NovelToon NovelToon
My Baby Mafia

My Baby Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Four

Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!

Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.

Hingga pria itu kembali.

Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.

Melainkan rencana.

Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.

°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧⁠◝⁠(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MBM — BAB 01

AWAL LUKA

ITALIA, MILAN

Aroma roti yang baru matang memenuhi ruangan kecil itu, hangat dan menenangkan, seperti pelukan yang tak terlihat. Aria berdiri di balik meja kayu yang sudah mulai usang, tangannya lincah menyusun roti-roti ke dalam etalase kaca.

Toko itu tidak besar. Sederhana. Namun setiap sudutnya menyimpan cerita—tentang neneknya, tentang ibunya, dan kini tentang dirinya.

“Aria, kau akan menghabiskan masa muda mu di sini terus?” suara seorang wanita terdengar dari sudut ruangan.

Aria Vance (27th) mengangkat kepala, menatap sahabatnya, Nara, yang tengah bersandar santai di kursi, sementara Evan duduk di sampingnya, menggoyangkan kaki dengan malas.

“Aku tidak menghabiskan apa pun,” jawab Aria ringan. “Aku menjaga sesuatu.”

“Menjaga roti?” Evan menyeringai. “Itu bukan alasan untuk menolak ajakan bersenang-senang.”

Aria terkekeh kecil. “Aku lelah. Lagi pula, toko belum tutup.”

Nara mendecih pelan, lalu bangkit mendekat. “Kami tidak menerima penolakan malam ini. Kau ikut. Selesai.”

“Aku bilang tidak.”

“Dan aku bilang iya.”

Evan ikut berdiri, menepuk meja pelan. “Kami sudah memilih tempatnya. Kau hanya perlu datang dan menikmati.”

Aria menghela napas panjang, menatap dua orang di depannya yang jelas tidak akan menyerah. Untuk sesaat, ia ingin tetap bertahan. Dunia kecilnya di toko ini terasa jauh lebih aman. Apalagi setelah kematian ibunya 8 bulan yang lalu.

Namun tawa mereka, kehangatan yang mereka bawa… membuatnya goyah.

“Baiklah,” gumamnya akhirnya.

Nara bersorak pelan. “Itu baru Aria yang kami kenal!”

Mereka tertawa bersama—ringan, tanpa beban.

Hingga pintu toko terbuka.

Suara lonceng kecil berbunyi pelan, namun entah mengapa… suasana berubah saat seorang pria masuk.

Pria yang mengenakan Kemeja hitam membungkus tubuhnya dengan rapi, mantel panjang menjuntai di bahunya, dan kacamata hitam menutupi sebagian wajahnya—meski ini masih sangat pagi untuk ikut fashion.

Langkahnya tenang. Terukur.

Namun auranya… membuat udara terasa lebih berat.

Tawa Nara terhenti. Evan ikut terdiam.

Aria merasakan sesuatu yang aneh, tapi ia tetap tersenyum seperti biasa. Itu pekerjaannya. Dan mereka akui kalau pria itu sangat tampan dan gagah.

“Selamat pagi, Tuan,” ucapnya ramah. “Ada yang bisa saya bantu?”

Pria itu berhenti di depan etalase, menatap deretan roti tanpa benar-benar melihatnya.

Lalu, perlahan, ia berbicara. “Satu saja.”

Aria mengernyit. “Maaf?”

“Satu roti,” ulangnya, suaranya rendah, datar, namun entah kenapa terasa… berbeda. “Yang paling sederhana.”

Aria menatapnya sejenak, lalu mengambil satu roti dari etalase. Namun tatapan pria itu memperhatikan detail gerakan Aria tanpa berpaling, seolah tengah memperhatikan sesuatu yang menarik.

Saat Aria menyerahkan roti itu, jari mereka hampir bersentuhan. Hanya sepersekian detik—namun cukup untuk membuat Aria menarik napas tanpa sadar.

“Rasanya… terlalu tenang di sini.” kata pria itu membuat Nara, Evan terutama Aria, terdiam menatap aneh.

Aria tidak langsung menjawab. Ada sesuatu dalam cara pria itu berbicara yang membuatnya tidak nyaman.

“Totalnya—”

Ia terdiam saat pria itu meletakkan uang di meja. Lebih dari cukup tanpa mendengar totalnya.

“Kembalian Anda—”

“Simpan saja.”

Pria itu sudah berbalik sebelum Aria selesai bicara.

Langkahnya santai hingga menghilang bersama suara lonceng pintu.

Sunyi.

Nara menghembuskan napas panjang. “Aku tidak suka dia dan aku akui dia tampan.”

“Ya,” Evan menimpali. “Aura pria itu… tidak normal.”

