NovelToon NovelToon
Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Kutukan / Misteri
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Kabut Darah Anneliese dan Lahirnya Persaudaraan

​Kesepakatan tanpa kata telah terbentuk di atas dahan pohon ketapang itu. Tiga pemuda dari dua klan yang ditakdirkan untuk saling memusnahkan, kini dipersatukan oleh kengerian yang berbaris rapi di dasar lubang ekskavasi.

​"Mundur. Sekarang," perintah Raka dengan suara yang nyaris tak terdengar. Pemuda Cindaku itu merendahkan pusat gravitasinya, bersiap melompat kembali ke arah tembok pembatas sekolah untuk melarikan diri ke dalam hutan.

​Tio dan Adi mengangguk serempak. Otot-otot kaki mereka menegang.

​Namun, tepat pada detik ketika sepatu Raka meninggalkan dahan pohon, realitas di sekeliling mereka terdistorsi dengan cara yang sangat mengerikan.

​Tidak ada suara ledakan. Tidak ada kilatan cahaya. Udara senja yang tadinya basah oleh embun tiba-tiba berubah menjadi sekental sirup yang mendidih.

​Raka, Tio, dan Adi menghantam sesuatu di udara. Sebuah dinding tak kasat mata yang kenyal namun mustahil ditembus. Ketiga predator muda itu terpental mundur dengan keras, jatuh berdebum kembali ke atas tanah di sekitar pangkal pohon ketapang.

​"Sial! Apa ini?!" Tio menggeram, mengusap rahangnya yang berbenturan dengan akar pohon. Ia melompat bangun, taring-taring serigalanya menyembul keluar secara instingtif.

​Adi, yang selalu menjadi otak taktis di antara si kembar, langsung memindai sekeliling. Wajah pemuda itu memucat. "Raka... Tio... lihat ke atas."

​Raka mendongak. Langit sore Lembah Marapi yang kelabu telah lenyap. Sebagai gantinya, sebuah kubah raksasa berwarna merah darah yang berdenyut-denyut menutupi seluruh area sayap barat sekolah. Pohon ketapang tempat mereka bersembunyi tadi telah meranggas dan mati dalam hitungan detik, daun-daunnya membusuk menjadi abu hitam.

​Mereka tidak lagi berada di halaman sekolah. Mereka terperangkap di dalam sebuah dimensi saku—sebuah sangkar ilusi yang diciptakan dari sihir darah murni.

​Dari arah kabut merah yang menyelimuti tanah, terdengar suara ketukan pelan yang sangat berirama. Tuk. Tuk. Tuk. Suara ujung payung renda yang menyentuh jalan berbatu.

​"Kalian benar-benar berpikir bisa mengintip ke dalam lubang kelinci tanpa ketahuan oleh pemiliknya?"

​Suara merdu yang mengiris gendang telinga itu bergema dari segala arah. Noni Anneliese muncul dari balik kabut berdarah. Gaun merahnya yang megah menyapu tanah yang menghitam. Wajah pualamnya memancarkan kecantikan era Victoria yang mematikan. Ia memutar payung rendanya dengan anggun, menatap ketiga pemuda itu dengan sepasang mata semerah delima.

​"Dua ekor anak anjing dan seekor anak kucing," Anneliese tersenyum sadis, memperlihatkan taring-taringnya yang runcing. "Kakakku, Willem, memang terlalu fokus pada Gadis Penawar itu hingga melupakan hama-hama kecil di sekitarnya. Tapi aku tidak keberatan membersihkan halaman ini untuknya."

​Raka melangkah ke depan Tio dan Adi. Urat-urat kehitaman langsung menonjol di leher dan lengan pemuda Cindaku tersebut. Hawa panas meledak dari tubuhnya, membakar udara di sekitarnya. Cakar obsidian hitam memanjang dari sepuluh jarinya.

​"Kami bukan hama yang bisa kau sapu sembarangan, Lintah Pucat!" geram Raka dengan suara bariton yang bergetar oleh Nafsu Rimba.

​Tanpa ragu sedetik pun, Raka menerjang maju. Pemuda itu tidak memiliki kecepatan regenerasi secepat Indra, namun kekuatan fisiknya sebagai perisai klan Bagaskara tidak bisa diremehkan. Raka mengayunkan cakar kanannya, membelah udara dan mengincar leher Anneliese.

