NovelToon NovelToon
TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)

Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)

Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )

Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )

Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30 - Benturan Dua Elemen

Empat hari telah berlalu sejak Cang Li berhasil melewati latihan tahap kedua di bawah bimbingan Guru Ling. Sejak saat itu, setiap hari di rumah kayu tua yang tersembunyi di dalam hutan Desa Sura diisi dengan latihan tanpa henti. Pagi itu, udara terasa berbeda dari biasanya. Angin berembus lebih kencang, dedaunan bergoyang lebih liar, dan samar-samar terdengar gemuruh dari kejauhan, seolah langit sedang menyimpan pertanda.

Di halaman depan rumah Guru Ling, dua sosok muda berdiri saling berhadapan. Cang Li menggenggam pedang kayunya dengan kedua tangan, sementara Su Yan memutar pedang kayunya dengan gerakan ringan namun terlatih. Tatapan mereka sama-sama serius, tetapi aura yang terpancar dari keduanya sangat berbeda. Cang Li tampak tenang dan fokus, sedangkan Su Yan berdiri dengan senyum tipis yang menyimpan rasa percaya diri.

Di atas atap rumah, Guru Ling duduk bersila sambil memperhatikan mereka dari kejauhan. Matanya yang tajam tidak melewatkan sedikit pun perubahan gerak atau aliran energi di tubuh kedua muridnya.

“Mulailah,” ucapnya singkat.

Su Yan mengangkat pedangnya sedikit ke depan sambil menatap Cang Li dengan sorot mata penuh tantangan. “Jangan menahan diri, Junior Li. Kalau kau hanya bermain aman, pertarungan ini tidak akan ada gunanya.”

Cang Li membalas dengan senyum tipis. “Kalau begitu, Senior Yan juga jangan marah kalau aku membuatmu kerepotan.”

Su Yan tertawa pelan. “Bagus. Baru begitu.”

Dalam sekejap, keduanya bergerak bersamaan.

Benturan pertama terjadi begitu cepat hingga suara trak! menggema keras di halaman. Pedang kayu mereka saling menghantam, lalu terpisah, kemudian kembali beradu dalam rangkaian serangan dan tangkisan yang cepat. Gerakan Su Yan lincah seperti angin yang menari, sementara Cang Li mulai menunjukkan perubahan besar dari latihan kerasnya selama dua minggu terakhir. Jika dahulu gerakannya masih kasar dan terlalu mengandalkan tenaga, kini setiap langkahnya terasa lebih terukur dan efisien.

Su Yan menyerang dari sisi kanan dengan tebasan melengkung yang tajam. Cang Li menangkisnya dengan sudut pedang yang tepat, lalu langsung memutar tubuh untuk menghindari sapuan rendah dari kaki Su Yan. Baru saja ia mendarat, Su Yan sudah kembali menekan dengan serangan bertubi-tubi yang memaksanya mundur beberapa langkah.

“Lumayan,” kata Su Yan sambil tersenyum. “Instingmu sudah jauh lebih baik.”

“Semua berkat latihan gila dari Guru Ling,” jawab Cang Li sambil menahan satu tebasan vertikal dari atas.

Su Yan melompat ke belakang, lalu tiba-tiba kembali menerjang dengan kecepatan yang lebih tinggi. Kali ini, serangannya tidak lagi sekadar menguji. Pedang kayunya meluncur lurus ke bahu Cang Li, lalu berputar ke arah pinggang dalam satu rangkaian yang sulit dibaca. Cang Li berhasil menahan serangan pertama, tetapi tekanan dari tebasan kedua membuat tubuhnya terdorong mundur.

Ia menginjak tanah lebih kuat untuk menstabilkan diri, lalu mengangkat pandangannya ke arah Su Yan.

“Aku akan serius sekarang,” ucapnya pelan.

Cang Li memejamkan mata sesaat. Energi spiritual di dalam tubuhnya mulai bergerak, mengalir dari pusat energinya menuju lengan dan bilah pedang kayu di tangannya. Dalam sekejap, percikan Petir Ungu mulai bermunculan di sekeliling pedangnya. Suara zzzt... zzzzt... terdengar halus, tetapi aura yang terpancar darinya terasa jauh lebih padat daripada sebelumnya.

Su Yan sedikit menyipitkan mata. “Akhirnya kau mulai menunjukkan sesuatu yang menarik.”

Cang Li membuka matanya, dan kilatan tekad yang tajam tampak jelas di sana.

“Volt Piercer!”

Tubuhnya melesat maju seperti sambaran kilat. Dalam satu kedipan, ia sudah berada tepat di depan Su Yan dengan ujung pedangnya mengarah lurus ke dada gadis itu. Serangan itu sangat cepat, bahkan jauh lebih cepat daripada saat ia pertama kali menggunakan teknik tersebut di hadapan pria berjubah hitam beberapa waktu lalu.

Namun Su Yan tidak panik.

Dengan ketenangan yang mengejutkan, ia memiringkan tubuhnya ke samping dan membiarkan serangan itu lewat hanya beberapa sentimeter dari pakaiannya. Pada saat yang sama, ia memutar pedangnya dari bawah dan menahan serangan Cang Li dengan sudut yang sangat rapi.

TRAK!

Benturan keras itu memercikkan cahaya ungu di antara mereka.

Mata Cang Li sedikit melebar. “Kau bisa membacanya?”

Su Yan tersenyum tipis. “Kecepatanmu memang meningkat, tapi arah seranganmu masih terlalu mudah ditebak.”

Belum sempat Cang Li menarik pedangnya kembali, Su Yan tiba-tiba melepaskan satu tangan dari gagangnya dan merapal energi spiritual ke bilah kayunya. Dalam sekejap, angin berputar di sekitar senjatanya dan membentuk aliran yang tajam seperti pisau tak kasatmata.

“Gale Burst!”

Ledakan angin itu meletus di jarak dekat dan menghantam tubuh Cang Li dengan keras. Tubuhnya terlempar ke belakang, terguling beberapa kali di atas tanah, lalu berhenti dengan satu lutut menyentuh tanah. Debu tipis terangkat di sekelilingnya.

Cang Li mengangkat kepala sambil menyeka sudut bibirnya. “Elemen angin...”

“Baru sadar?” balas Su Yan sambil mengangkat alis. “Kukira kau akan lebih cepat menebaknya.”

Dari atas atap, Guru Ling mengamati tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tatapannya tetap tenang, tetapi di dalam hatinya ia mengakui bahwa keduanya berkembang lebih cepat daripada perkiraannya.

Cang Li berdiri perlahan. Ia menatap Su Yan dengan lebih serius kali ini. “Kalau begitu... aku juga akan mencoba sesuatu yang baru.”

Ia menancapkan ujung pedangnya ke tanah.

Energi spiritual di dalam tubuhnya mulai mengalir ke bawah, menyusup ke dalam permukaan bumi. Petir ungu yang semula menyelimuti bilah pedang kini merambat turun seperti aliran ular bercahaya, bergerak diam-diam di bawah tanah.

Su Yan merasakan perubahan itu dan langsung memasang kewaspadaan. “Apa yang kau lakukan...?”

Cang Li mengangkat kepalanya perlahan. “Earth-Crawl Thunder Serpent.”

Tanah di bawah kaki Su Yan bergetar halus.

Mata gadis itu langsung membelalak. Tanpa berpikir panjang, ia melompat ke samping, lalu naik ke atas akar pohon yang menonjol. Namun, aliran petir di bawah tanah itu terus mengejarnya seperti makhluk hidup yang memburu mangsa.

“Serius juga...” gumam Su Yan sambil terus bergerak.

Ia berpindah dari satu batu ke batu lain, lalu melompat ke batang pohon rendah di pinggir halaman. Namun Cang Li tidak memberinya ruang sedikit pun. Dengan satu gerakan tangan, ia mengendalikan aliran petir itu agar terus mengikuti jejak energi spiritual Su Yan.

“Jangan bilang kau pikir aku akan diam saja, Senior.”

Su Yan mendecakkan lidah. “Menyebalkan.”

Saat ia mendarat di tanah untuk mengubah arah, Cang Li langsung mengepalkan tangan.

“Sekarang!”

Ledakan energi meletus dari bawah kaki Su Yan.

BOOM!

Asap dan debu langsung membumbung tinggi, menutupi sebagian besar halaman rumah Guru Ling. Dedaunan beterbangan, dan suara getaran kecil masih terasa di tanah.

End Chapter 30

1
KETUA SEKTE
Jelek👍
KETUA SEKTE
👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!