Aria hanya diam, menatap uang di tangannya.

Entah kenapa, ada perasaan yang sulit ia jelaskan. Seperti… sesuatu baru saja dimulai. Padahal ia tidak tahu— pria itu telah memperhatikannya selama seminggu terakhir.

Dan pagi ini… bukan kebetulan.

...***...

Pria itu menggigit roti yang baru saja dia beli. Gigitan besar yang membuat rasa roti semakin jelas. Ada sesuatu yang menarik lidahnya, Rasa roti itu sederhana—tidak mewah, namun entah mengapa meninggalkan kesan yang sulit diabaikan.

“Kau datang terlambat hanya untuk membeli roti itu, Loren?” tegas pria tua yang duduk di kursi santai dekat kolam mewah. Ada dua penjaga yang senantiasa menjaga.

“Ya.” jawab singkat pria bernama Lorenzo de Santis (29th) itu yang mulai duduk berhadapan dengan ayahnya, Emilio de Santos.

Pria itu melepas kacamata hitamnya dan memperhatikan sekelilingnya. “Ayah memilih tempat ini untuk pertemuan itu?”

“Ya. Monica yang memberi saran ini. Karena membuat nyaman para tamu wanita itu lebih baik untuk menjaga mulut mereka.”

Mendengar itu Loren menyeringai kecil. “Aku harap ini bukan salah satu rencananya. Sampai kapan kau akan patuh pada, Monica?”

“Panggil dia Ibu, Loren. Dia sudah seperti ibumu.” tegas Emilio yang hanya ditatap oleh pria bermata perak itu.

Ia hanya menoleh ke kanan tanpa membalas perkataan ayahnya tadi. Sedangkan Emilio sendiri juga tak ingin debat dengan putranya.

“Kau akan menjadi seperti ku. Mengelola semuanya, dan mematuhinya.” perkataan itu semakin membuat Loren malas karena dia tak setuju, jika bukan karena ayahnya.

“Aku tidak bisa menjamin hal itu.” balas Loren menatap tegas ayahnya lalu berdiri dari duduknya. “Sebaiknya wanita itu dan ayah urus Matteo. Dia semakin dewasa tapi bodoh dalam kehidupan.” kata Loren sebelum akhirnya pergi begitu saja.

Emilio tak bisa menghentikan putra sulungnya itu yang memang angkuh. Namun dia lebih yakin dengannya daripada putra bungsunya, Matteo.

.

.

.

Menjelang malam yang terasa lebih dingin dari biasanya. Aria berdiri di belakang gedung klub, ponselnya menempel di telinga. Namun tak ada jawaban dari kedua temannya itu.

Tentu saja, keduanya sudah bersenang-senang sampai lupa akan temannya yang ketinggalan di luar karena harus menutup toko lebih dulu.

Ddrrrttt!! Drrtt!

“Ck, di mana mereka? Dan jangan salahkan aku jika tidak pernah ikut kalian.” kesal Aria yang masih berusaha menelepon Nara dan Evan.

Sementara dari dalam klub. Musik berdentum keras dari dalam, bercampur dengan suara tawa dan hiruk-pikuk.

“Nara! Di mana Aria? Dia belum datang?” kata Evan.

“ENTAHLAH...” balas Nara yang meninggikan suaranya karena musik terlalu keras di sana.

Lagi dan lagi, Aria mengernyit, menurunkan ponselnya. Sinyal buruk dan tidak ada balasan dari telepon maupun pesan.

Ia menghela napas, lalu mulai melangkah.

Satu langkah.

Dua langkah.

Lalu ia berhenti.

Ada sesuatu yang membuat perasaan itu kembali. Perasaan waspada dan merinding, seperti… seseorang sedang memperhatikannya.

Aria menoleh perlahan.

Kosong.

Namun jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Ia mempercepat langkah. Dan benar saja, seorang pria mengikutinya dari belakang dengan langkah panjang.

Lalu lebih cepat lagi.

Ponselnya kembali ia angkat. “Nara, cepat—aku—” setidaknya dia sudah berusaha menelepon seseorang.

Langkah lain terdengar di belakangnya.

Lebih cepat dan lebih dekat.

Aria membeku sejenak, lalu berbalik dan—

berlari.

Napasnya memburu. Langkahnya tak beraturan. Ia tidak tahu harus ke mana, hanya ingin menjauh.

Namun langkah di belakangnya semakin cepat. Hingga— sebuah tangan membungkam mulutnya dari belakang. Memeluknya cukup erat.

“Mm—!” Aria meronta, panik, tubuhnya ditarik paksa.

Dunia di sekelilingnya seperti runtuh dalam sekejap. Suara, cahaya, semuanya menghilang.

