Menceritakan Jiang Xuan yang kembali kemasa lalu tepatnya saat dia berusia 15 tahu, dengan mata takdir dan teknik kaligrafiya dia membantai musuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Lorong batu terbuka lebar, memuntahkan Jiang Xuan dan Lin Ruoxue ke dalam sebuah ruangan yang jauh lebih masif. Aula Makam Sayap Barat. Udara di dalam ruangan raksasa ini sepuluh kali lebih berat daripada lorong sebelumnya. Bau karat basi dan debu yang tidak tersentuh selama ribuan tahun menyumbat paru-paru, bercampur dengan aura kematian yang sangat pekat.
Di tengah aula, duduk diam di atas singgasana batu obsidian, sebuah entitas yang diciptakan murni untuk membantai.
Itu adalah sebuah patung zirah raksasa setinggi tiga meter. Sekujur tubuhnya terbuat dari baja hitam yang telah mengeras oleh noda darah kuno. Di tangan kanannya yang sebesar bongkahan batu, tergenggam erat sebuah kapak pemenggal raksasa dengan bilah bergerigi tajam. Tidak ada manusia di balik zirah itu; ini adalah Golem Besi Darah, sebuah mesin pembunuh purba yang ditenagai oleh inti siluman tingkat tinggi.
WUNG!
Begitu ujung sepatu Jiang Xuan dan Lin Ruoxue menyentuh ubin aula, dua titik merah menyala terang dari balik celah helm zirah raksasa tersebut.
Gelombang hawa pembunuh yang sangat brutal meledak, menyapu seluruh ruangan layaknya badai tak kasat mata. Tekanannya setara dengan kultivator tingkat Inti Emas tahap awal. Lantai batu berderit pelan menahan beban aura absolut tersebut.
"Ukh!"
Lin Ruoxue, yang kondisinya sudah berada di ambang batas akibat pertarungan melawan kawanan tikus, langsung jatuh berlutut. Ia memuntahkan seteguk darah segar yang menodai lantai batu. Meridiannya yang baru saja distabilkan menjerit, nyaris remuk hanya karena tekanan udara dari Golem tersebut. Tubuhnya bergetar tak terkendali.
Di sisinya, Jiang Xuan tidak berlutut. Pakaian jubahnya berkibar liar diterpa badai aura, namun kakinya tertanam kokoh di lantai. Wajahnya sama sekali tidak memancarkan kepanikan. Mata kirinya yang berhiaskan Roda Langit emas berputar dengan kecepatan gila, menganalisis struktur energi di dalam Golem raksasa itu.
Zirah baja berlapis Niat Formasi pertahanan murni, batin Jiang Xuan, otaknya bekerja seperti mesin yang memproses ratusan kalkulasi pragmatis dalam sedetik. Kekuatan hantamannya setara awal Inti Emas. Kondensasi Qi tahap empat milikku tidak akan bisa meninggalkan goresan di bajanya, apalagi membelahnya. Memaksakan Void Calligraphy secara langsung hanya akan membuat jariku patah berkeping-keping.
Jika kekerasan brutal tidak bisa menembus baja, maka kelicikan absolut yang akan mengambil alih. Ia butuh formasi jebakan tingkat tinggi yang menyerang langsung menembus celah zirah dan menghancurkan inti roh di dalam dada Golem itu. Namun, menggambar Array Perangkap Penghancur Jiwa membutuhkan waktu, medium darah, dan konsentrasi total.
Ia membutuhkan umpan hidup.
Mata gelap Jiang Xuan menunduk, menatap Lin Ruoxue yang sedang terbatuk darah dan memegangi pedang bajanya dengan lemah.
"Pelayan," panggil Jiang Xuan, suaranya sangat tenang, datar, dan mematikan di tengah gemuruh bangkitnya Golem raksasa itu. "Lari ke sudut barat laut ruangan ini. Tarik perhatiannya. Lakukan apa pun agar kapak raksasa itu tidak mengarah padaku."
