Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangan Besi di Balik Layar
Suasana di ruang rapat OSIS pagi itu lebih dingin dari biasanya. AC yang mendengung terasa seperti suara statis yang mengganggu pendengaran Ziva yang sedang duduk di pojok ruangan sebagai perwakilan jurnalisme. Di depan, Arkan memimpin rapat dengan wajah sedatar tembok beton, sementara Clarissa terus melemparkan senyum penuh kemenangan ke arahnya.
"Sebelum kita bahas anggaran pensi," suara Clarissa melengking tipis, membelah kesunyian, "Pak Danu menitipkan pesan. Ada isu tentang integritas pengurus OSIS yang mulai goyah karena... hubungan pribadi yang tidak profesional. Benar begitu, Arkan?"
Gibran, yang duduk di sebelah Arkan, mengerutkan kening. "Maksud lo apa, Cla? Bicara yang jelas, jangan pakai teka-teki."
Belum sempat Clarissa menjawab, pintu ruang rapat terbuka kasar. Sosok pria paruh baya dengan setelan jas mahal masuk dengan langkah yang mengintimidasi. Pak Wijaya, ayah Arkan. Di belakangnya, menyusul Kepala Sekolah yang tampak membungkuk hormat.
Seluruh anggota OSIS berdiri serentak, termasuk Ziva yang jantungnya nyaris melompat keluar. Pak Wijaya bukan sekadar orang tua murid; dia adalah ketua komite sekolah sekaligus donatur utama pembangunan gedung olahraga baru SMA Garuda. Satu kata darinya bisa mengubah kebijakan sekolah dalam semalam.
Intimidasi Sang Penguasa
"Lanjutkan duduk kalian," suara Pak Wijaya berat dan berwibawa. Ia tidak duduk di kursi tamu, melainkan langsung menuju kursi di ujung meja rapat, tepat di hadapan Arkan.
Arkan tidak tampak terkejut, namun rahangnya mengeras.
"Papa ada urusan apa di sini?"
"Urusan kedisiplinan," jawab Pak Wijaya dingin. Matanya menyapu ruangan, berhenti sejenak pada Ziva yang tertunduk lesu, lalu kembali ke Arkan. "Saya mendengar ada desas-desus tidak sedap yang mulai mengganggu nama baik keluarga saya di sekolah ini. Tentang 'kedekatan' yang tidak seharusnya antara Ketua OSIS dan... siswi jurnalisme."
Clarissa tampak terkejut. Ia tidak menyangka Pak Wijaya akan turun tangan secepat ini. Ia mengira laporannya pada Pak Danu hanya akan berujung teguran, bukan intervensi tingkat tinggi.
"Papa," Arkan memotong dengan nada peringatan.
"Diam, Arkan," Pak Wijaya menggebrak meja pelan, namun getarannya terasa sampai ke ujung ruangan.
"Kepala Sekolah sudah setuju. Mulai hari ini, pengawasan terhadap setiap kegiatan OSIS dan Jurnalisme akan diperketat. Tidak ada lagi pertemuan di luar jam sekolah tanpa pendampingan guru. Dan untuk siswi bernama Ziva Clarissa..."
Ziva mengangkat wajahnya, pucat pasi.
"...jika saya mendengar satu kali lagi nama Anda dikaitkan dengan putra saya dalam konteks negatif, beasiswa dan catatan akademik Anda akan saya tinjau ulang secara pribadi. Saya tidak membangun sekolah ini untuk menjadi tempat bermain drama remaja."
Itu adalah ancaman terbuka. Pak Wijaya menggunakan kekuasaannya untuk menekan Ziva agar menjauh, sekaligus memperingatkan Arkan agar tetap pada jalurnya.
Sudut Terjepit
Setelah rapat dibubarkan dengan paksa, koridor sekolah terasa mencekam. Arkan mengejar ayahnya di lobi, mengabaikan tatapan mata ratusan siswa yang berbisik-bisik.
"Papa berlebihan!" desis Arkan saat mereka berada di area parkir yang sepi. "Papa mempermalukan aku dan Ziva di depan semua orang!"
Pak Wijaya berbalik, menatap putranya dengan tatapan tajam. "Aku sedang menyelamatkan investasiku, Arkan. Pernikahan siri kalian itu rahasia bisnis. Jika rahasia itu bocor karena kalian ceroboh bermesraan di lobi apartemen atau turun dari mobil yang sama, bukan cuma namamu yang hancur, tapi merger perusahaan kita juga batal.
Paham?"
"Kami tidak bermesraan! Aku melindunginya dari Revan!"
"Maka gunakan otakmu, bukan ototmu!" Pak Wijaya masuk ke mobil mewahnya. "Ingat, Arkan. Aku yang memberimu apartemen itu, dan aku bisa mengambilnya kembali malam ini juga jika kamu tidak bisa mengendalikan istrimu."
Tangis di Ruang Redaksi
Ziva duduk bersimpuh di lantai ruang redaksi mading yang gelap. Ia menangis tanpa suara. Ancaman Pak Wijaya benar-benar menghantam mentalnya. Ia merasa seperti debu di bawah sepatu keluarga Arkan.
Cklek.
Pintu terbuka. Arkan masuk dan langsung mengunci pintu. Ia melihat Ziva yang hancur di lantai. Tanpa kata-kata, Arkan berlutut di depannya.
"Ziva..."
"Pergi, Arkan," isak Ziva. "Papa lo bener. Dekat sama lo itu bahaya. Gue hampir kehilangan masa depan gue barusan. Tolong, jangan deketin gue dulu."
Arkan tidak pergi. Sebaliknya, ia menarik Ziva ke dalam pelukannya. Kali ini lebih erat, lebih posesif. "Maafkan Papa. Dia memang monster kalau soal bisnis."
"Kita harus gimana, Ar? Clarissa seneng banget liat gue diancam tadi. Revan juga pasti makin merasa punya kekuatan," Ziva meremas kemeja Arkan.
Arkan mengusap rambut Ziva, matanya menatap pintu
dengan kilatan amarah yang dingin. "Mereka pikir mereka bisa menekan kita dengan kekuasaan. Tapi mereka lupa satu hal, Ziva. Kita sudah menikah. Secara hukum Tuhan, nggak ada yang punya hak memisahkan kita, bahkan Papa sekalipun."
Arkan melepaskan pelukannya, memegang kedua bahu Ziva. "Kita akan mainkan permainan mereka. Di depan Papa dan sekolah, kita akan benar-benar menjadi musuh. Lebih parah dari sebelumnya. Aku akan menghukummu lebih sering, aku akan bersikap lebih kejam padamu di depan Clarissa."
"Maksud lo?"
"Kita buat mereka percaya bahwa rencana Papa berhasil. Bahwa kita benar-benar saling benci," Arkan menghapus air mata di pipi Ziva dengan ibu jarinya. "Tapi di Apartemen 402... kita adalah satu-satunya pelindung bagi satu sama lain. Bisa kamu lakukan itu?"
Ziva menatap mata Arkan, mencari kekuatan di sana. Ia mengangguk pelan. "Apapun, Ar. Asal rahasia ini nggak membunuh kita."
Di luar ruangan, Clarissa berdiri dengan telinga menempel di pintu. Ia tidak bisa mendengar pembicaraan mereka dengan jelas, tapi ia melihat Arkan masuk ke sana. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan ke Revan.
Clarissa: Revan, sepertinya Arkan dan Ziva lagi 'berantem' hebat di ruang redaksi setelah diancam Pak Wijaya. Ini kesempatan kita buat masuk.
Badai itu belum usai; ia baru saja memasuki fase paling gelapnya.