Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.
Delapan tahun berlalu.
Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Tempat baru.
Kael masih membeku di tempatnya. Perlahan tatapannya beralih pada sebuah figura kecil yang berdiri di atas meja kerja hitamnya. Foto seorang wanita paruh baya dengan senyum lembut di wajahnya.
Ibunya.
Untuk sesaat rahang Kael mengeras. Bayangan masa kecilnya mulai bermunculan satu per satu memenuhi kepala. Dulu… Kael kecil hanyalah anak yang tumbuh di dalam rumah penuh darah dan ketakutan.
Ayahnya seorang mafia besar yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Hampir setiap malam rumah itu dipenuhi suara bentakan, tangisan, hingga pecahan barang.
Dan wanita yang paling sering menerima semua kekejaman itu… adalah ibunya sendiri.
Kael kecil hanya bisa berdiri gemetar di sudut ruangan. Melihat dan mendengar. Namun tidak mampu menyelamatkan siapa pun. Hingga malam itu menjadi luka paling besar dalam hidupnya. Malam saat ia melihat ibunya mengembuskan napas terakhir di tangan ayahnya sendiri.
Sejak saat itu… sesuatu dalam diri Kael ikut mati. Ia tumbuh menjadi pria dingin. Keras. Dan tidak punya belas kasihan.
Namun entah kenapa? Sejak kedatangan Alena kemarin, luka lama yang selama ini terkubur justru kembali terbuka.
Tatapan takut perempuan itu… air matanya… dan yang membuat dadanya semakin sesak? Wanita itu tidak mau dengan uangnya, tidak sama dengan wanita kebanyakan yang diam saat uang berbicara.
Brak.
Kael langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ada ketakutan yang merayap di dasar hatinya.
Takut jika anak yang sedang dikandung Alena akan tumbuh dengan luka yang sama seperti dirinya dulu. Hidup tanpa kasih sayang. Tanpa ayah. Dan membawa kebencian sepanjang hidup.
Ego Kael memang sempat terlalu tinggi saat Alena datang akan tetapi setelah perempuan itu pergi. Baru ia sadar bahwa penyesalan selalu datang paling akhir.
Dan kini… karena keegoisannya sendiri, ia kehilangan perempuan yang membawa darah dagingnya pergi entah ke mana.
"Pokoknya saya tidak mau tahu! Dalam kurun waktu dekat ini kalian harus menemukan perempuan hamil itu!" perintahnya tanpa bisa dibantah.
Beberapa anak buah Kael hanya mengangguk kecil lalu berbalik badan meninggalkan sang tuan yang saat ini tengah diliputi penyesalan dan rasa bersalahnya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara di sisi lain...
Di sebuah daerah dekat pesisir Alena terlihat sedang sibuk, membawa nampan, kali ini ia bekerja bukan sebagai wanita malam di dalam club mewah. Sekarang ia hanya pelayan di sebuah rumah makan dekat pantai.
Suara ombak dan angin pantai turut menemani rasa lelahnya, meskipun tubuhnya gampang merasakan pegal, tapi hal ini jauh lebih baik dari pada di kota.
Selesai mengantar pesanan ke nomor 24 Alena duduk sebentar sambil mengusap perutnya.
"Bertahan ya Nak... temani Mama mengais rejeki," ucapnya penuh dengan senyuman.
Sudah lima hari sejak kepindahannya dari kota, Alena langsung memutuskan untuk bekerja, atas saran dari Rina, dan ternyata pemilik rumah makan ini masih saudara hingga membuat Alena sedikit gampang untuk bekerja di sini.
"Alena?" panggil salah satu chef.
"Iya chef," sahutnya dengan semangat.
"Tolong antarkan ini ke meja nomor 30 ya."
Alena mengangguk cepat, tangannya langsung mengangkat nampan yang berisi penuh dengan hidangan, terasa berat tapi Alena masih berusaha untuk hati-hati karena tahu di dalam kandungannya ada kehidupan lain yang perlu ia jaga.
"Baik-baik ya sayang, dalam perut Mama," ucap Alena dengan hati-hati.
Waktu terus berjalan tanpa sadar. Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, meninggalkan semburat jingga yang memantul indah di permukaan laut.