Lin Ruoxue mendongak dengan mata terbelalak lebar. "Kau gila?! Itu monster tingkat Inti Emas! Satu tebasan saja akan membuatku menjadi debu berdarah! Aku tidak akan—ARGH!"
Sebelum gadis itu selesai membantah, Segel Teratai Hitam di dahinya menyala merah terang. Jiang Xuan tidak berniat membuang waktu untuk berdebat. Ia langsung menggunakan otoritas Kontrak Jiwanya secara paksa.
Tubuh Lin Ruoxue tersentak berdiri layaknya boneka tali. Kakinya bergerak sendiri melawan kehendaknya, berlari tertatih-tatih menjauh dari Jiang Xuan menuju arah sudut barat laut yang ditunjuk.
"Bajingan keparat! Aku bersumpah akan mencincangmu jika aku selamat!" maki Lin Ruoxue dengan suara pecah, menahan rasa sakit dari segel yang membakar otaknya dan keputusasaan yang meluap.
KRAAAANG!
Golem Besi Darah itu bangkit berdiri dari singgasananya. Suara gesekan baja karatnya memekakkan telinga. Ia mendeteksi pergerakan fluktuasi Qi es dari Lin Ruoxue. Mengabaikan Jiang Xuan yang segera menyembunyikan hawa keberadaannya dengan Array Penutup Aura, Golem itu melangkah maju. Dentuman langkahnya mengguncang seluruh aula, mengejar sang gadis dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk ukuran tubuh sebesar itu.
SWUSSH! BOOM!
Kapak raksasa itu diayunkan mendatar. Udara terbelah dengan suara lengkingan tajam. Kapak itu menghantam pilar batu raksasa yang berada di rute pelarian Lin Ruoxue. Pilar setebal tiga pelukan orang dewasa itu meledak menjadi debu. Pecahan batu tajam berterbangan layaknya peluru, menyayat punggung dan bahu Lin Ruoxue saat ia membuang tubuhnya ke lantai kotor untuk menghindar.
"Lari lebih cepat, tamengku. Jika kau mati di tebasan pertama, kau benar-benar barang rongsokan yang tidak berguna," gumam Jiang Xuan dingin dari kejauhan.
Ia segera menyelinap ke dalam bayangan pilar yang masih utuh di sisi lain aula. Tanpa ragu, ia menggigit ujung jari telunjuk kanannya hingga darah segar mengucur deras. Sambil berjongkok, ia mulai menggoreskan jarinya ke lantai batu dengan kecepatan gila.
Sret! Sret! Sret!
Niat Membunuh murni dari kehidupan masa lalunya dialirkan ke dalam darahnya. Pola geometris yang rumit mulai terbentuk di atas ubin batu, memancarkan cahaya merah gelap yang sangat pekat.
Tepat pada saat itu, sebuah insiden yang merusak fokus terjadi.
Akibat guncangan lantai yang brutal dari langkah Golem, Baozi yang sejak tadi bersembunyi aman di kerah jubah Jiang Xuan terlempar keluar. Gumpalan bulu putih itu jatuh menggelinding di lantai layaknya bola salju yang dilempar.
"Kyuu?!" Baozi kebingungan, duduk di lantai sambil mengusap kepalanya.
Saat ia mendongak, sebuah kaki baja berkarat sebesar kereta kuda sedang turun dari udara, tepat mengarah ke atas tubuh mungilnya. Golem itu sedang mengejar Lin Ruoxue yang berputar arah dan tidak menyadari ada makhluk seukuran bakpao di bawahnya.
"KYUUUU!"
Baozi menjerit histeris. Sayap kecilnya mengepak liar, kakinya yang pendek berlari zig-zag dengan kepanikan absolut.
BAM!
