NovelToon NovelToon
BANGKIT DARI LUKA

BANGKIT DARI LUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

keluarga mulai utuh

“Juna!” teriak Amira melihat Arjuna terbaring di bawah pohon.

Nanda mendekat pada Arjuna. Tampak tangan Arjuna terluka cukup dalam dan ada beberapa luka di badannya. Arjuna benar-benar mengerahkan semua kemampuannya menyelamatkan mereka.

Amira mendekat ke arah Arjuna.

“Juna,” panggil Amira panik, menggoyangkan tubuh Arjuna.

Namun tubuh Arjuna tidak merespons.

“Juna!” Amira berteriak.

“Ka Juna!” Dewi ikut menggoyang tubuh Arjuna.

Untuk pertama kalinya Dewi mengeluarkan air mata dan memanggil kakaknya dengan bangga.

“Ka Juna bangun, Ka,” isak Dewi.

“Juna, bangun, Nak… bangun.” Kali ini Nanda juga mulai panik. Ia merasa bersalah, mungkin tadi terlalu keras menyuruh Arjuna.

“Juna!” kali ini Amira berteriak sambil menangis.

Hujan belum berhenti. Sesekali terdengar suara petir.

Kolong jembatan yang mereka tinggali saat ini lumayan jauh dari pemukiman.

Hanya mobil-mobil besar yang lalu lalang, jadi tidak ada yang mendengar teriakan mereka.

“Ka Juna…” Dewi menggoyangkan tubuh Arjuna dengan keras.

Namun Arjuna tidak merespons sama sekali.

Suasana menjadi hening. Yang terdengar hanya isak tangis dari ketiga wanita itu.

Di saat semua sudah putus asa dan merasa bersalah, tiba-tiba—

“Nenek… apa mamah dan Dewi selamat?”

Semua orang melihat ke arah Arjuna. Mata Arjuna masih terpejam.

“Nenek…” terdengar kembali suara Arjuna.

Semua mendekat ke arah Arjuna.

“Juna, kamu selamat!” Amira berkata dengan suara gemetar.

Arjuna perlahan membuka mata. Ia tersenyum melihat Amira.

“Mamah…” gumamnya.

Amira memeluk Arjuna erat. Sore ini dia hampir saja kehilangan kedua anaknya.

“Mamah, maafin Juna… Juna enggak berguna.”

“Kamu hebat, Nak… kamu anak hebat.” Amira melepaskan pelukannya.

Arjuna duduk. Belum sempat bernapas, Dewi sudah menubruknya.

“Kaka… kamu hebat sekali,” ucap Dewi memeluk erat Arjuna.

“Dewi, aku sesak…”

“Dewi, pelan-pelan.”

Dewi melepaskan pelukannya.

“Kaka, kamu hebat sekali… kamu sudah cocok jadi kakakku.”

Arjuna duduk dan bersandar di pohon, menarik napas dan mengumpulkan tenaga.

“Nenek, aku lemah sekali. Mulai sekarang aku akan olahraga.”

Nanda mengusap kepala Arjuna.

“Kamu hebat, Juna… nenek bangga sama kamu. Kamu layak disebut lelaki.”

Amira meneteskan air mata karena haru dan bahagia. Sekarang mereka sudah sepenuhnya benar-benar bersatu menjadi keluarga.

“Mamah, tangan Ka Juna banyak darah!” teriak Dewi.

Di atas jembatan ada lampu penerangan. Walau cahayanya samar menerangi kolong jembatan, namun luka di tangan Juna terlihat jelas.

“Astaga, Juna,” ucap Amira.

“Mamah, tolong ambilkan daun jarak. Di dekat sungai tadi ada.”

Amira melihat Dewi. “Dewi, kamu ambilkan kain dan air, ya.”

“Siap, Bos,” ucap Dewi, berdiri lalu naik ke atas mengambil kain dan air.

Sedangkan Nanda mengambil daun jarak yang getahnya bisa mengobati luka.

“Juna, kamu masih berdiri?” tanya Amira.

“Bisa, Mah.”

“Naik ke atas, ya, ke tempat terang.”

Arjuna berdiri dengan tertatih-tatih. Saat Amira akan menggendongnya, Arjuna menolaknya.

