" Gue suka sama lo...lo harus jadi pacar gue!!" Suara berat seorang pria membuatnya cukup gugup.
"Maaf, tapi gue suka nya sama orang lain." Mirra dengan penuh keberanian menolak pria tinggi tegap yang berada di hadapannya.
"Nggak bisa, lo harus jadi pacar gue, titik!!!" Tegas pria itu sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Mirra.
Mirra Afessya, gadis belia yang baru saja duduk di bangku kelas satu SMA itu harus dihadapkan dengan pria yang ternyata diam-diam dan pura-pura mengagguminya.
Akankah Mirra menerima pengakuan paksa itu? Ataukah Mirra akan menolaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Kylla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan
19.00
Mirra baru saja selesai makan malam bersama dengan mamanya, kini dia mulai berjalan menuju kamarnya, dan saat Mirra memeriksa ponselnya, ia melihat ada dua pesan masuk di ponselnya.
"Kak Satria? Kak Ajun? Mereka chat barengan gini." Gumam nya lalu Mirra dengan segera membuka dua pesan masuk tersebut.
Kak Ajun
Malem Mirr, besok mau bareng gue lagi nggak?
Mirra
Maaf kak, kayaknya nggak deh, gue besok bareng mama gue.
Kak Satria
Hai Mirra...sorry ya gue chat malem-malem...besok mau gue jemput di halte lagi gak?
Mirra
Hai kak, it's okey, gpp kak...tapi maaf kak, kayaknya gue besok berangkat bareng mama kak.
Kak Ajun
Yah, sayang banget, padahal gue pengen bareng lo lagi.
Mirra
-_- tapi gue nggak bisa kak, jangan di paksa ya...
Kak Satria
Yaudah gpp Mirr, mungkin besok-besok nya lagi bisa...yaudah kalo gitu, takut lo nya udah ngantuk dan udah mau tidur. Good night Mirr...mimpi indah ya.
Mirra
Iya kak, maaf banget ya kak... night to kak...
Kak Ajun
Gue nggak maksa kok...hehe cuma gue menyayangkan diri gue sendiri aja Mirr...gue kan pengen lebih deket sama lo...
Mirra
Iya kak...
Kak Ajun
Lo lagi apa nih Mirr? Nggak ganggu kan gue?
Mirra
Lagi mau tidur kak, udah ya...gue udah ngantuk.
Kak Ajun
Ha? Ini kan baru jam 7 malem Mirr? Lo udah mau tidur? Apa jangan-jangan lo cuma alesan karena nggak mau chat-an sama gue?
Mirra
Gue bukan alasan, tapi emang gue udah ngantuk kak, gue biasa tidur cepet.
Kak Ajun
Tapi setidur-tidur nya cepet lo nggak mungkin jam 7 juga kan, kalo jam 9 masih oke lah.
Mirra
Gue serius kak, udah ya, capek ngejelasinnya kalo lo nggak percaya.
Kak Ajun
Jangan ngambek dong Mirr, iya-iya gue percaya kok.
Mirra
Gue nggak ngambek.
Kak Ajun
Yaudah, met bobo Mirra, mimpiin gue ya.
Mirra
-_-'
"Kok kak Ajun agak nyebelin ya..." Gumam Mirra lalu dia mulai meletakkan ponselnya di atas meja belajarnya.
Mirra sengaja beralasan karena dia tidak ingin berlama-lama berbalas-balasan pesan, Mirra mau menyiapkan pelajaran untuk besok dan memelajarinya lalu setelah itu dia ingin tidur.
*****
Keesokannya.
Pagi ini hujan gerimis turun, Mirra mulai masuk ke dalam mobil mamanya.
Braakkkk!!! Pintu mobil Mirra tutup dengan suara yang lumayan cukup kencang sampai mama nya yang sudah berada di dalam mobil pun terkejut.
"Mirr, pelan-pelan, kamu ini..." Keluh mamanya.
"Maaf ma, aku buru-buru takut kena hujan.".
"Astaga Mirra, tapi ini kan cuma gerimis. "
"Iya tetep aja ma, kalo ngenain baju aku kan pasti basah."
Julia menggelengkan kepalanya tampak heran mendengar jawaban dari putri nya itu. " Di samping bangku belakang ada payung, nanti kamu pake aja."
"Iya ma."
Lalu Julia mulai melajukan mobilnya, dan begitu sampai di sekolah, Mirra dengan segera meraih payung yang ada di samping bangku belakang mobil mama nya. Hujan juga mulai turun deras, sehingga Mirra juga menjadi cukup tergesa-gesa.
"Ma...aku turun ya..."
"Iya sayang...nanti malam mama pulang malam, kayak biasa ya kunci semua jendela sama pintu kalo kamu mau tidur."
"Iya ma."
Mirra pun langsung bergegas membuka payung nya begitu dia membuka pintu mobil, dan dengan langkah kaki yang cepat Mirra mulai berjalan menuju halaman sekolahnya.
