NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Menjadi Miliader

Terlahir Kembali Menjadi Miliader

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

[cp akan terlambat]
negara : Indonesia

sinopsis:
Mati setelah seumur hidup bekerja sendirian itu melelahkan. Ketika Olyvia Arabella membuka mata, ia kembali ke usia 20 tahun—tepat saat calon ibu mertua menyodorkan amplop "uang perpisahan" yang ternyata hanya berisi seratus ribu. Dunia sudah gila: nilai uang menurun 10.000 kali lipat, dan hanya Olyvia yang sadar karena rekening bank masa depannya ikut terbawa. Sekarang ia menjadi satu-satunya konglomerat di dunia yang mendadak miskin. Tapi kekayaan tak membuat hidupnya lebih mudah, terutama saat para pria dari masa lalunya kembali—kali ini dalam keadaan jauh lebih melarat. Balas dendam tak cukup dengan uang. Tapi setidaknya, Olyvia bisa membeli waktu untuk memilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengantar Mereka ke Bandara dan Membeli Properti untuk Ibu

Dua minggu berlalu begitu cepat. Terlalu cepat.

Olyvia berdiri di depan pintu utama istananya, menatap ketujuh temannya yang sedang sibuk memasukkan koper ke bagasi mobil. Dua minggu yang awalnya terasa seperti waktu yang panjang, kini tinggal hitungan jam sebelum mereka semua kembali ke China.

Selama dua minggu itu, mereka sudah menjelajahi hampir seluruh Surabaya. Pantai Kenjeran, House of Sampoerna, Monumen Kapal Selam, Tunjungan Plaza, kebun binatang, museum-museum tua, dan puluhan tempat makan legendaris. Mereka tertawa, berfoto, mencicipi makanan aneh seperti rujak cingur, dan menciptakan kenangan yang akan sulit dilupakan.

Dan di malam-malam yang sunyi, setelah semua orang tertidur, Olyvia dan Xiao Han duduk berdampingan di ruang kerja. Xiao Han dengan sabar membantu Olyvia menyelesaikan proyek AI-nya. Ia menunjukkan kesalahan-kesalahan kecil yang tidak disadari Olyvia, memberi saran untuk optimasi, dan bahkan menulis ulang beberapa modul yang kurang efisien.

Dia memang jenius. Gue udah begadang sebulan, dia bantu dua minggu, beres.

Proyek AI deteksi penyakit paru-paru lewat suara batuk itu akhirnya selesai tiga hari yang lalu. Akurasinya mencapai 96,7%, melampaui target awal Olyvia. Xiao Han hanya tersenyum kecil saat melihat hasilnya. "Aku bilang kamu bisa," katanya singkat.

Olyvia hanya bisa menatap layar dengan campuran lega dan tidak percaya.

Sekarang, di pagi terakhir sebelum keberangkatan, Olyvia merasa ada yang mengganjal di dadanya. Bukan kesedihan. Ia sudah terbiasa dengan perpisahan. Tapi sesuatu yang lain.

Mungkin karena rumah ini bakal sepi lagi.

Liu Meixiang berlari ke arahnya dan memeluknya erat. "Oly! Aku gak mau pulang! Di sini enak! Makanan enak, tempat tinggal enak, semuanya enak!"

Olyvia tertawa dan membalas pelukannya. "Kamu bisa datang lagi kapan aja. Rumahku selalu terbuka."

Sun Xiaowen ikut memeluk dari samping. "Aku bakal kangen sama es kelapa muda bikinan Bik Sri."

Zhao Lihua dan Wu Yating hanya tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih untuk semuanya, Oly. Kami senang bisa ke sini," kata Zhao Lihua.

Zhang Wei dan Wang Junjie menepuk bahu Olyvia bergantian. "Lo keren, Oly. Sukses terus ya. Kalo lo ke China, kita yang jadi tour guide."

Olyvia mengangguk. "Pasti."

Dan Xiao Han... ia berdiri agak jauh, memegang kopernya sendiri. Kemeja putihnya rapi seperti biasa. Wajahnya datar, tapi matanya menatap Olyvia dengan intensitas yang membuat Olyvia harus mengalihkan pandangan.

