NovelToon NovelToon
Di Dua Dimensi Cinta Dan Kehidupan Realita

Di Dua Dimensi Cinta Dan Kehidupan Realita

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik / Dunia Masa Depan
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: Silviriani

Hanya anak muda yang ingin mendapatkan kebaikan dalam hidupnya, mencintai wanita tapi tak seorangpun menginginkannya. Cakka, fisik tubuhnya memanglah idaman semua kaum hawa. Namun wajahnya? terdapat bintik-bintik merah yang timbul dari kulit yang seharusnya menjadi rupa pertama dari setiap pertemuan. Selain itu, kulit wajahnya seperti lelehan plastik yang tak bisa terbentuk rapih mengikuti rahang. Buruk rupa, itu sebutan orang-orang untuk Cakka. Sejak kecil, sejak ia lahir kedunia. Hidupnya nelangsa, bukan karena wajahnya saja tapi karena ayah ibunya pergi lebih dulu darinya. Belum lagi Gempa, yang berhasil menghancurkan rumah tempat berlindungnya dan merenggut sang nenek yang mengasuhnya sejak kecil. Sedih, kesepian, dan sebatang kara. Itu yang Cakka alami ketika usianya beranjak sebelas tahun. Apakah Cakka akan berputus asa dengan hidup yang terus menerus di uji? Apakah wajah Cakka akan tetap seperti itu untuk melanjutkan hidup? Simak ceritanya Di Dua Dimensi!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hanya Tamparan

Mobil pun kembali melaju dengan kecepatan sedang dan santai, semua masih nampak biasa saja seperti tadi. Namun, mata Cakka tak bisa mengalihkan pandangannya dari spidol putih permanen yang dipegang Obit sedari tadi. Spidol itu Obit mainkan, perlahan dibuka tutupnya sedikit dicoretkan pada punggung kursi mobil. Ia pun mengusapnya untuk memastikan bahwa spidol itu permanen atau tidak.

Ditutup lagi, diputar menggunakan jari-jarinya. Seperti memainkan stik drum. Dibacanya pelan, komposisi dari spidol itu. Nama perusahaan dan merek terbaca dari kejauhan satu meter. Kali ini, Obit membuka tutup bagian bawahnya. Ia mengambil sebuah botol dari saku celananya. Ternyata itu tinta isi ulang spidol, warna putih.

Entah apa rencana yang akan Obit lakukan?! Cakka benar-benar sudah tidak enak hati, ia ingin kabur, ingin menghindar tapi kemana? Dia duduk paling belakang! Menelan ludahnya sendiri, seraya berjaga diri. Bersiap untuk menghindari hal yang tak di inginkan.

Sumbu atau tabung spons tempat menyimpan tinta didalam spidol, Obit keluarkan. Pun botol tadi yang ia raih dari kantong celananya dibuka. Ia seperti memainkan sumbu spidol kedalam botol. Dicelup, dibiarkan menetes tintanya kedalam botol, terus berulang kali seperti itu. Seperti sedang menunggu momen yang tepat!.

Brugh!!!

Mobil melewati polisi tidur begitu cepat, yang dimana semua penumpang sedikit terangkat pantatnya dari kursi. Pun! Spidol dan cairan tinta yang dibotol tumpah, ke celana Obit.

Trash!!!!

Cakka yang melihat itu langsung mengangkat kedua kakinya, menghindari cipratan tinta permanen. Obit membelalak! Semua orang, termasuk ajudan langsung teralihkan perhatiannya kepada dia.

"Obit!!!!!!" Bentak ajudan ketika mengetahui jas setelannya terkena tumpahan tinta spidol yang dia beli sendiri di minimarket pada saat meminta izin untuk buang air kecil.

Semua orang langsung mengangkat kaki karena takut sepatunya terkena tinta yang tumpah ke karpet mobil. Nampak sekali wajah ajudan pak Kleo kesal. Beliau tidak langsung menghampiri Obit. Hanya menggebrak punggung kursi mobil miliknya.

Brugh!!!

"Mampus! Lu bakalan kena pinalti berapa tuh? Pak Kleo kan kalau soal baju tajam banget dompetnya. Bakalan lebih dari satu juta itu mah!" Ucap Alvin.

"Lagian kenapa sih beli spidol kayak begitu? Kita ini mau pemotretan bukan mau jadi guru!" Timpal Ozy.

"Lu mau ngapain Bit?" Tanya Gabriel dengan nada malas.

Obit sendiri ketika dihujani pertanyaan dari rekannya hanya bisa diam, memandangi semua cairan itu menyerap ke kain bajunya. Sesekali dia membuang nafas secara kasar melalui mulut yang sepertinya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pun perlahan pandangannya kini beralih kepada Cakka yang sedang berjongkok di atas kursi mobil.

Merasa terhina dengan perbuatannya sendiri, Obit marah! Dia menatap kembali tangannya yang sudah penuh dengan tinta spidol, entah apa yang ada di pikirannya. Tiba-tiba tubuh Obit bangkit dari duduknya, perlahan kakinya menghadap Cakka sepenuhnya.

