NovelToon NovelToon
Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Candra Arista

Rara Wijaya, seorang perawat muda berbakat di RS Bunda, hidup dengan luka yang dalam akibat kehilangan kedua orang tuanya. Ibu yang berhati lembut meninggal karena penyakit langka, sementara ayahnya, seorang dokter, tewas dalam kecelakaan mobil saat menolong korban tabrakan. Meskipun penuh dendam, Rara tumbuh menjadi perawat yang sangat berdedikasi.

Namun, kehidupannya berubah total ketika RS Bunda mendatangkan dokter spesialis bedah baru, dr. Arkan Pratama. Dokter muda ini dikenal dingin dan perfeksionis, yang sering meremehkan perawat. Awalnya, Rara dan Arkan selalu bertikai, sampai suatu hari Rara mengetahui bahwa Arkan adalah putra dari dokter yang menyebabkan kematian ayahnya 15 tahun lalu.

Konflik mereka memuncak ketika mereka harus bekerja sama menangani pasien kritis. Di tengah badai, mereka terjebak di rumah sakit tua yang sudah tidak terpakai - tempat yang sama di mana ayah Rara terakhir kali bekerja. Di sana, rahasia keluarga mereka terbongkar satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 : Operasi Penyelamatan oleh Dokter VS Perawat

Kaki-kaki itu bergerak lambat menuruni tangga, terdengar berat dan penuh determinasi. Rara menahan napasnya, tangan memegang buku harian ayahnya dengan kuat. Arkan berdiri di depannya, siap menghadapi setiap ancaman yang muncul.

“Aku mendengar kalian ada di sini,” suara dr. Fahri bergema di ruang bawah tanah yang dingin. “Bersembunyi tidak ada artinya. ”

Arkan melirik Rara sejenak sebelum keluar dari tempat persembunyian. “Apa yang kau inginkan, Fahri? ”

Dr. Fahri tersenyum sinis, wajahnya tampak menakutkan di bawah cahaya senter yang dibawanya. “Aku melihat kalian berdua masuk ke sini. Aku penasaran dengan apa yang kalian cari. ” Matanya beralih pada buku di tangan Rara. “Ah, pasti itu memiliki nilai yang tinggi. ”

"Ini adalah milikku," Rara maju, mempertahankan buku itu dengan erat. "Buku harian milik ayahku. "

"Buku harian dr. Wijaya? " Dr. Fahri tertawa singkat. "Setelah sekian lama menghilang, kini akhirnya terungkap. "

"Kau tahu tentang buku ini? " Arkan menuduh dr. Fahri dengan nada skeptis.

“Tentu,” dr. Fahri menjawab dengan santai. “Aku yang menyimpannya setelah kematiannya. ”

“Apa? ” Rara tampak terkejut. "Kenapa kau melakukan itu? "

“Karena buku itu menyimpan kebenaran yang seharusnya tetap tersembunyi,” dr. Fahri melangkah mendekat, tangannya berusaha meraih buku itu. “Serahkan padaku! ”

“Tidak! ” Rara mundur beberapa langkah.

“Kau tahu apa yang terjadi malam itu, kan? ” dr. Fahri tiba-tiba mengubah nada, wajahnya mengerut penuh kemarahan. “Mereka—ayahmu dan dr. Reza—mereka hampir merusak semua rencana kami! ”

“Merusak apa? ” Arkan mengikuti.

“Operasi kami! ” dr. Fahri berteriak. “Mereka tahu tentang transplantasi organ ilegal yang kami lakukan! Mereka berencana melaporkan kami! ”

Rara merasa tubuhnya bergetar mendengar pengakuan itu. “Jadi. . . kau lah yang membunuh ayahku? ”

“Aku tidak berniat untuk membunuhnya,” dr. Fahri tertawa dengan cara yang menyeramkan. “Aku hanya ingin menakut-nakuti mereka. Tapi mobil itu meledak lebih cepat dari yang kami perkirakan. ”

“Kau adalah seorang pembunuh! ” Arkan segera maju, menahan dr. Fahri dengan kuat. “Kau sudah membunuh ayah kami! ”

“Dan sekarang aku akan menyelesaikan apa yang sudah dimulai,” dr. Fahri mendorong Arkan dengan keras. “Serahkan buku itu! ”

Dalam keributan itu, buku harian terjatuh dari genggaman dan terbuka. Dr. Fahri segera mengambilnya, tetapi sebelum ia bisa melarikan diri, Arkan menjatuhkan kakinya.

