Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Aula yang Menanti
Langkah Xiao Chen bergema di atas batu paving halaman utama Sekte Langit Pedang. Ini adalah jalan yang sama yang dulu ia sapu setiap pagi sebelum matahari terbit. Debu dan daun kering adalah musuhnya saat itu. Sekarang, tidak ada yang berani mengotori jalannya.
Di belakangnya, kerumunan murid mengikuti dengan jarak aman. Mereka ingin melihat, tapi takut mendekat. Wei Tianxing masih terduduk di dekat gerbang, pedangnya tertancap di tanah, dikelilingi beberapa murid yang mencoba membantunya bangkit. Tapi pemuda berjubah emas itu hanya menatap kosong ke depan. Bukan tubuhnya yang terluka—hanya harga dirinya yang hancur.
Hui berjalan di samping Xiao Chen, lidahnya sesekali menjulur, mata merahnya menyapu sekitar. Serigala itu tidak agresif, tapi kehadirannya saja sudah cukup membuat para murid menjaga jarak.
Di depan mereka, Aula Utama Sekte Langit Pedang berdiri megah. Atap genting birunya melengkung seperti sayap burung raksasa. Pilar-pilar batu putih menopangnya, masing-masing diukir dengan kisah-kisah legendaris para pendekar pedang masa lalu. Di puncak tangga, pintu kayu raksasa terbuka lebar.
Dan di ambang pintu itu, berdirilah Tetua Agung Shen Wuji.
Xiao Chen berhenti di kaki tangga. Ia mendongak, menatap pemimpin tertinggi Sekte Langit Pedang untuk pertama kalinya bukan sebagai pelayan yang gemetar, melainkan sebagai seseorang yang setara.
Shen Wuji menatap balik. Matanya yang berusia dua abad menyimpan ketenangan yang tidak dimiliki Wei Tianxing. Tidak ada kemarahan. Tidak ada ketakutan. Hanya penilaian dingin.
"Xiao Chen," suaranya turun dari atas tangga seperti air terjun yang mengalir pelan. "Kau sudah kembali."
"Aku sudah kembali, Tetua Agung."
"Masuklah. Kita punya banyak hal yang harus dibicarakan."
Xiao Chen menaiki tangga. Setiap anak tangga yang ia pijak terasa seperti lapisan masa lalu yang ia tinggalkan. Pelayan. Sampah. Bangkai di dasar jurang. Semua itu kini berada di bawah telapak kakinya.
Hui berhenti di depan pintu. Serigala itu menatap Xiao Chen, lalu duduk—seolah mengerti bahwa pertemuan di dalam bukan untuknya.
"Tunggu di sini," kata Xiao Chen.
Hui menggeram pelan, lalu berbaring di samping pintu seperti penjaga.
Xiao Chen melangkah masuk ke dalam Aula Utama.
---
Bagian dalam aula itu persis seperti yang ia ingat—hanya saja dulu ia hanya bisa melihatnya dari sudut sebagai pelayan yang membawakan teh. Sekarang ia berdiri di tengahnya.
Lantai kayu mengkilap memantulkan cahaya lentera yang bergelantungan di langit-langit tinggi. Di ujung aula, ada sebuah kursi besar dari kayu hitam—kursi Tetua Agung. Di sampingnya, tiga kursi lebih kecil untuk para tetua.
Tiga orang sudah duduk di sana.
Tetua Kedua Bai Minghe, dengan mata sipitnya yang mencurigai segala sesuatu. Tetua Ketiga Han Yue, dengan kipas lipat yang akhirnya ia gerakkan perlahan. Dan Tetua Keempat Ma, yang duduk dengan punggung membungkuk, menatap Xiao Chen dengan campuran takut dan benci.
Shen Wuji berjalan ke kursinya, duduk dengan gerakan yang anggun namun penuh wibawa. Ia tidak mempersilakan Xiao Chen duduk. Tidak apa. Xiao Chen juga tidak berniat duduk.
"Kau membuat kehebohan di gerbang," kata Shen Wuji.
"Wei Tianxing yang memulai. Aku hanya menyelesaikannya."
"Kau melucuti pedangnya dalam satu gerakan. Murid inti terbaik kami."
"Dia tidak sekuat yang kalian pikirkan."
Bai Minghe mendengus keras. "Kau sombong, bocah. Hanya karena kau mendapatkan sedikit kekuatan dari tempat sampah di bawah jurang, kau pikir kau bisa bicara seperti itu di hadapan kami?"