“Mah, mulai hari ini Juna akan jadi anak kuat,” ucapnya.

Amira tersenyum dan berkata, “Baiklah.”

Arjuna melangkah walau dengan langkah gemetar menuju tempat yang lebih terang.

Dewi yang akan turun menghentikan langkahnya dan menunggu Arjuna di atas.

Tidak butuh waktu lama, akhirnya sampai di atas.

Arjuna duduk dan bersandar ke tembok jembatan. Sinar lampu dari atas menerangi.

“Airnya mana?”

Dewi memberikan air hujan yang sudah dia tampung memakai botol Aqua.

Dewi kembali berjalan menuju tempat air hujan turun. Ia kembali menampung air hujan memakai botol Aqua.

Amira merasa bangga. Di saat sulit, anak-anaknya bisa diajak bekerja sama.

Amira membasuh luka Arjuna dengan air hujan.

Arjuna tampak meringis, namun dia tidak menangis.

“Mira, ini daunnya,” Nanda memberikan beberapa daun jarak ke Amira.

Terlihat napas Nanda tak beraturan. Jelas sekali sebenarnya Nanda kelelahan.

Amira menerima daun itu dan memetiknya.

“Juna, ini akan sedikit sakit. Tahan, ya.”

Arjuna tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala.

Perlahan Amira meneteskan getah daun itu ke tangan Arjuna.

Tampak ada gerakan dari tangan Arjuna. Jelas ia merasakan sakit, namun dia tahan.

“Biar cepat sembuh, sebenarnya tidak usah dibalut,” Nanda memberi saran.

“Nek, kenapa enggak ditutupi pakai cabai saja?” tiba-tiba Dewi memberi saran.

“Cabainya enggak ada,” jawab Nanda.

Amira membayangkannya saja sudah tidak sanggup. Pasti panas dan perih jika luka diobati oleh bubuk cabai, tapi itu memang efektif membuat luka kering.

“Kalau enggak dibalut nanti Arjuna kesakitan,” ucap Amira.

“Jangan dibalut, Mah. Juna harus cepat sembuh.”

Arjuna menghela napas. “Baiklah kalau begitu.”

Terdengar suara perut Dewi.

Dewi hanya tersenyum, namun kali ini dia tidak meminta makan.

Amira dan Nanda saling pandang.

“Kamu jaga anak-anak. Aku akan naik ke atas untuk cari korek api.”

“Tapi mamah lelah. Mamah istirahat saja,” ucap Amira merasa bersalah.

“Tidak, aku tidak lelah. Aku lebih lelah mendengarkan suara keroncongan Dewi.”

Belum sempat Amira menjawab, Nanda sudah berdiri dan naik ke atas.

Amira hanya bisa menghela napas panjang.

“Dewi, mari kita cuci ikannya,” ajak Amira.

“Oke, Mah.”

Namun Amira sadar dia tidak membawa pisau.

“Enggak usah, kita enggak ada pisau.”

“Tenang saja, aku selalu bawa ini,” Dewi memperlihatkan pisau kecil miliknya.

“Kamu selalu bawa itu?” tanya Amira.

“Kata nenek ini benda penting, makanya aku bawa terus.”

“Baiklah, kalau begitu kita cuci ikannya dan cari kayu.”

Amira melihat ke arah Arjuna.

“Kamu enggak apa-apa, kan, ditinggal sendiri?”

Arjuna sebenarnya takut, namun ia sudah bertekad untuk melawan rasa takutnya. Ia menyandarkan tubuhnya ke tembok, lalu memejamkan mata perlahan. Napasnya ditarik dalam-dalam, berusaha tenang meski dadanya masih berdebar dan tubuhnya gemetar. Malam terasa sunyi, hanya suara sisa air menetes dan angin yang sesekali berhembus.

Sementara itu, Nanda berjalan menyusuri jalan aspal yang mulai lengang. Hujan sudah benar-benar berhenti, menyisakan udara dingin yang menusuk kulit. Bajunya masih basah, menempel di tubuhnya. Ia menggigil, tetapi tetap melangkah. Di kepalanya hanya ada satu hal: anak dan cucunya harus makan.

Ia mampir ke beberapa warung, mengetuk dan meminta korek, namun tak satu pun memberinya. Bahkan, ada beberapa warung yang buru-buru menutup pintu saat melihatnya datang.

