Lin Feng, seorang Kaisar Abadi yang tak tertandingi di generasinya, yang dikenal sebagai "Penguasa Abadi," tewas dalam sebuah pengkhianatan keji. Murid terdekat dan wanita yang paling dicintainya bersekongkol untuk merebut Kitab Suci Kekacauan Abadi miliknya, sebuah teknik kultivasi tertinggi, tepat saat ia mencoba naik ke Alam Dewa. Meskipun raganya hancur, seutas jiwa ilahinya berhasil lolos dan bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang pemuda yang baru saja mati di dunia fana yang terpencil.
Tubuh baru ini, yang juga bernama Lin Feng, dianggap sebagai "sampah" dengan meridian yang hancur, dikucilkan oleh klannya sendiri, dan dihina oleh tunangannya. Berbekal ingatan dan pengetahuan dari kehidupan masa lalunya yang gemilang, Lin Feng harus memulai segalanya dari nol. Dia akan menggunakan pemahamannya yang tak tertandingi tentang Dao agung untuk menempa kembali takdirnya, menantang langit, dan menapaki jalan menuju puncak kekuasaan sekali lagi, sambil merencanakan balas dendam yang akan m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Langit di Atas Kota Awan Mengambang
Kapal terbang elang melesat menembus awan dengan kecepatan yang mengagumkan. Di bawah, pegunungan dan hutan berubah menjadi bentangan hijau dan cokelat yang kabur.
Di dek kapal, Liu Xue'er dan dua murid inti lainnya menatap pemandangan itu dengan gugup dan gembira. Ini adalah pertama kalinya bagi sebagian besar dari mereka meninggalkan wilayah Klan Lin untuk acara sebesar ini.
Sebaliknya, Lin Feng duduk bersila di sudut dek, matanya terpejam, Pedang Bayangan Kuno diletakkan di pangkuannya. Dia tampak tidak terpengaruh oleh perjalanan itu, seolah-olah dia sedang bermeditasi di kediamannya yang tenang. Dalam benaknya, dia sebenarnya sedang menganalisis struktur internal pedang kuno itu, merasakan aliran energi samar di dalamnya.
Tetua Ketiga Lin Bao berjalan di antara para murid, ekspresinya serius. "Dengar, semuanya. Kota Awan Mengambang berbeda dari kota asal kita. Tiga klan besar memerintah di sana, dan persaingan sangat ketat. Klan Wang dikenal karena gaya mereka yang agresif dan sombong. Klan Zhao dikenal karena sifat mereka yang keras kepala dan bangga dengan pertahanan mereka. Kalian akan menghadapi provokasi sejak kalian mendarat. Jaga ketenangan kalian. Jangan terpancing ke dalam pertarungan yang tidak perlu sebelum kompetisi."
Matanya kemudian tertuju pada Lin Feng. "Terutama kau, Lin Feng. Kau adalah target utama mereka tahun ini. Kemenanganmu dalam kompetisi internal kita tidak lagi menjadi rahasia. Mereka akan mencoba menguji dan mempermalukanmu."
Lin Feng perlahan membuka matanya. "Jika seekor anjing menggonggong padaku, haruskah aku membuang waktu untuk menggonggong kembali?" tanyanya dengan tenang.
Lin Bao tertegun sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak. "Haha, baik! Mentalitas seperti itu yang kau butuhkan!"
Saat mereka sedang berbicara, salah satu murid inti tiba-tiba menunjuk ke kejauhan. "Tetua, lihat!"
Di kejauhan, dua titik hitam lainnya muncul di langit, terbang menuju arah yang sama. Saat mereka semakin dekat, bentuk mereka menjadi jelas.
Salah satunya adalah kapal terbang yang lebih kecil tetapi sangat ramping, berbentuk seperti ular petir, seluruh tubuhnya dicat perak dan berkedip dengan busur listrik samar. Di layarnya, berkibar bendera dengan karakter "Wang" (王).
