NovelToon NovelToon
Jarak Antara Kita

Jarak Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:506
Nilai: 5
Nama Author: ilham Basri

Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 Resonansi Di Ambang Kehancuran

​Gemuruh yang merambat dari dasar bumi Kalimantan bukan lagi sekadar getaran mesin; itu adalah suara kematian sebuah era. Dinding-dinding fasilitas bawah tanah yang steril mulai retak, memuntahkan kabel-kabel optik yang memercikkan api biru. Di tengah kekacauan itu, Arga berdiri di ambang pintu evakuasi, napasnya tersengal, matanya terpaku pada sosok ayahnya yang baru saja bangkit dari tidur panjangnya.

​Adrian Adriansyah tampak sangat rapuh di bawah cahaya lampu darurat yang berkedip merah. Namun, meski tubuhnya lemah, tatapannya memiliki gravitasi yang luar biasa tatapan seorang pencipta yang siap menghancurkan ciptaannya sendiri demi kebenaran. Di hadapannya, Arya, sang klon sempurna, berdiri dengan pedang energi yang mendengung, wajahnya yang simetris kini terdistorsi oleh kemarahan yang dingin dan mekanis.

​"Pergi, Arga!" teriak Adrian, suaranya parau namun penuh otoritas. "Jika kau tidak keluar sekarang, virus kemanusiaan ini tidak akan memiliki jangkar di dunia luar. Kau adalah bukti bahwa sistem ini bisa dikalahkan oleh perasaan!"

​"Aku tidak bisa meninggalkanmu lagi, Ayah!" Arga mencoba melangkah maju, namun Nadia mencengkeram bahunya dengan kuat.

​"Arga, lihat monitor itu!" Nadia menunjuk ke arah layar yang masih berfungsi di sudut ruangan.

​Di layar tersebut, citra radar menunjukkan kapal selam Aegis yang kini berada di perairan dangkal dekat muara sungai di atas mereka. Pesan teks digital muncul di layar, berasal dari otoritas tertinggi kapal tersebut: UNIT 01: ELINA – PROTOKOL EKSEKUSI DIAKTIFKAN. TARGET: THE ARCHITECT'S GRAVE. ESTIMASI PELUNCURAN RUDAL: 120 DETIK.

​Hati Arga mencelos. Elina wanita yang menjadi alasan setiap langkahnya menembus neraka baru saja memerintahkan kehancurannya. Tatapan mata perak Elina yang ia lihat di Selat Malaka kini menjadi nyata dalam bentuk ancaman maut dari langit.

​"Dia benar-benar sudah tidak mengingatku," bisik Arga, sebuah rasa sakit yang lebih tajam dari peluru mana pun menghujam dadanya.

​"Dia bukan tidak ingat, Arga," potong Adrian sambil menahan serangan pedang Arya dengan sebuah perisai energi kecil dari konsol lengannya. "Dia sedang berada dalam fase logic loop. Dia diperintah oleh algoritma Arya yang sedang berjalan di dalam kepalanya. Kau harus menjadi gangguan dalam algoritma itu! Sekarang, LARI!"

​Haris menarik tuas pintu evakuasi bawah air. "Nadia, bawa dia! Aku akan membantu Adrian menahan monster ini!"

​Nadia tidak menunggu lagi. Dia tahu bahwa dalam hitungan detik, tempat ini akan menjadi kawah raksasa. Dengan paksa, dia menyeret Arga masuk ke dalam kapsul evakuasi berbentuk peluru yang terhubung ke jalur pipa bawah air menuju sungai.

​"AYAH! HARIS!" Arga berteriak, namun pintu kedap udara itu menutup dengan dentuman logam yang final.

​Tepat saat kapsul itu meluncur, Arga melihat melalui jendela kecil Arya menerjang ke arah Adrian dengan kecepatan cahaya. Dan di layar monitor di dalam kapsul, angka hitungan mundur rudal menyentuh: 00:05.

​BUMMMMM!

​Guncangan dahsyat melemparkan kapsul itu seperti bola pingpong di dalam pipa air. Arga merasa dunianya terbalik. Melalui sensor belakang kapsul, dia melihat hutan Kalimantan di atas fasilitas itu meledak ke atas, menciptakan awan jamur api yang menghanguskan pepohonan purba dalam radius satu kilometer. Tanah amblas, menelan segala rahasia tentang proyek Gemini, Adrian, dan Arya ke dalam perut bumi untuk selamanya.

​Sungai Mahakam, Pukul 05:00 Pagi.

​Kapsul evakuasi itu terombang-ambing di tepian sungai yang dipenuhi puing-puing kayu terbakar dan abu yang turun seperti salju hitam. Nadia menendang pintu keluar hingga terbuka, lalu menyeret Arga yang tampak linglung keluar ke atas lumpur tepian sungai.