Xiao Chen menoleh padanya. "Tetua Kedua Bai. Kau pernah menyuruhku membersihkan lantai paviliunmu tiga kali dalam satu hari karena kau tidak puas dengan hasilnya. Aku melakukannya tanpa mengeluh. Sekarang aku di sini bukan untuk mengeluh. Aku di sini untuk memberi tahu kalian sesuatu."
"Apa?" suara Han Yue lembut tapi menusuk.
Xiao Chen menatap mereka satu per satu. "Aku adalah pewaris Ras Dewa Patah. Tulang-tulangku adalah wadah kekuatan yang tidak bisa kalian pahami dengan kultivasi biasa. Dan aku tahu apa yang kalian takutkan."
Ruang itu hening.
"Apa maksudmu?" tanya Shen Wuji, suaranya hati-hati.
"Kalian takut pada Surga. Kalian takut jika Surga tahu ada Ras Dewa Patah yang bangkit, mereka akan mengirim Bencana Surgawi ke Benua Timur Liar. Kalian ingin membunuhku bukan karena dendam, tapi karena kalian pikir itu akan menyelamatkan kalian."
Mata Shen Wuji menyipit. "Kau tahu tentang catatan kuno."
"Aku tahu lebih dari itu." Xiao Chen melangkah lebih dekat. "Tapi kalian salah. Membunuhku tidak akan menyelamatkan kalian. Justru sebaliknya. Surga tidak peduli pada kalian. Surga hanya peduli pada Ras Dewa Patah. Jika aku mati, Surga akan tetap datang—untuk memastikan tidak ada sisa-sisa kami yang tertinggal. Mereka akan membakar seluruh Benua Timur Liar, sama seperti mereka menenggelamkan Laut Mati. Kalian semua akan mati. Bukan karena aku, tapi karena Surga tidak suka saksi."
Para tetua saling pandang. Bahkan Bai Minghe kehilangan seringainya.
"Omong kosong," desis Tetua Ma. "Kau hanya mencoba menakut-nakuti kami."
"Aku tidak perlu menakut-nakuti kalian, Tetua Ma. Aku bisa saja datang ke sini dan membunuhmu saat itu juga di Hutan Bisu. Tapi aku tidak melakukannya. Aku membiarkanmu hidup agar kau bisa menceritakan apa yang kau lihat. Sekarang aku di sini, berdiri di hadapan kalian, bukan untuk bertarung. Tapi untuk menawarkan sesuatu."
Shen Wuji mencondongkan tubuhnya ke depan. "Tawaran apa?"
"Aku akan pergi dari sekte ini. Aku akan meninggalkan Benua Timur Liar. Aku akan membawa perhatian Surga bersamaku, jauh dari kalian. Tapi sebagai gantinya, aku minta dua hal."
"Sebutkan."
"Pertama, hentikan perlakuan kalian terhadap para pelayan. Mereka manusia, bukan budak. Lin Er dan yang lainnya berhak mendapatkan kehidupan yang layak."
Shen Wuji mengangguk pelan. "Itu bisa diatur. Yang kedua?"
Xiao Chen menatap lurus ke mata Tetua Agung. "Aku ingin berbicara dengan Zhao Ling'er. Sendirian. Setelah itu, aku akan pergi."
Keheningan kembali menyelimuti aula. Shen Wuji menatap Xiao Chen lama, seolah mencoba membaca apakah ada kebohongan di balik mata itu. Ia tidak menemukannya.
"Baik," katanya akhirnya. "Aku akan memanggilnya. Tapi ingat, Xiao Chen. Jika kau mencoba sesuatu di dalam sekte ini..."
"Aku tidak akan mencoba apa pun, Tetua Agung. Aku hanya ingin menutup satu lembaran sebelum membuka yang baru."
Shen Wuji memberi isyarat pada seorang murid yang berdiri di sudut aula. Murid itu membungkuk dan pergi.
Xiao Chen berdiri di tengah aula, menunggu. Yue Que di balik jubahnya terasa hangat. Tulang punggungnya bergetar pelan, merasakan setiap langkah yang mendekat dari luar.
Langkah itu ringan. Ragu-ragu. Seperti seseorang yang berjalan menuju sesuatu yang tidak ia inginkan, tapi tidak bisa ia hindari.
Pintu aula terbuka.
Dan Zhao Ling'er masuk.