NovelToon NovelToon
PUNCAK TAHTA CEO MUDA & DETEKTIF R

PUNCAK TAHTA CEO MUDA & DETEKTIF R

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Transmigrasi / Sci-Fi
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Feng Yan tidak menyangka kasih persaudaraan berakhir dengan maut. Dibuang, dihina, dan nyaris mati di tangan Feng Yao, ia bersumpah untuk kembali. Bukan sebagai pecundang, melainkan penguasa kegelapan yang siap merebut kembali takhta CEO-nya.

Bersama Rendy si ahli strategi, Reyhan sang pakar IT, dan pengacara tegas Lin Diya, Feng Yan menyusun rencana kehancuran mutlak. Di balik gemerlap dunia korporat, sebuah permainan detektif dimulai untuk membongkar dalang pembantaian keluarganya.

Feng Yao boleh berkuasa sekarang, tapi Feng Yan sudah menyiapkan liang lahat untuknya. Siapakah yang akan bertahan di puncak tertinggi? Balas dendam ini baru dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

INVASI SANG CEO NARSIS

Kantor hukum Mandala Group yang biasanya tenang dan berwibawa, pagi itu mendadak gempar. Suara sepatu pantofel mahal yang beradu dengan lantai marmer terdengar sangat dominan, mengalahkan suara ketikan komputer dan diskusi para staf. Lin Diya, yang baru saja menyeruput kopi pahitnya untuk menenangkan saraf yang tegang setelah kejadian horor di rumah sakit tadi malam, hampir tersedak saat melihat pintu ruang rapat utamanya terbuka lebar dengan sekali tendangan elegan.

BRAKKK!

Di ambang pintu, berdiri sosok pria yang seharusnya masih berbaring di peti mati atau setidaknya di bangsal ICU. Feng Yan muncul dengan setelan jas hitam baru yang entah dari mana dia dapatkan—mungkin hasil rampokan gaya di butik termahal kota—lengkap dengan kacamata hitam yang bertengger angkuh di hidung mancungnya. Di belakangnya, Chen Lian dan Reyhan mengikuti dengan wajah yang sangat kontras: Chen Lian yang datar seperti tembok, dan Reyhan yang tampak seperti ingin menghilang dari muka bumi.

"Selamat pagi, calon karyawanku yang cantik," sapa Feng Yan dengan nada suara yang sangat merdu namun mengandung kadar narsis dosis tinggi. Dia melepas kacamata hitamnya dengan satu gerakan cepat, mengedipkan mata ke arah Lin Diya yang kini sudah berdiri dengan wajah merah padam.

"FENG YAN! APA-APAAN INI?!" teriak Diya, membanting map dokumen Mandala Group ke atas meja. "Ini kantor hukum! Anda tidak bisa masuk begitu saja tanpa janji temu! Di sini ada aturan, ada etika, dan ada hukum privasi! Keluar sekarang juga!"

Feng Yan sama sekali tidak bergerak mundur. Sebaliknya, dia justru melangkah maju dengan gaya predator, mendekati meja rapat tempat Diya berdiri. Dia meletakkan kedua tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke arah Diya sampai aroma parfum kayu cendana dan aura mistisnya menyelimuti udara di sekitar mereka.

"Hukum? Etika?" Feng Yan tertawa kecil, suara tawanya membuat bulu kuduk staf lain berdiri. "Nona Lin, sepertinya kau lupa siapa yang kau hadapi. Aku baru saja 'hidup kembali' dari kematian. Hukum manusia biasa tidak lagi berlaku untukku. Dan soal privasi... bukankah kau sendiri yang bilang tadi malam bahwa kau merasa bertanggung jawab atas nyawaku?"

"GUE NGGAK BILANG BEGITU! GUE CUMA NOLONGIN KARENA KEMANUSIAAN!" protes Diya makin keras. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena jatuh cinta, tapi karena emosi tingkat tinggi menghadapi makhluk narsis di depannya ini.

Feng Yan tersenyum miring, senyum yang sangat "Akses" ke saraf kesabaran Diya. "Kemanusiaan atau ketertarikan, itu tipis bedanya. Sekarang, lupakan soal rapat membosankanmu ini. Aku ke sini untuk memberikan akses istimewa padamu. Mulai jam ini, Mandala Group resmi berada di bawah pengawasanku secara pribadi sebagai bagian dari kontrak akuisisi Feng Group."