“Kenapa mereka langsung tutup? Apakah aku seram?” gumamnya pelan.

Ia tidak sadar penampilannya memang mengkhawatirkan. Bajunya penuh lumpur, wajahnya pucat, rambutnya berantakan.

“Apa aku maling saja, ya? Orang-orang ini pelit sekali, padahal aku hanya minta korek.”

Langkahnya terhenti saat melihat satu warung yang pintunya masih terbuka. Niat buruk sempat terlintas. Ia bersiap menyeberang jalan.

Namun—

“Bruk!”

Sebuah sepeda motor terjatuh tepat di depannya.

Nanda refleks mundur sambil memegang dada. Jantungnya berdegup kencang. Hampir saja ia tertabrak. Rasa kesal yang sejak tadi tertahan langsung memuncak.

Ia meraih balok kayu bekas papan spanduk caleg di pinggir jalan. Tangannya menggenggam erat, siap melampiaskan amarah pada pengendara yang terjatuh.

Namun situasi berubah dalam sekejap.

Dua sepeda motor melaju dari arah belakang. Masing-masing membawa pria berpenutup wajah, tangan mereka menggenggam parang.

“Serahkan motornya!” ucap salah satu pria itu.

“Astaga, malah ada begal,” ucap Nanda kesal.

Dua pria itu mendekat, mengepung pengendara yang terjatuh. Parang terangkat tinggi, siap diayunkan, mengancam nyawa pria malang itu.

1
nunik rahyuni
karena rukonya sarsng preman mabuk mabukan...iya tak mira🤔🤔🤔
nunik rahyuni
g ada takut takut dewi ni ...hebat...hasil didikan nenek nanda g menye menye...
ayo semangat demi masa depan yg cerah..secerah duit merah merah di dompet dan bawah kasur🤣🤣🤣🤣
nunik rahyuni
kok adik thor bukanya ansk2 nya 🤔
nunik rahyuni
iya nek berapa pun yg di dapat harus di syukuri
nunik rahyuni
banyak banyak up thor.....semangat sehat selalu thor 💪💪
nunik rahyuni
kulihan apa hayo....iwak kah emas lah🤔🤔🤔 pina nyaring kuciak🤣🤣
sunaryati jarum
Dapat harta Karun
sunaryati jarum
Semangat Amira , sekarang kalian sudah bersatu menjadi kuat.Wah Dewi mau mengurangi porsi makannya dengan kemauan sendiri,semoga Juna tumbuh jadi pemuda kuat dan gagah sedangkan Dewi jadi gadis cantik.Keduanya jadi manusia bermartabat.
sunaryati jarum
Lanjut dan Semangat semoga Bu Nanda bisa menolong orang yg akan dibegal dengan balok kayu yang dibawanya, kemudian saling tolong agar Nanda dan Amira bangkit jadi orang sukses lalu bisa membalas perbuatan mantan suami dan keluarganya
Anonim
Lanjut thor seru ,up nya jangan dikit dikit thor
nunik rahyuni
mangga di lanjutken thor triple up 🤣🤣✌️✌️✌️
nunik rahyuni
g sopan manggil ibu kok langsung nama nya
nunik rahyuni
bener itu...merusak pemandangan...penebar janji palsu
ambil j nek buat alas tidur🤣🤣
Anonim
Lanjut thor buat amira ibu nya dan anak anak nya bangkit dan bisa balas dendam thor
nunik rahyuni
g da habis habis nya ujian dan penderitaan..
Anonim
Lanjut thor up nya banyakan dong
nunik rahyuni
tegang thor..tahan nafas ikit memburu cari udara
huuuuh...akhirnya
mudah mudahan mereka lekas bangkit..menyusun masa depan dg kuat dan tegar
nunik rahyuni
judulnya bangkit dr luka..tp klo menye menye kya itu masih lama lg bangkitnya
yg ada di tindas terus
nunik rahyuni
ujian datang lagi...
semangat thor banyak banyak up tiap hari
💪💪💪💪
nunik rahyuni
aq setuju sama nanda...mira terlalu bodoh..polos atau picik atau pengecut sdh merasakan di hiba direndahkan dihianati sama lakinya masih ssja bodoh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!