kali ia bekerja memperbaiki atau merawat mesin itu, wajahnya tidak terlihat seperti seorang mekanik yang sedang bekerja. Ia terlihat seperti seseorang yang sedang menjaga sesuatu yang sangat penting.”
Arven terdiam, membiarkan kata-kata ibunya meresap ke dalam benaknya. Ingatannya kembali ke masa kecil, saat ia melihat Eldric berdiri di bawah kaki raksasa Astraeus. Ia kini baru menyadari bahwa tatapan ayahnya saat itu memang bukan sekadar tatapan teknis, melainkan tatapan penuh keyakinan dan tanggung jawab yang berat.
Arven akhirnya memecah keheningan dengan suara yang rendah dan berat.
“Ibu... apakah Ayah benar-benar pergi begitu saja, tanpa alasan?”
“Ayahmu bukan tipe pria yang akan meninggalkan keluarganya tanpa alasan yang sangat kuat,” ucap Mira pelan.
Arven menunduk, menatap telapak tangannya yang masih menyisakan noda oli. “Namun kenyataannya, dia tetap pergi.”
Mira menghela napas panjang, sebuah suara yang sarat dengan beban masa lalu. “Ya. Dia pergi.”
Ruangan itu kembali diselimuti kesunyian. Hanya detak jam tua dan desis angin yang terdengar.
“Kadang aku berpikir,” lanjut Arven, suaranya hampir menyerupai gumaman, “mungkin dia hanya tidak ingin menghabiskan hidupnya di desa kecil yang terpencil seperti ini.”
Mira langsung menggeleng tegas. “Tidak.” Nada suaranya mendadak tajam, menunjukkan keyakinan yang tidak bisa diganggu gugat. “Ayahmu memilih desa ini, Arven.”
Arven mengangkat kepalanya, matanya menyipit penuh tanya. “Memilih?”
Mira mengangguk perlahan, matanya mulai berkaca-kaca saat menatap putranya. “Dia datang ke Brakenford bukan karena tersesat atau kebetulan. Ayahmu datang ke sini karena ia ingin bersembunyi.”
Arven terdiam. Ada rasa bahaya yang tersirat di sana. “Bersembunyi dari siapa?”
Mira tidak menjawab secara langsung. Pandangannya beralih ke luar jendela, menembus kabut malam yang menyelimuti kaki Pegunungan Kharvendal. “Ayahmu pernah mengatakan sesuatu kepadaku tepat sebelum dia pergi.”
Arven menahan napas, menunggu setiap kata yang akan keluar dari bibir ibunya.
“Dia berkata, suatu hari nanti, dunia akan datang mencari mesin yang ia tinggalkan di desa ini.”
Arven merasakan denyut aneh di dadanya, “mesin itu... Astraeus?”
Mira mengangguk lemah. Ia menatap Arven dengan tatapan yang campur aduk antara kasih sayang dan kesedihan yang mendalam. “Dan ketika hari itu tiba, seseorang harus berdiri untuk melindungi mesin itu.”
Arven tertegun cukup lama. Ia teringat pada raksasa besi yang kini mulai berdenyut di dalam tambang. Mira mengulurkan tangannya yang gemetar, menggenggam jemari Arven yang kasar. Arven menatap tautan tangan mereka, lalu perlahan ia mengangkat kepalanya.
Tatapan matanya tidak lagi dipenuhi keraguan. Ada kepastian baru yang mengeras di sana, sedingin baja yang biasa ia tempa.
“Aku akan melakukannya,” ucap Arven. Suaranya tidak keras, tidak ada drama di dalamnya, namun penuh dengan ketetapan hati yang mutlak.
Mira tersenyum tipis, sebuah senyuman yang seolah melepaskan sebagian beban dari bahunya. “Kau sudah melakukannya sejak lama, Arven.”
Ia menatap putranya sekali lagi, seolah mencoba melihat bayangan Eldric di sana. “Jika suatu hari nanti ayahmu kembali, aku yakin dia akan sangat bangga padamu.”
^^^*gambar buatan AI^^^
Di luar rumah, angin gunung menderu semakin kencang, membawa aroma belerang dan uap dingin. Dan kabut malam mulai menelan lembah Valtheria sepenuhnya.
Arven membantu Mira kembali ke tempat tidur. Langkah ibunya terasa semakin berat dan ringkih, sebuah pengingat bahwa waktu terus berjalan tanpa ampun. Arven menarik selimut wol hingga menutupi bahu ibunya dengan hati-hati.
“Kau harus tidur sekarang, Ibu,” bisiknya.
Mira tersenyum lemah. “Kau juga harus beristirahat. Kau bekerja terlalu keras hari ini.”
Arven hanya mengangguk singkat. Ia mematikan lampu minyak utama, menyisakan pendar redup di pojok ruangan agar Mira bisa beristirahat dengan tenang. Setelah napas ibunya mulai terdengar stabil dan tenang, Arven berjalan menuju jendela.
Desa Brakenford tampak sunyi di bawah cahaya obor para penjaga malam yang sesekali melintas. Namun, pikiran Arven tidak berada di sana. Pikirannya melayang kembali ke dalam rongga mesin Astraeus, ke cahaya biru yang berkedip seirama dengan detak jantungnya sendiri.
Ada sesuatu yang sedang menunggunya di sana. Sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan tambang dan emas.
“Bagus…” gumamnya pelan, setengah mengejek diri sendiri. “Sekarang aku mulai membayangkan mesin bernapas.”
Lalu pandangannya mengarah ke pojok rumah, tempat Titan Wrench tergeletak diam dalam bayangan.
“Kalau kau juga mulai hidup…” lanjutnya setengah bercanda, “…mungkin lebih baik aku menjadi pemburu seperti Liora.”
Ia terdiam sejenak, lalu menatap ke arah gelap pegunungan di kejauhan.
“Besok...” katanya pelan. Suaranya tenang tanpa ragu. “Besok kita selesaikan ini.”
...⚙⚙⚙...
Jika kalian suka cerita dari novel ini, support author dengan mengirim hadiah ya...
—T28J
tapi cerita dan dunianya bagus kok, terus semangat ya
Alice hanya menatap para pekerja itu dari kaca sihir yang mengambang di udara.
"Ah.. beberapa manusia yang bosan hidup ya? biar saja Xena, mereka memang suka cari mati. nanti pingsan sendiri." Alice kembali ke kuilnya meninggalkan Xena yang masih berlari memutar.
"Ini.... dunia ini terlihat lebih kejam dari dunia kita." potong Arthur yang baru saja selesai mandi. ( oh wow pakai baju thur)