NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Xiao Chen

Jalan Pedang Xiao Chen

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Di tengah kehidupan yang penuh hinaan dan kesulitan, Xiao Chen kecil hanya memiliki satu mimpi—menjadi pendekar pedang terhebat di dunia.

Tanpa bakat luar biasa maupun latar belakang kuat, ia menapaki jalan pedang dengan tekad yang tak pernah padam. Bagi Xiao Chen, pedang bukan sekadar senjata, melainkan guru yang mengajarkannya tentang rasa sakit, pengorbanan, dan arti kehidupan.

Namun di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mampukah seorang anak dari keluarga buruk mengukir namanya hingga mengguncang langit dan bumi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Terbangun

Aroma pekat obat herbal yang pahit dan menyengat menjadi hal pertama yang menyambut kesadaran Xiao Chen.

Perlahan, kelopak matanya yang terasa seberat timah terbuka. Langit-langit kayu yang asing berputar pelan di dalam penglihatannya yang kabur.

​Setiap kali ia mencoba menarik napas, seluruh tubuhnya menjeritkan rasa sakit yang teramat sangat.

Rasanya seolah-olah setiap tulang di tubuhnya telah dihancurkan menjadi serpihan, lalu dipaksa menyatu kembali dengan cara yang kasar.

Di bawah jubah ruangannya, bagian perut kiri dan dadanya terbalut kain kasa tebal, sisa dari hantaman belati beracun Yan Shou yang hampir merenggut nyawanya.

​Namun, rasa sakit fisik itu menguap seketika saat bayangan malam berdarah di Lembah Seribu Roh melintas di benaknya.

​"Bao Hu... Gu Tian..." Suara Xiao Chen parau, nyaris pecah. Tanpa memedulikan rasa perih yang menusuk perutnya, ia memaksakan tubuhnya untuk menoleh ke segala arah, mencari tanda-tanda keberadaan sahabat-sahabatnya.

​"Kau sudah bangun?" Seorang tabib sekte bertubuh agak tambun berjalan mendekat, membawa semangkuk ramuan baru. Alisnya terangkat heran. "Luar biasa. Racun pembunuh itu seharusnya bisa melumpuhkan seorang praktisi selama berpekan-pekan, tapi pemulihanmu benar-benar di luar biasa."

​"Di mana... di mana mereka, Tuan Tabib?!" Tanya Xiao Chen panik, tangannya mencengkeram lengan baju sang tabib dengan sisa kekuatannya. "Teman-teman satu timku... apa mereka..."

​"Tenanglah, Anak Muda. Jangan merobek kembali jahitanmu," tabib itu menepuk tangan Xiao Chen perlahan. "Mereka semua masih hidup. Saat ini mereka berada di ruang perawatan intensif karena luka mereka teramat parah. Mereka belum sadarkan diri, tapi nyawa mereka sudah berhasil diselamatkan."

​Mendengar kata 'masih hidup', ketegangan di dada Xiao Chen runtuh. Ia menyandarkan kepalanya kembali ke bantal, mengembuskan napas panjang penuh kelegaan yang luar biasa. "Terima kasih... Syukurlah..."

​"Oh, ada satu kabar lagi," lanjut sang tabib dengan nada yang santai. "Karena tragedi ini, ujian kelulusan resmi dihentikan oleh para tetua. Dan karena hanya ada lima orang yang berhasil keluar hidup-hidup dari lembah itu termasuk dirimu, pihak sekte telah memutuskan. Begitu kalian sembuh, kalian akan langsung dipromosikan menjadi murid dalam. Selamat, ya. Perjuanganmu membuahkan hasil yang manis."

​Manis? Xiao Chen tertegun. Kata itu terasa begitu asing dan hambar di telinganya.

Dipromosikan menjadi murid dalam melalui jalur pertumpahan darah dan keputusasaan? Tidak ada satu pun hal dari tragedi mengerikan ini yang layak untuk dirayakan.

​"Lalu... bagaimana dengan mereka yang tidak kembali...?" Tanya Xiao Chen pelan, pandangannya beralih menatap kosong ke luar jendela. "Peserta lainnya... murid-murid lain yang gugur?"

​Tabib itu tersenyum tipis, merapikan peralatan medisnya tanpa beban. "Oh, mereka? Jasad mereka sudah dipindahkan ke aula pemandian jenazah setelah dibersihkan dari darah. Mungkin dalam dua atau tiga hari ini, kereta dari keluarga mereka akan datang untuk menjemput pulang. Petinggi sekte juga sudah menyiapkan dana kompensasi dan batu spiritual yang cukup besar bagi setiap keluarga yang kehilangan anak mereka. Jadi, kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu."

​Kompensasi? Dana? Batu spiritual?

​Dada Xiao Chen berdenyut nyeri. Ia tahu betul, timbunan emas atau ribuan batu spiritual sekalipun tidak akan pernah bisa menghapus air mata, rasa kehilangan, dan kehancuran di hati keluarga yang ditinggalkan.

Nyawa manusia di sekte ini terasa begitu murah, seolah bisa ditukar dengan sekantung koin.

​Xiao Chen terdiam dalam keheningan yang sangat lama.

​Saat memejamkan mata, ingatan itu kembali berputar. Ia teringat wajah-wajah penuh tawa dari para peserta ujian yang sempat Ia lihat di gerbang lembah sebelum ujian dimulai.

Ia teringat murid luar dari tim Lin Hao yang tanpa ragu melemparkan tubuhnya demi menerima tusukan belati di leher.

Dan ia teringat bagaimana Yan Shou memotong leher mereka seolah nyawa manusia tak lebih dari sekadar permainan berburu yang menghibur.

​Beberapa hari kemudian, setelah tubuhnya cukup kuat untuk menapak tanah, Xiao Chen menyelinap keluar dari paviliun medis.

