NovelToon NovelToon
Maduku Teman Kerjaku

Maduku Teman Kerjaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:13.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Bismillah ....

14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya

Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.

Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Langit sudah mulai berubah warna saat mobil yang ditumpangi Adinda berhenti di depan rumah. Sisa-sisa sore menggantung di langit, tapi suasana di dalam dirinya justru terasa jauh lebih berat dibanding saat ia berangkat tadi pagi.

Sepanjang perjalanan pulang, tidak banyak kata yang terucap. Naya sempat beberapa kali melirik ke arah Adinda, memastikan temannya itu baik-baik saja, tapi Adinda hanya menatap lurus ke depan. Diam. Terlalu diam.

Mobil akhirnya berhenti.

“Din…” panggil Naya pelan.

Adinda menoleh sedikit, lalu memaksakan senyum tipis. “Aku gak apa-apa.”

Naya tidak langsung percaya, tapi ia juga tahu kapan harus memberi ruang. “Kalau ada apa-apa, telepon aku. Jangan dipendam sendiri.”

Adinda mengangguk. “Iya.”

Beberapa detik hening, sebelum akhirnya ia membuka pintu mobil dan turun. Langkahnya terasa lebih berat dari biasanya, seolah ada sesuatu yang ikut pulang bersamanya—bukan benda, tapi potongan masa lalu yang belum utuh.

Pintu rumah terbuka, suasana ramai, orang-orang berkumpul di ruang tamu, tapi Adinda tetap melewati keramaian itu.

"Din," panggil Arya.

Adinda menoleh sejenak. "Ada apa?"

"Duduk dulu lah," pintanya sambil menggendong Exel.

"Aku capek," sahut ha singkat.

"Din, dia gak salah loh, kenapa kamu harus ikut mendiamkan juga," ucap Arya seolah ingin Adinda juga ikut menyayangi anaknya dengan istri keduanya.

"Aku gak mendiamkan, cuma aku sedang capek," jelas Adinda kali ini lebih tegas.

Arya mengangguk pasrah pria itu hanya bisa menatap punggung Adinda dari kejauhan.

Adinda berdiri di ambang pintu kamarnya beberapa saat, menatap ke dalam. Entah kenapa… ada rasa asing. Padahal ini kamarnya sendiri.

Ia melangkah masuk pelan.

Diatas meja rias terlihat sedikit berantakan. Bukan kacau, tapi seperti tidak terurus. Beberapa majalah berserakan di nakas, selimut ranjang tidak rapi, dan ada gelas bekas yang belum dipindahkan.

Adinda menghela napas pelan.

“Mungkin aku terlalu lama di luar…” gumamnya.

Ia meletakkan tasnya, lalu tanpa banyak pikir, mulai merapikan. Tangannya bergerak otomatis—mengangkat majalah, merapikan selimut membawa gelas ke dapur. Hal-hal kecil. Sederhana.

Tapi entah kenapa… justru di momen itu pikirannya mulai kembali berisik.

Suara di rumah sakit. Kata-kata suster. Bekas luka dan parfum serta bayangan gelang bayi.

Tangannya sempat berhenti di udara. Napasnya tertahan sejenak, tapi ia memaksa dirinya untuk tetap bergerak.

“Jangan sekarang…” bisiknya pelan.

Namun semakin ia menahan, semakin kuat rasa itu muncul.

Adinda mengalihkan dirinya. Ia melihat beberapa kardus kecil di sudut ruangan—barang-barang lama yang tampaknya belum dibereskan.

“Sekalian aja…” gumamnya.

Ia mengambil kardus itu satu per satu, membawanya ke arah gudang besar di dekat dapur. Pintu gudang sedikit berdebu saat dibuka. Aroma lama langsung menyambut—bau kayu, kertas, dan waktu yang tertinggal.

Lampu dinyalakan. Ruangan itu sempit, tapi cukup untuk menyimpan barang-barang yang sudah lama tidak disentuh.

