"Katanya, sebelum semua ilmu nya lepas.. nenek nggak akan bisa mati."
"Jadi sekarang nenek dimana?"
"Nenekmu sedang menjalani semua hukuman sebelum akhir nya dia mati. Selama 40 hari, dia akan dalam pengaruh Iblis."
"Tapi kan nenek udah meninggal!?"
Sebuah ilmu tua membuat seorang nenek mengalami hal di luar nalar ketika akan mendapatkan ajalnya.
Elma, gadis biasa yang baru saja datang dari Jakarta itu harus menelan bulat - bulat atas semua rentetan kejadian tak masuk akal yang dia alami selama mencari jasad nenek nya, dalam waktu 40 hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.21. Hari pertama mencari jasad nenek.
Elma menceritakan semua yang dia lihat dan alami saat dia berada di alam bawah sadar nya kemarin, karena semua orang panik mengurusi nenek yang sakaratul maut.. Elma pun jadi belum memiliki kesempatan untuk menceritakan apa yang di lihat nya. Dan setelah Elma sudah menceritakan semuanya, abah Surip kemudian manggut - manggut seolah dia mengerti tentang sesuatu.
"Aku nggak tau kalo sebenar nya aku kerasukan." Ucap Elma, pak Ustad juga terlihat manggut- manggut.
"Nduk, coba koe ingat - ingat lagi di mana kira - kira ruangan itu berada." Ucap abah Surip, Elma pun menoleh ke ruang tengah.
"Kalo kamu bingung, kamu jalan saja seperti nenek mu yang kamu liat di alam sana." Ucap pak Ustad, Elma manggut - manggut.
"Oke, tapi pak Ustad.. itu semua yang aku liat itu cuma mimpi, kah? Atau.." Ucap Elma menggantung.
"Yang kamu liat itu merupakan masalalu nenekmu, nduk. Dalam artian kamu di perlihatkan sekilas kejadian yang pernah nenekmu lalui semasa hidup nya." Ucap abah Surip.
"Dan karena kamu di perlihatkan hal itu sebelum beliau akhir nya meninggal.. itu pasti ada sesuatu yang ingin beliau sampaikan padamu." Imbuh abah Surip.
"Apa beliau ada mengucapkan sesuatu di sana, nduk?" Tanya pak Ustad, Elma mengangguk.
"Ada, nenek bilang.. Nggak boleh ada lagi yang celaka, cukup aku saja yang jadi wadah.. kaya gitu kira - kira artinya." Ucap Elma, pak Ustad manggut - manggut.
"Ya sudah, kamu akan di dampingi sama pak Ustad dan ibumu. Abah harus melakukan sesuatu untuk menemukan nenekmu." Ucap abah Surip, Elma mengangguk.
"Mas Tian, kamu dan para warga akan bantu abah.." Ucap abah Surip lagi, dan Tian mengangguk.
Dan hari itu juga, Abah Surip bersama Tian pergi keluar dari rumah dan langsung menuju ke masjid atau mushola setempat, tujuan nya adalah..
"Bapak - bapak, saya mengumpulkan kalian semua di sini karena saya ingin meminta bantuan pada semua bapak - bapak sekalian." Ucap abah Surip.
Warga yang sudah datang dan berkerumun pun terlihat saling pandang dan penasaran dengan apa yang akan di ucapkan abah Surip. Sebab mereka semua tau siapa abah Surip ini, sehingga jika sampai dia mengumpulkan warga, maka pasti sedang terjadi sesuatu di desa.
"Bantuan apa, bah?" Tanya salah satu warga.
"Bapak - bapak, saya minta tolong pada bapak - bapak sekalian untuk ikut mencari nenek Tri." Ucap abah Surip, warga sontak terkejut.
"Lho bah, bukan nya nenek Tri sudah meninggal, yo?" Tanya mereka.
"Hooh, lho ada yang bilang nenek Tri sudah meninggal lho bah, kok sekarang malah mau nyari nenek Tri?" Tanya yang lain.
"Ini ndak bisa tak jelaskan secara menyeluruh, tapi.. Saya minta tolong sama bapak - bapak sekalian untuk ikut mencari nenek Tri, yo." Ucap abah Surip.
"Kasihan, dia sendirian di luar sana." Ucap bah Surip lagi.
Setelah mendengarkan apa yang di sampaikan oleh abah Surip, akhir nya semua warga pun sepakat untuk mencari jasad nenek Tri. Ada banyak bapak - bapak yang ikut dalam pencarian ini, akhir nya mereka pun di bagi menjad 3 kelompok dengan beranggotakan masing - masing 6 orang.
