NovelToon NovelToon
PESONA BRONDONG UGAL-UGALAN

PESONA BRONDONG UGAL-UGALAN

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

"Mantan kabur, adiknya malah melamar? Dunia ini sudah gila!"
Bagi Cantik (26 tahun), hidupnya berakhir tragis saat rencana pernikahannya hancur karena Satria, sang calon suami, ketahuan selingkuh tepat sebulan sebelum hari H. Di tengah rasa sakit hati dan niatnya untuk menutup diri dari laki-laki, sebuah kekacauan muncul di depan pagarnya.
Bukan Satria yang datang meminta maaf, melainkan Juna (18 tahun), adik kandung Satria yang baru saja pamer foto ijazah SMA. Tidak tanggung-tanggung, bocah ugal-ugalan itu datang membawa rombongan motor sport, spanduk lamaran, hingga surat izin menikah dari ibunya sendiri!
Bagi Cantik, Juna hanyalah "bocil" bau matahari yang tidak tahu diri. Namun bagi Juna, Cantik adalah bidadari yang sudah ia incar sejak ia masih memakai seragam putih-abu.
"Lu itu berlian, Kak! Nggak pantes nangisin kerikil kayak Bang Satria. Daripada jadi mantan kakak, mending jadi istri adek. Gaskeun?!"
Sanggupkah Cantik mempertahankan tembok gengsinya mengahadapi pesona Juna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19. Restu di Tengah Deru

Suasana di bengkel "Juna Modifikasi" berangsur tenang setelah mobil mewah Papa dan Mama meluncur pergi meninggalkan area industri itu.

Aroma bensin yang tajam dan sisa-sisa uap martabak dari acara syukuran tadi masih menggantung di udara.

Di sudut ruangan, sebuah cermin besar yang biasa digunakan para mekanik untuk merapikan helm kini menangkap pantulan dua insan yang baru saja melewati badai besar.

Juna masih berdiri di sana, mendekap Cantik dari belakang. Ia menatap layar ponselnya, memandangi foto mirror selfie yang baru saja ia unggah dan menjadi buah bibir satu Indonesia.

Dalam foto itu, Juna tampak begitu "berantakan"—kaos hitamnya penuh noda oli, wajahnya dicoreng warna hitam legam hasil kerja keras seharian.

Namun, matanya berkilat penuh kemenangan. Di pelukannya, Cantik tampak begitu mungil dengan hoodie merah cerah. Matanya yang sembap dan hidungnya yang memerah menceritakan segalanya: rasa haru, rasa syukur, dan rasa cinta yang akhirnya menemukan pelabuhan yang tepat.

"Jun..." bisik Cantik, memecah keheningan.

"Pertanyaan Papa tadi... bener-bener bikin gue sadar. Kita belum selesai."

Juna mengendurkan pelukannya sedikit, lalu memutar tubuh Cantik agar menghadapnya. Ia mengusap sisa air mata di sudut mata Cantik dengan ibu jarinya yang, secara ajaib, sudah ia bersihkan dengan sabun khusus.

"Gue tahu, Sayang. Restu dari keluarga gue itu cuma setengah perjalanan. Sekarang pertanyaannya: gimana sama 'benteng' di rumah lu?"

Cantik menghela napas panjang. Pikirannya melayang pada sosok ayahnya, Pak Surya, seorang pensiunan pejabat bank yang sangat menjunjung tinggi etika dan tata krama.

Bagi ayahnya, pernikahan bukan sekadar penyatuan dua hati, tapi penyatuan dua martabat.

Satria dulu adalah menantu idaman ayahnya; mapan, sopan (di depan orang tua), dan memiliki jalur karier yang jelas.

Kejadian pembatalan nikah sebulan lalu sudah cukup membuat Pak Surya jatuh sakit karena malu. Dan sekarang, putri kesayangannya malah muncul di trending topic nasional, berpelukan dengan adik kandung dari pria yang hampir menghancurkan hidupnya.

"Papa gue pasti udah liat postingan lu, Jun," ujar Cantik lirih.

"Tadi ada sepuluh panggilan tak terjawab dari rumah. Gue takut... gue takut mereka nganggep gue cuma mau balas dendam dengan cara yang murahan."