Mereka semua naik ke mobil. Olyvia menyetir BMW-nya dengan Liu Meixiang, Zhao Lihua, Sun Xiaowen, dan Wu Yating. Zhang Wei, Wang Junjie, dan Xiao Han naik taksi online di belakang.

Perjalanan ke bandara terasa lebih sunyi dari biasanya. Liu Meixiang yang biasanya cerewet hanya diam menatap jendela. Sun Xiaowen sesekali menyeka matanya.

Olyvia fokus menyetir, tapi pikirannya melayang.

Bandara Internasional Juanda

Mereka tiba dua jam sebelum keberangkatan. Suasana bandara pagi itu cukup ramai. Olyvia membantu teman-temannya check in dan mengurus bagasi. Setelah semua selesai, mereka berdiri di dekat pintu keberangkatan. Waktu untuk berpisah akhirnya tiba.

Liu Meixiang memeluk Olyvia paling lama. "Oly, jangan ilang-ilangan lagi ya. Rajin buka WeChat. Kita sayang sama lo."

Olyvia mengangguk, menepuk punggungnya. "Iya, janji."

Satu per satu mereka memeluk Olyvia dan masuk ke area keberangkatan. Zhang Wei dan Wang Junjie melambai sambil tersenyum. Zhao Lihua dan Wu Yating menunduk sopan. Sun Xiaowen masih menyeka mata.

Tinggal Xiao Han yang belum masuk.

Ia berdiri di hadapan Olyvia, kopernya di samping. Matanya menatap Olyvia lekat-lekat.

"Terima kasih untuk dua minggu ini," katanya pelan, dalam bahasa Mandarin.

Olyvia mengangguk. "Aku yang harusnya berterima kasih. Kamu banyak bantu aku. Proyekku selesai karena kamu."

Xiao Han menggeleng. "Kamu yang mengerjakannya. Aku hanya membantu sedikit."

Hening sejenak.

Lalu Xiao Han membuka ranselnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru. Ia menyerahkannya pada Olyvia.

"Untukmu. Buka nanti setelah aku pergi."

Olyvia menerima kotak itu dengan bingung. "Apa ini?"

"Hadiah perpisahan. Bukan yang mahal. Hanya sesuatu yang kubuat sendiri."

Olyvia menatap kotak itu, lalu menatap Xiao Han. "Kamu buat sendiri?"

Xiao Han mengangguk. Ia mengulurkan tangan dan untuk pertama kalinya, ia menyentuh pipi Olyvia dengan lembut. Hanya sekejap. Lalu ia menarik tangannya.

"Sampai jumpa, Olyvia. Jaga dirimu baik-baik."

Ia berbalik dan berjalan masuk ke area keberangkatan tanpa menoleh lagi.

Olyvia berdiri mematung. Tangannya masih memegang kotak biru itu. Ia menatap punggung Xiao Han yang semakin menjauh, hingga akhirnya menghilang di balik pintu.

Kenapa rasanya... sesak?

Ia menggelengkan kepala dan berjalan kembali ke mobil. Di dalam BMW-nya yang kini sepi, ia membuka kotak biru itu.

Di dalamnya ada sebuah gelang tangan sederhana. Tali kulit cokelat dengan sebuah liontin kecil berbentuk bintang. Bintang itu terbuat dari perak, dan di permukaannya ada ukiran kecil: "O.A."

Olyvia Arabella.

Ia membalik liontin itu. Di belakangnya ada ukiran lain: "Keep shining."

Olyvia menatap gelang itu lama sekali. Dia buat sendiri? Bintang? Keep shining?

Ia mengingat percakapan mereka suatu malam di balkon, saat ia bercerita tentang mimpinya menjadi peneliti AI terkenal. Xiao Han hanya mendengarkan, lalu berkata, "Kamu seperti bintang. Cuma perlu tempat buat bersinar."

Dia ingat. Dia selalu ingat.

Olyvia memasang gelang itu di pergelangan tangannya. Ukurannya pas. Ia menyalakan mesin BMW-nya dan melaju keluar bandara.

Gue gak boleh baper. Ini cuma hadiah perpisahan. Temen-temen yang lain juga ngasih hadiah.

Tapi entah kenapa, tangannya yang memegang setir terasa lebih hangat.