Adinda mulai meletakkan kardus, lalu tanpa sadar duduk di lantai. Tangannya membuka satu per satu isi kotak itu—baju lama, buku catatan, beberapa barang kecil yang tidak lagi ia ingat fungsinya.

Hingga— tangannya berhenti. Satu map cokelat tipis terselip di bagian bawah. Entah kenapa jantungnya langsung berdetak lebih cepat.

Perlahan, ia menarik map itu keluar. Tangannya sedikit gemetar. Ia membukanya.

Deg!

Napasnya langsung tercekat. Di dalamnya sebuah foto dirinya dengan perut yang jelas membuncit.

Adinda membeku. Matanya membesar, menatap foto itu tanpa berkedip. Tubuhnya terasa dingin, sementara jantungnya berdetak tidak karuan.

“Itu… aku…” bisiknya nyaris tanpa suara.

Tangannya menyentuh foto itu pelan, seolah memastikan itu nyata. Wajahnya memang dirinya. Tidak salah. Tidak mungkin salah.

Tapi— kenapa ia tidak ingat? Napasnya mulai memburu. Dan saat itulah— ingatan itu datang.

Tidak utuh, masih belum rapih. Tapi lebih jelas dari sebelumnya. Ia melihat dirinya… di sebuah kamar. Mengenakan daster cokelat. Tangannya memegang perutnya yang sudah besar. Wajahnya terlihat lelah… tapi bahagia dan di depannya

Sintia.

Wanita itu berdiri dengan tatapan yang sulit dibaca.

“Jangan bilang dulu ya sama suamimu kalau kamu mengandung,” suara itu terdengar jelas.

Adinda dalam bayangan itu terlihat bingung. “Kenapa, Bu?”

Sintia tersenyum tipis. Tapi senyum itu… dingin.

“Biar surprise,” jawabnya santai. “Nanti kalau Arya pulang, dia pasti senang.”

Suasana hening sesaat. Namun entah kenapa— ada sesuatu yang tidak beres. Perasaan tidak nyaman yang samar.

“Ah—”

Adinda tersentak. Tangannya langsung memegang kepalanya.

“Naya…” bisiknya pelan, meski tidak ada siapa-siapa di sana.

Napasnya memburu. Bayangan itu belum berhenti, datang lagi kali ini lebih cepat, bahkan lebih kacau.

Malam, jalanan gelap dan suara hujan. Ia di dalam mobil. Tangannya memegang perutnya.

“Pelan, Pak…” suaranya terdengar panik.

Lampu dari arah berlawanan menyilaukan. Lalu—

BRAK!

Suara benturan keras. Tubuhnya terhentak. Sakit, udara serasa gelap bagi Adinda. Dan—suara orang-orang.

“Cepat! Kondisinya kritis!”

“Bawa ke rumah sakit”

“Kita selamatkan ibu dan bayinya—”

“Tidak…!”

Adinda terjatuh di lantai gudang. Foto itu masih tergenggam di tangannya. Air matanya langsung jatuh tanpa bisa ditahan. Tubuhnya gemetar hebat.

“Aku… hamil…” suaranya pecah.

Tangannya perlahan berpindah ke perutnya sendiri, kosong tapi rasa itu tidak hilang.

“Terus… bayinya…?” bisiknya lirih.

Tangisnya pecah lebih keras sekarang. Bukan tangis biasa. Tapi tangis seseorang yang baru menyadari… ada bagian hidupnya yang direnggut paksa.

Dan lebih menyakitkan lagi— ia bahkan tidak diberi kesempatan untuk mengingatnya.

Adinda menunduk, bahunya bergetar. Semua mulai tersambung.

Rumah sakit.

Data yang hilang.

Wanita berkuasa.

Bekas luka.

Parfum.

Dan—

Sintia.

Tangannya mengepal kuat, meremas foto itu.

Air matanya masih jatuh, tapi kali ini— ada sesuatu yang berubah. Bukan hanya sedih ataupun kehilangan, tapi…

Marah.