Juna terdiam sejenak. Ia menyandarkan tubuhnya pada meja kerja yang penuh dengan kunci pas. Sisi ugal-ugalannya sesaat memudar, berganti dengan sorot mata dewasa yang tajam.

"Kak, dengerin gue. Gue nggak akan biarin lu sendirian ngadepin mereka. Kalau perlu, malam ini juga gue dateng ke sana. Pake motor ini, pake kaos ini, biar mereka tahu siapa gue sebenernya."

"Jangan gila, Jun! Papa gue nggak bakal suka liat lu berantakan begini!"

"Justru itu kuncinya," Juna menyeringai tipis.

"Gue nggak mau dateng pake jas pinjeman cuma buat pura-pura jadi orang lain. Gue mau mereka liat pria yang udah bikin lu senyum lagi setelah lu hampir mati rasa."

Pukul 21.00 WIB. Motor sport Juna berhenti tepat di depan rumah megah bergaya kolonial milik keluarga Cantik.

Juna tidak berganti pakaian. Ia hanya mencuci wajah dan tangannya, namun noda oli yang sudah meresap ke pori-pori kaos hitamnya tetap ada. Ia ingin kejujuran.

Cantik turun dari boncengan dengan kaki

yang gemetar. Ia masih mengenakan hoodie merah yang sama dengan di foto viral itu. Pintu depan terbuka bahkan sebelum mereka sempat memencet bel.

Di sana, Pak Surya berdiri dengan wajah yang sangat kaku. Di sampingnya, Ibu Cantik tampak cemas dengan mata yang sembap. Suasana mendadak menjadi sangat tegang, lebih mencekam daripada "sidang" di rumah Juna tadi sore.

"Masuk," suara Pak Surya dingin, hampir seperti es.

Di ruang tamu, suasana semakin panas. Di atas meja jati, ponsel Pak Surya tergeletak dengan layar yang masih menampilkan foto mirror selfie Juna dan Cantik. Foto yang diambil di bengkel, tempat yang menurut standar Pak Surya, bukan tempat yang layak untuk putrinya.

"Jadi ini alasan kamu memblokir nomor Satria seminggu terakhir?" tanya Pak Surya tanpa basa-basi.

"Kamu lari ke adiknya? Kamu tahu betapa memalukannya ini bagi keluarga kita, Cantik? Seluruh teman Papa bertanya-tanya, apa kamu sudah kehilangan akal sehat?"

Cantik baru saja hendak menjawab, tapi Juna lebih cepat. Ia berdiri dari kursinya, memberikan hormat yang sangat sopan namun tetap tegas.

"Om, maaf kalau kehadiran saya menyinggung perasaan Om dan Tante," mulai Juna. Suaranya rendah dan stabil.

"Saya tahu, bagi Om, saya cuma 'bocah bengkel' yang kebetulan adiknya pria brengsek itu. Tapi saya ke sini bukan buat minta maaf karena udah cinta sama anak Om."

Pak Surya menatap Juna dengan hina. "Kamu masih kecil, Nak. Kamu tahu apa soal masa depan? Cantik butuh perlindungan, butuh kemapanan. Bukan cuma diajak keliling kota pake motor berisik dan tidur di bau bensin."

Juna merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah map kecil yang berisi salinan kontrak internasional yang baru saja ia tanda tangani. Ia meletakkannya di atas meja.

"Ini masa depan saya, Om. Saya nggak dapet ini dari Papa saya. Saya dapet ini dari keringat saya sendiri. Dan yang lebih penting dari kertas ini..." Juna menatap Cantik dengan penuh kasih.

"...adalah kenyataan kalau saya bisa bikin Cantik bahagia tanpa harus pura-pura jadi orang suci kayak Bang Satria."

Juna menatap Pak Surya lurus di matanya.

"Bang Satria emang mapan, Om. Tapi dia penipu. Mas Adrian juga mapan, tapi dia sombong. Saya? Saya mungkin kotor karena oli, tapi saya nggak pernah sekali pun punya niat buat bohongin perasaan Cantik. Saya serius mau nikahin dia, Om. Bukan bulan depan, bukan tahun depan, tapi saat saya udah bisa bangun rumah dari hasil bengkel saya sendiri."

Pak Surya terdiam cukup lama. Ia membaca sekilas kontrak di depannya, lalu beralih menatap putrinya.

