"Dua sisi kegelapan, satu raga, dan satu candu yang mematikan: diriku."
Zaviar, penguasa dingin yang sebelumnya mati rasa, mendadak meledak gairahnya saat Arumi—sang macan bar-bar yang bertransmigrasi ke tubuh istrinya antagonis—menghapus riasan badutnya.
Perubahan drastis ini tak hanya membangkitkan Zaviar, tapi juga monster di dalamnya: Varian.
Varian, alter ego gelap, obsesif, dan haus gairah, bangkit tanpa kendali, matanya memancarkan kedalaman yang menakutkan dengan mata merahnya.
Terkunci di dalam sangkar emas kamar utama, Arumi terjebak dalam kecemburuan Calista istri kedua sekaligus pemeran utama wanita dan pusaran hukuman ganda: kelembutan menuntut Zaviar, dan keganasan tanpa lelah Varian. Keduanya menginginkannya dengan cara yang paling mengerikan.
Varian menyeringai gelap, manik merahnya mengunci pergerakan arumi. "Kau membuat monster dalam diriku terbangun, Sayang. Bersiaplah untuk tidak bisa berjalan besok pagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Pertama dengan Varian Sang Alter Ego
Pikiran kotor itu membuat kejantanan Zaviar semakin menegang keras, menekan celana dalamnya hingga menimbulkan rasa sakit yang nikmat. Keringat dingin mulai tampak di pelipis sang penguasa dingin. Ia frustrasi. Bagaimana bisa seorang wanita yang biasanya ia anggap seperti lalat pengganggu, kini bertransformasi menjadi racun paling mematikan yang merusak kewarasannya dalam hitungan menit?
"Zaviar... lihat Kak Arumi, dia sama sekali tidak merasa bersalah," isak Calista, berpura-pura mencari perlindungan dengan menyandarkan kepalanya di bahu tegap Zaviar.
Biasanya, Zaviar akan membiarkan Calista sang istri kedua bersandar sebagai bentuk kepedulian platonisnya. Namun malam ini, entah mengapa, sentuhan Calista di bahunya mendadak terasa hambar, bahkan sedikit mengganggu. Fokus energinya tersedot sepenuhnya pada Arumi yang kini sedang menuangkan air putih ke gelasnya sendiri.
"Calista, duduklah dengan benar. Kita sedang berada di meja makan," ucap Zaviar dengan suara berat yang terdengar lebih serak dari biasanya.
Calista tersentak. Ia mendongak, menatap Zaviar dengan mata terbelalak. Selama masa pernikahan mereka sebagai istri kedua, Zaviar tidak pernah menegurnya dengan nada dingin seperti ini di depan orang lain, apalagi di depan Arumi. Calista melirik ke arah Arumi, dan amarah yang pekat mulai bergolak di dalam dadanya.
Arumi yang melihat perubahan interaksi itu hanya tersenyum miring. Ia meminum air putihnya perlahan, lalu menatap Zaviar dengan tatapan menantang.
"Tuan Zaviar yang terhormat," kata Arumi sambil mengetukkan jemari lentiknya di atas meja. "Daripada kita bahas drama jatuh dari tangga yang membosankan ini, gimana kalau kita bahas hal yang lebih penting? Saya dengar, saham perusahaan peninggalan mendiang ayah saya, Razeta Group, sengaja ditahan oleh pihak Anda dengan alasan 'pengamanan aset pernikahan'. Benar begitu?"
Zaviar menipiskan bibirnya. "Itu demi kebaikan perusahannmu. Dengan kapasitas otakmu yang lama, perusahaan itu akan bangkrut dalam tiga bangsa jika tidak berada di bawah pengawasanku."
"Oh, itu kan kapasitas otak Arumi yang lama yang hobinya nangis sambil dandan menor," sahut Arumi cepat, ceplas-ceplos tanpa beban. "Arumi yang sekarang sudah tobat dari sekte pemuja suami dingin. Jadi, saya minta kendali penuh atas perusahaan saya dikembalikan minggu ini. Dan oh... satu lagi."
Arumi menjeda kalimatnya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, bersandar pada meja makan, membuat potongan leher gaun hitamnya sedikit turun dan mengekspos tulang selangkanya yang indah serta bagian atas dadanya yang mulus seputih susu.
Mata Zaviar menggelap seketika. Jakunnya naik turun dengan cepat. Hasratnya bergejolak hebat, membuat kepalanya terasa pening akibat pasokan gairah yang terlalu masif menuntut pelepasan. Ia hampir tidak mendengar kata-kata Arumi selanjutnya karena terlalu fokus menahan diri agar tidak melompati meja makan dan menerkam istri pertamanya itu saat ini juga.
"Saya mau kita cerai," ucap Arumi dengan senyuman paling manis, namun kata-kata itu terdengar seperti bom yang meledak di tengah ruangan. "Surat perceraiannya nanti saya kirim lewat pengacara. Anda bisa hidup bahagia selamanya dengan Dek Calista, istri kedua kesayangan Anda yang lemah lembut dan hobi jatuh estetis ini. Gimana? Adil, kan?"
"Cerai?" Suara Zaviar mendadak turun beberapa oktav, menjadi begitu rendah, berat, dan dipenuhi oleh aura dominasi yang pekat.
Ruang makan itu mendadak terasa mencekam. Albert dan para pengawal menundukkan kepala mereka sedalam mungkin. Zaviar berdiri dari kursinya dengan perlahan. Postur tubuhnya yang tinggi tegap mengintimidasi seisi ruangan. Ia melemparkan serbet makannya ke atas meja dengan kasar. Matanya yang gelap menatap Arumi dengan tatapan posesif yang begitu pekat, seolah-olah ia sedang menatap mangsa yang tidak akan pernah ia lepaskan
Langkah kaki Zaviar yang lebar menyeret tubuh Arumi menaiki tangga marmer hitam menuju lantai dua. Cengkeraman tangan pria itu pada pergelangan tangan Arumi terasa seperti borgol baja.
