Joshua Halim, anak ketua yayasan sekaligus cowok paling berkuasa di Seventeen International School, tiba-tiba menyatakan cinta, Yeri Marliana L. menolaknya tanpa ragu.
Penolakan itu melukai ego Joshua. Terlebih lagi, ia sedang berada di tengah taruhan dengan gengnya VOCAL (Vanguard Of Commanding Alpha Leaders), dan Joshua tidak pernah menerima kekalahan.
Sejak saat itu, ia terus mendekati Yeri dengan berbagai cara, memaksa jarak di antara mereka semakin sempit. Di sisi lain, Yeri justru harus menghadapi konsekuensinya: diincar, dijahili, dan dibully.
Tapi Yeri bukan tipe yang lemah. Ia melawan semuanya tanpa ampun. Namun keadaan berubah saat neneknya membutuhkan biaya operasi besar. Dalam kondisi terpojok, Joshua datang dengan tawaran yang tak bisa ia abaikan—ia akan menanggung seluruh biaya, asalkan Yeri mau menjadi pacarnya.
Dan di balik hubungan yang dimulai dari taruhan dan paksaan itu, satu hal mulai keluar dari kendali—perasaan yang seharusnya tidak pernah ada.
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Joshua duduk di kursi kamarnya, punggung nempel ke kursi, lampu meja menyala redup. Berkas tebel yang Marcel kasih tadi siang masih kebuka di pangkuannya. Kertas-kertas itu berisik kalau disentuh, tapi yang lebih berisik dari semuanya cuma pikirannya sendiri.
Nama di halaman pertama bikin dia nge-freeze beberapa detik.
“Yeri Marliana L.”
Huruf L itu sebelumnya keliatan kayak huruf random, nggak penting. Tapi di laporan Marcel tertulis jelas,
L itu singkatan dari nama keluarga Lumintang.
Nama keluarga yang nggak pernah Yeri sebut. Bahkan di sekolah, nggak ada yang tahu. Satu-satunya yang dia bilang cuma dia tinggal sama neneknya, Widya. Titik. Udah.
Joshua ngerubah cara duduknya, nunduk lagi lalu serius baca detail berikutnya.
Nenek Widya adalah ibu dari almarhumah mama Yeri, Kertikasari.
Winsen Lumintang adalah ayah Yeri.
Farida adalah istri kedua ayahnya, atau selingkuhan yang akhirnya dinikahi, setelah istri pertama meninggal.
Irina Lumintang adalah adik tiri Yeri.
“Astaga…” Joshua ngusap wajahnya berkali-kali.
Winsen Lumintang, pengusaha tambang gede di Papua. Orang kaya. Orang berkuasa. Orang yang tinggal jauh dari anaknya yang kabur dari rumah.
Kabur dari rumah.
Marcel nulis itu dengan capslock dan bold, kayak dia tau Joshua bakal kaget.
“Yeri kabur dari Papua ke Jakarta tiga tahun lalu saat kelas 2 SMP.”
Joshua sampai narik napas panjang. Kepalanya berat.
Dia lanjut fokus baca detail lanjutan.
“Sekarang tinggal dengan neneknya, seorang penjahit tua. Yeri sekolah pakai beasiswa, karena nilainya selalu tinggi. Untuk biaya hidup sehari-hari, Yeri kerja serabutan dan saat ini jadi tutor Joshua Halim.”
Joshua nutup berkas itu pelan, tapi otaknya masih muter-muter. Di halaman terakhir ada satu paragraf yang bikin dia kejang sesaat.
“Nenek Widya butuh biaya besar untuk pemeriksaan lanjutan dan operasi.”
Operasi?
Biaya besar?
Joshua nyender ke kursinya lagi, matanya mandang plafon.
“Jadi… selama ini dia ngumpet sama masalah seribet ini sendirian?” gumamnya pelan.
Ada rasa kesal bukan karena Yeri bohong, tapi karena Yeri nggak cerita. Dia nggak tau kenapa, tapi dadanya geli dan nyesek bersamaan. Kayak marah tapi ke diri sendiri.
Joshua buka lagi berkas tadi.
Foto Yeri waktu SMP nempel di salah satu halaman. Rambutnya lebih pendek, matanya sama besar, waspada, tapi ada sesuatu yang sedih disana. Joshua ngeliatin fotonya lumayan lama sampai dirinya sendiri bingung kenapa.
“Neneknya sakit… dan dia masih aja kerja tiap sore buat gue,” Joshua ngelus pelipisnya. “Dia pasti capek banget.”
Joshua tiba-tiba inget Yeri tadi malem yang dateng telat lima menit, ngos-ngosan, tapi tetep ngajarin dia dengan muka galak khas Yeri. Dia bahkan makan cemilan Joshua tanpa izin. Kadang ngeselin, tapi… Joshua jadi sadar Yeri bukan cuma murid pinter dari keluarga biasa.
Yeri… sedang bertahan hidup.
“Pasti semalem, itu nenek sihir belom makan,” gumam Joshua.
Joshua ngebuka halaman yang ada tulisan tentang Winsen Lumintang. Semakin dia baca, makin panas kupingnya.
Winsen tinggal di Papua sama Farida dan Irina. Sementara Yeri tinggal di Jakarta, hidup sama nenek tua, kerja sana-sini buat makan.
Jadi ayahnya acuh sama dia? Beneran?
“Gila… gue rasanya pengen mukul bapaknya.” Joshua mendesis kecil.
Tiba-tiba ada rasa ingin marah sama orang yang bahkan belum pernah dia temui, ayah Yeri. Gimana bisa dia biarin anaknya hidup dengan keras gitu?
