"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: KEDATANGAN SANG TIRANI
POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)
Di layar monitor ruang kendali, tiga titik biru meluncur di atas peta digital Jakarta. Itu bukan pesawat komersial biasa. Itu adalah Gulfstream G650 milik klan Xavier pusat, membawa variabel paling berbahaya dalam hidup Papa: Alexander dan Catherine Xavier. Sepasang predator yang telah memimpin Vipera selama tiga dekade sebelum Papa mengambil alih dengan cara yang sedikit... berdarah.
Aku menyesap teh kamomil yang sudah mendingin, jemariku mengetuk meja obsidian dengan ritme yang teratur. Di belakangku, Marco berdiri kaku, keringat dingin membasahi kerah kemejanya.
"Tuan Muda Leo," suara Marco bergetar. "Unit 'Gorgon' sudah mendarat di bandara pribadi. Mereka tidak melewati protokol imigrasi standar. Tuan Besar Alexander memerintahkan pengosongan jalur menuju mansion."
"Biarkan mereka lewat, Marco," ucapku tanpa menoleh. "Menghambat mereka hanya akan membuat Kakek merasa tertantang. Dan di papan catur ini, aku lebih suka musuhku merasa menang sebelum aku menarik lantai di bawah kaki mereka."
“Kak, mereka baru saja melewati gerbang luar. Catherine Xavier mengenakan bros safir yang melambangkan status janda permaisuri. Secara psikologis, dia datang untuk menegaskan dominasi domestik atas Mama,” suara Lea berdesir di benakku melalui Shadow Talk.
“Tangani Nenek, Lea. Berikan dia 'kejutan' psikologis yang membuat dia sadar bahwa mansion ini bukan lagi teritorinya. Aku akan menangani Kakek,” balasku dingin.
Aku berdiri, merapikan jas mini berwarna biru gelap yang kupakai. Aku melirik cermin. Tubuh anak delapan tahun ini benar-benar menyebalkan. Namun, tatapan mataku—tatapan seorang Marsekal yang telah membumihanguskan benua—adalah sesuatu yang tidak bisa disembunyikan oleh fisik mana pun.
Aku melangkah menuju aula utama, tempat Papa sudah berdiri dengan rahang mengeras. Dia mengenakan tuksedo hitam sempurna, namun aku bisa melihat otot-otot di balik punggungnya menegang hebat. Di sampingnya, Mama berdiri dengan gaun warna peach yang lembut, tangannya menggenggam erat lengan Papa. Dia tampak seperti rusa yang sedang menunggu kedatangan serigala.
"Papa," panggilku pelan saat aku sampai di sampingnya.
Damian menoleh, matanya yang tajam seolah memohon sebuah solusi taktis. "Mereka sudah di depan pintu, Leo."
"Jaga Mama, Papa. Itu tugasmu sebagai unit pertahanan," perintahku dengan nada otoriter yang tak terbantahkan. "Biarkan aku yang melakukan negosiasi garis depan."
Tepat saat itu, pintu rahasia mansion yang berat terbuka dengan dentuman yang megah.
Seorang pria tua dengan rambut perak yang disisir rapi dan tongkat berkepala ular emas melangkah masuk. Alexander Xavier. Di belakangnya, Catherine Xavier melangkah dengan keanggunan seorang ratu yang haus darah. Mereka dikawal oleh enam anggota unit 'Gorgon' yang bergerak dengan presisi robotik.
Atmosfer di aula itu mendadak turun hingga ke titik beku.
POV: DAMIAN XAVIER
Aku merasakan tangan Qinanti gemetar di lenganku. Sembilan tahun aku menjauhkannya dari orang tuaku, dari racun yang mereka semprotkan pada siapa pun yang mereka anggap tidak setara. Dan sekarang, monster-monster itu ada di ruang tamuku.
"Damian," suara ayahku bergema, kering dan tajam seperti gesekan pisau. "Kau terlihat... sedikit lembek. Apakah tinggal dengan 'wanita rendahan' ini merusak sirkulasi darah mafiamu?"
Aku melangkah maju, menghalangi pandangan ayahku dari Qinanti. "Jaga bicaramu, Alexander. Kau ada di rumahku sekarang."