Dan begitu sampai di lorong sekolahnya, Mirra langsung menutup payungnya, dan meletakkan payung miliknya pada sebuah rak yang ada di sekitar lorong tersebut, dan rak tersebut memang digunakan untuk tempat menaruh payung para siswa.
"Udah pake payung padahal, tapi masih basah juga." Keluh Mirra sambil merapihkan pakaian seragamnya.
"Mirr, baru sampe? " Tanya Angkasa yang baru saja tiba, dan dia juga langsung melepas jas hujannya.
"Iya, lo juga..." Mirra pun mulai melihat ke arah Angkasa." Rambut lo basah Sa...emang lo nggak pake helm?" Tanya Mirra yang memperhatikan rambut basah Angkasa.
"Pake Mirr, basah dikit doang ini mah, yuk ke kelas." Ajak Angkasa begitu dia sudah meletakkan jas hujan miliknya tepat di samping payung Mirra.
Dan mereka pun berjalan dengan bersamaan menuju kelas mereka.
"Jam masuk masih setengah jam lagi, gue mau ke kantin abis naro tas, lo mau ikut gak?" Tanya Angkasa begitu mereka masuk ke dalam kelas.
"Mau ngapain?"
"Mau cari sarapan, gue belum sarapan soalnya, mama gue nggak masak."
"Oh, yaudah deh boleh, gue juga mau cari cemilan, lagian kelas masih sepi. "
Mereka pun dengan segera meletakkan tas mereka dan kemudian kembali berjalan bersamaan menuju kantin.
"Tumben lo berangkat pagi banget Mirr. " Tanya Angkasa begitu mereka sampai kantin.
" Gue berangkat bareng mama soalnya."
"Oh, yaudah, gue mau pesen bubur ayam dulu."
"Oke, gue juga mau cari minuman anget sama makanan ringan."
Dan setelah mereka berdua selesai memesan makanan dan membeli apa yang ingin mereka beli, mereka pun mulai duduk di sebuah bangku dengan berhadap-hadapan.
"Lo emang biasa berangkat pagi ya Sa?" Tanya Mirra sambil memakan makanan ringannya.
"Nggak juga, kalo mama gue nggak masak aja."
"Oh, kirain...mama lo kerja emang?"
"Nggak..."
"Terus kalo nggak masak kenapa?"
"Mama gue sakit, kadang penyakitnya suka kambuh tiba-tiba, dan kalo lagi kambuh ya dia nggak masak."
Mirra tampak sedikit tidak enak hati begitu mendengar alasan mamanya Angkasa tidak bisa memasak untuk Angkasa.
"Sorry ya Sa, gue nggak tau..."
"Nggak apa-apa Mirr, santai aja."
Mirra pun sedikit tersenyum samar." Kalo boleh tau, mama lo sakit apa?"
"Diabetes."
"Ah gitu...semoga mama lo cepet sembuh ya."
"Thanks Mirr..." Jawab Angkasa lalu kembali memakan buburnya.
Mirra terus saja memperhatikan Angkasa yang saat ini tengah makan, dia juga tidak menyangka jika dirinya bisa mengobrol cukup banyak seperti sekarang ini dengan Angkasa yang notabenenya pendiam dan juga introvert.
"Sa..."Panggil Mirra dengan raut wajah sedikit penasaran.
"Hmmm?"
"Lo dari dulu emang pendiem, apa emang ada hal yang bikin lo jadi tertutup?"
Angkasa yang sudah menghabiskan buburnya itu langsung meneguk teh tawar hangat yang ada di hadapannya, lalu setelah itu dia mulai melihat ke arah Mirra dengan tatapan serius.
"Gue dulu nya nggak introvert, cuma setelah gue koma selama beberapa minggu atau bulan, gue nggak inget pastinya berapa lama gue koma nya, setelah kejadian itu gue jadi pendiem."
Mirra terlihat cukup terkejut." Lo pernah koma? Kenapa?"
"Kecelakaan motor, jadi gue nunda sekolah gue selama setahun."
"Astaga Sa...tapi sekarang lo udah nggak apa-apa kan?"
Angkasa pun mulai tersenyum, dan tampaknya dia juga mulai merasa nyaman berbicara dengan Mirra.
"Sekarang gue udah baik-baik aja, lo liat sendiri kan? Dan gue baru cerita sama lo doang soal kecelakaan gue dan juga soal koma yang gue alamin."
"Lo serius baru cerita ke gue? "
Angkasa pun mengangguk." Berarti ini rahasia dong Sa?" Lanjut Mirra hingga membuat Angkasa sedikit tersenyum.
"Ya nggak juga Mirr...lambat laun juga pasti banyak yang tau, apalagi kalo mereka sadar kalo umur gue lebih tua setahun."
"Ah gitu..."
"Iya..."