“Rara, cepat lari! ” Arkan berteriak saat ia bertarung melawan dr. Fahri.

“Aku tidak akan meninggalkanmu! ” Rara mengambil pipa yang tergeletak di lantai dan memukul dr. Fahri di punggungnya.

Dr. Fahri mengeluh kesakitan namun mencoba tetap mendapatkan buku itu. “Kalian tidak akan menang! ”

Di tengah perkelahian, dr. Fahri berhasil mengeluarkan pistol kecil dari sakunya. “Ini adalah akhir bagi kalian berdua! ”

“Rara, turun! ” Arkan menyerang dr. Fahri tepat ketika pistol itu meledak. Suara tembakan menggema di ruang bawah tanah.

Rara menutup telinganya, tubuhnya bergetar karena ketakutan. Setelah membuka matanya, ia melihat dr. Fahri terjatuh tak bergerak, darah mengalir dari kepalanya—ia tertembak dalam perkelahian ini. Arkan berdiri di sampingnya, wajahnya tampak pucat.

“Dia. . . dia sudah mati? ” Rara bertanya dengan suara bergetar.

Arkan mengangguk perlahan. “Kita harus pergi. Sekarang juga. ”

Mereka berdua segera mengambil buku harian yang sedikit rusak dan berlari keluar dari rumah sakit tua itu. Saat sampai di mobil, Rara baru menyadari betapa gemetar tangannya.

“Kita harus melapor kepada pihak berwajib,” Rara berkata saat mereka mulai menghidupkan mobil.

"Belum saatnya," Arkan menjawab dengan suara parau. "Besok adalah operasi besar kita. Kita perlu memusatkan perhatian pada itu terlebih dahulu. "

"Tapi—"

"Buku itu adalah bukti yang kuat," Arkan menatap Rara dengan penuh semangat. "Setelah operasi besok, kita akan mengungkap semuanya. Namun saat ini, kita harus menyelamatkan nyawa pasien tersebut. "

Rara menyadari bahwa Arkan benar. Mereka perlu menyelesaikan tugas mereka di rumah sakit terlebih dahulu. Namun satu hal pasti—kebenaran akan terkuak, dan mereka akan mendapatkan keadilan untuk ayah mereka.

Saat mereka melangkah menyusuri koridor rumah sakit yang sepi—tangan mereka bergandeng erat kali ini, tanpa keraguan—mereka berdua memahami: ini bukan lagi berkaitan dengan balas dendam atau kebencian. Ini adalah tentang menyelesaikan apa yang tidak mampu diselesaikan ayah mereka.

Ini tentang memperbaiki sejarah yang telah diputarbalikkan selama bertahun-tahun. Ini berhubungan dengan membawa ketenangan bagi mereka yang telah pergi—serta bagi yang masih hidup.

Dan saat Arkan memandang Rara dengan penuh semangat ketika mereka melangkah ke ruang operasi—untuk satu tindakan terakhir yang akan mengubah segalanya—Rara memberikan senyuman tipis dan mengangguk. Mereka siap. Bersama.

Keesokan paginya, suasana di RS Bunda terasa lain. Informasi mengenai hilangnya dr. Fahri telah menyebar, tetapi tak seorang pun mengetahui bahwa dia telah meninggal di rumah sakit tua. Rara dan Arkan sepakat untuk menyimpan rahasia tersebut sampai operasi selesai.

