Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.
Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.
Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.
Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yhtp *33
33
Sekarang, saat giliran dirinya yang harus merawat istrinya, Reyno baru sadar satu hal besar. Selama ini, istrinya mencintai dan menyayanginya dengan tulus dan sebesar itu. Tanpa syarat. Tanpa pamrih. Sementara dia? Dia malah menyia-nyiakan kasih sayang itu demi hal yang tak sebanding nilainya.
"Aku bakal cuti beberapa hari ke depan," ucap Reyno tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka berdua. Ia meletakkan mangkuk kosong itu ke samping.
Merlin sedikit mengangkat kepalanya, menatap suaminya dengan pandangan bertanya yang samar. Rey memahaminya. Mengerti tanpa Merlin harus berucap secara langsung.
"Aku mau nemenin kamu terus di sini. Nggak ke kantor, nggak ke mana-mana. Cuma di rumah sama kamu," tambah Reyno dengan nada tegas dan penuh kesungguhan.
Hening sejenak. Namun jawaban yang keluar dari mulut Merlin justru sangat pelan, hampir berbisik, namun bisa di dengar dengan jelas.
"Gak usah."
Reyno langsung mengernyitkan dahi, kaget dan sedikit terluka. Ia meraih tangan istrinya yang ada di atas meja dengan cepat. "Kenapa? Kamu lagi sakit, Mer. Kamu butuh dirawat. Aku mau jagain kamu."
"Aku bisa sendiri kok," jawab Merlin santai, lalu menarik perlahan tangannya agar terlepas dari genggaman suaminya. "Aku udah biasa sendiri, jadi, sekarang bukan masalah kalo aku tetap sendiri."
Kalimat pendek itu langsung membuat dada Reyno terasa sakit sekali, seperti ditusuk jarum-jarum halus yang banyak sekali. Karena ia ingat betul, hanya beberapa minggu yang lalu, Merlin masih sering berkata kalau ia butuh Reyno. Masih sering bilang kalau ia takut sendirian. Masih sering memohon agar Rey pulang lebih awal.
Tapi sekarang? Wanita itu mulai belajar untuk mandiri. Mulai belajar untuk tidak bergantung padanya lagi. Dan Reyno sadar, kemandirian itu lahir karena rasa sakit dan kekecewaan yang menumpuk akibat ulahnya sendiri.
"Aku mau di sini, Mer. Aku mau ada di sini buat kamu," suara Reyno terdengar sedikit memaksa, bercampur dengan nada memohon. "Biar aku nebus semuanya."
Merlin menundukkan wajahnya perlahan. Matanya mulai memerah kembali, menahan air mata yang rasanya tak pernah habis. Ia mengusap pelan pinggang dan perutnya yang masih terasa nyeri samar.
"Kalau memang niat kamu buat aku," ucapnya lirih, suaranya bergetar halus. "Harusnya dari dulu kamu ngomong gini. Harusnya dari dulu kamu ada buat aku, Rey."
Reyno terdiam seribu bahasa. Mulutnya terbuka ingin membantah, ingin menjelaskan, tapi tak ada satu kata pun yang layak keluar. Ia kalah telak oleh kenyataan pahit itu. Dan lagi-lagi, Rey kehilangan jawaban. Ia sadar, penyesalannya kini hanyalah sampah belaka di mata istrinya.
Malam semakin larut. Hujan di luar semakin deras, menghantam atap gedung dengan suara gemuruh. Namun di dalam rumah itu, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar bisa memejamkan mata untuk tidur nyenyak.
Rey berjalan keluar kamar, melangkah menuju balkon belakang apartemen. Ia berdiri sendirian di sana, membiarkan angin malam yang dingin menerpa wajahnya. Ia memegang kepalanya yang terasa pening dan berdenyut hebat. Pikirannya kacau, hatinya berat, dan perasaannya penuh sesak.
Bayangan kejadian malam itu terus berputar di kepalanya. Bayangan Merlin yang jatuh terbaring di lantai yang dingin. Bayangan darah yang menggenang di sana. Dan suara istrinya yang lemah, suara yang terus menghantuinya siang malam. "Aku sendirian, Rey ... aku sendirian."