​Anneliese tidak menghindar. Ia bahkan tidak berkedip. Saat cakar panas Raka hanya berjarak lima sentimeter dari lehernya, wanita vampir itu sekadar mengangkat satu jari telunjuknya yang lentik.

​BAMMM!

​Sebuah tekanan gravitasi yang tidak terlihat menghantam dada Raka layaknya godam baja. Pemuda tangguh itu terlempar ke belakang sejauh sepuluh meter, menghantam sisa dinding beton hingga retak. Raka memuntahkan darah segar, tulang rusuknya berderak protes.

​"Raka!" Tio berteriak refleks.

​"Terlalu lambat, Kucing Kecil," cemooh Anneliese, tertawa melengking. "Sekarang, mari kita lihat bagaimana kalian bermain dengan peliharaan baruku."

​Wanita itu menjentikkan jarinya.

​Kabut darah di sekeliling mereka seketika bergolak. Dari dalam tanah yang membusuk, bayangan-bayangan hitam mulai merangkak naik. Mereka bukan Marsose Darah yang asli, melainkan manifestasi ilusi dari tentara-tentara kolonial yang bersenjatakan senapan bayonet panjang. Jumlahnya puluhan, mengepung Raka, Tio, dan Adi dalam formasi melingkar.

​"Adi, punggung ke punggung!" teriak Tio.

​Kedua serigala kembar itu langsung merendahkan kuda-kuda mereka. Mata mereka menyala merah kecokelatan. Mereka tidak bertransformasi penuh, namun kuku-kuku mereka memanjang menjadi cakar serigala, dan rahang mereka menebal.

​Bayangan Marsose pertama menerjang maju, menusukkan bayonet berkaratnya ke arah perut Tio. Tio meliuk ke samping dengan kelincahan luar biasa, menangkap gagang senapan itu, lalu menariknya dengan paksa. Saat bayangan itu kehilangan keseimbangan, Adi melompat dari arah titik buta, mengayunkan cakarnya dan merobek tenggorokan bayangan tersebut hingga hancur menjadi debu merah.

​"Bagus!" seru Tio. Namun, senyumnya tidak bertahan lama. Dari balik debu itu, tiga bayangan lain maju secara bersamaan.

​Di sudut lain, Raka bangkit berdiri dengan napas terengah. Darah menetes dari sudut bibirnya. Tiga bayangan Marsose mengepungnya, menghujamkan bayonet secara brutal.

​Raka menangkis tusukan pertama dengan lengan kirinya, membiarkan mata pisau itu menggores kulit tebalnya, lalu menggunakan tangan kanannya yang diselimuti hawa panas mendidih untuk meninju wajah bayangan itu hingga meledak. Namun tusukan kedua dan ketiga datang silih berganti. Raka adalah petarung jarak dekat bergaya tanker; ia ahli menerima benturan, namun kalah dalam hal kelincahan melawan musuh yang terlalu banyak.

​Sebuah bayonet lolos dari pertahanannya, menusuk dalam ke bahu kiri Raka. Pemuda Cindaku itu mengerang kesakitan, terhuyung mundur. Bayangan Marsose lainnya mengangkat senjatanya, bersiap memenggal kepala Raka.

​"Kucing bodoh, menunduk!"

​Sebuah teriakan melengking dari arah belakang menyelamatkannya.

​Tio melompat melintasi udara, menggunakan bahu Raka sebagai pijakan lompatan. Serigala muda itu menerkam wajah bayangan Marsose tersebut, menancapkan taringnya ke leher ilusi itu dan merobeknya dengan buas. Di saat yang sama, Adi meluncur di bawah kaki Tio, menyapu kaki dua bayangan lainnya hingga terjatuh, lalu Raka menyelesaikan sisanya dengan satu hantaman tanah yang menciptakan gelombang kejut bersuhu tinggi.

​Ketiga pemuda itu berdiri bersisian, punggung mereka saling bersentuhan membentuk formasi segitiga absolut. Napas mereka memburu. Pakaian seragam mereka robek dan berlumuran darah.

​Raka melirik ke arah Tio yang mengusap darah dari bibirnya. "Gigitanmu lumayan juga, Anjing Kampung."

