Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Sumpah di Bawah Langit Sidoarjo
Pagi itu, suasana di kantor baru PT Naga Properti Surabaya tampak sangat sibuk. Guntur, sang CEO yang baru saja sukses membawa pulang kejayaannya dari Jakarta, duduk tenang di kursi kebesarannya. Ia tidak sedang melihat berkas proyek, melainkan sedang menatap serius desain undangan pernikahannya dengan Sekar.
Adit masuk ke ruangan dengan wajah penuh tawa, membawa tablet berisi daftar menu katering. "Mas Guntur, ini orang katering nanya lagi, apa bener menunya mau dikasih Sego Bebek ireng sama Dadar Jagung saja?" tanya Adit.
Guntur menyulut kreteknya pelan, lalu menyahut dengan gaya santainya. Yo bener lah, Dit! Mosok kowe kepingin aku suguhan roti garing sing dipangan malah nggarai seret nang gulu? (Ya bener lah, Dit! Masa kamu pengen aku kasih suguhan roti kering yang dimakan malah bikin seret di tenggorokan?) ucap Guntur sambil nyengir lebar.
Iki hajatan wong Sidoarjo, dadi ilate yo kudu ilat kene. Gak usah kakehan gaya sing penting wetenge wareg, atine seneng! (Ini hajatan orang Sidoarjo, jadi lidahnya ya harus lidah sini. Nggak usah kebanyakan gaya yang penting perutnya kenyang, hatinya senang!) tambahnya lagi dengan mantap.
Adit mengangguk paham, namun raut wajahnya mendadak berubah serius. "Tapi hati-hati, Mas. Ada kabar burung dari Jakarta. Si Amanda kabarnya masih nggak terima dipenjara sendirian. Dia mencoba kirim orang bayaran buat kacauin acaramu besok di Sidoarjo."
Mata Guntur langsung menyipit tajam menatap keluar jendela kantor. Amanda... wis dipenjara kok isih kepingin dadi kerikil nang njero sepatu. (Amanda... sudah dipenjara kok masih kepingin jadi kerikil di dalam sepatu.) gumamnya dingin.
Kandani Pak Broto karo Bapak Suryo, jogoen radius siji kilometer teko lokasi acara. Sopo wae sing kakehan pola lan raine mencurigakan, sikat dhisik! (Bilangi Pak Broto sama Bapak Suryo, jaga radius satu kilometer dari lokasi acara. Siapa saja yang kebanyakan tingkah dan wajahnya mencurigakan, sikat duluan!) perintah Guntur dengan wibawa seorang Naga.
Hari yang dinantikan pun tiba di Alun-alun Sidoarjo. Tempat itu mendadak berubah menjadi lautan jaket oranye dan hijau karena ribuan driver ojek online berkumpul merayakan hari bahagia kawan seperjuangan mereka. Guntur naik ke panggung dengan gagah, menggandeng Sekar yang terlihat sangat anggun mengenakan kebaya putih suci.
Mbak Sekar, siap dadi ratu nang omahku? (Mbak Sekar, siap jadi ratu di rumahku?) bisik Guntur pelan di telinga calon istrinya karena merasa sangat grogi. Sekar hanya tersenyum sangat manis sambil mengangguk pelan, membuat hati Guntur makin mantap.
Namun, di tengah suasana doa yang khidmat, insting tajam Guntur menangkap pergerakan aneh. Di pojokan tenda besar, ada seorang pria berjaket hitam yang tampak memegang botol berisi cairan berbau menyengat. Tanpa aba-aba, Guntur langsung melompat dari panggung meskipun masih mengenakan baju pengantin yang berat.
Satu tendangan melingkar yang sangat cepat mendarat telak di dada pria penyusup itu. Guntur langsung mencengkeram kerah bajunya dengan satu tangan. Sopo sing ngutus kowe? Ngomongo, utawa tak dadekno rempeyek saiki! (Siapa yang mengutus kamu? Ngomong, atau tak jadikan rempeyek sekarang!) gertak Guntur.
Pria itu gemetar hebat melihat tatapan mata Guntur yang seperti harimau lapar. "Ampun Mas! Saya cuma disuruh wanita dari Jakarta buat bakar tenda ini!" akunya dengan suara lirih.
Guntur mendengus sinis, lalu menyerahkan pria itu pada Adit untuk diamankan. Ia kembali naik ke panggung dan menatap para tamu yang sempat tegang. Wes, wes! Ojo panik! Iki mung atraksi sithik teko penganten lanang. Ayo lanjut mangane! Sego bebeke ndang dientekno, selak adhem! (Sudah, sudah! Jangan panik! Ini cuma atraksi sedikit dari pengantin laki-laki. Ayo lanjut makannya! Nasi bebeknya segera dihabiskan, keburu dingin!)
Suasana kembali meriah dan penuh tawa. Kembang api meledak indah di langit malam Sidoarjo, menandai berakhirnya masa sulit Guntur. Sang Naga kini telah benar-benar pulang, menemukan cintanya, dan menjaga martabat keluarganya di tanah kelahiran tercinta.
Suasana resepsi pernikahan di Alun-alun Sidoarjo semakin malam semakin pecah oleh suara tawa ribuan driver ojek online yang berpesta pora. Guntur yang berdiri di pelaminan mengenakan beskap putih tampak sangat gagah, namun matanya yang tajam tidak sedetik pun berhenti mengawasi keadaan sekitar. Ia tahu, di balik kemeriahan ini, ada dendam yang belum tuntas dari Jakarta.
