NovelToon NovelToon
Gadis Kesayangan Langit

Gadis Kesayangan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ceriwis07

Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.

Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titik Terang

DORRR!!!

Suara ledakan keras memecah udara.

Sebuah peluru tajam melesat cepat dan tepat mengenai sasaran, menembus ban belakang mobil dengan akurasi mematikan.

Seketika itu juga, keseimbangan mobil hilang total. Kendaraan mewah yang tadinya melaju kencang itu langsung oleng, terpelanting ke pinggir jalan, dan terbalik beberapa kali dengan keras.

Brukk!

Benturan dahsyat terjadi di setiap kali tubuh besi itu berguling.

Di dalam kabin yang kacau balau, Bodyguard 1 bertindak secepat kilat. Ia langsung melompat dan bergeser ke kursi tengah, menimpa dan melindungi tubuh mungil Gadis dengan badan besarnya. Ia memeluk erat Gadis sekuat tenaga, menahan setiap hempasan dan benturan keras agar tidak sampai mengenai wanita itu. Meski posisinya terlihat aneh dan sangat dekat, tapi baginya itu tidak penting. Yang terpenting nyawa Nyonya selamat.

Setelah beberapa kali berguling, mobil itu akhirnya berhenti dalam posisi terbalik. Suasana hening sejenak, penuh debu dan asap.

Namun ajaib, keempat orang di dalamnya tidak ada yang pingsan, meski semua terluka parah.

Gadis memegangi kepalanya, darah segar sudah bercucuran membasahi pipi dan bajunya, pandangannya mulai kabur.

"Bawa Nyonya pergi sekarang juga! Lari sejauh mungkin!" teriak Bodyguard 2 dengan suara parau, wajahnya penuh darah dan luka akibat benturan. "Sisanya biar kami yang atur! Kami akan tahan mereka!"

Si supir mengangguk cepat, tak membuang waktu. Dengan susah payah mereka keluar dari reruntuhan mobil yang hancur lebur itu.

Baru saja mereka berjalan beberapa meter menjauh...

BUUUUMMMMMM!!!

Ledakan besar terjadi! Tangki bahan bakar mobil itu meledak dengan sangat kencang hingga api berkobar besar memakan seluruh bodi kendaraan.

Gelombang panas dan angin ledakan yang sangat kuat menyapu seluruh area. Ledakan itu begitu dahsyat hingga gelombang anginnya mampu menerbangkan apa saja yang ada di sekitarnya.

Tubuh Gadis dan supir yang baru saja berjalan menjauh, seketika terhempas keras oleh kekuatan ledakan itu. Mereka terpental jauh ke belakang, melayang beberapa meter di udara sebelum akhirnya jatuh membentur tanah dengan keras.

Bughhhh!!!

Gadis terlempar ke semak-semak, tubuhnya terasa remuk redam, kepalanya masih terus berdenyut dan darah tak henti menetes. Pandangannya semakin kabur, kesadarannya mulai menipis.

Namun di saat-saat terakhir sebelum matanya terpejam, ia masih sempat melihat bayangan api besar yang memakan mobil tempat ia berada tadi.

"Langit..." bisiknya lemah, lalu semuanya menjadi gelap. Ia pun pingsan tak sadarkan diri di tengah asap tebal.

Meskipun tubuhnya terhempas sangat jauh dan terasa remuk redam, nyawa si supir masih sangat kuat. Ia masih sadar sepenuhnya meski setiap gerakan terasa menyiksa.

Dengan sisa tenaga yang ada, ia mulai merangkak perlahan di atas tanah yang basah dan berdebu. Matanya fokus mencari-cari bayangan tubuh Gadis di tengah asap dan kegelapan.

"Nyonya... Nyonya..." panggilnya dengan suara parau dan sangat pelan.

Ia terus berusaha mendekat hingga akhirnya tangan kasarnya berhasil menyentuh bahu wanita itu.

"Nyonya, anda tidak apa-apa?" tanyanya lagi sambil mencoba mengguncang pelan bahu mungil itu.

Namun tak ada jawaban sama sekali. Gadis hanya diam terpaku, matanya terpejam, wajahnya pucat dan penuh darah, tak sadarkan diri.

