Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.
Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.
Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.
Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Malam itu mereka menginap di sana. Dan saat Carisa masuk ke kamar bersama Yuda, ketegangan langsung terasa berat, menekan, seperti sudah menunggu sejak mereka tiba.
Pintu baru saja tertutup ketika Yuda berbalik. Tanpa banyak jeda, ia langsung mencengkeram pergelangan tangan Carisa.
“Kenapa kamu bisa datang bersama dia?” suaranya rendah, tapi keras.
Carisa sedikit tersentak. Pegangan Yuda tidak terlalu kasar, tapi cukup kuat untuk menahan.
“Aku tadi sudah jelaskan...”
“Jangan ulang alasan yang sama,” potong Yuda cepat.
Carisa terdiam sejenak. Menarik napas, mencoba tetap tenang meski dadanya mulai terasa sesak.
“Mobilku mogok di tol. Aku ketemu dia di jalan. Itu saja.”
Yuda menatapnya lekat. Terlalu lama. Terlalu dalam.
“Selalu kebetulan ya,” katanya pelan, tapi nadanya jelas menyindir. “Selalu dia.”
Carisa mengeraskan rahangnya. “Aku juga nggak minta ketemu dia.”
“Tapi kamu tetap ikut dia.”
Kalimat itu jatuh tanpa emosi, justru itu yang membuatnya terasa lebih tajam.
Carisa menarik tangannya pelan, tapi Yuda belum melepaskan.
“Aku harus sampai ke sini, Yuda,” suaranya mulai berubah. “Atau kamu lebih suka aku berhenti di tol sendirian, malam-malam, nunggu derek yang nggak jelas kapan datang?”
Yuda diam. Tangannya masih menggenggam.
“Aku nelpon kamu,” lanjut Carisa, kali ini lebih pelan. “Berkali-kali.”
Tidak ada jawaban.
“Tidak kamu angkat.”
Baru setelah itu, perlahan, pegangan Yuda melemah. Tapi tatapannya tidak.
“Jadi karena aku nggak angkat telepon, kamu langsung… ikut dia?” tanyanya.
Carisa menggeleng kecil. “Jangan suka menyimpulkan sendiri.”
“Lalu bagaimana?” suara Yuda naik sedikit. “Aku harus lihatnya bagaimana, Ris?”
Carisa menatapnya balik. “Lihat sesuai kenyataan.”
Yuda tertawa pendek. “Kenyataan?”
Ia mundur satu langkah, tapi matanya tidak lepas dari Carisa.
“Kenyataannya aku lihat kamu turun dari mobil dia.”
Carisa terdiam.
“Kenyataannya sejak kemarin kamu terus ada di dekat dia.”
Carisa menahan napasnya, merasa hari nya benar-benar melelahkan.
“Dan kenyataannya,” lanjut Yuda, suaranya kembali turun, lebih dalam, “aku nggak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di antara kalian.”
Sunyi. Kalimat itu menggantung. Lebih berat dari yang lain.
Carisa menunduk sebentar, lalu kembali menatap Yuda. “Aku nggak ada hubungan apapun dengannya, berapa kali harus aku bilang sama kamu.”
Yuda langsung menatap tajam. “Bagaimana dengan di masa lalu?"
Pertanyaan itu jatuh lebih pelan, tapi justru terasa lebih berat.
Carisa tidak langsung menjawab.
Ia hanya diam beberapa detik, matanya sedikit bergeser sebelum kembali ke wajah Yuda. Ada jeda yang tidak nyaman di antara mereka, seperti sesuatu yang lama disimpan akhirnya dipaksa muncul ke permukaan.
"Aku akan cerita tapi bukan sekarang. situasinya tidak memungkinkan."
Yuda tidak langsung merespons.
Wajahnya tetap menghadap Carisa, tapi sorot matanya berubah tidak lagi sekadar marah, ada sesuatu yang lebih dingin di sana. Seolah ia sedang menimbang, bukan lagi mendengar.
“Tidak memungkinkan?” ulangnya pelan.
Carisa mengangguk tipis. “Nenek kamu baru saja meninggal , Yuda. Aku juga capek. Ini bukan waktu yang tepat.”
Yuda menghela napas pendek, lalu menoleh sebentar ke arah pintu, seakan memastikan ruangan itu benar-benar tertutup rapat. Ketika ia kembali menatap Carisa, jarak di antara mereka terasa lebih jauh, meski posisi mereka tidak berubah.
“Waktu yang tepat itu kapan?” tanyanya.
Nada suaranya tidak tinggi, tapi jelas menekan.
Carisa membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia sendiri tidak punya jawaban pasti.
“Besok,” akhirnya ia berkata. “Kita bicara besok di rumah.”
Yuda tersenyum tipis. Bukan senyum yang hangat lebih mirip reaksi spontan yang tidak ia tahan.
“Besok kamu akan beralasan apa lagi?”
Kalimat itu ringan di permukaan, tapi menyentuh tepat di titik yang membuat Carisa tidak nyaman.
“Aku nggak akan, Yuda,” jawab Carisa cepat dan jengah.
Yuda mengangguk pelan, seolah menerima. Tapi detik berikutnya, ia kembali mendekat setengah langkah.
"Oke. Jangan ada yang kamu tutupi lagi."
Carisa terdiam. Raut muka sudah benar-benar menunjukan kelelahan.
“Aku cuma minta satu hal,” lanjut Yuda, lebih pelan. “Jangan bikin aku terlihat bodoh.”
Carisa langsung menatapnya. “Aku nggak pernah niat begitu.”
“Ya, kamu sering membuatku terlihat begitu." sahut Yuda singkat. “Masalahnya niat sama kenyataan sering beda.”
Sunyi lagi. Di luar, suara keluarga sesekali terdengar, samar dari kejauhan. Kontras dengan ruangan yang terasa semakin sempit.
Carisa menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. “Kamu marah karena aku naik mobil dia… atau karena kamu nggak percaya sama aku?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar juga. Yuda tidak langsung menjawab. Ia memalingkan wajah sebentar, rahangnya mengeras.
“Dua-duanya,” katanya akhirnya.
Jawaban itu jujur. Dan justru itu yang membuatnya terasa lebih berat.
Carisa mengangguk kecil, seperti sudah menduga.
“Oke,” katanya pelan. “Kalau begitu kita bicara banyak hal besok.”
Yuda menatapnya lagi. “Memang seharusnya begitu.”
Tidak ada yang bergerak beberapa detik. Lalu Yuda berjalan melewati Carisa, berhenti di dekat jendela. Ia membuka sedikit tirai, melihat ke luar tanpa benar-benar fokus pada apa pun.
“Besok,” katanya lagi, kali ini tanpa menoleh. “Aku tunggu kamu cerita. Dari awal.”
Carisa berdiri di tempatnya. “Aku bilang aku akan cerita."
Yuda akhirnya menutup tirai kembali dan berbalik. Ekspresinya sudah lebih datar, tapi bukan berarti semuanya reda.
“Sekarang istirahat saja,” ujarnya. “Kita sama-sama nggak akan berpikir jernih kalau diteruskan.”
Carisa tidak langsung menjawab. Ia hanya berjalan ke sisi tempat tidur lalu melempar tubuhnya.
Jarak di antara mereka tetap ada, meski berada dalam ruangan yang sama.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, tidak ada lagi yang diperdebatkan. Tapi juga tidak ada yang benar-benar selesai.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak