Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
Namun, setiap baja memiliki titik retak.
Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan di Tengah Malam
Kegelapan malam di New York terasa lebih pekat dan hening dibandingkan dengan California yang berisik oleh deburan ombak. Di dalam kamar utama kediaman Sullivan, hanya ada suara detak jam dinding dan desah halus mesin medis yang menjaga kehidupan Declan tetap stabil.
Nora terbangun dengan rasa tidak nyaman yang sangat familiar. Desakan di kandung kemihnya—sisa-sisa efek dari kehamilan singkatnya yang meninggalkan jejak sensitivitas pada tubuhnya—memaksanya untuk membuka mata. Ia beringsut pelan, melepaskan genggaman tangannya dari jemari Declan dengan hati-hati agar tidak mengganggu ketenangan pria itu, meski ia tahu Declan tidak akan terbangun.
Langkah kakinya yang telanjang tidak mengeluarkan suara di atas karpet beludru saat ia berjalan menuju kamar mandi. Di dalam, ia membasuh wajahnya dengan air dingin, menatap pantulan dirinya di cermin besar. Matanya masih tampak sedikit sembap, namun api di dalamnya sudah kembali menyala. Ia menarik napas dalam, mencoba mengusir sisa-sisa kantuk yang masih menggelayuti pikirannya.
Saat melangkah keluar dari kamar mandi dan melewati sebuah bufet kayu jati berukir di sudut ruangan, langkah Nora terhenti. Cahaya bulan yang menembus jendela menyinari serangkaian bingkai foto perak yang tersusun rapi di atas bufet tersebut.
Nora mendekat, jemarinya menyentuh salah satu bingkai. Ia melihat foto seorang bayi laki-laki dengan pipi kemerahan dan mata yang sangat cerah, tertawa lebar ke arah kamera. Di sampingnya, ada foto balita yang sedang memegang mobil-mobilan, lalu foto anak laki-laki berseragam sekolah dengan senyum nakal, hingga foto remaja yang tampak gagah saat memenangkan kejuaraan berkuda. Dan terakhir, sebuah potret Declan dewasa—tepat sebelum kecelakaan itu terjadi—berdiri dengan setelan jas hitam yang memancarkan kekuatan mutlak seorang pewaris Sullivan.
Nora mengambil beberapa bingkai foto tersebut, membawanya kembali ke atas ranjang. Ia duduk bersandar pada sandaran tempat tidur, meletakkan foto-foto itu di atas pangkuannya.
"Apakah ini dirimu, Declan?" bisiknya pelan sembari menoleh ke samping, menatap wajah suaminya yang masih terpejam dalam tidur panjangnya.
Tentu saja, hanya keheningan yang menjawab.
Nora mengusap permukaan kaca pada foto Declan saat masih bayi. Pipinya yang gembul mengingatkan Nora pada sesuatu yang memicu rasa perih yang teramat sangat di dadanya. Ingatan itu datang seperti banjir bandang—saat-saat ia melihat dua garis merah di alat tes kehamilan, harapan-harapan yang ia bisikkan pada perutnya yang masih rata, dan kehancuran total di lantai gudang yang dingin.
Tangannya secara refleks merayap ke arah perutnya sendiri. Perut yang kini rata, bersih, dan kosong. Ia membayangkan, jika saja takdir tidak sekejam itu, mungkin suatu hari nanti ia juga akan memiliki foto-foto seperti ini. Foto bayi-bayi kecilnya yang mewarisi matanya atau—setidaknya ia dulu berharap—senyum Adrian.
Air mata jatuh tanpa permandangan. Setetes, dua tetes, hingga membasahi kaca figura foto Declan.
Nora menyandarkan kepalanya pada dada bidang Declan yang naik-turun dengan teratur. Ia merasakan kehangatan tubuh pria itu, satu-satunya benda hidup yang bisa ia peluk saat ini. Dalam kegelapan yang sunyi itu, rahasia yang ia simpan rapat-rapat selama ini tumpah begitu saja.
"Mereka seharusnya kembar, Declan," isak Nora lirih, suaranya pecah di antara napasnya yang tersengal. "Dua nyawa kecil yang tidak pernah sempat melihat cahaya matahari. Mereka pergi di tempat yang sangat kotor dan dingin... dan yang paling menyakitkan adalah, ayah mereka sendiri yang membiarkan itu terjadi."
Nora terisak lebih dalam, membiarkan air matanya membasahi kemeja kasmir yang dikenakan Declan. "Aku sangat takut waktu itu. Aku merasa duniaku sudah kiamat. Aku pikir aku akan mati bersamanya di gudang itu... dan jujur saja, separuh dariku memang ingin mati saja saat itu."
Ia terus bercerita, mencurahkan segala keterpurukan, kemarahan, dan rasa kehilangan yang tidak sanggup ia ceritakan pada Lydia atau siapa pun. Declan menjadi telinga yang paling setia, satu-satunya manusia yang bisa menampung seluruh duka Nora tanpa menghakimi atau memberikan nasihat yang sia-sia.
"Terkadang aku berpikir," Nora mendongak, menatap langit-langit kamar dengan mata yang basah. "Kalau anak-anak itu masih ada, di mana aku sekarang? Apakah aku masih berada di bawah bayang-bayang Adrian, terjebak dalam kebohongan yang ia ciptakan? Atau... jika aku tetap dikirim ke sini, apakah keluargamu akan menerima wanita yang sedang mengandung anak pria lain?"
Pikiran itu membuatnya merenung sejenak. Namun, belum sempat ia tenggelam lebih jauh dalam skenario "bagaimana jika", sebuah suara dari dalam tubuhnya memecah suasana melankolis tersebut.
Kruyuk...
Nora tertegun sejenak, lalu tertawa kecil di tengah sisa isak tangisnya. Perutnya berbunyi cukup keras. Duka memang menyita banyak energi, dan ia baru menyadari bahwa makan malamnya tadi tidak cukup untuk menahan rasa lapar tengah malamnya.
"Maaf, Declan. Anak-anakmu—maksudku, perutku—sedang protes," gumamnya sembari meletakkan kembali foto-foto itu di nakas.
Ia beranjak dari ranjang, merapatkan piyama sutranya, dan perlahan keluar kamar menuju dapur utama di lantai bawah. Kediaman Sullivan yang luas terasa sangat berbeda di malam hari; lampu-lampu temaram di sepanjang lorong memberikan kesan magis dan damai.
Sesampainya di dapur yang modern dan luas, Nora membuka lemari pendingin. Ia tidak ingin merepotkan siapa pun, jadi ia hanya mencari sesuatu yang mudah dimakan. Ia menemukan sebuah keranjang berisi buah apel merah yang segar di atas meja konter. Nora mengambil satu, mengambil pisau kecil, lalu dengan sabar mulai mengupas kulitnya.
Ia duduk di kursi bar, memotong apel itu kecil-kecil dan memakannya satu per satu dalam keheningan dapur. Suara kunyahan apel yang renyah itu terdengar cukup nyaring di tengah kesunyian malam.
"Nona Nora?"
Nora sedikit terlonjak, pisaunya hampir saja melukai jarinya. Ia menoleh dan melihat seorang wanita paruh baya dengan pakaian daster yang rapi berdiri di ambang pintu dapur, tampak sedikit terkejut.
"Oh, maafkan saya. Saya pasti membangunkan Anda," ujar Nora dengan nada menyesal. "Saya merasa lapar dan mencari sesuatu untuk dimakan."
Wanita itu tersenyum ramah, matanya memancarkan kehangatan yang tulus. "Tidak apa-apa, Nona. Saya memang terbangun karena mendengar suara di bawah. Saya Samantha, kepala pelayan di sini. Saya sudah mengabdi pada keluarga Sullivan sejak Tuan Declan masih di dalam ayunan."
Nora mengangguk hormat. "Saya Nora. Senang berkenalan denganmu, Samantha."
"Apel saja tidak akan membuat Anda kenyang, Nona," Samantha melangkah masuk, mendekati konter. "Bagaimana kalau saya buatkan sandwich kalkun dengan sedikit keju? Itu makanan favorit Tuan Declan kalau dia sedang begadang mengerjakan dokumen dulu."
Mendengar nama Declan, Nora tersenyum. "Jika itu tidak merepotkanmu, aku akan sangat menghargainya."
Samantha mulai bekerja dengan cekatan. Sambil menyiapkan roti dan sayuran, ia dan Nora mulai mengobrol. Samantha menceritakan betapa asrinya rumah ini dulu sebelum kecelakaan itu terjadi, dan betapa ia merasa kehadiran Nora telah memberikan warna baru bagi Nyonya Lydia.
"Nona adalah satu-satunya orang yang bisa membuat Nyonya Lydia tersenyum lagi," bisik Samantha sembari meletakkan piring berisi sandwich yang tampak sangat lezat di depan Nora.
"Terima kasih, Samantha. Dan tolong, panggil saja aku Nora," Nora memotong sandwich itu menjadi dua bagian yang sama besar. "Dan kau harus menemaniku makan. Aku tidak suka makan sendirian di tengah malam."
Samantha awalnya menolak karena merasa tidak enak pada majikannya, namun Nora memaksa dengan tatapan mata yang tegas namun ramah. Akhirnya, mereka berdua duduk di konter dapur, berbagi sandwich dan cerita kecil. Nora merasa sangat nyaman; kehadiran Samantha memberinya rasa kekeluargaan yang selama ini ia rindukan.
Tanpa mereka sadari, di bayang-bayang lorong dekat dapur, Lydia Sullivan berdiri diam. Ia tadinya terbangun karena ingin minum, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara percakapan dari dapur.
Ia mengintip sedikit, melihat menantunya sedang tertawa kecil bersama Samantha sambil berbagi roti. Lydia menatap kebersamaan itu dengan mata yang berkaca-kaca. Ia melihat betapa rendah hatinya Nora, betapa wanita itu tidak membeda-bedakan status, dan betapa ia memperlakukan Samantha dengan penuh hormat.
Lydia menarik napas dalam, sebuah senyum tipis yang tulus terukir di wajahnya. Pilihannya tidak salah. Nora bukan hanya sekadar "pengantin" untuk Declan; dia adalah kepingan yang hilang dari rumah ini.
Lydia tidak masuk ke dapur. Ia memilih untuk kembali ke kamarnya dengan langkah ringan, memberikan ruang bagi Nora untuk menikmati malam pertamanya yang benar-benar tenang di rumah baru ini. Di bawah cahaya lampu dapur yang hangat, Nora Sullivan akhirnya mulai merasakan bahwa meski ia kehilangan anak-anaknya, ia mungkin baru saja menemukan sebuah keluarga yang benar-benar peduli padanya.