NovelToon NovelToon
Garis Takdir Baru

Garis Takdir Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: USR

Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
​Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: PERJAMUAN PARA RAKSASA

Keberhasilan Nata mengonsolidasikan aset keluarga Chen ke dalam Linden-Prawira ternyata memicu alarm di pusat-pusat kekuatan dunia. Selat Malaka bukan sekadar jalur perdagangan; ia adalah urat nadi ekonomi global. Siapa pun yang menguasai teknologi logistik dan sistem pembayaran di jalur ini, secara de facto memegang leher perdagangan dunia.

​Pagi itu, Elena meletakkan tiga profil tebal di meja Nata. Wajah Elena tampak lebih pucat dari biasanya. "Bos, kemenangan kita di Singapura ternyata hanya mengundang hiu yang lebih besar. Mereka tidak lagi menggunakan pengadilan atau audit. Mereka menggunakan tekanan diplomatik dan modal tanpa batas."

​Nata membuka profil pertama. Blackstone Sovereign Group dari Amerika Serikat. Mereka adalah raksasa manajemen aset yang memiliki hubungan erat dengan Washington. "Mereka menawarkan 'kemitraan strategis', yang intinya adalah akuisisi 51% saham kita agar jalur ini tetap di bawah pengaruh Barat," gumam Nata.

​Profil kedua adalah Red Dragon Maritime dari China. BUMN raksasa yang ingin mengintegrasikan sistem Aquatic Nexus milik Nata ke dalam inisiatif jalur sutra mereka. Dan yang ketiga, Al-Qasr Investment dari Arab Saudi, yang membawa likuiditas minyak mentah dalam jumlah yang bisa meruntuhkan bursa dalam sekejap jika mereka mau.

​"Mereka semua sudah mendarat di Singapura," ucap Elena. "Dan Tuan Lim dari ISD secara 'kebetulan' memfasilitasi pertemuan puncak di Raffles Hotel malam ini. Ini bukan undangan, Bos. Ini adalah sidang pembagian wilayah."

​Malam itu, Raffles Hotel yang bersejarah ditutup untuk umum. Keamanan tingkat tinggi terlihat di setiap sudut. Nata masuk ke ruangan The Bar & Billiard Room yang telah disulap menjadi ruang perjamuan tertutup. Ia mengenakan setelan hitam yang sederhana, kontras dengan para tamu lain yang mengenakan jam tangan seharga apartemen mewah.

​Di meja bundar besar itu, tiga orang telah menunggu. Jonathan Vance dari Amerika, Li Wei dari China, dan Pangeran Khalid dari Arab.

​"Tuan Prawira," Jonathan Vance memulai dengan aksen New England yang kental. "Mari kita bicara jujur. Anda memiliki teknologi yang brilian, tapi Anda tidak memiliki 'perisai' geopolitik. Dunia ini tidak akan membiarkan seorang pemuda mandiri menguasai gerbang Malaka sendirian. Pilih salah satu dari kami, atau Anda akan dihancurkan oleh ketidakpastian."

​Li Wei tersenyum tipis, menyesap tehnya. "Jonathan terlalu kasar. China menawarkan perlindungan infrastruktur. Kami bisa memastikan setiap kapal yang keluar dari pelabuhan kami hanya menggunakan protokol Anda, asalkan kuncinya ada di Beijing."

​Pangeran Khalid hanya mengetukkan jarinya ke meja. "Saya tidak peduli dengan politik. Saya hanya ingin memastikan bahwa aliran minyak kami ke Timur tidak terganggu oleh algoritma Anda. Kami siap menyuntikkan sepuluh miliar dolar malam ini juga untuk membeli loyalitas Anda."

​Nata duduk dengan tenang. Ia merasa seperti kancil di antara tiga harimau. Namun, para raksasa ini lupa satu hal: Nata sudah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Ia tahu krisis energi yang akan melanda Barat, ia tahu gelembung properti yang akan mengancam Timur, dan ia tahu pergeseran modal besar-besaran ke arah teknologi terdesentralisasi.

​"Tuan-tuan," Nata memulai, suaranya tenang namun bergema di ruangan yang sunyi itu. "Terima kasih atas tawarannya. Tapi saya tidak sedang mencari tuan. Saya sedang mencari mitra yang mengerti bahwa masa depan tidak lagi dimiliki oleh satu negara."

​"Jangan sombong, anak muda!" Jonathan memotong. "Kami bisa membekukan akses dolar Anda dalam hitungan detik."