Rumah makan kecil itu mulai sepi seiring datangnya malam. Satu per satu pengunjung meninggalkan tempat hingga hanya terdengar suara deburan ombak dari kejauhan.
Di sini Alena ikut membantu membersihkan meja, sama halnya dengan karyawan lainnya, tubuhnya terasa remuk, dan bibirnya sedikit meringis hal itu membuat para karyawan lain menatapnya iba.
"Hati-hati ya, jangan terlalu memaksa," ucap salah satu teman rekannya yang bernama Anne.
"Tenang saja anakku kuat kok," sahut Alena.
"Semoga saja anakmu kelak laki-laki," timpal Senna.
Alena sedikit mengerutkan keningnya. "Memangnya kenapa kalau laki-laki."
"Biar ada yang jaga kita bertiga," sahut Senna. Lalu disambut dengan gelak tawa.
Mereka berdua Anne dan Senna merupakan sosok perempuan yang memutuskan untuk tidak menikah di usianya yang terbilang cukup umur.
Entah kesakitan apa yang dialami keduanya di masa mudanya dulu hingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk hidup sendiri.
"Iya Ibu Anne dan Ibu Senna, doakan saja ya, semoga nanti aku bisa jaga orang-orang yang mencintaiku," ucap Alena sambil mengelus perutnya.
Setelah semuanya beres, akhirnya Alena berpamitan pulang. Di tempat baru ini ia sangat bersyukur dipertemukan dengan orang-orang baik dan juga pekerjaan baik.
Tidak ada lagi cahaya club malam dan tatapan menjijikkan para lelaki hidung belang, di sini hidupnya jauh lebih teratur.
Malam mulai tiba saat langkahnya terhenti di depan rumah kayu dekat pantai yang sudah ia sewa beberapa hari yang lalu.
Pintu terbuka lebar, ia masuk dengan perasaan lega, akhirnya bisa istirahat dari rutinitas panjangnya sebagai pelayan di rumah makan.
Ruangan kecil itu langsung menyambutnya dengan aroma kayu dan udara laut yang samar masuk dari jendela.
Di dalamnya hanya ada satu ranjang kecil, meja kayu sederhana, kipas angin tua, dan dapur kecil di sudut ruangan.
Alena tersenyum kecil. Pelan-pelan ia duduk di tepi ranjang sambil mengusap kakinya yang pegal.
“Nak…” bisiknya lirih. “Hari ini kita kuat lagi ya.”
Entah kenapa sejak tinggal di tempat ini, ia jadi lebih sering bicara sendiri dengan calon bayinya. Mungkin karena sekarang… hanya janin kecil itu yang benar-benar ia miliki.
Alena lalu bangkit pelan menuju dapur kecil. Ia merebus air hangat lalu membuat mi sederhana untuk makan malamnya. Meskipun hidupnya kini serba pas-pasan… setidaknya ia tidak lagi merasa tercekik seperti dulu.
"Ye, makanan kita sudah matang," ucap Alina seketika tatapannya berubah pada mie instan itu. Ia tahu mie itu tidak sehat, tapi untuk saat ini hanya itu yang bisa ia makan.
"Maafkan Mama ya Nak, Mama janji kalau ada uang akan beli makanan yang sehat."
Selesai makan, Alena membuka jendela kayu di samping ranjangnya. Angin pantai langsung masuk menerbangkan sedikit rambut panjangnya.
Tatapannya lurus memandang laut gelap di kejauhan. Deburan ombak terdengar begitu jelas malam ini. Alena tersenyum samar menikmati indahnya pemandangan malam itu.
Namun beberapa detik kemudian senyum kecil di bibirnya perlahan memudar. Bayangan wajah Kael kembali muncul begitu saja di kepalanya.
Tatapan dingin pria itu… dan ucapan menyakitkannya hari itu, benar-benar membuat dadanya sesak. Refleks tangan Alena langsung memeluk perutnya erat.
“Tenang ya…” bisiknya dengan mata mulai berkaca-kaca. “Mama nggak akan ninggalin kamu.”
Air matanya jatuh pelan. Namun kali ini bukan karena lemah. Melainkan karena ia sedang belajar menjadi kuat sendirian.
Di luar sana… ombak terus menghantam bibir pantai tanpa henti. Sama seperti hidup Alena yang mungkin tidak akan pernah benar-benar tenang lagi.
Bersambung ....