"Zaviar! Lepas, bajingan! Telinga lu budek ya?!" Arumi memaki keras, sifat aslinya sebagai pelatih silat keluar. Arumi mencoba menyentakkan tangannya dengan teknik putaran pergelangan tangan, namun Zaviar tidak bergeming.
Brak!
Zaviar menendang pintu kamar utama dan menguncinya dari dalam.
Arumi segera memasang kuda-kuda rendah khas pesilat Sahbandar. "Lu jangan macam-macam! Gue bukan Arumi menye-menye yang bisa lu kasar sewenang-wenang!" Ketua Arumi dengan nada menantang.
Zaviar mendongak. Manik matanya berubah merah menyala. Sosok yang kini menguasai raga itu adalah Varian—alter ego yang bangkit saat hasrat seksualnya terpicu. "Menarik... kucing liar ini sejak kapan punya taring tajam?" Desis Varian dengan nada terdengar seperti desisan ular berbisa dan berbahaya.
"Jangan banyak bacot!" Arumi melesat maju, kaki kanannya menendang ulu hati Varian. Namun Varian menangkap pergelangan kaki Arumi. Menggunakan momentum itu, Arumi memutar tubuh di udara dan melayangkan pukulan Gedikan ke rahang Varian.
Bugh!
Varian menyeringai liar. Ia menerjang maju dan mengunci tubuh Arumi di antara tiang ranjang dan dadanya yang bidang. "Kau yang memulai permainan ini, Sayang. Kau membangunkan monster di tubuhku yang sudah mati bertahun-tahun." Bisik Varian dengan nada bagiakan bisikan iblis.
Varian menekan pinggulnya ke depan, membuat Arumi merasakan kejantanan pria itu yang menegang keras. "Zaviar memang mati rasa. Tapi aku... Varian... aku sangat lapar karena kau." Varian langsung membungkam mulut Arumi dengan ciuman paksa yang brutal. Lidahnya menjajah kasar, menghisap seluruh napas Arumi.
Arumi mencoba memberontak, tapi sia-sia Varian sang Alter ego begitu kuat dan berkuasa. "Mmmm." lenguh Arumi di sela ciumannya.
Varian terus melumat dan menyesap bibir Arumi tanpa ampun, membuat Arumi lemas.
Setelah beberapa menit ciuman yang panas, Varian melepaskan pagutan mereka, menyisakan benang saliva tipis di antara bibir mereka yang membengkak. Napas Arumi memburu, wajahnya merona merah padam dengan sepasang mata yang sayu akibat sensasi nikmat yang asing.
Varian menyeringai sensual melihat kepasrahan istrinya. Ia memindahkan kecupannya ke rahang, lalu turun menghisap leher jenjang Arumi dengan sangat dalam dan posesif, sengaja meninggalkan tanda memar keunguan—sebuah hickey kepemilikan yang mencolok.
"Akh... hngh..." Arumi melenguh lirih saat tangan kekar Varian mulai merayap masuk ke balik gaun malamnya, mengelus kulit pinggangnya dengan sentuhan yang membakar gairah. Sifat bar-bar Arumi meleleh sepenuhnya di bawah kehangatan tubuh Varian yang mendominasi.
Tangan Varian terus menjelajah lekuk tubuh Arumi sepenuhnya, desahan lolos dari mulut Arumi yang tidak pernah tersentuh pria.
Varian menatap wajah cantik Arumi yang tak berdaya di bawah kukungannya. "Kau milikku, Arumi Razetha. Ranjang ini akan menjadi saksi kalau malam ini kau tidak akan bisa lepas dari jeratan gairahku," bisik Varian parau sebelum kembali meraup bibir Arumi.
Varian membuka pakaian Arumi dengan begitu cepat.. Lepaskan gue kaku." Ucap Arumi terengah-engah.
Varian tersenyum menyeringai, "hmm... Melepaskanmu sayang..."Desis Varian.
"Kaku... hentikan.." Lirih Arumi merasa sesak... Varian mengecupi lehernya Walaupun Zaviar suaminya sekarang tapi Arumi belum merasa siap... "Sialan, apa alurnya berubah? Kenapa Zaviar dan Varian miliknya bangkit." Batinnya berbisik bingung..
Zavian menatap wajah Arumi, "Tenang Sayang... Aku hanya ingin mencicipi Tubuhmu, tidak lebih... tapi jika kamu berdekatan dengan pria lain... Maka saat itu juga, aku akan memiliki mu seutuhnya, Untuk pertemuan kita pertama, aku hanya mencicipi Tubuhmu." Desis Varian Menciumi leher jenjang Arumi dan memberikan tanda merah yang banyak.
Varian menatap wajah cantik Arumi yang tak berdaya di bawah kukungannya. "Kau milikku, Arumi Razetha. Ranjang ini akan menjadi saksi kalau malam ini kau tidak akan bisa lepas dari jeratan gairahku," bisik Varian parau sebelum kembali meraup bibir Arumi, menenggelamkan mereka berdua dalam malam yang panjang, penuh keintiman dan penyatuan yang membara hingga fajar menjelang.
Arumi tidak bisa berkutik di bawah kendali Varian Sang alter Ego suaminya.
kek nya seru nih. aku juga sering uring² thor klo baca novel yg mc ny cinta buta + tulul.