Dengan cemas, supir itu segera meletakkan jarinya di bawah hidung Gadis untuk memeriksa napasnya.

"Fuhhh..."

Ia menghela napas panjang lega. Masih ada hembusan napas hangat yang keluar dari hidung wanita itu. Gadis masih bernapas, masih hidup, hanya saja pingsan karena syok dan kelelahan.

Supir itu menatap sekeliling. Beruntung posisi mereka jatuh di tempat yang cukup tersembunyi, tertutup semak belukar dan gelap. Menurut perhitungannya, tempat ini cukup aman untuk sementara waktu. Musuh pasti mengira mereka sudah hangus di dalam mobil atau pasti tidak menyangka ada yang selamat sejauh ini.

"Bagus... kita aman sebentar," gumamnya.

Dengan hati-hati ia membenarkan posisi Gadis agar lebih nyaman, lalu ia pun memutuskan untuk merebahkan dirinya sejenak di samping wanita itu. Ia butuh waktu untuk menetralkan rasa sakit yang luar biasa di seluruh tulang dan ototnya, mengumpulkan tenaga sebelum akhirnya mereka benar-benar bisa melarikan diri.

***

Perlahan-lahan kelopak mata Gadis mulai terbuka.

Namun apa yang dilihatnya membuat jantungnya serasa berhenti. Pemandangan di depannya gelap gulita. Benar-benar gelap pekat tanpa ada sedikitpun cahaya.

"Apa... apa aku jadi buta?!" batinnya panik luar biasa.

Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, ia bisa merasakan rasa sakit yang masih tertinggal. Lalu ia mengangkat tangannya ke depan wajahnya. Dan syukurlah... ia masih bisa melihat bayangan tangan itu, meski samar.

"Apakah aku sudah mati? Apakah ini alam baka?" pikirannya kacau balau, penuh pertanyaan yang menakutkan.

Tiba-tiba sebuah suara memecah keheningan yang mencekam itu.

"Nyonya... Nyonya sudah bangun?"

Suara berat dan familiar itu mengejutkan Gadis. Ia menoleh kaget.

Matanya masih buram dan butuh beberapa detik untuk menyesuaikan diri dengan gelapnya malam. Perlahan tapi pasti, penglihatannya mulai jernih.

Dan apa yang dilihatnya sungguh di luar dugaan.

Si supir duduk tenang di samping sebuah api unggun kecil yang menyala hangat. Di hadapan pria itu, terhampar beberapa buah-buahan segar yang terlihat sangat menggoda, dan... seekor ikan yang sedang dibakar hingga mengeluarkan aroma wangi yang sangat sedap!

"Nyonya... bisakah anda bangkit?" tanya supir itu lembut sambil berjalan mendekat dengan hati-hati.

Gadis mencoba mengumpulkan sisa tenaganya untuk duduk, tapi tubuhnya masih terasa sangat lemas dan berat seperti diisi timah.

Melihat itu, si supir segera membantunya. Dengan sigap ia menopang punggung Gadis, membantunya duduk bersandar agar lebih nyaman. Lalu ia mengambil air dari sungai terdekat, dan menampungnya di atas daun talas besar yang dibentuk menyerupai mangkuk alami.

Gadis meneguk air segar itu perlahan, merasa sedikit lebih kuat dan mulai sadar bahwa mereka benar-benar selamat dan sedang bertahan hidup di alam liar.

Setelah meneguk air segar itu, tubuh Gadis terasa sedikit lebih bertenaga. Ia menatap lekat wajah supirnya yang juga penuh luka namun tetap tangguh.

"Kita... kita selamat?" tanyanya pelan, masih tidak percaya dengan keajaiban yang baru saja terjadi.

Si supir hanya mengangguk mantap, tanpa banyak bicara. Ia lalu menyerahkan seekor ikan bakar yang sudah matang sempurna, dagingnya terlihat lembut dan masih utuh, sangat menggugah selera.

Gadis menerima ikan itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

"Kamu tidak makan? Kamu juga pasti lapar kan?" tanya Gadis perhatian.

"Sudah," jawabnya singkat, padat, dan jelas.

Mendengar jawaban singkat itu, Gadis hanya bisa tersenyum kecil.