Dengan harta orangtua yang sebenarnya melimpah,, Yeri malah kabur dari rumah.
“Kenapa sih, lo milih cara hidup yang kayak gitu, Yeri?!”
Ada sedikit emosi, entah pada Yeri, pada keluarganya, atau bahkan pada situasi yang kerasa tidak adil bagi perempuan yang bahkan belum genap berusia tujuh belas tahun.
Joshua ngelempar berkas itu ke meja. Nggak kuat lagi bacanya. Dadanya rasanya sakit.
“Kenapa dia nggak cerita sih?” gumamnya lirih.
Dia benci dipikirin, tapi nggak tau kenapa dia makin kepikiran.
Yeri selalu keliatan kuat, keras kepala, jutek. Tapi setelah baca semua ini, Joshua sadar itu cuma tameng. Cewek itu lagi jungkir-balik buat survive. Dan dia berjuang sendirian.
Joshua berdiri pelan, nyamperin jendela. Malam udah turun, angin dingin masuk dari celah kecil.
“Yeri Marliana Lumintang ... Lo nyembunyiin banyak hal.” Dia ngelirik berkas itu lagi.
Sekarang dia ngerti kenapa Yeri benci prom night. Kenapa dia mati-matian kerja. Kenapa dia nggak mau ikut acara-acara mahal. Kenapa dia selalu ngirit. Kenapa dia sering terlihat capek.
Ada suara kecil di dalam hati Joshua yang bilang, “Gue harus bantu dia.”
Tapi suara lainnya nimpalin, “Tapi lo bahkan nggak tau apa dia mau dibantu atau nggak.”
Joshua ngembus napas panjang. Tangan kanannya mengepal. “Mulai sekarang,” gumamnya, pelan tapi tegas, “gue bakal cari tau cara… supaya Yeri nggak harus nanggung semuanya sendirian.”
***
Hari ini, Yeri lagi ngajarin Joshua. Tapi entah kenapa Joshua selalu aja nggak dengerin semua ucapan Yeri.
“Jadi kalau lo pake present perfect, verb-nya harus bentuk ketiga. Ngerti?” Yeri ngejelasin sambil nunjuk buku, matanya fokus banget.
Joshua ngangguk, pura-pura dengerin. Padahal dari tadi pikirannya masih muter ke berkas yang dia baca siang tadi. Setiap lihat Yeri ngomong, dia cuma kepikiran satu hal, “kenapa lo kabur? Dan kenapa lo nyembunyiin nama belakang itu?”
Yeri lanjut ngomong dengan cepat, “Nah, ini contoh kalimatnya ... Joshua? Lo dengerin nggak sih?”
Joshua kaget kecil. “Dengerin kok. Jangan galak-galak, sayang,” jawabnya cepat, padahal nggak sama sekali.
Yeri manyun, tapi nerusin. Sampai akhirnya mereka masuk ke materi yang ada tulisan “L-list” dan entah kenapa itu bikin kepala Joshua langsung ngeklik sesuatu.
Huruf L.
Nama belakang Yeri.
Lumintang.
Dia ngedengus pelan, terus pura-pura sok penasaran.
“Yeri…” Joshua nyandar dikit, suaranya santai. “Nama lengkap lo tuh… Yeri Marliana L, kan?”
Yeri ngelirik cepat. “Iya. Kenapa?”
“L itu apa?” Joshua nahan senyum, mancing halus. “Singkatan sesuatu? Atau apa gitu?”
Yeri langsung kaku beberapa detik. Gerakan tangannya berhenti, matanya ngedip pelan kayak lagi mikir cepat.
“Singkatan tapi nggak penting-penting amat. Nama gue kepanjangan jadinya gue singkat,” jawabnya akhirnya, agak kaku.
Joshua makin penasaran ngeliat reaksi itu. Dia condongin badan, deketin wajahnya ke Yeri.
“Yeri… lo yakin?” suaranya pelan, lembut tapi menusuk. “Soalnya biasanya orang yang pake inisial gitu artinya ada sesuatu yang—”
Yeri langsung mundur dikit, keliatan nggak nyaman. “Gue bilang bukan apa-apa, Ayo-ayo fokus ke materi.”
Tapi Joshua nggak berhenti. Dia makin deket, parah banget deketnya, sampai Yeri bisa ngerasa napasnya.
“Lo bisa bilang ke gue, kalau lo mau,” bisik Joshua.
Terasa ujung bibirnya Joshua udah nempel di ujung bibir Yeri.
“Gue nggak bakal boc—”
PLAAAK!
Tamparan mendarat telak di pipi Joshua. Keras. Sampai kursinya goyang dan kepalanya kerasa hampir jatuh.
“Gila! lo ngapain deket-deket gitu!?” Yeri berdiri, muka merah entah karena marah atau panik.
Joshua megang pipinya yang pedes banget. “Aduh… gue cuma nanya baik-baik! Gila, pala gue mau copot!”
“Baik-baik dari mana? Ujung bibir lo itu udah nempel ke bibir gue! Lo ngomong sambil nyium gue!”
“Ya lo tinggal dorong aja, gak usah gampar!” Joshua protes, masih meringis.
“Gue refleks!” Yeri balas, masih gemeter tapi matanya tajem.
Joshua akhirnya ngakak kecil, meski pipinya masih panas. “Anjir, refleks lo serem juga.”
Yeri ngedengus. “Pokoknya jangan bahas L itu lagi. Selesai.”
“Tapi—”
“Josh!” Yeri nusuk jari telunjuk ke arahnya.
Joshua menurut, tapi pikiran sama sekali nggak berhenti. Justru makin yakin kalo Yeri beneran nyembunyiin sesuatu. Dan Joshua makin pengen tau apa itu.