Ia melihat Cantik—gadisnya yang sebulan lalu hanya bisa mengurung diri di kamar sambil menangis—kini berdiri tegak di samping Juna dengan mata yang bercahaya. Ada keberanian di wajah Cantik yang belum pernah ia lihat selama bertahun-tahun.

"Pa..." suara Cantik lembut namun mantap.

"Aku nggak pernah merasa seberharga ini saat sama Mas Satria. Sama Juna, aku ngerasa... aku ngerasa hidup lagi. Tolong, jangan hukum Juna atas kesalahan kakaknya."

Ibu Cantik yang sedari tadi diam, akhirnya mendekat dan memegang pundak suaminya.

"Pa, liat Cantik. Dia senyum lagi. Bukannya itu yang kita mau selama ini?"

Pak Surya mengembuskan napas berat. Ia menatap Juna dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Kamu bilang mau bangun rumah sendiri? Tanpa bantuan orang tuamu?"

"Satu persen pun nggak akan saya minta dari Papa, Om," jawab Juna mantap.

"Kalau begitu, buktikan," ujar Pak Surya akhirnya. Suaranya masih kaku, tapi tidak sedingin tadi.

"Papa belum kasih restu sepenuhnya. Tapi Papa kasih kamu kesempatan buat nunjukin kalau kamu emang beda dari kakakmu. Tapi inget satu hal, Juna..."

Pak Surya berdiri, menunjuk dada Juna dengan telunjuknya.

"...sekali saja kamu bikin anak saya nangis karena pengkhianatan, Papa sendiri yang bakal ratain bengkel kamu itu."

Juna tersenyum—senyum nakal yang penuh keyakinan.

"Siap, Om. Saya terima tantangannya. Tapi kalau saya berhasil, Om harus siap-siap manggil saya 'Menantu Idaman'."

Mereka keluar dari rumah itu saat tengah malam hampir menyapa. Di bawah temaram lampu jalan, Juna menarik Cantik ke dalam pelukannya kembali. Ia mencium puncak kepala Cantik yang tertutup hoodie merah itu.

"Gimana, Nyonya Juna? Udah tenang?" goda Juna.

Cantik tertawa kecil, membenamkan wajahnya di dada Juna.

"Lu emang ugal-ugalan banget ya, Jun. Berani banget nantang bokap gue kayak gitu."

"Kalau nggak ugal-ugalan, bukan Juna namanya," sahutnya sambil menghidupkan mesin motor.

"Ayo balik. Besok pagi kita ada banyak motor yang harus dimodif. Masa depan kita nggak bakal bangun sendiri kalau kita cuma pelukan di sini."

Motor sport hitam itu pun melesat, meninggalkan jejak suara yang menggelegar di perumahan elit yang sunyi itu. Sebuah suara yang melambangkan kebebasan, kemandirian, dan sebuah cinta yang tidak lagi peduli pada status sosial.

Malam itu, di bawah langit Jakarta, Cantik sadar bahwa ia tidak hanya mendapatkan seorang pacar brondong; ia mendapatkan seorang pejuang yang siap menghancurkan dunia demi senyumnya.

1
Yasa
Ceritanya kocagggg, konfliknya pas, ga bertele-tele, sat set kaya Juna. wkwk
D_wiwied
langsung serangan balik ya Jun, gaskeun Jun tunjukkan ke mereka mumpung ada penonton gratis di depan mata, sirik2 dah mereka biar sekalian kejang2 🤭😆🤣🤣
D_wiwied
ga ada kapok2 nya ya mereka ini, udah dipermalukan koq ya ttp ga sadar
D_wiwied
kan emang bang Sat kakakmu satu itu Jun 🤭🤣🤣
Dian Fitriana
update
Ganis
idih najong. PD banget sampean
Senja_Puan: Juna dong🤣
total 1 replies
Ganis
Kalah itu sama seblak juga
Ganis
Juna bener-bener bikin senyum-senyum 😄
Senja_Puan: iya kan kak🤭
total 1 replies
Ganis
Good Thor, ngakak🤣
Anisa675
Ya tuhan, masih mikirin rendang🤣 Bangke banget
Senja_Puan: Alasan Juna itu kak🤭
total 1 replies
Anisa675
bengek Juna🤣
Anisa675
anjay lngsung live stream🤣
Senja_Puan: Mantap ga tuh😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!