Di ruang ganti perawat, Sisi menyapa Rara dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu. "Apakah kamu baik-baik saja? Wajahmu terlihat sangat pucat. "

_"Aku. . . kurang tidur,"_ bohong Rara sambil mengenakan seragam operasinya. _"Hari ini ada operasi besar. "_

"Benar, aku mendengar bahwa dr. Arkan akan melakukan prosedur jantung terbuka yang sulit," jawab Sisi sambil mengangguk. "Apakah kamu terpilih sebagai perawat utama? "

"Ya," Rara menghela napas. "Dan aku merasa gugup. "

"Kamu pasti bisa mengatasinya," Sisi menepuk bahunya. "Dr. Arkan mungkin tegas, tetapi dia adalah dokter yang sangat terampil. "

Rara mengangguk pelan. Seandainya Sisi mengetahui betapa rumitnya hubungan mereka saat ini. Setelah insiden semalam, segala sesuatu berubah. Dia kini menyadari bahwa dr. Fahri adalah penyebab kematian ayahnya—bukan ayah Arkan seperti yang selama ini dia yakini.

"Aku perlu pergi," Rara menyudahi obrolan dan menuju ruang operasi.

Setibanya di sana, Arkan sudah ada, memeriksa peralatan bedah dengan seksama. Dia menoleh saat Rara memasuki ruangan.

"Kamu sudah datang," katanya dengan nada datar.

"Aku berjanji akan membantu dalam operasi ini," tegas Rara menjawab. "Apa pun yang terjadi di antara kita. "

Arkan mengangguk. "Pasien adalah fokus utama sekarang. Hal lain bisa menunggu. "

Tim operasi mulai berkumpul—asisten dokter, ahli anestesi, dan perawat tambahan. Semuanya bersiap untuk prosedur yang akan berlangsung selama delapan jam.

"Lima menit lagi," kata ahli anestesi.

Rara menarik napas dalam-dalam. Dia harus berkonsentrasi sekarang. Operasi ini sangat vital—pasiennya adalah seorang gadis kecil berusia 12 tahun yang memiliki kelainan jantung bawaan rumit.

"Kamu tahu kenapa aku memilihmu sebagai perawat utama? " tanya Arkan tiba-tiba saat mereka berdua membersihkan tangan.

Rara memandangnya. "Tidak. "

"Karena aku percaya padamu," Arkan menjawab dengan suara pelan agar hanya Rara yang mendengar. "Dan setelah malam kemarin. . . aku semakin yakin. "

Rara tidak tahu harus berkata apa. Ucapan itu membuat hatinya terasa hangat meskipun berada dalam situasi yang tegang ini.

"Aku tidak akan mengecewakanmu," ujarnya akhirnya.

"Aku tahu," Arkan memberikan senyuman tipis—suatu hal yang jarang dia lakukan—sebelum melangkah ke dalam ruang operasi dengan sikap profesionalnya yang biasa.

Operasi dimulai dengan lancar. Arkan melaksanakan tugasnya dengan presisi yang menakjubkan—setiap irisan, setiap jahitan dilakukan dengan sangat baik. Rara dengan cermat mengikuti setiap gerakan Arkan, selalu siap dengan alat yang diperlukan sebelum diminta.

"Suction," perintah Arkan.

"Siap," Rara segera memberikan alat penyedot cairan.

"Clamp. "

"Clamp," Rara menyerahkan penjepit pembuluh darah.

Segalanya berjalan baik hingga tiba-tiba monitor jantung pasien berbunyi alarm. Denyut jantungnya menurun drastis.

"Aritmia! " teriak ahli anestesi.

"Berikan listrik! " Arkan memerintahkan sambil terus bekerja di ruang dada pasien.

Rara cepat menyiapkan defibrillator dan memberikan kejutan listrik. Detak jantung kembali stabil sejenak, tetapi kemudian turun lagi.

"Tidak stabil! " lapor asisten dokter dalam keadaan panik.

"Dia kehilangan darah terlalu banyak,"_ Arkan berkata dengan suara tegang. "Kita perlu darah segar segera! "

"Bank darah menginformasikan bahwa pasokan untuk golongan AB telah habis! " kata salah satu perawat.