​Tio mendengus pelan, memamerkan taringnya yang berlumuran debu merah. "Cakaranmu juga lumayan untuk ukuran Kucing Rumahan yang terlalu banyak makan."

​Adi, yang selalu berfokus pada strategi, memotong obrolan singkat itu. "Hei, Saudara-saudara Beda Induk. Berhenti saling memuji. Bayangan ini tidak akan habis. Mereka tercipta dari kabut kubah ini. Selama betina gila itu memegang kendali, kita hanya menunggu waktu sampai stamina kita habis."

​Raka menatap ke arah Anneliese yang masih berdiri di kejauhan, memutar payungnya dengan raut wajah bosan.

​"Adi benar," geram Raka, otaknya bekerja cepat. "Kubah ini terbuat dari sihir darah. Ia memiliki frekuensi tertentu yang menahannya agar tetap stabil. Cindaku memiliki gelombang panas, dan Ajag memiliki gelombang suara. Jika kita menggabungkannya pada satu titik..."

​"Kita ledakkan kubah ini dari dalam," Tio menyeringai, mengerti maksud Raka. Serigala selalu mengerti konsep resonansi. "Kau punya cukup tenaga untuk membuat ledakan panas, Raka?"

​"Tentu saja. Tapi aku butuh waktu tiga detik untuk memusatkan Nafsu Rimba-ku ke satu titik. Aku tidak bisa bergerak selama tiga detik itu," jawab Raka jujur. Sebuah pengakuan kelemahan yang sangat tabu diberikan kepada klan musuh.

​"Tiga detik," Adi mengangguk mantap. Matanya berkilat dengan loyalitas yang aneh. "Aku dan Tio akan memastikan tidak ada satu pun bayangan lintah yang menyentuh kulitmu."

​Raka menarik napas dalam-dalam. Di detik itu, batas-batas antara ras, adat, dan kebencian leluhur memudar. Di dalam sangkar maut ini, mereka bukan lagi Cindaku atau Ajag; mereka adalah tiga pemuda yang menolak untuk tunduk pada kematian.

​"Sekarang!" teriak Raka.

​Pemuda Cindaku itu memejamkan mata dan merentangkan kedua tangannya. Ia membiarkan Nafsu Rimba di dalam dadanya meledak keluar secara sukarela. Urat-urat di seluruh tubuhnya menyala bagaikan dialiri lahar. Udara di sekitarnya mendidih seketika.

​Melihat Raka menjadi target diam, belasan bayangan Marsose menerjang maju secara serempak layaknya air bah hitam.

​"AWOOOOOO!"

​Tio dan Adi melolong panjang, sebuah lolongan perang yang merobek pita suara mereka. Kedua serigala kembar itu menerjang layaknya angin puting beliung. Adi bergerak menyapu barisan bawah, mematahkan lutut-lutut ilusi itu, sementara Tio melesat di udara, mencabik dan menggigit siapa pun yang mencoba mendekati punggung Raka.

​Satu detik.

Tio terlempar karena sabetan bayonet yang menggores dada kirinya. Ia mengabaikan rasa sakit itu dan kembali menerkam.

​Dua detik.

Adi tersudut oleh lima bayangan, lengan kanannya tertusuk dalam. Serigala itu menggeram, menahan rasa sakit demi menahan barisan musuh.

​Tiga detik.

​Raka membuka matanya. Iris hazelnya telah sepenuhnya berubah menjadi emas yang menyilaukan. Hawa panas di dalam dirinya telah mencapai titik kritis.

​"Menunduk!" raung Raka.

​Tio dan Adi langsung menjatuhkan diri ke tanah, meratakan tubuh mereka mencium debu.

​Raka meninju tanah di bawahnya dengan kedua cakar obsidiannya.

​KABOOOOM!

​Sebuah ledakan shockwave berbentuk gelombang api murni menyapu ruangan itu secara melingkar. Ledakan panas itu menghantam barisan bayangan Marsose, menguapkan mereka menjadi ketiadaan.

​Tepat saat gelombang api itu menghantam batas kubah darah merah, Tio dan Adi memadukan frekuensi mereka. Mereka berdua melolong dengan kekuatan vokal maksimal (Alpha's Command pitch), mengirimkan gelombang ultrasonik yang bertabrakan langsung dengan gelombang api Raka di dinding kubah.

​Benturan dua anomali energi ekstrem itu menciptakan keretakan besar.

