NovelToon NovelToon
Menggantikan Pengantin Yang Kabur

Menggantikan Pengantin Yang Kabur

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:15.2k
Nilai: 5
Nama Author: Vaelisse

Ketika kakaknya, Orla, kabur dari pernikahan dengan pria berbahaya bernama Lorcan, Pearl dipaksa menggantikannya demi menyelamatkan keluarga dari kehancuran.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria dingin yang seharusnya menikahi orang lain, Pearl harus hidup dalam kebohongan yang bisa merenggut nyawanya kapan saja jika kebenaran terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5

Pagi datang seperti yang Pearl takutkan.

Tanpa belas kasihan.

Cahaya abu-abu musim dingin menyelinap masuk melalui celah tirai tebal, menyentuh lantai marmer tempat Pearl tertidur tanpa sadar di tengah malam. Ia terbangun dengan punggung yang kaku, jari-jari yang masih perih, dan kesadaran yang menghantam jauh lebih keras dari rasa sakit fisik mana pun.

Ini nyata.

Semua ini nyata.

Pearl bangkit perlahan, menghindari serpihan kaca yang sudah ia kumpulkan semalam ke sudut ruangan. Ranjang besar di tengah kamar sudah kosong, Lorcan entah sudah pergi sejak kapan.

Pearl menatap lekukan itu lebih lama dari yang seharusnya.

Lalu ia membuang pandangannya dan melangkah ke kamar mandi.

**

Dua puluh menit kemudian, Pearl berdiri di dalam walk-in closet yang luasnya hampir sebesar kamar tidurnya di rumah lama. Lampu-lampu hangat menyinari deretan pakaian mewah yang berjejer rapi di balik penutup plastik bening, semua dari perancang yang namanya bahkan tidak Pearl kenal, semua dipilih berdasarkan selera seseorang yang bukan dirinya.

Orla.

Setiap helai pakaian di sini adalah milik Orla. Dipilih untuk Orla. Dirancang untuk tubuh dan kepribadian Orla yang berani, mencolok, dan tidak pernah takut mengambil ruang lebih dari yang seharusnya.

Pearl menyentuh salah satu gaun dengan ujung jarinya.

Sutra merah marun.

Warna yang tidak pernah sekalipun ia pilih untuk dirinya sendiri.

Tapi pagi ini, ia tidak punya kemewahan bernama pilihan.

Dengan tangan yang masih terbungkus perban tipis di beberapa jari, Pearl mengenakan gaun itu. Ia berdiri di depan cermin, memulas lipstik merah ke bibirnya dengan gerakan yang lebih mirip seseorang yang sedang mempersiapkan diri untuk perang daripada untuk tampil di depan publik.

Perempuan di cermin itu cantik.

Anggun. Tampak berkelas.

Tapi matanya kosong seperti kaca.

"Sudah selesai?"

Pearl tersentak.

Lorcan berdiri di ambang pintu walk-in closet, memperhatikannya dengan tatapan yang tidak bisa Pearl artikan. Setelan abu-abu gelapnya sempurna tanpa satu pun kerutan pria itu tampak seperti tidak tidur, tapi juga tampak seperti tidak pernah kelelahan sehari pun dalam hidupnya.

Matanya menyapu Pearl dari atas ke bawah. Sekejap, sangat singkat, ada sesuatu yang melintas di baliknya.

"Merah," katanya pelan, melangkah masuk. Ia berdiri tepat di belakang Pearl, menatap pantulan mereka berdua di cermin. "Warna yang menarik perhatian."

Pearl tidak menjawab.

"Ingat," lanjutnya, suaranya turun menjadi sesuatu yang terdengar seperti instruksi tapi terasa seperti ancaman, "begitu kita keluar dari mansion ini, kamu adalah Orla Rowan. Bukan Pearl. Orla tidak pernah ada. Pearl tidak pernah ada. Yang ada hanya istri Lorcan Darragh."

"Karena kita ingin menjaga privasi pernikahan ini," ucap Pearl datar, mengulang kalimat yang sudah ia susun sendiri semalam sebagai persiapan.

Lorcan menatap pantulannya di cermin dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Bagus." Ujung jarinya menyentuh bahu Pearl dingin, bahkan melalui lapisan sutra. "Satu kesalahan kecil, dan semua biaya rumah sakit ibumu berhenti hari itu juga."

Pearl memejamkan mata sedetik.

"Aku mengerti."