"Wah, persis banget sama Langit," batinnya bergumam. "Semuanya kalau ngomong singkat, pendiam, dan kelihatannya cuek banget. Apa memang bakatnya ya?"

Tapi Gadis tidak tahu, itu bukan kebetulan. Itu adalah aturan utama dan standar tertinggi untuk bisa menjadi anak buah seorang Langit Mahesa. Mereka dilatih untuk bekerja lebih banyak, bicara sedikit, dan selalu menjaga privasi.

"Ngomong-ngomong... siapa namamu?" tanya Gadis lagi memecah keheningan.

"Devan," jawabnya lagi-lagi dengan satu kata yang tegas dan jelas.

"Oh Devan... baiklah," gumam Gadis.

Ia pun mulai menikmati makan malam sederhananya itu. Daging ikan yang gurih dan hangat masuk ke perut kosongnya, rasanya sungguh enak dan menjadi hidangan terlezat yang pernah ia rasakan seumur hidupnya, meski hanya dimasak dengan api unggun sederhana.

"Enak banget..." bisiknya pelan sambil tersenyum menikmati setiap suapan.

"Nyonya istirahatlah lagi, pulihkan tenaga anda," ucap Devan pelan. "Saya mau ke bukit sana sebentar, mencari sinyal untuk menghubungi Tuan."

Gadis hanya mengangguk lemah, membiarkan pria itu pergi menjalankan tugasnya.

Setelah kepergian supirnya, Gadis kembali merebahkan tubuhnya di atas alas yang telah disiapkan. Ia menatap langit malam yang begitu luas dan indah, bertabur bintang-bintang yang berkelap-kelip terang.

Suasana hening membuat pikirannya melayang jauh.

"Langit..." bisiknya lirih hampir tak terdengar. "Apakah kau tahu kalau aku masih hidup? Apakah kau sedang mencariku sekarang?"

Hati Gadis terasa perih dan rindu yang luar biasa. Ia meletakkan tangannya di atas keningnya yang masih terasa berat, mencoba menenangkan diri.

Dengan mata terpejam, ia berharap saat ia bangun nanti semuanya akan baik-baik saja dan ini hanyalah mimpi.

Perlahan rasa kantuk dan kelelahan kembali menguasai tubuhnya, dan Gadis pun terlelap kembali dalam diam.

****

Di ruangan yang masih mencekam dan penuh kesedihan itu, tiba-tiba Charlie berlari masuk dengan napas memburu. Wajahnya tidak lagi muram, melainkan bersinar penuh harap.

"Bos!" teriak Charlie memecah keheningan.

"Ada kabar! Salah satu bodyguard kita menghubungi!"

Mendengar kalimat itu, mata Langit yang tadinya kosong dan mati seketika terbelalak lebar. Cahaya kehidupan kembali menyala di bola matanya.

Dengan tangan yang masih gemetar, ia segera menyambar ponsel yang diserahkan oleh Charlie. Jantungnya berdegup kencang bukan main, campuran antara harapan dan ketakutan.

"Katakan!" bentak Langit tak sabar.

"Tuan! Kami selamat! Kami semua selamat!" terdengar suara bersemangat dari seberang sana.

Namun kalimat selanjutnya membuat Langit sedikit mengernyitkan dahi.

"Tapi... kami hanya berdua, nyonya dengan Devan. Dan kami terpaksa harus memisahkan diri untuk memancing musuh agar tidak mencari ke arah mereka," jelas Bodyguard itu cepat.

Wajah Langit yang tadinya pucat kini perlahan kembali berwarna. Napasnya terasa lega luar biasa.

"Syukurlah... Syukurlah!" gumamnya pelan. "Kirimkan lokasi kalian, dan tunggu di jemput,"

Api semangat dan kekuatan Langit kembali menyala penuh. Ia tidak lagi putus asa, kini ia tahu wanitanya masih bernapas dan menunggunya.

1
Erna Riyanto
Anin dulu pacar langit... berarti langit sdh tua dong seumuran bahkan mungkin lebih tua dr Anin(ibunya gladis)
Ceriwis07: Benar sekali 🤭
total 1 replies
anggita
like iklan👍☝
Ceriwis07: Terimakasih sudah mampir 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!