​Sihir Anneliese tidak mampu menahan distorsi tersebut. Kubah darah itu bergetar hebat, lalu pecah berkeping-keping layaknya kaca jendela yang dihantam palu godam. Pecahan ilusi itu menguap lenyap ke udara.

​Realitas kembali normal. Langit senja yang gelap dan rimbunnya hutan pinus kembali muncul di atas mereka.

​Daya ledakan itu melontarkan tubuh Raka, Tio, dan Adi keluar dari batas area proyek, melewati tembok sekolah, dan jatuh bergulingan di atas lumpur dan dedaunan basah di dalam Hutan Marapi.

​Ketiganya terbatuk-batuk, muntah darah, dan tubuh mereka dipenuhi luka sayatan serta luka bakar. Mereka tidak sanggup lagi berdiri.

​Dari balik tembok sekolah, tawa Noni Anneliese terdengar samar, perlahan memudar seiring dengan menjauhnya langkah kaki wanita itu. Ia tidak mengejar mereka. Ia hanya ingin bermain dan menguji kekuatan generasi muda lembah ini, dan ia telah mendapatkan jawabannya.

​Tio terbaring telentang di atas lumpur, napasnya berderik pelan. Ia menoleh ke arah Raka yang terkapar tak jauh darinya, tubuh pemuda Cindaku itu mengepulkan uap tipis kelelahan.

​"Hei, Kucing," panggil Tio lemah, memaksakan senyum di bibirnya yang sobek. "Kalau kita selamat dari malam ini... aku berutang satu mangkuk mie ayam padamu."

​Raka terkekeh pelan, tawanya diakhiri dengan rintihan nyeri dari tulang rusuknya. "Aku yang pilih porsinya, Anjing Kampung. Pastikan kau bawa dompet."

​Adi yang berbaring di antara mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Pertumpahan darah di masa lalu mungkin tidak bisa dihapus, namun malam ini, sebuah persaudaraan sedarah baru saja diukir di atas lumpur Lembah Marapi. Mereka telah melihat wajah asli musuh mereka, dan mereka tahu, hanya dengan saling menjaga punggung satu sama lain mereka bisa selamat dari kiamat yang akan datang.

​Tiga jam berlalu. Jam dinding di kamar Dara menunjukkan pukul setengah delapan malam.

​Dara sedang mengoleskan salep penurun memar di lengan kirinya saat ia tiba-tiba merasakan sebuah anomali energi yang luar biasa tajam. Napas Akar-nya yang terus menyala pasif menangkap sebuah getaran tak beraturan dari arah halaman belakang rumahnya.

​Getaran itu bukan milik Willem atau mayat hidup. Getaran itu memancarkan hawa panas yang sangat familiar, namun ritmenya kacau balau, persis seperti detak jantung seseorang yang sedang sekarat.

​Dara meletakkan salepnya, memakai jaketnya dengan tergesa-gesa, dan berlari menuruni tangga rumah kayunya. Kakek Danu sedang pergi ke balai desa, jadi rumah dalam keadaan kosong.

​Dara membuka pintu dapur yang mengarah ke halaman belakang. Begitu pintu terbuka, ia terkesiap.

​Indra Bagaskara berdiri bersandar pada sebatang pohon pinus besar di batas pekarangan rumah Dara. Kondisi pewaris Cindaku itu terlihat mengerikan.

​Pemuda itu tidak terluka oleh senjata fisik. Tidak ada darah di kemeja putihnya. Namun, matanya yang menatap Dara menyala dengan warna emas keruh yang berkedip liar. Urat-urat di leher dan lengannya menonjol berwarna kebiruan, seolah darah di dalamnya sedang mendidih mencari jalan keluar. Uap panas mengepul lebat dari seluruh pori-pori kulitnya, mengeringkan embun di rumput sekitarnya dalam hitungan detik.

​Indra sedang mengalami Withdrawal Syndrome—sindrom kecanduan ekstrem.

​"Indra!" Dara berlari menghampiri pemuda itu, tidak memedulikan hawa panas yang menyengat kulit wajahnya.

​Melihat Dara mendekat, Indra jatuh berlutut di atas tanah berbatu. Pemuda itu mencengkeram kepalanya sendiri dengan kedua tangannya yang besar, mengerang tertahan. Geraman harimau yang sangat dalam dan buas keluar dari tenggorokannya, bercampur dengan suara manusiawinya.