**

Perjalanan menuju kantor pusat Darragh Group terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan.

Pearl duduk di kursi belakang limousine yang sunyi, menatap lurus ke depan tanpa benar-benar melihat apa pun. Di sampingnya, Lorcan membaca sesuatu di layar tabletnya tenang, fokus, seolah pagi ini tidak berbeda dari pagi-pagi lainnya. Seolah semalam tidak pernah terjadi.

Pearl ingin membencinya lebih dari yang sudah ia lakukan.

Namun di sela-sela kebencian itu, bayangan wajah ibunya selalu muncul.

Bertahan. Bertahan untuk dia.

Mobil melambat.

Di luar jendela, kerumunan sudah menunggu wartawan, kamera, lampu kilat yang bahkan dari dalam mobil pun sudah terasa menyilaukan. Pearl menelan ludah.

Lorcan meletakkan tabletnya.

"Sandiwara dimulai sekarang," bisiknya, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Pearl, tapi Pearl mendengarnya. "Tersenyumlah seperti perempuan yang mendapat semua yang ia inginkan."

Pintu dibuka dari luar oleh pengawal.

Lorcan keluar lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya ke arah Pearl, bukan dengan kelembutan, tapi dengan presisi seorang aktor yang tahu persis kapan harus menampilkan adegan mana.

Pearl menatap tangan itu sedetik.

Lalu ia meletakkan tangannya di atasnya dan melangkah keluar.

Lampu kamera menyambar seketika, bertubi-tubi, membutakan matanya. Pearl memaksakan senyum ke bibirnya, senyum yang ia harap terlihat manis, terlihat bahagia, terlihat seperti milik perempuan yang jatuh cinta dan tidak menyesali satu pun keputusannya.

Tangan Lorcan bergerak ke pinggang Pearl, menariknya lebih dekat dalam pelukan yang dari luar tampak posesif dan penuh rasa memiliki.

Pearl merasakan tekanan jarinya di sisi tubuhnya.

Tidak keras. Tapi cukup, cukup untuk mengingatkan bahwa ini bukan pelukan. Ini kendali.

Dunia melihat mereka sebagai pasangan paling sempurna yang pernah berdiri di depan kamera hari itu. Tidak ada yang tahu bahwa di balik gaun merah marun itu, Pearl sedang menggigil. Tidak ada yang tahu bahwa di balik senyum yang ia paksa, ada perempuan yang sedang berjuang untuk tidak menangis di depan semua orang ini.

Di sela-sela tanya jawab dengan wartawan, saat kamera sempat berpaling sebentar, Lorcan menundukkan kepalanya sedikit ke arah Pearl, gerakannya tampak seperti bisikan mesra bagi siapa pun yang melihatnya dari kejauhan.

"Jangan terlihat tegang. Kamu terlihat seperti orang yang baru kehilangan dompet."

Pearl menahan keinginan untuk menutup matanya.

"Ya," jawabnya pelan, senyumnya tidak bergeser satu milimeter pun.

Dan di sanalah Pearl berdiri, di bawah ratusan sorotan cahaya, di samping pria yang membencinya, mengenakan nama dan identitas orang lain, tersenyum kepada dunia yang tidak tahu apa-apa.

Ia yang tahu betul bahwa semua ini baru saja dimulai.

Bahwa ini bukan puncak dari semua yang harus ia tanggung, ini hanya halaman pertama.

Dan entah berapa ratus halaman lagi yang harus ia baca sebelum cerita ini menemukan ujungnya.

Pearl tidak tahu.

Yang ia tahu hanya satu hal.

Selama jantung ibunya masih berdetak di ujung sana, ia akan terus berdiri di sini, mengenakan topeng apa pun yang diminta, menyandang nama apa pun yang diperintahkan.

Meski di balik semua itu, Pearl Rowan perlahan-lahan menghilang.

Satu hari dalam satu waktu.

1
Dede D
ceritanya sangat bagus
Dede D
lanjut kak
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿV⃗a͢n꙰a͢a⃗ꦿᵏⁱᵉˡяᷢ⃞🐰
Gegara Kk nya, adikny jdi korban😭
Dan demi ibunya, pearl rela melaksanakan pernikahan yg ia sendiri tidak mau sbnrnya🙏😓
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Vaelisse: makasii kak, jangan lupa like dan komen nya ya 😀
total 1 replies
Juli Queen
bagus
Juli Queen
kaa kapan update nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!