​Arga jatuh terduduk. Dia menatap ke arah kepulan asap raksasa di kejauhan, tempat ayahnya baru saja mengorbankan diri. Pola perak di tangannya kini benar-benar hilang, menyisakan kulit yang kasar dan mati rasa. Dia merasa kosong. Tidak ada lagi koneksi digital, tidak ada lagi bisikan kode di otaknya. Dia hanyalah manusia biasa di tengah rimba yang kejam.

​"Kita harus bergerak, Arga," Nadia terengah-engah, wajahnya berlumuran jelaga. "Kapal selam itu akan mengirim tim pembersih untuk memastikan tidak ada yang selamat dari ledakan rudal."

​Arga tidak menjawab. Dia merogoh saku jaketnya dan menemukan ponsel satelitnya yang layarnya sudah retak. Ajaibnya, benda itu masih menyala. Sebuah pesan baru masuk, bukan berupa teks, melainkan sebuah koordinat GPS yang terus bergerak di sepanjang pesisir Kalimantan.

​"Dia masih ada di sana," bisik Arga. "Elina... dia sengaja melesetkan titik ledakan Rudal itu beberapa meter. Dia tidak menghancurkan fasilitasnya secara langsung, dia menghancurkan strukturnya agar kita terdorong keluar lewat pipa evakuasi."

​Nadia mengerutkan kening. "Maksudmu, dia masih sadar?"

​"Dia melawan, Nadia. Di dalam labirin mesin itu, Elina masih bertarung untukku." Arga berdiri, matanya berkilat dengan kemarahan yang kini telah bermutasi menjadi tekad murni. "Arya mungkin punya tentara, punya satelit, dan punya wajahku. Tapi dia tidak punya apa yang Elina berikan padaku."

​"Apa itu?"

​"Harapan yang tidak logis," jawab Arga singkat.

​Mereka menemukan sebuah perahu motor milik penduduk lokal yang ditinggalkan di dermaga kayu kecil yang rusak. Tanpa banyak bicara, Arga menyalakan mesinnya. Suara mesin motor itu memecah kesunyian fajar, sebuah tantangan terbuka bagi siapa pun yang mendengarkan di atas sana.

​Kapal Selam Aegis: Ruang Kendali Pusat.

​Di dalam ruangan yang didominasi oleh cahaya biru neon dan suara dengungan komputer, Elina duduk di sebuah kursi takhta elektronik. Ribuan kabel halus terhubung ke tulang belakangnya, menjadikannya inti dari sistem Aegis. Matanya yang berwarna perak menatap layar holografik yang menampilkan kehancuran di Kalimantan.

​"Target hancur, Nona," suara seorang operator terdengar dingin. "Tidak ada tanda kehidupan biometrik yang terdeteksi."

​Elina tidak merespons. Wajahnya datar, namun di dalam kesadarannya yang terbagi, terjadi sebuah perang saudara digital. Ribuan baris kode perintah Aegis mencoba menekan memori tentang Arga, namun setiap kali kode itu mencoba menghapus bayangan Arga, memori itu justru bersembunyi di dalam "sektor gelap" yang diciptakan Arga saat mereka di Monas.

​Pintu ruangan terbuka. Arya masuk, langkahnya sedikit pincang karena kerusakan pada sendi prostetiknya akibat ledakan di bawah tanah. Wajahnya yang simetris kini memiliki luka bakar permanen di sisi kanan, membuatnya tampak seperti malaikat yang jatuh.

​"Kau melakukannya dengan baik, Elina," ucap Arya, berdiri di samping kursi Elina. "Ayah sudah tiada. Saudaraku yang lemah itu kini terkubur di bawah lumpur. Sekarang, tidak ada lagi yang bisa menghentikan sinkronisasi Project Horizon."

​Elina menoleh perlahan. Matanya yang perak memindai Arya. "Kenapa... aku merasa ada bagian dari diriku yang hilang, Arya?"

​Arya tersenyum dingin. "Itu hanya sisa-sisa kemanusiaanmu yang sedang dibersihkan oleh sistem. Jangan khawatir. Dalam beberapa jam ke depan, kau tidak akan lagi merasakan kehampaan itu. Kau akan merasakan seluruh dunia."

​Arya menekan sebuah tombol di konsol kursi Elina. "Aktifkan Protokol Aegis-Zero. Hubungkan Elina ke seluruh menara transmisi di Asia Tenggara. Kita mulai dari Jakarta, lalu ke seluruh dunia."

​"Arya," suara Elina terdengar lebih rendah. "Kenapa kau sangat mirip dengannya?"

​Arya membeku sejenak. "Karena aku adalah versi yang benar dari dia. Aku adalah kesempurnaan yang tidak butuh cinta untuk menjadi kuat."