​"Jangan mendekat, Dara," geram Indra, suaranya bergetar hebat menahan penderitaan. "Aku... aku tidak bisa merantai harimau ini."

​Dara berhenti sejenak, mengamati pemuda itu. Sindrom kecanduan ini terjadi karena Indra telah mencicipi energi penawar Dara saat di dalam Gua Batu Larangan. Harimau di dalam dirinya yang biasanya kebal terhadap rasa sakit, kini menjadi rakus. Ia menuntut ketenangan itu kembali. Dan tanpa pasokan energi Dara, harimau itu memberontak, menyiksa akal sehat Indra dari dalam.

​Di saat yang sama, ikatan batin klan (blood-tie) Indra pasti baru saja merasakan rasa sakit Raka yang terluka parah di hutan. Beban mental pelindung yang bertabrakan dengan kecanduan penawar telah membuat Indra collapse secara psikologis.

​"Raka... adik sepupuku terluka..." gumam Indra parau, mencengkeram tanah hingga kukunya memanjang menjadi cakar obsidian. "Insting teritoriku menyuruhku pergi merobek siapa pun yang melukainya... tapi... tapi harimau ini menolak pergi darimu. Ia memaksaku merangkak ke rumahmu... mencari aromamu. Aku... aku menyedihkan."

​Air mata menggenang di pelupuk mata Dara. Ia melihat monster yang paling ditakuti di Lembah Marapi ini berubah menjadi seorang pemuda yang hancur karena kutukannya sendiri. Indra terbelah antara loyalitas pada keluarganya dan ketergantungan absolutnya pada sang Pawang.

​Dara tidak peduli lagi pada bahaya. Ia merendahkan tubuhnya, berlutut tepat di hadapan Indra.

​Gadis itu memanggil energi Napas Akar dengan kekuatan penuh. Pendar biru yang sejuk dan menenangkan meledak dari telapak tangannya. Tanpa ragu, Dara memeluk kepala Indra, menarik wajah pemuda itu untuk bersandar di bahunya, dan membiarkan tangan kanannya yang bersinar biru mengusap tengkuk sang Cindaku.

​Dssssshhh...

​Hawa panas yang mendidih itu langsung berdesis pelan, bertabrakan dengan ombak kesejukan dari energi Pawang.

​Indra tersentak hebat. Pemuda itu memejamkan mata, memeluk pinggang Dara dengan erat seolah gadis itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak jatuh ke dalam jurang kegilaan. Napas Indra yang terputus-putus perlahan mulai stabil. Otot-ototnya yang menegang kaku perlahan mengendur. Urat kebiruannya memudar, dan cakar obsidiannya menyusut kembali menjadi jari-jari tangan manusia.

​Harimau itu kembali mendengkur tenang di dalam dada pemuda tersebut, tertidur oleh belaian sang Ratu Penengah.

​Dara memejamkan matanya, membiarkan tubuh besar Indra bersandar padanya. Di tengah pekarangan yang gelap itu, Dara menyadari bahwa Perang Lembah Marapi bukan hanya soal adu kekuatan gaib; ini adalah tentang menjaga kepingan hati dan kewarasan orang-orang yang ia cintai.

​Namun, momen rapuh yang mereka bagi di bawah naungan pohon pinus itu tidak luput dari sepasang mata pengintai yang penuh kebencian.

Di balik semak-semak yang berjarak belasan meter dari mereka, Gendis mengamati pemandangan intim tersebut. Serigala betina itu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia melihat bagaimana Dara menundukkan salah satu musuh terbesar kawanan Ajag hanya dengan sebuah sentuhan.

​“Gadis itu memiliki kekuatan untuk menundukkan siapa saja,” batin Gendis ngeri. “Jika dia bisa menundukkan Harimau Putih itu menjadi peliharaan, dia juga bisa mencuci otak Bumi untuk menyerahkan seluruh kawanan kami kepadanya. Aku harus bertindak sebelum Bumi benar-benar buta oleh pesonanya.”

​Gendis berbalik dengan langkah tanpa suara, menghilang ke dalam kegelapan hutan, membawa serta sebuah niat sabotase yang akan mengubah arah peperangan di Lembah Marapi secara permanen.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!