Kaki Golem menghantam lantai, hanya berjarak sehelai rambut dari ekor Baozi. Gelombang kejutnya membuat makhluk itu terlempar ke udara, berguling-guling di lantai berdebu, lalu menabrak tumpukan tengkorak di pinggir ruangan dengan bunyi puk yang menyedihkan. Baozi segera menggali tumpukan tulang itu dan membenamkan dirinya ke dalam, gemetar hebat.
Jiang Xuan melirik sekilas dari sudut matanya, mendengus pelan tanpa menghentikan goresan jarinya. "Dasar bola lemak menyusahkan. Jangan berani mati terinjak sebelum kau menemukan sisa harta di makam ini."
Pertarungan di sudut barat laut semakin tak terkendali dan berlumuran darah.
Lin Ruoxue murni bertarung untuk menunda kematian. Ia kehabisan Qi es, dan pedang bajanya telah bengkok akibat digunakan secara paksa untuk menangkis bongkahan puing yang terlempar. Ia terus melompat, merunduk, dan berguling di antara puing-puing aula. Golem Besi Darah itu tidak memiliki rasa lelah; setiap ayunan kapaknya membawa kekuatan penghancur absolut yang membelah ruang.
BOOM! KRAAAK!
Satu tebasan vertikal menyapu lantai. Lin Ruoxue melentingkan tubuhnya ke samping, nyaris tak sempat saat bilah kapak mendesing memotong bagian bawah jubahnya. Hawa panas dari gesekan energi Golem itu membakar kulit kakinya.
"Berapa lama lagi, bajingan?!" teriak Lin Ruoxue dari seberang aula, napasnya tersengal parah. Kaki kirinya yang terluka oleh paku jebakan sebelumnya kembali menganga, memuntahkan darah deras yang membuatnya berjalan pincang.
Jiang Xuan tidak menjawab. Jarinya terus menari memutar di atas lantai batu, mengukir jebakan iblis. Tujuh puluh persen selesai. Butuh lima belas tarikan napas lagi, hitungnya dalam hati secara rasional. Ia melihat Lin Ruoxue terdesak mundur dan memuntahkan darah, namun ia tidak peduli. Jika gadis itu harus kehilangan satu tangannya untuk mengulur waktu baginya, ia akan membiarkannya.
Golem Besi Darah meraung dengan suara logam bergesek. Mata merahnya menyala semakin terang, menandakan ia mulai kehilangan kesabaran. Kapak raksasanya kini dilapisi oleh aura darah yang pekat dan berdenyut. Golem itu melompat tinggi ke udara, membidik tepat ke arah Lin Ruoxue yang kehilangan keseimbangan.
Lin Ruoxue mencoba menghindar, tetapi kakinya yang terluka parah akhirnya mengkhianatinya. Ia tersandung puing pilar dan jatuh telentang menghantam lantai.
Ia mendongak. Sudut barat laut aula ini adalah dinding buntu. Tidak ada lagi pilar untuk bersembunyi. Tidak ada tempat untuk lari. Tidak ada lagi sisa Qi untuk bangkit.
Bayangan raksasa Golem Besi Darah menutupi tubuh mungilnya. Monster baja itu mengangkat kapak pemenggalnya tinggi-tinggi dengan kedua tangan, memusatkan seluruh kekuatan tingkat Inti Emas untuk satu tebasan absolut yang dipastikan akan membelah gadis itu menjadi dua bagian.
Lin Ruoxue menatap ujung bilah kapak berkarat yang akan merenggut nyawanya. Di detik terakhir itu, matanya tidak memancarkan ketakutan, melainkan kebencian murni dan kekecewaan gelap yang ditujukan pada takdirnya sendiri dan pada sang eksekutor iblis yang bersembunyi di kejauhan.
Kapak raksasa itu meluncur turun, membelah udara dengan raungan maut.
Thor, kurangi sifat jahat MC nya
Harusnya dia bersyukur, bisa memulai dari awal dan memperbaiki semuanya
Sebenar na, Xuan itu arti na apa ya? 🙏