​"Tapi mesin... tidak punya ingatan tentang rasa sakit," bisik Elina. Tiba-tiba, sebuah alarm kecil berbunyi di konsolnya. "Deteksi pergerakan di permukaan. Koordinat 110.4, sektor muara."

​Arya melihat ke arah layar. Sebuah titik kecil bergerak cepat di sungai. "Arga..." desisnya. "Pria itu benar-benar seperti kecoa."

​Arya mengambil senapan energinya. "Siapkan helikopter tempur. Aku sendiri yang akan memastikannya kali ini. Elina, tetaplah di sini. Jangan biarkan koneksimu terputus."

​Begitu Arya keluar dari ruangan, Elina memejamkan matanya. Di dalam kegelapan pikirannya, dia melihat kembali bintang perak kecil yang diberikan Arga di Taman Menteng. Dia tahu Arya akan membunuh Arga. Dia juga tahu bahwa jika dia membantu Arga, dia akan memicu protokol penghancuran diri di dalam otaknya.

​Elina menggerakkan jari manisnya yang tidak terikat kabel. Dia mulai mengetikkan baris kode rahasia yang ia pelajari dari ayahnya sebuah kode yang tidak pernah diketahui oleh Pak Broto maupun Arya.

​Muara Sungai, Pesisir Kalimantan.

​Arga memacu perahu motornya menembus kabut laut yang tebal. Di belakangnya, suara deru baling-baling helikopter tempur Aegis terdengar semakin mendekat. Cahaya senter raksasa dari langit mulai menyapu permukaan air, mencari mangsa mereka.

​"Mereka di atas kita, Arga!" teriak Nadia, sambil melepaskan tembakan peringatan ke arah helikopter dengan sisa amunisi senapannya.

​"Bertahanlah, Nadia!" Arga berbelok tajam, menghindari berondongan peluru mesin yang membuat air di sekeliling mereka meledak.

​Tiba-tiba, sebuah suara bergema di dalam kepala Arga. Bukan lewat speaker, bukan lewat ponsel, tapi melalui getaran di tulang tengkoraknya sebuah resonansi yang ia kenali.

​"Arga... dengarkan aku..." suara Elina terdengar di benaknya. "Jangan lari ke laut terbuka. Menuju ke koordinat 052. Kapal selam ini memiliki satu titik buta di bawah lubang pembuangan panas. Jika kau bisa menempelkan koin perak itu di sana, kau akan menciptakan hubungan pendek ke sistem saraf pusatku."

​"Elina? Kau mendengarku?" tanya Arga, matanya liar mencari arah.

​"Aku selalu bersamamu, Arga. Tapi Arya sedang menuju ke arahmu. Dia akan menggunakan frekuensi suaramu untuk mengunci rudal helikopter. Jangan bicara... cukup rasakan arahku."

​Arga terdiam. Dia mematikan mesin perahu motornya di tengah laut yang berkabut. Senyap. Nadia menatapnya dengan bingung. "Kenapa kau berhenti?! Kita akan jadi sasaran empuk!"

​"Diam, Nadia," bisik Arga. Dia memejamkan matanya, merasakan getaran air, angin, dan... denyut nadi digital yang memancar dari bawah permukaan laut.

​Dia merasakan Elina. Dia merasakan kesedihannya, tekadnya, dan sisa-sisa cintanya yang kini menjadi mercusuar di tengah badai.

​"Di sana," Arga menunjuk ke arah air yang tampak lebih gelap di balik kabut. "Kapal selamnya tepat di bawah kita."

​Tepat saat itu, helikopter tempur muncul dari balik kabut. Arya berdiri di pintunya yang terbuka, menatap Arga dengan kebencian yang murni. "Selamat tinggal, Saudaraku. Sejarah hanya akan mengingat satu Arga, dan itu bukan kau."

​Arya menarik pelatuk peluncur roketnya.

​Syuuuuut!

​Roda nasib berputar. Namun, sebelum roket itu menghantam perahu, permukaan laut di depan Arga meledak. Bukan karena ledakan rudal, tapi karena kapal selam Aegis yang berukuran raksasa itu tiba-tiba melakukan manuver darurat, muncul ke permukaan dengan posisi miring, menciptakan gelombang raksasa yang menelan roket Arya dan menghempaskan helikopternya hingga kehilangan keseimbangan.

​Elina sedang memberontak. Dia memaksakan kapal selam itu untuk naik tepat di bawah Arga.

​"Sekarang, Arga! Lompat!" teriak suara Elina di kepalanya.

​Arga melompat ke atas punggung baja kapal selam yang licin. Dengan tangan kosong yang berdarah, dia merangkak menuju panel pembuangan panas yang membara. Dia mengeluarkan anting perak Elina bintang kecil yang hangus dan dengan seluruh kekuatannya, dia menghujamkan benda itu ke dalam celah sirkuit utama.

​"JARAK DI ANTARA KITA... BERAKHIR DI SINI!" raung Arga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!