"KONTRAK ITU BELUM DITANDATANGANI!" Diya menunjuk-nunjuk wajah Feng Yan dengan telunjuknya yang mungil. "Dan sebagai pengacara Mandala, aku akan memastikan kontrak itu tidak akan pernah terjadi jika bosnya adalah orang gila seperti Anda!"

Reyhan yang berdiri di belakang akhirnya angkat bicara, mencoba menengahi sebelum ada yang melempar kursi. "Diya, sabar... Feng Yan ini emang lagi 'akses' alias ugal-ugalan tenaganya. Dia baru dapet suntikan energi 'kebangkitan' jadi otaknya agak konslet."

"Konslet? Reyhan, ini namanya evolusi gaya!" sahut Feng Yan santai. Dia kemudian menarik sebuah kursi mewah, duduk di sana seperti seorang kaisar yang sedang menduduki takhtanya. "Lian, berikan berkas itu pada Nona Pengacara kita yang galak ini."

Chen Lian menyodorkan sebuah dokumen berlogo emas. "Ini adalah dokumen pengalihan aset. Tuan Muda sudah membeli 51% saham Mandala Group melalui pasar gelap pagi ini sebelum bursa saham dibuka secara resmi."

Diya ternganga. Wajahnya yang tadi merah karena marah, kini berubah pucat karena syok. "Pasar gelap? Itu ilegal! Itu melanggar aturan bursa!"

"Ilegal itu bagi orang yang tidak punya akses, Diya," Feng Yan berdiri lagi, berjalan mengitari kursi Diya, lalu membisikkan sesuatu di telinganya. "Tapi bagiku, ilegal hanyalah kata lain dari 'cara yang lebih cepat'. Sekarang, kau punya dua pilihan: tetap protes dan kehilangan kariermu, atau ikuti aksesku dan jadilah pengacara pribadiku yang paling cantik sedunia."

Diya mengepalkan tangannya kuat-kuat. Gengsinya sebagai pengacara Mandala Group benar-benar sedang diuji oleh CEO yang hobinya cari mati (tapi nggak mati-mati) ini. Dia menatap mata Feng Yan, mencoba mencari kelemahan di sana, tapi yang dia temukan hanyalah pantulan wajahnya sendiri yang terlihat sangat kesal.

"Aku... aku akan menuntutmu, Feng Yan!" gumam Diya pelan namun tajam.

Feng Yan tertawa puas, suara tawanya menggema di ruangan itu. "Tuntutlah sesukamu, Sayang. Tapi ingat, di setiap pengadilan yang kau datangi, akulah yang memegang kunci akses ke hakimnya. Sekarang, siapkan kopimu, kita punya banyak 'urusan pribadi' yang harus diselesaikan di kantor baruku."

Feng Yan berbalik dengan kibasan jasnya yang dramatis, meninggalkan Diya yang masih mematung dengan napas memburu. Reyhan hanya bisa menepuk bahu Diya prihatin sebelum menyusul si Rubah Gila itu.

"Selamat datang di neraka narsis, Diya," bisik Reyhan lemas.

Diya menatap punggung Feng Yan dengan tatapan membunuh. "Gue bakal bikin lo nyesel udah 'bangkit dari kubur', Feng Yan! Tunggu aja pembalasan pengacara ini!"

Malam itu, di kantor Mandala Group yang sudah berpindah tangan, sebuah perang baru resmi dimulai. Bukan perang senjata, melainkan perang antara gengsi seorang pengacara dan akses tanpa batas sang CEO Rubah Ekor Sembilan.

"Tuan Feng, Anda mungkin bisa membeli saham, tapi Anda tidak bisa membeli integritas hukumku!" Diya berdiri dengan dagu terangkat, matanya berkilat menantang. "Mandala Group bukan sekadar angka di atas kertas, ini adalah rumah bagi para pencari keadilan!"

Feng Yan tidak marah. Sebaliknya, dia justru menyeringai tipis—sebuah seringai yang membuat wajah tampannya terlihat sepuluh kali lebih berbahaya. Dia melangkah pelan, mengitari meja rapat yang panjang itu hingga berdiri tepat di belakang kursi Diya.

"Integritas? Kata yang sangat mahal untuk seseorang yang tadi malam menangisiku seperti kehilangan separuh jiwanya," bisik Feng Yan. Suaranya rendah, bergetar dengan gelombang energi yang aneh.

Tiba-tiba, lampu di ruang rapat berkedip hebat. Suasana yang tadinya panas karena adu mulut, mendadak menjadi dingin secara tidak wajar. Diya merasakan bulu kuduknya berdiri. Dia melihat bayangan Feng Yan di dinding kaca tampak... berbeda. Bayangan itu terlihat memiliki ekor-ekor halus yang bergerak-gerak, meskipun tubuh asli Feng Yan tetap berdiri tegak dengan jas mahalnya.