"Rumahmu?" Catherine Xavier tertawa, sebuah tawa yang merambat di tulang belakangku seperti es. Dia menatap Qinanti dengan tatapan yang bisa membakar kulit. "Rumah ini dibangun dengan uang Xavier. Dan wanita ini... dia bahkan tidak layak menjadi pelayan di sini, apalagi menjadi nyonya rumah."
"Cukup!" bentakku.
Namun, sebelum amarahku meledak lebih jauh, sebuah suara kecil yang tenang memecah ketegangan.
"Kakek Alexander, posisi berdiri Kakek menunjukkan masalah pada sendi panggul kiri. Sudut kemiringan tongkat Kakek melesat 15 derajat dari garis gravitasi tubuh," ucap Leo, melangkah maju dengan tangan terselip di saku.
Ayahku tertegun. Dia menunduk, menatap bocah kecil yang tingginya bahkan belum mencapai pinggangnya. "Siapa anak kurang ajar ini?"
"Namaku Leo Xavier," Leo menatap ayahnya lurus ke mata, tanpa secercah pun rasa takut. "Dan aku sarankan Kakek tidak meremehkan efisiensi di rumah ini. Papa mungkin 'lembek' menurut standar Kakek, tapi itu karena Papa sedang memprioritaskan variabel stabilitas keluarga. Sebuah strategi yang nampaknya gagal Kakek pahami selama tiga puluh tahun memimpin Vipera."
Aula itu mendadak hening. Marco hampir menjatuhkan tabletnya. Belum pernah ada yang berani bicara seperti itu pada Alexander Xavier, apalagi seorang bocah.
"Alexander," Catherine berdesis, matanya menyipit menatap Leo. "Anak ini... matanya... itu mata iblis."
"Itu disebut mata Marsekal, Nenek," Lea menyela, muncul dari balik pilar dengan boneka kelincinya. Dia berjalan menuju Catherine dengan senyum paling manis yang pernah kulihat—senyum yang aku tahu adalah umpan maut. "Nenek Catherine, bros safir itu sangat cantik. Sayangnya, itu palsu. Batu aslinya sudah dijual oleh paman di London untuk menutupi hutang judinya bulan lalu, kan? Nenek hanya memakai replika yang sangat bagus untuk menutupi rasa malu keluarga pusat."
Wajah ibuku berubah menjadi merah padam, lalu seketika menjadi pucat pasi.
POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)
Aku melihat Catherine Xavier terguncang. Detak nadi di lehernya melonjak drastis—120 bpm.
Analisis: Target sedang mengalami disonansi kognitif tingkat tinggi. Dia datang untuk menindas, tapi rahasia terdalamnya justru dibongkar oleh anak kecil dalam sepuluh detik pertama. Pertahanan emosionalnya retak sebesar 60%.
"Kau... kau tahu apa tentang urusan keluarga di London?!" Catherine berteriak, suaranya melengking kehilangan keanggunannya.
"Aku tahu segalanya, Nenek," ucapku sambil memiringkan kepala secara imut. "Aku tahu Nenek datang ke sini untuk memisahkan Mama dari Papa karena Nenek butuh akses ke dana simpanan Papa untuk menyelamatkan aset Xavier di Eropa yang sedang bangkrut. Nenek bukan datang karena peduli pada tradisi. Nenek datang karena Nenek butuh uang."
Alexander Xavier menggebrakkan tongkatnya ke lantai marmer. DUAK! "Damian! Apa kau membiarkan monster-monster kecil ini menghina orang tuamu?!"
Papa hendak bicara, tapi Leo lebih cepat.
"Menghina adalah ketika seseorang mengatakan sesuatu yang tidak benar, Kakek," ucap Leo datar. "Kami hanya menyatakan fakta logistik. Kakek membawa unit Gorgon ke sini bukan untuk pengawalan, tapi untuk intimidasi fisik. Namun, aku sudah menonaktifkan semua senjata mereka lewat sinyal jammer frekuensi tinggi yang kupasang di langit-langit aula ini sejak sepuluh menit yang lalu. Lihat saja lampu di jam tangan mereka. Merah, bukan?"