Olyvia tiba di istananya dan langsung disambut kesunyian. Tidak ada lagi tawa Liu Meixiang. Tidak ada lagi suara Zhang Wei yang keras. Tidak ada lagi langkah kaki Xiao Han yang tenang di koridor.

Rumah itu kembali menjadi istana yang sepi.

Ia duduk di tepi kolam renang, menatap air biru yang berkilau. Bu Sri datang membawakan es teh manis dan pisang goreng.

"Mbak Oly, teman-temannya sudah pulang?"

Olyvia mengangguk. "Sudah, Bu."

Bu Sri tersenyum. "Rumah jadi sepi ya, Mbak. Tapi Mbak Oly kan masih punya Ibu Sri sama yang lain. Gak usah sedih."

Olyvia tersenyum tipis. "Aku gak sedih, Bu. Cuma... butuh waktu buat biasa lagi."

Ia menyeruput es tehnya dan membuka ponsel. Ada pesan dari dosen pembimbingnya, Prof. Budi.

Prof. Budi: Olyvia, bagaimana progres proyekmu?

Olyvia membalas cepat.

Olyvia: Sudah selesai, Prof. Akurasi 96,7%. Saya bisa presentasikan kapan saja.

Prof. Budi: Bagus! Kalau begitu, minggu depan kita jadwalkan presentasi. Saya akan undang beberapa kolega dari industri. Ini kesempatanmu.

Olyvia tersenyum. Akhirnya.

Tapi pikirannya masih belum sepenuhnya fokus pada proyek. Ada satu hal lagi yang harus ia lakukan.

Properti untuk Ibu.

Sore harinya, olyvia kembali mengunjungi agen properti yang sama dengan saat ia membeli istananya. Kali ini ia tidak sendiri. Ia membawa daftar panjang properti yang sudah ia riset.

Agen properti itu namanya Bu Jubaedah, menyambutnya dengan senyum lebar. "Mbak Olyvia! Senang bertemu lagi. Ada yang bisa saya bantu?"

Olyvia duduk dan membuka laptopnya. "Saya mau beli beberapa properti atas nama ibu saya. Ini daftarnya."

Bu Jubaedah membaca daftar itu dan matanya membelalak. "Ini... dua puluh unit apartemen studio di pusat kota? Sepuluh ruko di jalan utama? Dan... tanah kosong seribu meter di area komersial?"

Olyvia mengangguk tenang. "Iya. Semua atas nama Sumarni. Ibu saya."

Bu Jubaedah menelan ludah. "Totalnya... sekitar Rp380.000, Mbak. Ini pembelian yang sangat besar."

Olyvia mengeluarkan kartu debitnya. "Saya bayar cash. Bisa proses sekarang?"

Bu Jubaedah mengangguk cepat. "Bisa, Mbak. Tapi ini akan makan waktu beberapa hari untuk administrasi dan balik nama."

"Tidak masalah. Saya tunggu."

Olyvia menandatangani puluhan dokumen. Setiap kali ia membubuhkan tanda tangan, ia membayangkan wajah ibunya saat menerima sertifikat-sertifikat itu.

Ibu gak akan pernah kerja keras lagi. Ibu bakal jadi Ratu Kontrakan beneran. Tinggal terima uang sewa setiap bulan. Gak perlu jaga warung dari subuh sampai tengah malam.

Setelah semua dokumen selesai, Bu Jubaedah menjabat tangan Olyvia dengan hormat. "Mbak Olyvia, ini pembelian terbesar yang pernah saya tangani dari perorangan. Selamat. Ibu Mbak pasti bangga."

Olyvia tersenyum. "Saya harap begitu."

Malam itu Olyvia duduk di balkon kamarnya, menatap bintang-bintang. Ponselnya berdering. Panggilan video dari Bu Sumarni.

Ia mengangkatnya. Wajah ibunya muncul di layar, dengan latar belakang warung kecil yang mulai gelap.

"Nduk, sehat? Udah makan?"

Olyvia tersenyum. "Sehat, Bu. Udah makan. Ibu sendiri gimana?"

Bu Sumarni tersenyum lelah. "Ibu sehat. Cuma agak capek. Tadi rame pembeli. Alhamdulillah."

Olyvia menatap wajah ibunya yang mulai keriput. Ibu masih kerja keras. Masih jaga warung. Masih capek.