"A-apa itu? Lampunya kenapa?" gumam salah satu staf yang mulai ketakutan.

Feng Yan hanya melirik sekilas ke arah sudut ruangan yang gelap. Di mata manusianya, sudut itu kosong. Tapi di mata emas sang Rubah, di sana ada sosok hitam kecil berwujud asap—makhluk suruhan Feng Yao yang dikirim untuk memata-matai.

Tanpa mengalihkan pandangan dari Diya, Feng Yan menjentikkan jarinya dengan gerakan yang sangat cepat dan anggun.

CETAK!

Sebuah gelombang udara yang tak kasat mata melesat dari ujung jarinya, menghantam sudut ruangan itu. Suara pekikan melengking yang hanya bisa didengar oleh telinga batin bergema sesaat sebelum asap hitam itu musnah menjadi abu tak kasat mata.

"Lampu rumah sakit memang sering bermasalah, tapi lampu di kantorku... harus selalu terang," ucap Feng Yan santai, seolah baru saja mengusir lalat, bukan makhluk halus.

Diya tertegun. Dia merasakan tekanan udara di ruangan itu mendadak normal kembali. Dia menatap Feng Yan dengan curiga. "Lo... lo tadi ngapain? Gue ngerasa ada yang aneh."

"Gue? Gue cuma 'mengakses' kenyamanan ruangan ini, Diya," jawab Feng Yan, kembali ke gaya bahasanya yang narsis. Dia menarik kursi di sebelah Diya dan duduk dengan sangat santai, mengabaikan tatapan semua orang. "Sekarang, karena gue pemilik mayoritas, agenda rapat pertama kita adalah: Ganti semua kopi di kantor ini dengan bijak kopi terbaik dari Brazil. Gue nggak mau pengacara pribadiku minum air hitam hambar yang bikin mood-nya jelek."

"Gue bukan pengacara pribadi lo!" Diya protes lagi, meskipun suaranya sedikit melemah karena aura dominan Feng Yan yang terlalu kuat.

"Akses ditolak, Nona Lin. Surat keputusannya sudah ada di tas Chen Lian. Kau tidak punya pilihan selain mematuhiku, atau kau ingin aku menceritakan pada seluruh staf di sini betapa kencangnya kau memanggil namaku saat aku 'mati' tadi malam?"

"FENG YANN!!! LO BENER-BENER... ARGHH!" Diya mengacak rambutnya frustrasi. Dia ingin melempar kamus hukum setebal 10 cm ke wajah pria itu, tapi dia tahu, pria ini mungkin akan menangkapnya dengan gigi sambil tetap terlihat tampan.

Reyhan yang sejak tadi bersandar di pintu hanya bisa geleng-geleng kepala. "Diya, mending lo ikutin aja mau si Rubah ini sekarang. Percaya sama gue, makin lo protes, dia makin 'akses' ke hal-hal yang lebih gila lagi."

"Dengerin tuh kata polisi gagah itu," Feng Yan mengedipkan mata. "Sekarang, kemas barang-barangmu. Kita punya janji temu dengan 'masa lalu' yang harus dibereskan. Dan oh ya... belikan aku ponsel baru yang paling mahal. Aku butuh alat untuk menghubungi mutiaraku setiap menit."

Diya hanya bisa menghela napas panjang, menyerah pada takdir gilanya hari ini. Dia mengambil tasnya dengan kasar, menatap Feng Yan dengan tatapan membunuh. "Oke. Gue ikut. Tapi kalau lo macem-macem, gue bakal pake semua pasal di kitab hukum buat bikin lo nyesel udah hidup lagi!"

Feng Yan tertawa puas, suara tawanya memenuhi ruangan, membawa nuansa baru yang liar di kantor Mandala Group. "Aku tunggu tuntutanmu di atas ranjang... eh, maksudku di meja hijau, Sayang!"

Maka, dimulailah hari pertama Lin Diya sebagai tawanan takdir sang CEO Rubah Narsis. Hari di mana semua genre—dari aksi, wuxia, horor, sampai komedi romantis—resmi bercampur menjadi satu dalam hidupnya yang tadinya tenang.

1
BlueHeaven
Penyelusup apa ya thor
Diah nation: penyelusup kaya pelakunya (khianat )..kalau penyusup itu mengamati itu perbedaanya
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!