Para pengawal Gorgon serentak melihat jam tangan mereka. Titik hijau yang biasanya menandakan kesiapan senjata pintar mereka kini berkedip merah. Mereka tidak bisa menarik pelatuk.
Alexander Xavier menatap Leo dengan ngeri. Dia mulai menyadari bahwa dia tidak sedang berhadapan dengan cucu biasa. Dia sedang berhadapan dengan penguasa bayangan yang baru.
"Mama," aku berbalik, menghampiri Mama yang masih terpaku. Aku menggenggam tangannya yang dingin. "Ayo kita ke dapur. Lea ingin Mama buatkan teh mawar. Biarkan Papa menyelesaikan urusan 'bisnis tua' ini dengan Kakek dan Nenek."
Mama menatapku, lalu menatap Damian. Papa mengangguk mantap. "Pergilah, Qin. Aku akan menangani ini."
Aku menuntun Mama keluar dari aula. Saat melewati Catherine, aku berbisik sangat rendah, hanya untuk telinganya. "Jika Nenek menghina Mama sekali lagi, aku akan membocorkan riwayat medis 'perawatan rahasia' Nenek di Swiss ke seluruh majalah society di London. Checkmate, Nenek."
Catherine hanya bisa berdiri kaku, napasnya tersengal.
POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)
Kini tinggal aku, Papa, dan Alexander di tengah aula. Unit Gorgon sudah tidak berguna. Keunggulan taktis ada di tanganku.
"Duduklah, Kakek," ucapku, menunjuk ke sofa kulit yang besar. "Mari kita bicarakan tentang 'Pembersihan' yang Kakek tulis di surat itu. Siapa yang sebenarnya ingin Kakek bersihkan? Mama? Atau... hutang-hutang Kakek di pasar gelap Eropa?"
Alexander Xavier perlahan duduk. Kesombongannya mulai luntur, digantikan oleh kewaspadaan seorang predator tua yang menyadari ada predator yang lebih besar di depannya.
"Kau... kau benar-benar darah daging Damian?" tanya Alexander, suaranya parau.
"Aku adalah pewaris sejati klan Xavier," jawabku tegas. Aku berdiri di samping Papa, memposisikan diriku sebagai penasihat militer. "Papa adalah otot dari klan ini, dan aku adalah otaknya. Jika Kakek ingin Vipera tetap berdiri, Kakek harus belajar untuk menghormati variabel paling penting di hidup Papa: Mama."
"Wanita itu tidak punya apa-apa untuk ditawarkan pada klan ini!" Alexander mencoba membela diri.
"Dia menawarkan kemanusiaan pada Papa," aku menatap Kakek dengan mata yang tajam. "Tanpa Mama, Papa adalah mesin pembunuh yang tidak terkendali. Dan mesin yang tidak terkendali akan menghancurkan klan ini dari dalam. Aku sudah menghitung probabilitasnya. Dengan Mama di sisi Papa, profitabilitas Vipera akan naik 300% karena stabilitas emosional yang lebih baik."
Damian menatapku dengan takjub. Aku bisa merasakan rasa bangganya meluap. Dia melangkah maju, berdiri tepat di hadapan ayahnya.
"Kau dengar itu, Ayah?" ucap Damian dengan nada otoriter yang mutlak. "Leo dan Lea adalah masa depan klan ini. Dan Qinanti... dia adalah ratuku. Jika kau atau Ibu mencoba menyentuh atau menghina mereka lagi, aku tidak akan segan-segan menghapus nama kalian dari garis keturunan Xavier secara permanen."
Alexander Xavier terdiam. Dia menatap tongkat emasnya, lalu menatapku. Dia melihat sebuah kekuatan yang tidak bisa dia lawan dengan senjata atau uang. Dia melihat sebuah strategi yang sempurna.
"Baiklah," Alexander mendesis. "Kita lihat seberapa lama strategi 'kekeluargaan' ini bisa bertahan melawan musuh-musuhmu yang lain, Damian. Tapi ingat... klan Xavier pusat tidak akan tinggal diam jika aset kami di sini terus merosot."