Di bawah langit yang mendung, hujan gerimis turun tipis, membasahi bumi dengan hawa dingin yang menusuk.

Langkah kakinya yang masih agak timpang membawanya menuju ke area memorial sekte—tempat di mana deretan papan nama batu bagi murid yang gugur didirikan.

​Suasana di sana begitu berat, dipenuhi oleh aroma dupa yang basah dan suara isak tangis yang memilukan.

​Kereta-kereta kuda dari berbagai desa telah berjejer. Di depan salah satu papan batu, seorang ibu tua berambut putih tampak berlutut di atas tanah lumpur.

Ia memeluk erat-erat tablet nama kayu anaknya sambil menangis histeris, melolongkan nama sang anak yang kini tak akan pernah menjawabnya lagi.

​Tidak jauh dari sana, seorang ayah duduk termangu di atas batu. Ia tidak menangis, tidak pula bersuara. Pria itu hanya menatap kosong ke arah tanah, seolah seluruh jiwanya telah ikut terkubur bersama anaknya di dalam lembah.

​Xiao Chen memaku di tempatnya berdiri. Air hujan membasahi rambut dan pipinya, menyamarkan air mata yang perlahan luruh. Rasa bersalah yang teramat pekat kembali mencengkeram hatinya.

​"Apakah keberadaanku yang membawa bencana bagi mereka?" Batin Xiao Chen bertanya-tanya, dipenuhi keraguan yang menyiksa. "Jika pembunuh itu benar-benar mengincarku... lalu berapa banyak orang tidak bersalah lagi yang harus mati demi melindungiku?"

​Di dalam ruang kesadarannya, suara berat dan dingin milik Roh Pedang akhirnya bergema.

​"Jika kau tidak mampu menerima kenyataan tentang kematian, maka sejak awal kau tidak pernah cocok untuk berjalan di jalan pedang, Xiao Chen..."

​Mendengar itu, Xiao Chen semakin menundukkan kepalanya. Namun, setelah jeda yang panjang, Roh Pedang kembali melanjutkan dengan nada yang sedikit melunak.

​"...Tetapi, jika kematian mereka mampu menanamkan sesuatu di dalam jiwamu, membuatmu memahami arti sejati dari kekuatan untuk melindungi, maka pengorbanan mereka tidak akan pernah menjadi sia-sia."

​Xiao Chen tidak menjawab. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia tidak ingin bersikap egois dengan membenarkan kematian orang lain hanya agar dirinya mendapatkan 'pelajaran' atau 'pemahaman' tentang pedang. Kematian tetaplah kematian; sebuah kehilangan yang mutlak dan menyakitkan.

​Saat Xiao Chen berjalan gontai meninggalkan area memorial dan melewati pelataran utama murid luar, langkahnya terhenti. Di depan sana, Feng Lin berdiri bersama kelompok pengikut setianya.

​Sebenarnya, Feng Lin sempat didera kepanikan luar biasa saat mendengar kabar bahwa Yan Shou telah tewas. Ia takut kedoknya sebagai dalang yang menyewa pembunuh bayaran akan terbongkar.

Namun, setelah mengetahui bahwa pihak sekte mengira Yan Shou adalah pembunuh bayaran acak yang menyusup, Feng Lin kembali bernapas lega. Rasa pongah dan angkuh kembali menguasai dirinya.

​"Hei, lihat siapa yang berhasil merangkak keluar dari kubur?" Feng Lin bersedekap, menatap Xiao Chen dengan senyum meremehkan. "Kau benar-benar egois, Xiao Chen. 15 murid luar mati mengenaskan di lembah itu, tapi kau? Kau justru pulang membawa gelar murid dalam. Sungguh pahlawan yang menjijikkan."

​Xiao Chen tidak menanggapi. Tatapan matanya yang lelah lurus menatap ke depan. Ia berniat melangkah melewati Feng Lin, menganggap pemuda itu tidak lebih dari sekadar angin lalu.

​Melihat dirinya diabaikan sepenuhnya, urat di dahi Feng Lin menegang. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak oleh orang yang selalu ia anggap sebagai sampah desa.

​"Ck, lagipula kenapa kau harus memasang wajah berduka seperti itu?" Feng Lin mendengus, suaranya sengaja dikeraskan agar didengar murid-murid lain yang sedang lewat. "Kematian sekumpulan sampah murid luar itu bahkan tidak lebih berharga dari sekadar lalat yang mati terpukul. Mereka mati karena mereka lemah, tidak ada yang perlu ditangisi!"

​Langkah kaki Xiao Chen berhenti seketika.

​Kata-kata Feng Lin seolah menjadi pemantik yang menyambar sumbu ledak di dalam dadanya.

Seluruh rasa frustrasi, kesedihan, dan amarah yang ia tahan sejak terbangun dari koma mendidih hingga ke titik puncak. Tangan Xiao Chen mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih dan bergetar.

​WUSH!

1
Maul
👍👍
Maul
latihan keras 😢
Maul
/Panic//Panic/
Maul
/Scare//Scare/
Maul
kenapa nih🤔
Maul
Benar-benar membingungkan Patriark itu🤭
Maul
/Smile/
Maul
Sepertinya Patriark baik🤔
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🌽🔥
Agen One
Bab 37 sabar guys/Sleep/
Agen One
Kakek roh/Whimper/
Agen One
jadi juga murid dalam/Frown/
Agen One
🤕🤔
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees boos 🌽🔥
Maul
keputusan apa ituh
Maul
takut itu wajar Qianer
Maul
/Frown/
Agen One
selamat Idul Adha ya semuanya/Smile//Pray/
Agen One
Bab 35 sabar ya/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!