Tian bersama abah Surip memimpin kelompok bertama dan dua kelompok lain nya memencar ke bagian lain desa itu. Desa itu tidak begitu luas sebenar nya, hanya ada sedikit permukiman warga dan sisa nya adalah perkebunan teh yang luas yang salah satu nya adalah milik nenek Tri yang paling luas.
Selain perkebunan teh, ada juga sungai - sungai besar dan hutan - hutan pinus yang juga mengapit perkebunan itu, sebenar nya pemandangan di sana masih sangat asri. Penduduk nya memang banyak, dalam satu rumah ada 2 kartu keluarga, dan satu keluarga itu memiliki banyak anak sehingga sangat ramai.
"Mas Tian, apa semasa hidup nenekmu punya tempat - tempat yang sering di datangi?" Tanya abah Surip Tian sejenak berpikir.
"Nggak tau aku bah, paling nenek sering nya di gubug kebun teh semasa sebelum sakit." Jawab Tian, abah Surip manggut - manggut.
"Kalo gitu ayok kita kesana." Ucap abah Surip.
Meeeka pun berjalan menuju ke kebun teh milik nenek Tri, sepanjang jalan menuju kesana pemandangan nya memang indah, tapi juga mengerikan karena entah mengapa kabut tebal turun siang itu. Langit mendung dan udara juga mulai berangin..
Kembali ke sisi Elma..
Elma di rumah sedang mengingat kemana saja nenek nya melangkah, dia di temani pak Ustad dan bude nya, ibunya menjaga Salsa di dalam kamar yang entah kenapa tiba - tiba demam.
"Kemana lagi, nduk?" Tanya bude..
Elma terlihat memperhatikan struktur bangunan rumah nenek nya yang memang ternyata sudah mengalami renovasi, dia maju dan kini berdiri di depan sebuah lemari.
"Di belakang lemari ini apa ada ruangan, bude?" Tanya Elma, karena dia ingat seharus nya pintu nya ada di titik itu.
"Oh, bude nggak tau nak, waktu bude menikah sama pakdemu dulu lemari ini sudah ada." Jawab bude nya, Elma pun menaruh curiga.
"Pak Ustad, pintu yang aku liat di mimpiku itu di sini, tapi sekarang ini udah lemari." Ucap Elma, pak Ustad pun manggut - manggut dan terlihat memperhatikan lemari itu.
"Coba saya geser." Ucap pak Ustad, Elma pun menyingkir.
Pak Ustad mulai menggeser, Elma juga membantu untuk menggeser lemari itu. Memang berat karena itu adalah lemari kayu yang cukup tua, di tambah lagi di dalam nya berisi bingkai foto - foto lawas keluarga nenek.
"KRRET!! KRETT!!" Pelan tapi pasti lemari itu sudah bergeser sedikit demi sedikit dari posisi nya.
"Berat banget ini lemari." Elma sampai sekuat tenaga mendorong nya.
Dan setelah susah payah mereka mendorong, akhir nya lemari itu pun tergeser. Dan ya.. Ada pintu seperti yang Elma ligat di alam sana. Tapi pintu itu dalam keadaan terkunci.
"Di kunci, pasti cuma nenek yang tau kuncinya." Ucap bude, Elma manggut - manggut.
"Kita dobrak aja." Ucap Elma, dia lalu pergi mencari sesuatu untuk membuka pintu.
Elma mengambil kapak, dia sendiri yang mengayunkan kapak itu langsung ke arah pintu.
"BRAK!!"
"BRAK!!"
Elma memukul di bagian dekat lubang kunci.
"Ati - ati, kak." Ucap ibunya yang keluar sambil menggendong Salsa.
Tapi.. Sebelum akhir nya pintu itu berhasil terbuka, tiba - tiba saja datang serombongan orang membawa seseorang.
"Assalamualaikum."
"Mbak! Mbak!"
Baik Elma atau bude dan pak Ustad, mereka saling pandang mendengar kerumunan yang datang. Tapi kemudian mereka bergegas keluar dari rumah karena mereka mengira itu adalah warga yang berhasil menemukan jasad nenek.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab pak Ustad.
"Alhamdulillah, nenek ketemu." Ucap bude.
"Bukan, iki bukan nek Tri mbak." Jawab salah satu warga.
"Lho, mang Udin!?" Elma mengenali siapa yang di bawa oleh warga.
"Bener yo, iki kerabate sampean. Kami ketemu bapak iki di tengah hutan pinus, beliau kelihatan linglung, mbak."
DEG!
BERSAMBUNG!
hayooo kek mana coba
nenek idup lagi
masih kerabat kah?
dlm penglihatan Elma, waktu ditunjukin nenek masih muda, ada ayah dan pakde masih kecil... ada siapa lagi ya?
ato jangan-jangan Tian??
pasti ada yg msk tp lwt pintu lain