"Aset Papa tidak merosot, Kakek," aku menyela. "Aku baru saja meretas akun bank Kakek di London dan mendepositokan sepuluh juta Euro sebagai 'uang damai'. Anggap saja itu biaya sewa karena Kakek sudah mengganggu waktu sarapan kami. Sekarang, silakan istirahat di sayap barat. Dan ingat... jangan menyentuh apa pun tanpa izin Lea."
POV: QINANTI (Mama)
Di dapur, aku mencoba menuangkan teh dengan tangan yang masih sedikit bergetar. Lea duduk di meja makan, asyik menggambar sesuatu di buku sketsanya. Dia tampak begitu tenang, seolah-olah dia tidak baru saja menghadapi dua orang paling menakutkan yang pernah kutemui.
"Lea..." panggilku pelan.
"Ya, Ma?"
"Kenapa kau tahu soal bros nenekmu? Dan soal paman di London?"
Lea mendongak, matanya yang genius menatapku dengan kelembutan yang mematikan. "Lea hanya menebak berdasarkan cara Nenek memegang bros itu, Ma. Dan soal paman... Lea hanya membaca berita di internet."
Aku tahu itu bohong. Aku tahu anak-anakku menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar. Tapi saat ini, aku merasa sangat dilindungi. Aku merasa, untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, aku tidak sendirian menghadapi kegelapan klan Xavier.
Damian masuk ke dapur tak lama kemudian. Dia langsung menghampiriku dan menarikku ke dalam pelukannya. Dia membenamkan wajahnya di leherku, menarik napas panjang.
"Semua sudah selesai, Qin. Mereka tidak akan mengganggumu lagi," bisiknya.
"Damian, apa yang kalian lakukan di sana?"
Damian melepaskan pelukannya, menatap Leo yang baru saja masuk ke dapur dengan wajah tanpa ekspresi. "Kami hanya melakukan sedikit... negosiasi keluarga."
Leo menarik kursi dan duduk di samping Lea. "Papa, Kakek sudah setuju untuk tetap di sayap barat selama tiga hari. Dia sedang sibuk memeriksa saldo banknya. Tapi Papa... Nenek sedang merencanakan sesuatu dengan Selina. Aku mendeteksi komunikasi terenkripsi di antara mereka dua menit yang lalu."
Damian mengepalkan tangannya. "Selina? Asisten korup itu?"
"Ya," Lea menimpali. "Nenek ingin menggunakan Selina untuk mencari celah hukum agar bisa merebut hak asuh kami. Mereka pikir mereka bisa menang di pengadilan."
Aku merasa duniaku berputar. "Mereka ingin mengambil anak-anakku?"
Leo meletakkan tabletnya di meja, menatapku dan Papa secara bergantian. "Mereka bisa mencoba. Tapi mereka lupa, aku adalah Marsekal. Dan di duniaku, tidak ada musuh yang bisa memenangkan perang jika markas mereka sudah hancur sebelum mereka sempat menyerang."
Leo menekan sebuah tombol di tabletnya. "Pesan untuk Selina sudah terkirim. Dalam satu jam, seluruh bukti korupsinya akan sampai di tangan kepolisian internasional. Dan untuk Nenek... aku sudah menyiapkan 'hadiah' kejutan di kamarnya."
Aku menatap kedua anakku dengan rasa ngeri yang bercampur dengan rasa syukur. Mereka bukan anak-anak biasa. Mereka adalah penguasa bayangan yang sebenarnya di rumah ini.
"Checkmate, Papa," bisik Leo.
Damian tertawa, sebuah tawa yang penuh dengan kelegaan dan kebanggaan. Dia merangkul kami semua. "Ya. Checkmate."
Malam itu, di bawah atap mansion Vipera, peperangan besar baru saja dimulai. Tapi kali ini, singa tua dari Eropa menyadari bahwa mereka tidak lagi berhadapan dengan seekor serigala tunggal bernama Damian. Mereka sedang berhadapan dengan sebuah unit tempur yang sempurna, dipimpin oleh dua jiwa penguasa dalam tubuh anak kecil.