"Bu, Olyvia mau ngasih sesuatu."

Bu Sumarni mengerutkan kening. "Apa, Nduk? Jangan ngasih-ngasih terus. Ibu udah punya kalung emas, bapak udah punya mobil. Udah cukup."

"Belum cukup, Bu. Olyvia mau Ibu berhenti jaga warung."

Bu Sumarni tertawa kecil. "Lalu Ibu mau ngapain? Diam di rumah? Nanti bosan."

"Ibu bisa terima uang sewa aja. Tiap bulan."

Bu Sumarni bingung. "Uang sewa apa?"

Olyvia tersenyum. "Olyvia beliin Ibu beberapa properti di kota. Apartemen, ruko, tanah. Semua atas nama Ibu. Nanti tinggal disewain. Ibu tinggal terima uangnya tiap bulan. Gak usah kerja lagi."

Bu Sumarni terdiam. Matanya membelalak. "Nduk... kamu serius?"

"Serius, Bu. Dokumennya sedang diproses. Beberapa hari lagi selesai. Olyvia kirim ke rumah."

Air mata mulai mengalir di pipi Bu Sumarni. "Nduk... kamu ini... Ibu gak tau harus ngomong apa. Kamu dapat uang dari mana? Saham lagi?"

Olyvia mengangguk. "Iya, Bu. Investasi Olyvia berhasil. Olyvia cuma mau Ibu sama Bapak hidup tenang. Gak usah mikirin uang lagi. Itu tugas Olyvia sekarang."

Bu Sumarni menyeka air matanya. "Ibu bangga sama kamu, Nduk. Ibu gak nyangka anak Ibu bisa kayak gini."

Olyvia merasakan matanya sendiri mulai panas. "Olyvia juga bangga jadi anak Ibu. Ibu istirahat ya. Jangan jaga warung terlalu malam."

"Iya, Nduk. Kamu juga jangan begadang terus. Nanti sakit."

Mereka mengakhiri panggilan. Olyvia menatap langit malam dan menarik napas dalam.

Satu langkah lagi selesai. Ibu bakal bahagia. Bapak juga. Adik-adik juga. Tinggal... gue sendiri.

Ia menyentuh gelang bintang di pergelangan tangannya. Keep shining.

Gue akan terus bersinar. Sendiri.

1
Fauziah Daud
terharu sangat... trusemangattt
nana
bagus banget
Fauziah Daud
seru bangat... trusemangattt
Fauziah Daud
seru.. trusemangattt
Fauziah Daud
trusemangattt
Kirina
hmmm tadinya bingung mau komentar apa, tapi e... nama agen nya kok sama semua ya sama nama ibu nya arjuna yaitu 'Ratna', apa jangan2 mereka kemabar lagi🤣🤣🤣🤣
Kirina: bagaimana dengan mia, reva, melinda, silviana, cecil, siska, moli, fani, novi, fitri, atau yang lainnya gitu....
total 2 replies
Andira Rahmawati
pindah apart aja ..yg tingkat keamanannya lebih tinggi..👍
Andira Rahmawati
hadirr...thorr💪💪💪
Kirina
ini kapan beli properti buat ibunya thor kok di undur mulu heran atau author lupa lagi
Kirina: gak papa 😇 tetep ya kak🤗 stay strong💪
total 5 replies
Yusna Wati
semangat ya thor up nya💪🤗
Ahmad Fauzi
bagus seru
Ellasama
salfok SM PP mu kak,,,/Chuckle/
sakura: kenapa dengan PP ku, bagus ya🤭
total 1 replies
Ellasama
puas banget,, nah kan gini baru bener si fl harus strong anti badai
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Ellasama
kok si olyv gak cepet nindak si Juna sih, seenggaknya kan jangan dibiarin gitu aja nanti dia nya makin ngelunjak lagi
sakura: pakai kapak aja gak sih?🤭
total 1 replies
Ellasama
tenang aja mbak mu itu supper super kaya tujuh turunan tujuh tanjakan /Hey/
Ellasama
monyet 🐒 gak tuh/Facepalm//Curse/
Ellasama
waduhhh, ni dunia cocok bgt buat isi kantong aku/Hey/
Ellasama
wihh satu dunia kek nya nak dibeli sama si olyv deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!