Sekar yang menyadari kegelisahan Guntur mencoba menggenggam tangan suaminya itu dengan lembut. Mas Guntur, sudah... jangan terlalu tegang. Hari ini adalah hari bahagia kita, lupakan dulu urusan kantor dan musuh-musuh itu, bisik Sekar sambil memberikan senyum paling manis yang pernah Guntur lihat.
Guntur membalas genggaman tangan Sekar, namun telinganya menangkap suara botol kaca yang beradu di balik tenda bagian belakang, dekat tempat parkir bus pariwisata. Sekar, sampeyan meneng kene dhisik nggih. Aku ono urusan sithik, gak suwe kok, (Sekar, kamu diam di sini dulu ya. Aku ada urusan sebentar, nggak lama kok,) pamit Guntur pelan sebelum melompat turun dari pelaminan dengan gerakan yang sangat lincah.
Di balik tenda yang remang-remang, Guntur melihat tiga orang pria berjaket kulit hitam sedang sibuk menyiramkan cairan bensin ke arah generator listrik dan tiang penyangga tenda utama. Mereka tampak terburu-buru, wajahnya tertutup masker hitam. Guntur berjalan mendekat dengan langkah tanpa suara, seperti seekor harimau yang sedang mengincar mangsa di tengah kegelapan malam.
Heh, mulyo-mulyo teko Jakarta mampir Sidoarjo mung arep dadi tukang obong? Gak eman nyawamu ta, Rek? (Heh, jauh-jauh dari Jakarta mampir Sidoarjo cuma mau jadi tukang bakar? Nggak sayang nyawamu ta?) suara Guntur menggelegar di tengah kesunyian area belakang tenda, membuat ketiga pria itu tersentak kaget bukan main.
Salah satu dari mereka langsung menghunuskan pisau lipat dan mencoba menusuk perut Guntur. Namun, dengan gerakan refleks yang sudah terlatih sejak kecil bersama kakeknya di sawah, Guntur menangkap pergelangan tangan pria itu, memutarnya hingga terdengar suara krek, dan mengirimkan satu tendangan telak ke arah dadanya hingga pria itu terpelanting menabrak tumpukan kursi kayu.
Loro liyane ndang mreneo sisan! Ojo kakehan pola nang tanah kelairanku, (Dua lainnya segera ke sini sekalian! Jangan kebanyakan tingkah di tanah kelahiranku,) tantang Guntur sambil memasang kuda-kuda silat pamungkasnya. Dua penyusup sisa itu mencoba menyerang bersamaan, namun Guntur dengan mudah menghindar. Ia memberikan pukulan dua jari tepat di ulu hati lawan pertama dan satu sapuan kaki yang membuat lawan kedua tersungkur mencium tanah.
Dalam hitungan menit, ketiga orang utusan Amanda itu sudah tidak berdaya di bawah kaki Guntur. Adit dan Pak Broto yang mendengar keributan segera datang membawa beberapa satpam kantor. Mas Guntur, ini mereka siapa? tanya Adit dengan napas terengah-engah.
Iki sampah teko Jakarta sing dikirim Amanda, Dit. Buwangen nang kantor polisi, kandani yen wong-wong iki meh obong-obong nang hajatan rakyat. Aku gak kepingin wong-wong iki ngerusak malem pertamaku karo Sekar, (Ini sampah dari Jakarta yang dikirim Amanda, Dit. Buanglah ke kantor polisi, bilangi kalau orang-orang ini mau bakar-bakar di hajatan rakyat. Aku nggak pengen orang-orang ini merusak malam pertamaku sama Sekar,) ucap Guntur sambil merapikan beskapnya yang sedikit kusut.
Setelah memastikan keadaan aman, Guntur kembali ke panggung dengan wajah tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Ia melihat Ibu Siti dan Bapak Suryo sedang tertawa bersama keluarga besar Pak Broto di depan meja hidangan Sego Bebek. Hatinya merasa sangat damai melihat pemandangan itu. Inilah kemenangan yang sesungguhnya, bukan sekadar harta melimpah, tapi utuhnya kembali keluarga yang sempat terpecah.
Acara ditutup dengan pesta kembang api yang sangat megah di atas langit Sidoarjo. Guntur merangkul pundak Sekar sambil menatap cahaya warna-warni di langit. Bismillah, Sekar... mulai sesuk, kito bangun kerajaan kito dewe nang kene. Aku janji, Naga iki bakal njogo kowe lan kabeh wong Sidoarjo sampek mati, (Bismillah, Sekar... mulai besok, kita bangun kerajaan kita sendiri di sini. Aku janji, Naga ini bakal menjaga kamu dan semua orang Sidoarjo sampai mati,) ucap Guntur mantap.
Sekar menyandarkan kepalanya di bahu Guntur dengan rasa syukur yang mendalam. Di tengah riuhnya tepuk tangan ribuan orang, Guntur menyadari bahwa perjalanannya dari seorang supir ojek yang dihina hingga menjadi raja properti adalah bukti nyata bahwa doa ibu dan kejujuran tidak akan pernah berkhianat pada hasilnya. Naga itu kini telah benar-benar pulang dan berkuasa di hatinya yang paling tenang.