​"Silakan dicoba, Tuan Vance," balas Nata. "Tapi saat Anda membekukan dolar saya, sistem logistik Linden-Prawira akan secara otomatis mengalihkan semua kontrak kliring ke dalam aset digital terenkripsi yang tidak bisa Anda sentuh. Kapal-kapal Anda akan tertahan di laut karena asuransi mereka tidak bisa divalidasi oleh sistem saya yang sedang 'mati'. Berapa miliar kerugian per jam untuk ekonomi Amerika?"

​Ruangan itu mendadak hening. Nata baru saja melakukan gertakan tingkat tinggi yang didasarkan pada kenyataan teknis yang ia bangun bersama Elena dan Yuda.

​Di tengah ketegangan itu, Elena yang berada di mobil komando di luar hotel, mengirimkan pesan ke lensa kontak Nata: "Bos, Tuan Lim sedang memantau ruangan ini melalui penyadap frekuensi laser. Dia sengaja membiarkan para raksasa ini menekanmu agar Singapura bisa muncul sebagai 'penyelamat' dengan syarat yang lebih berat."

​Nata tersenyum di dalam hati. Ia sudah memprediksi langkah Lim.

​"Pangeran Khalid," Nata menoleh ke arah delegasi Arab. "Anda ingin stabilitas energi. Tuan Li Wei, Anda ingin efisiensi jalur. Dan Tuan Vance, Anda ingin keamanan data. Bagaimana jika saya tidak memihak satu pun, tapi saya menjadikan Singapura sebagai Hub Netral Digital dunia?"

​Nata mengeluarkan tabletnya, menampilkan peta baru Selat Malaka. "Saya akan membagi Linden-Prawira menjadi empat zona otoritas data. Kalian masing-masing memegang kunci enkripsi untuk wilayah kepentingan kalian sendiri, tapi protokol intinya tetap berada di bawah kendali saya sebagai pihak netral. Jika salah satu dari kalian mencoba melakukan hostile takeover, tiga kunci lainnya akan secara otomatis mengunci akses tersebut."

​Ini adalah strategi "Keseimbangan Teror". Nata menciptakan sistem di mana para raksasa ini akan saling mengawasi satu sama lain agar tidak ada yang bisa menguasai Nata sepenuhnya.

​Pertemuan itu berakhir tanpa kesepakatan tertulis, namun Nata tahu ia telah memenangkan waktu. Saat ia keluar dari hotel, Tuan Lim sudah menunggunya di dekat mobil.

​"Kamu baru saja bermain api dengan tiga kekuatan nuklir dunia, Nata," ucap Lim, suaranya terdengar cemas sekaligus kagum.

​"Api itu hanya akan membakar jika kita tidak tahu cara mengalirkannya menjadi energi, Tuan Lim," jawab Nata. "Anda ingin Singapura aman? Berikan saya perlindungan hukum penuh untuk zona netral ini. Jika tidak, salah satu dari mereka akan mengambilnya dengan paksa, dan Singapura hanya akan menjadi penonton."

​Lim terdiam, lalu mengangguk perlahan. "Aku akan bicara dengan kabinet. Kamu benar-benar gila, Nata Prawira."

​Begitu masuk ke dalam mobil, Nata bersandar dan memejamkan mata. Tubuhnya bergetar sedikit karena lonjakan adrenalin.

​"Elena, bagaimana?" tanya Nata.

​"Berhasil, Bos. Al-Qasr dari Arab baru saja mengirimkan sinyal ketertarikan untuk investasi minoritas tanpa hak suara. Mereka lebih suka sistem yang netral daripada dikuasai Amerika atau China," Elena melaporkan dengan nada lega. "Tapi Amerika tidak akan tinggal diam. Vance akan mencoba menyerang kita melalui regulasi siber internasional."

​"Biarkan dia mencoba," gumam Nata. "Yuda di Jakarta sudah menyiapkan redundansi server di dasar laut. Kita bukan lagi sebuah perusahaan, Elena. Kita adalah protokol. Dan protokol tidak bisa dibunuh oleh politisi."

​Nata melihat ke arah pelabuhan yang lampunya berkelap-kelip. Ia menyadari bahwa perjalanannya telah berubah. Dari seorang yatim piatu yang ingin membalas dendam pada paman yang jahat, kini ia menjadi penyeimbang kekuatan dunia. Namun, di tengah semua kemegahan itu, Nata merogoh sakunya dan menyentuh sebuah foto kecil Kirana dan Arya.

​Kekuasaan global ini hanyalah tembok yang ia bangun agar masa lalu yang pahit tidak pernah bisa memanjat masuk kembali.

​"Perjamuan baru saja dimulai," bisik Nata saat mobilnya membelah malam Singapura. "Dan aku belum selesai menyusun menu utamanya."

Bersambung.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!