Kekhawatiran mulai menyebar di seputar ruang operasi. Rara memperhatikan wajah Arkan yang semakin berkeringat. Dia menyadari bahwa ini adalah situasi mendesak—pasien bisa kehilangan nyawa dalam waktu singkat.

"Apa golongan darahmu? " Arkan tiba-tiba bertanya kepada Rara.

Rara sedikit terkejut sebelum menjawab, "AB positif. "

"Sama dengan pasien," Arkan menatapnya dengan serius. "Maukah kamu mendonorkan darahmu langsung? "

"Ya," Rara menjawab tanpa ragu. "Lakukan apa pun untuk menyelamatkannya. "

"Siapkan transfusi darah segera," Arkan memberi perintah. "Rara, kamu akan berbaring di samping pasien. Kita akan ambil darahmu secara langsung untuk dia."

Dalam sekejap, Rara sudah terbaring di samping meja operasi, lengannya terhubung dengan selang menuju pasien kecil itu. Dia merasakan darahnya keluar, tetapi dia tidak peduli. Yang terpenting adalah nyawa anak ini.

"Terima kasih," Arkan berbisik ketika dia kembali mengerjakan dada pasien.

"Jangan berhenti sekarang," Rara menjawab dengan suara lemah. "Selamatkan dia."

Jam-jam berikutnya terasa sangat berat bagi Rara. Dia merasa pusing akibat kehilangan darah, tetapi dia tetap berusaha untuk siaga. Dia menyaksikan Arkan bekerja tanpa henti, wajahnya tegang namun tetap berkonsentrasi.

"Terakhir," Arkan akhirnya mengucapkan setelah enam jam melakukan operasi yang melelahkan. "Jantungnya sudah stabil. "

Ruang operasi dipenuhi dengan suara lega. Pasien berhasil diselamatkan. Rara berusaha tersenyum sebelum akhirnya kehilangan kesadaran karena kelelahan.

Ketika dia terbangun, dia sudah berada di ruang pemulihan, dengan infus terpasang di lengannya. Arkan duduk di samping tempat tidurnya, ekspresinya lelah tetapi puas.

"Kamu terbangun," katanya saat melihat Rara membuka matanya.

"Bagaimana dengan pasien? " tanya Rara dengan suara serak.

"Stabil," jawab Arkan. "Dia akan baik-baik saja berkat dirimu. "

"Seberapa banyak darah yang kamu ambil? " Rara mencoba bercanda meski merasa lemah.

"Cukup untuk menyelamatkan hidupnya," Arkan tersenyum kecil. "Kamu adalah pahlawan hari ini, Rara. "

"Kita berdua," Rara membalas senyumnya. "Operasi yang hebat, Dokter. "

"Terima kasih telah mempercayai saya," Arkan berkata dengan serius. "Dan. . . untuk semuanya. "

Tatapan mereka bertemu dalam sebuah pemahaman yang mendalam. Mereka mungkin masih memiliki banyak hal yang perlu diselesaikan—tentang masa lalu mereka, tentang kebenaran yang baru terungkap, tentang perasaan yang perlahan tumbuh. Namun untuk saat ini, mereka hanya ingin menikmati momen kecil ini—bersama.

"Selamat beristirahat," ujar Arkan sambil bersiap untuk pergi. "Kita akan bicarakan lagi nanti. "

Rara mengangguk lembut lalu menutup matanya. Dia yakin mereka akan melalui semua masalah ini bersama-sama.

Ketika ia merasakan tangan Arkan yang hangat menggenggam tangannya erat, ketika dia mendengar Arkan berbisik lembut "aku ada di sini" di tengah malam yang tenang, Rara menyadari bahwa ini adalah ketenangan sejati—bukan melupakan yang telah berlalu, tetapi menemukan seseorang yang memahami sakitmu tanpa kekhawatiran.

Bersambung. . . .

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!