“Kenapa…” bisiknya pelan, suaranya mulai bergetar oleh emosi yang berbeda.

Matanya terangkat perlahan.

“Tega banget…” lanjutnya lirih.

Ia menelan ludah, napasnya masih tidak stabil.

“Kalau benar…” suaranya semakin pelan, tapi tajam.

“…kalian tahu semuanya…”

Hening. Beberapa detik berlalu. Lalu—

“Berarti… kalian sengaja.”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi berat ia mengepalkan tangannya. Kali ini Adinda tidak hanya ingin tahu kebenaran.

Tapi ingin menuntutnya.

Bersambung ...

Assalamualaikum selamat sore semoga suka ya Kak.

1
cinta semu
penasaran yg ngasih info sm Bu Sintia sapa ya🤔mg bkn Naya saja ...Krn hampir mirip kode ny
Sugiharti Rusli
ah semakin degdeg an gatuh menunggu ke mana Adinda akan bergerak dan gimana dia mencegah usaha musuh" nya nanti
Sugiharti Rusli
sepertinya Adinda juga harus bersikao waspada yah, apalagi dia memiliki ibu mertua yang disinyalir bagian dari orang yang turut mencelakainya dulu
Sugiharti Rusli
tapi Adinda sekarang juga tidak aman dalam penyelidikannya, bahkan mungkin itu saudara tirinya juga sudah menebar ancaman dengan mengikuti pergerakannya
Sugiharti Rusli
makanya dia membuat pertahanan demi kebaikan sang putri dan juga cucunya sih, meski belum tahu apa yang direncanakan oleh istrinya,,,
Sugiharti Rusli
ternyata sang ayah sudah tahu kelemahan putrinya yang mudah dikendalikan yah ini
Oma Gavin
ternyata hidup adinda dilingkungan toxic dan haus harta semoga semua dilancarkan sampai semua hak adinda didapatkan
Suanti
apa jgn2 naya sekongkol dgn mereka 🤭
Sugiharti Rusli
ah penasaran sama berkas yang ditunjukan oleh asisten ayahnya itu, kira" tentang apa yah kalo bukan tentang perusahaan,,,
Sugiharti Rusli
jadi penasaran apa yah maksud ayah Adinda agar dia dijauhkan sementara dari semuanya saat dia tidak ingat masa itu🙄
Sugiharti Rusli
kalo si Sintia sampai pura" mendekati Adinda, itu malah bagus kan bagi Adinda bergerak tanpa dia sadari,,,
Sugiharti Rusli
memang bisa dilihat perubahan strategi yang Adinda lakukan sih terhadap suami dan keluarganya, meski mereka juga ada curiga tapi tidak tahu apa
Sugiharti Rusli
karena sepertinya ibunya si Sinta belum sekali buka mulut ke putranya,,,
Sugiharti Rusli
si Arya tidak/belum berubah karena memang dia tidak tahu sama sekali atau menyembunyikan sesuatu yah,,,
Nar Sih
kira,,apa isi dlm map itu yaa ,lanjutt kak
Nar Sih
lsnjutt kakk👍
Nana Geulise
jangan yang telp sama sintia adalah naya..🤔🤔🤔.jadi naya juga terlibat cuma naya mau tahu dinda simpan hartanya sama siapa🤔...kalau naya terlibat hancurkan srmuanya dinda jangan kasih ampum/Panic/
Ayumarhumah: bukan Kak ...
total 1 replies
Sugiharti Rusli
apalagi si Arya juga tidak tahu kalo istrinya pernah hamil dan melahirkan anaknya, yang di sana warisan itu sangat besar kalo dia tahu,,,
Sugiharti Rusli
dan dia malah ikut menjadi orang yang membiarkan menantunya tidak ingat periode dia hamil dan melahirkan
Sugiharti Rusli
logikanya yah dia membuat si Dinda tidak ingat pernah hamil dan melahirkan cucunya, yang notabene itu jalan tol kalo dia tahu,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!