Tiba-tiba, suara dering ponsel memecah keheningan malam itu.
Reyno menoleh ke meja kecil di dekatnya. Di layar ponsel yang menyala, tertulis nama itu lagi. Yara. Reyno menatap nama itu lama sekali. Sangat lama.
Dulu, nama itu adalah nama yang paling sering ia harapkan muncul di layar. Dulu, begitu terdengar dering, ia akan langsung menyambar ponsel itu dan mengangkatnya tanpa pikir panjang. Tanpa menunda sedetik pun. Selalu ada rasa khawatir yang mendesak saat nama itu muncul.
Namun malam ini, untuk pertama kalinya, Reyno merasa sangat lelah. Panggilan itu terus berdering. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Bunyinya terdengar begitu nyaring dan mengganggu di tengah ketenangan malam.
Reyno hanya diam saja. Ia hanya menatap layar yang berkedip-kedip itu dalam diam. Ia tidak bergerak sedikit pun untuk mengangkatnya. Sampai akhirnya, panggilan itu berhenti sendiri. Layar kembali gelap.
Tak lama kemudian, muncul pesan masuk. Isinya pendek, sama persis seperti pesan-pesan yang dulu selalu membuatnya buru-buru berlari ke seberang kota.
*Kak Rey, aku takut tidur sendiri, ada suara aneh di luar. Kak Rey tolong aku.*
Dulu, pesan seperti itu selalu membuat jantungnya berdegup kencang karena cemas. Dulu, ia akan langsung berlari keluar rumah, menyetir kencang, dan meninggalkan apa pun yang sedang ia lakukan demi menemani gadis itu.
Namun sekarang, saat membaca pesan itu, yang terlintas di pikiran Reyno bukanlah wajah Yara yang sedang ketakutan. Melainkan wajah Merlin yang pucat di rumah sakit. Wajah istrinya yang lemah, gemetar, dan penuh air mata.
Ingatan tentang tangan Merlin yang dingin. Ingatan tentang darah yang menggenang di lantai malam itu. Jantung Rey terasa diremas kuat, nyeri bukan kepalang.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Reyno mulai bertanya pada dirinya sendiri, bertanya dengan jujur dan dalam. Selama ini, apakah aku benar-benar sedang membantu Yara? Apakah aku benar-benar sedang menjaganya? Atau justru, tanpa sadar aku sedang menghancurkan orang yang paling aku cintai? Menghancurkan rumah tanggaku sendiri? Dan menghancurkan masa depanku sendiri?
Di dalam kamar tidur, Merlin ternyata belum tidur juga. Wanita itu masih berbaring menatap langit-langit kamar dengan mata yang terbuka lebar, kosong dan kering air mata.
Ia mendengar jelas suara notifikasi ponsel Reyno tadi. Mendengar samar-samar suara getarannya dari arah balkon. Ia tahu siapa yang menelepon. Ia tahu siapa yang mengirim pesan. Ia sudah hafal benar pola seperti itu.
Namun anehnya, kali ini Merlin tidak lagi merasa penasaran. Tidak lagi merasa cemburu yang membakar dada. Tidak lagi ingin tahu isi pesan itu apa atau kenapa Yara menelepon lagi di jam-jam seperti ini. Karena hatinya sudah terlalu lelah untuk merasakan cemburu. Sudah terlalu lelah untuk marah. Sudah terlalu lelah untuk berharap.
Yang tersisa di dadanya sekarang hanya rasa kecewa yang mendalam. Dan rasa kehilangan yang begitu besar, tak tergantikan. Perlahan, Merlin memeluk dirinya sendiri erat-erat di atas ranjang yang luas dan dingin. Air matanya kembali jatuh diam-diam, mengalir ke pelipis dan hilang masuk ke bantal.
Ia menangis bukan hanya karena kehilangan bayi kecil yang tak sempat bernama itu. Ia menangis karena menyadari satu hal yang lebih menyakitkan. Bahwa perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, ia juga mulai kehilangan suaminya sendiri. Bukan karena perpisahan fisik, tapi karena hati mereka kini terpisah jauh, dan cinta itu mulai memudar habis dimakan rasa sakit yang tak berkesudahan.
a