NovelToon NovelToon
JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.

Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!

Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eksperimen Nana

Ia harus melanjutkan sandiwara ini. Ia harus menjadi Nana.

Ia menghela napas, menutup aplikasi LinkedIn-nya, dan kembali ke aplikasi kencan. Ia melihat foto Riton, wajahnya yang tampan, matanya yang jujur.

"Baiklah, Riton," bisiknya. "Kau ingin Nana? Kau akan mendapatkan Nana."

Ia mengetik pesan kepada Dimas, mengabaikan peringatan trauma.

Ekantika: Dimas, batalkan semua rencanaku besok. Aku akan berpura-pura berada di luar kota. Kita harus bertemu hari ini. Aku butuh filter usia yang lebih kuat, dan aku butuh rencana cadangan kalau-kalau Riton melihat mobilku. Dan satu hal lagi: Aku butuh kamu menjadi mentor karir palsuku jika Riton bertanya. Aku akan menjebakmu lebih dalam.

Ekantika menekan tombol kirim. Ia tahu ia sedang meluncur ke jurang.

Dan ia menyukai sensasinya.

Ia melihat kembali ke pesan Riton di aplikasi kencan: Aku penasaran sama kamu.

Ekantika tersenyum, senyum yang kini mengandung bahaya.

"Tentu, Riton. Kau akan penasaran. Karena aku adalah Ekantika Asna yang bercerai, 35 tahun, yang akan berpura-pura menjadi Nana, 26 tahun, kekasihmu. Dan aku akan membiarkanmu jatuh cinta pada kebohongan terbesarku."

Ia membuka feed Nana lagi, dan melihat profil Riton lagi, dan ia melihat notifikasi:

Riton telah mengirimkan Anda pesan baru.

Ekantika menekan untuk membuka, dan membaca pesan itu. Pesan itu hanya terdiri dari satu kata:

"Nana?"

Ekantika menatap layar ponselnya, jantungnya berpacu seperti drum yang dipukul tergesa-gesa. Ini bukan lagi soal match yang ironis, tetapi sebuah interaksi langsung yang menuntut respons yang cepat dan, yang paling penting, riang.

“Dimas, kamu masih di sana?” bisiknya, suaranya tercekat.

Di ujung telepon, Dimas berdeham, terdengar seperti sedang menahan napas. “Aku mendengarmu, Tik. Riton baru saja mengirim pesan ke identitas palsumu. Katakan padaku, apa yang sudah kamu lakukan pada hidupmu dalam 15 menit terakhir?”

“Aku sedang melakukan validasi diri dengan cara yang paling efisien, Dimas,” jawab Ekantika, mencoba mempertahankan nada CEO-nya, meskipun ia sedang bersembunyi di dalam lift. “Dengar, aku sudah menciptakan Nana, tapi dia harus sempurna. Kamu harus membantuku membersihkan semua jejak digital Ekantika Asna yang berumur 35 tahun, yang baru bercerai, dan yang... yah, yang menyedihkan.”

“Menyedihkan? Kamu CEO, Tik. Kamu membeli Bali kalau kamu mau,” Dimas mendengus. “Oke, aku sudah di basement kantormu. Turun sekarang. Aku harus melihat profil bencana ini secara langsung.”

Ekantika bergegas keluar dari lift, menuju mobilnya. Ia melihat ke sekeliling, khawatir Riton masih ada di sekitar lobi.

“Cepat, aku butuh briefing kilat di mobil,” kata Ekantika, masuk ke kursi belakang mobilnya yang dijaga sopir.

Lima menit kemudian, Dimas, dengan setelan kasual khas pakar IT yang tidak pernah peduli dengan dress code, sudah duduk di sebelahnya. Sopir diminta menunggu di luar.

Dimas mengambil ponsel Ekantika dan menatap profil Nana. Ia menggeser foto selfie Ekantika yang difilter habis-habisan (menghilangkan sembilan tahun dan menambahkan aura kepolosan yang mengkhawatirkan).

“Ya ampun, Tik. Kamu terlihat seperti karakter anime yang baru lulus dari sekolah memasak,” Dimas mengomentari, menggeleng. “Dan deskripsi ini: ‘Fresh grad yang lagi mencari passion di sela-sela ngopi dan bikin konten lucu.’ Serius? Kamu mau kencan sama orang, atau recruitment karyawan Gen Z?”

Ekantika merebut kembali ponselnya. “Itu namanya authenticity di pasar kencan digital, Mas. Aku harus menjadi antitesis dari Ekantika Asna. Nana itu ringan, tidak terbebani, tidak punya aset, dan yang paling penting, tidak punya mantan suami yang menyebalkan.”

Dimas menyandarkan punggung ke kursi kulit, menghela napas panjang. “Baiklah, mari kita bicara logistik. Riton. Dia bukan sembarang junior, Tik. Dia CEO yang sangat cerdas. Dia akan melakukan background check.”