"Apa yang akan kamu lakukan?!" Tanya Cakka takut.

Pun ajudan langsung merespon suara Cakka yang begitu lantang karena saking takutnya dengan tatapan Obit yang marah, kesal dan malu. Ajudan perlahan bangkit dari duduk, tanpa diketahui Obit beliau berjalan menyesuaikan tinggi atap mobil.

"Kalau gue harus bayar hutang, lu juga! Semua ini gara-gara lu! Kalau bukan karena hati gue benci sama lu, kejadian kayak gini tuh nggak bakalan terjadi!" Obit mengambil ancang-ancang, mencari bagian mana yang tepat untuk ia kotori.

Sedangkan Cakka, ia hanya bisa menangis ditempat. Tidak bisa dia menaiki kursi milik Deda yang tepat ada didepannya.

"Aku mohon jangan lakukan itu! Kita ini saudara, satu rumah"

Seperti sudah kerasukan setan, Obit mengabaikan perkataan Cakka. Dia menggelengkan kepalanya pelan sembari tersenyum jahat. Dibenaknya, terhitung angka.

Satu.. Dua... Tiga!

Obit seperti macan yang melihat mangsa, tubuhnya langsung berhambur memeluk Cakka. Namun bukan kasih sayang yang ia limpahkan tapi kebencian yang mendalam berupa tinta spidol putih permanen, menempel pada setelan jas berwarna biru dongker.

Pun ajudan, tangannya cepat meraih rambut Obit. Namun rupanya kekesalan Obit jauh lebih besar daripada tenaga ajudan. Sedikit kewalahan dan akhirnya bisa melepaskan Obit dari Cakka.

Eugh!!!!!!!!

Brak!!!!!

Obit terpelanting ke kursinya sendiri.

"Kamu gila ya?!" Tanya ajudan marah.

Namun yang obit lakukan hanyalah tersenyum puas, sedangkan Cakka. Ia menatap semua tinta putih yang menempel di bajunya "Aduh! gimana ini?" Ucapnya dengan tangan gemetar dan rasa takut yang cukup berlebihan.

Hening didapat, hanya suara mobil yang mereka dengar pada saat itu. Ajudan tak kembali ke kursinya, ia berdiri tepat didepan Obit, seperti bersiap akan menyiksanya setelah mobil berhenti.

Pikiran Cakka kalang kabut! Dia masih tak menyangka ternyata firasatnya benar, sesuatu buruk akan terjadi.

(***)

Plak!!!

Plak!!!

Tamparan, bentakkan yang Obit dan Cakka terima, dikelilingi kru dan anggota rumah BV. Pun ajudan tak tertinggal.

"Bodoh! Tolol kalian!" Cleo, memaki mereka berdua. Membuang ludah kelantai.

Cuih!!!!

"Apa yang kalian pikirkan?! Satu setelan jas itu harganya mahal!!!! Memangnya kalian bisa ganti?!"

Tiba-tiba Obit berlutut dihadapan semua orang, wajahnya menunduk, berpasrah, berharap ada welas asih yang masih tersisa di hati Kleo.

"Saya Obit, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Saya rela mengganti rugi ini semua dengan hutang yang nanti akan saya bayar melalui kerja keras! Saya berjanji pak Kleo"

Namun, pak Kleo hanya menyunggingkan senyumnya. Memasukkan kedua tangan kedalam kantong celana yang tak dalam.

"Kamu yakin bakalan debut jadi artis?"

Perlahan wajah Obit mendongak, menatap sang CEO penuh.

"Kelakuan mu buruk seperti ini apa yang akan saya debutkan? Fans mu pasti dibuat kecewa berulang kali dan saya, tidak mau harus menanggung malu karena kamu!."

Mendengar itu tentunya membuat perasaan Obit bingung, sedih sekaligus takut. Ia memegang kedua kaki Kleo, memohon untuk bisa mendebutkannya.

"Tolong pak Kleo! Debutkan saya! Saya janji ini yang terakhir kalinya... Ini semua terjadi karena Cakka yang mulai, bukan saya!"

Tak terima, Cakka membela diri.

"Apa?! Enggak pak! Sungguh. Saya sedang duduk dikursi, Obit yang memainkan spidol itu sendiri. Tumpah, lalu mengenai bajunya. Malah, baju saya kotor seperti ini karena dia yang menyerang. Saya justru mendorongnya untuk tidak terus memeluk saya dalam keadaan tangan yang penuh tinta!"

Namun pak Kleo hanya diam, menatap kepala Obit yang masih tertunduk dikakinya. Cakka, mengatur nafas melihat satu persatu orang-orang yang berdiri disana.

"Ajudan juga tahu kalau ini Obit yang mulai!"

Namun sang ajudan hanya diam saja, pun yang lain. Anggota rumah BV juga diam. Tak berkata sepatah katapun soal kejadian ini. Cakka hampir putus asa. Dia menghampiri Kleo, memegangi tangannya sembari menatap wajah sang bos. Cakka berkata, "Saya bersumpah, kejadian ini bukan karena saya pak!" Namun, lagi-lagi yang didapat oleh Cakka hanya tamparan.

Plak!!!!!!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!