Kapal lainnya berbentuk seperti kura-kura raksasa yang kokoh, berwarna perunggu, memberikan kesan tak tergoyahkan. Benderanya dengan bangga menampilkan karakter "Zhao" (赵).
"Klan Wang dan Klan Zhao," gumam Lin Bao, matanya menyipit. "Mereka selalu suka pamer."
Seolah-olah telah sepakat, ketiga kapal itu melambat, terbang sejajar satu sama lain, dipisahkan oleh jarak beberapa ratus meter.
Di dek kapal Klan Wang, seorang pemuda jangkung dan angkuh berdiri di depan. Dia membawa tombak perak dan rambutnya diikat tinggi. Matanya tajam seperti elang, dan senyum mengejek tersungging di bibirnya. Dia adalah Wang Teng.
"Oh, lihat apa yang kita punya di sini," suaranya, yang diperkuat oleh energi spiritual, melintasi langit. "Bukankah ini Klan Lin yang selalu berada di posisi terakhir? Aku dengar kalian membawa beberapa wajah baru tahun ini. Apakah kalian akhirnya bosan menjadi yang terbawah?"
Beberapa murid Klan Wang tertawa terbahak-bahak di belakangnya.
Di kapal Klan Zhao, seorang pemuda berotot dengan kulit berwarna perunggu berdiri dengan tangan terlipat. Dia botak dan tidak membawa senjata apa pun. Auranya sekokoh gunung. Dia adalah Zhao Wuji. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap ke depan dengan ekspresi acuh tak acuh, seolah-olah yang lain tidak layak mendapatkan perhatiannya.
Wajah dua murid inti Klan Lin memerah karena marah. Liu Xue'er mengerutkan kening, aura dingin samar mulai terpancar darinya.
Tatapan Wang Teng menyapu mereka, dan akhirnya berhenti pada Lin Feng, yang masih duduk dengan santai.
"Jadi kau Lin Feng?" Wang Teng menyeringai. "Aku dengar kau membuat sedikit keributan di klanmu yang terpencil. Jangan berpikir itu berarti apa-apa di sini. Di Kota Awan Mengambang, seekor naga harus melingkar, dan seekor harimau harus berbaring. Semoga kau tidak menangis saat aku mematahkan tulangmu di atas panggung."
Lin Feng bahkan tidak mengangkat kepalanya. Dia dengan lembut mengelus bilah tumpul Pedang Bayangan Kuno, seolah sedang membelai hewan peliharaan kesayangannya. Sikap pengabaian total ini adalah penghinaan terbesar.
Wajah Wang Teng menjadi gelap karena marah. "Kau...!"
Sebelum dia bisa mengatakan lebih banyak, kapal mereka telah tiba di atas kota raksasa.
Kota Awan Mengambang jauh lebih besar dan lebih megah daripada kota mana pun yang pernah dilihat para murid Klan Lin. Bangunan-bangunan tinggi menjulang ke langit, dan jalanan yang ramai dipenuhi orang. Energi spiritual di sini jauh lebih padat, dan banyak aura kuat bisa dirasakan di seluruh kota.
Di pusat kota, tiga arena raksasa telah didirikan, dikelilingi oleh lautan penonton.
"Kita sudah sampai," kata Lin Bao, nadanya serius. "Ingat, begitu kita turun, kompetisi telah dimulai. Jaga martabat Klan Lin."
Kapal elang mulai turun menuju area pendaratan yang telah ditentukan untuk Klan Lin. Saat mereka turun, Lin Feng akhirnya berdiri. Dia melirik sekilas ke arah Wang Teng yang masih marah dan Zhao Wuji yang diam.
Tidak ada ancaman, tidak ada kata-kata. Hanya tatapan yang tenang dan dalam, seperti lautan yang memandang riak di permukaan.
Namun, baik Wang Teng maupun Zhao Wuji, untuk sesaat, merasakan hawa dingin yang tak bisa dijelaskan menjalari tulang punggung mereka.