“Itu tugasmu,” sahut Ekantika cepat. “Aku butuh kamu menghapus semua metadata foto lama di Instagram-ku. Pastikan tidak ada tanggal atau lokasi yang menunjukkan bahwa foto ‘liburan’ Nana di Bromo itu diambil delapan tahun lalu saat aku masih menikah dengan Arsa.”

“Gampang. Aku bisa spoof semua tanggalnya, membuatnya terlihat seperti baru diunggah kemarin,” kata Dimas, mengeluarkan laptop kecil dari tasnya. “Tapi, ini bukan hanya soal foto, Tik. Jejak digital itu seperti sidik jari, dan sidik jari Ekantika Asna ada di mana-mana. Kamu pernah jadi pembicara di konferensi IT, kamu ada di YouTube, kamu di LinkedIn, kamu di berita bisnis.”

“Semua itu harus hilang. Atau setidaknya, harus ‘tersembunyi’ dari pencarian Google sederhana,” perintah Ekantika. “Khusus untuk LinkedIn, aku sudah ganti nama belakangku menjadi Asna saja, bukan Asna Atmadja. Tapi Riton pasti tahu nama lengkapku. Jadi, Dimas, buatkan sebuah dinding api digital. Kalau Riton mencari ‘Ekantika Asna, CEO, 35’, dia harus mendapatkan hasil yang sangat umum, tidak ada kaitannya dengan Nana.”

Dimas mulai mengetik dengan kecepatan tinggi, jari-jarinya menari di atas keyboard.

“Ini namanya deepfaking identitas, Tik. Ini bahaya. Kalau dia sampai tahu kamu merekayasa ini, trauma Riton akan meledak. Dia benci pembohong. Aku sudah bilang, mantannya dulu wanita yang lebih tua yang manipulatif,” Dimas memperingatkan, matanya tak lepas dari layar.

Ekantika terdiam sejenak. Ia tahu Dimas benar. Tetapi rasa ingin membangkang jauh lebih kuat daripada rasa takutnya.

“Aku tahu, Dimas. Tapi aku tidak memanipulasi dia untuk uang atau kekuasaan. Aku hanya memanipulasi dia untuk… untuk rasa bahagia yang tidak bisa kudapatkan sebagai diriku yang sebenarnya,” bisik Ekantika.

“Kebahagiaan palsu itu yang bahaya, Tik,” balas Dimas. “Lagi pula, bagaimana jika dia mengajakmu bertemu teman-temannya? Teman-temanmu, Tik, itu semua adalah eksekutif yang seusiamu. Bagaimana kamu mau menjelaskan kejanggalan usia ini?”

Ekantika tersenyum licik. “Aku sudah memikirkannya. Aku akan mengatakan bahwa aku adalah anak ajaib. Atau, yang lebih baik, aku akan mengatakan bahwa aku adalah tipe orang yang ‘berjiwa tua’ dan sering bergaul dengan kalangan yang lebih mapan. Itu akan menjelaskan mengapa Nana tahu tentang investasi saham dan PPh 21.”

Dimas menghela napas, frustrasi. “Sialan. Logikamu terlalu sempurna untuk kebohongan yang mengerikan.”

“Lalu, bagaimana dengan Riton? Dia sudah mengirim pesan,” Ekantika mendesak.

Dimas menutup laptopnya, menatap Ekantika dengan serius. “Oke. Sekarang kita latihan. Ingat, Nana tidak boleh bicara seperti Ekantika. Hilangkan semua kata-kata seperti ‘solusi strategis,’ ‘efisiensi anggaran,’ atau ‘proyek jangka panjang.’ Gunakan slang yang tidak kamu mengerti.”

“Slang apa?”

“Misalnya, kalau dia bilang sesuatu yang lucu, kamu tidak boleh bilang, ‘Itu cukup menghibur, Riton.’ Kamu harus bilang, ‘Ngakak pol!’ atau ‘Gemoy!’”

Ekantika mengerutkan kening. “Gemoy? Kedengarannya seperti merek makanan kucing.”

“Tepat! Karena kamu harus polos dan lucu! Sekarang coba balas pesannya. Dia hanya bilang, ‘Nana?’ Tunjukkan kegembiraan palsu seorang fresh grad yang match dengan CEO tampan.”

Ekantika mengambil ponselnya, jarinya ragu-ragu di atas keyboard. Ia membayangkan Riton, yang tadi baru saja ia lihat di lobi, sosok yang profesional dan karismatik.

“Aku harus membalasnya dengan cara yang membuat dia ingin bicara lebih banyak,” gumam Ekantika, matanya menyala. Ini terasa seperti negosiasi kontrak paling penting dalam hidupnya.

Dimas mengawasinya. “Jangan terlalu banyak titik koma. Gunakan emotikon, Tik. Sebanyak-banyaknya!”

Ekantika mengangguk, lalu mulai mengetik cepat.

Nana: OMG! Riton! Kenapa kamu panggil aku Nana pake tanda tanya? Kamu kira aku hantu ya? Aku baru bangun tidur, nih! Habis mimpiin mie instan pedas!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!