Yang tersisa hanya ketakutan. Dan kegelapan.

.

.

.

Bak tak bisa bernafas seperti engap dalam ruangan. Aria bernafas memburu hingga sebuah kain dilepas dari kepalanya, ia hanya bisa melihat kegelapan saja, namun dia yakin berada didalam sebuah ruangan yang tertutup rapat.

“CHI SEI?? (SIAPA KAMU)??” teriak Aria dengan dada naik turun dan takut yang luar biasa. Ia tak bisa membuka pintu maupun jendela, hanya bisa berteriak dan menangis histeris sampai sosok yang menculiknya itu muncul.

Tentu Aria langsung waspada dan berdiri menjaga jarak saat ia bisa melihat siluet pria bertubuh tinggi dan besar, aroma yang khas dan memabukkan.

“Siapa? Aku tidak takut denganmu. Jika berani mendekat, aku bersumpah kau akan dihukum!” tegas Aria yang semakin berkeringat saat pria itu terus melangkah maju.

Keadaan nya sangat gelap, wanita itu tak tahu dan tak bisa melihat sesuatu untuk dijadikan senjata.

“JANGAN MENDEKAT!!” tegasnya namun tak ada gunanya ketika pria itu terus maju hingga Aria mencoba menghindar dengan cara berlari.

Namun pria itu langsung menangkapnya dan membantingnya di atas kasur.

Tentu, Aira semakin gemetar saat kedua tangannya diikat oleh sesuatu seperti kain.

“Lepaskan aku, sialan! FUCK YOU!!” teriak Aria tak peduli, namun saat itu juga pria itu langsung menutup kedua mata Aria dengan telapak tangannya sebelum mencium bibirnya.

1
Tiara Bella
akhirnya ngobrol dr hati ke hati ini Aria sm Lorenzo... curhat soal ibu mereka berdua
Four.: iya juga 😁
total 1 replies
Kinara Widya
sebenarnya yg membunuh ibunya Loren... Emilio apa lorenzo,..atau jgn2 Monica...
Kinara Widya: lanjut kak...
total 2 replies
vnablu
sabarrr Lorenzo semuanya akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu 😌😌
Four.: ho, oh
total 1 replies
vnablu
udah bener kata Lorenzo di rumah aja duduk maniss😄
Four.: membosankan tau
total 1 replies
Tiara Bella
aku suka ceritanya bagus....Dar der dor....
Four.: tancuuuu 😘
total 1 replies
Tiara Bella
makanya Aria km gk ush keluar dr rmh ya itu diincer orang untuk dibunuh.....
Four.: enggak kok, GK sengaja
total 1 replies
Kinara Widya
habis tegang....eee lapar mereka.
Four.: biar GK tegang Mulu 😁
total 1 replies
Tiara Bella
vittorio ember bocor bngt ya.....
Four.: sangat berhati-hati harusnya
total 1 replies
vnablu
kamu salah tuan kan itu memang anak nya Lorenzo sebelum kalian semua punya rencana tersembunyi tapi Lorenzo sudah beberapa langkah di depan kalian semua 😌😌
Kinara Widya: selalu bikin penasaran ni kak four...❤️
total 4 replies
sleepyhead
Baru mendengar Namannya saja kalian sdh begitu khawatir, bagaimana jika dia ada dihadapan kalian 😁
Four.: auto 😱😱😱
total 1 replies
sleepyhead
Karena kau akan selalu aman jika pergi dengannya
sleepyhead: Teh celup lagi 😂
total 2 replies
sleepyhead
🤣🤣🤣🤣 kucing nakal
Four.: nakal banget 🤭
total 1 replies
sleepyhead
Terlalu lama dia dimanfaatkan oleh Papa nya dan Ibu gundiknya
Four.: ho,oh cuman menunggu 20 aja kurang 5 tahun lagi kok😁
total 1 replies
vnablu
semangat terus up nya thorr...aduh Lorenzo bilang aja kamu mau Deket" Aria 🤭🤭
Tiara Bella
Aria percaya deh sm suami km🤭
Four.: ho,oh
total 1 replies
Kinara Widya
makin seru ceritanya...lanjut kak
Four.: wokehhhh
total 1 replies
sleepyhead
wakakakakkk...
Four.: wahhh bahaya nihh orang😌
total 5 replies
sleepyhead
Pintar, gass...
Four.: harus donggg uyyy 😁
total 1 replies
vnablu
yang ada kamu tambah nyaman tidurnya karena ada Lorenzo di sebelah kamu 🤭🤭
Four.: iye juga 😁
total 1 replies
Tiara Bella
apakah Meraka berdua Aria sm Lorenzo akan bucin pd waktunya....
Four.: semoga aja 😌
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!