Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelaparan yang Membakar Akal Sehat
Fajar belum sepenuhnya memecah kegelapan di ufuk timur Kota Ironforge, namun Yang Chen sudah terbangun.
Bukan suara ayam berkokok yang membangunkannya, melainkan rasa lapar.
Rasa lapar ini tidak wajar. Itu bukan sekadar perut kosong yang meminta nasi. Itu adalah jeritan sel-sel tubuh yang panik. Inti Monster Rock Python yang kini bersarang di perut bawah Yang Chen bekerja layaknya tungku pembakaran raksasa yang terus-menerus menyedot nutrisi dari darah dan daging inangnya.
Yang Chen mencengkeram perutnya. Wajah pemuda itu pucat pasi, keringat dingin membasahi dahi.
"Sialan..." umpat Yang Chen dengan suara parau. "Inti ini lebih rakus dari dugaanku."
Jika Yang Chen tidak segera mengisi perutnya dengan daging berenergi tinggi, Inti Monster itu akan mulai memakan otot-otot tubuh Zhao Wei sendiri sebagai bahan bakar. Itu disebut Devouring Backlash—pemangsa yang dimangsa oleh kekuatannya sendiri.
Yang Chen memaksa tubuhnya bangkit dari kasur jerami.
Gerakannya terasa berat, namun padat. Saat telapak kaki Yang Chen menyentuh lantai kayu, terdengar bunyi buk yang solid. Berat badan tubuh ini bertambah setidaknya lima kilogram dalam semalam, bukan karena lemak, tapi karena pemadatan massa tulang dan otot akibat efek Stone Skin (Kulit Batu).
Sang mantan Kaisar berjalan menuju meja kecil di sudut kamar. Di sana ada sisa air dingin di dalam teko retak. Yang Chen menenggak air itu langsung dari corong teko.
Air dingin itu menguap seketika saat masuk ke lambung, tidak menyisakan rasa kenyang sedikitpun.
"Harus pergi. Sekarang," putus Yang Chen.
Yang Chen merapikan jubah hitamnya. Tudung kepala ditarik menutupi wajah. Kotak beludru bekas Inti Monster dan sisa uang emas diselipkan aman di balik baju, menempel pada kulit dada yang kini terasa keras seperti ban berjalan.
Yang Chen melangkah keluar kamar, meninggalkan tong kayu yang pecah dan lantai yang rusak tanpa menoleh lagi. Biarlah pemilik penginapan menganggap kerusakan itu ulah tikus raksasa atau hantu.
Di meja resepsionis lantai bawah, pria tua bermata satu masih tertidur dengan mulut terbuka, mendengkur keras. Yang Chen meletakkan kunci besi di atas meja dengan hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi. Sang pemuda tidak ingin membuang waktu meladeni pertanyaan atau tuntutan ganti rugi.
Yang Chen melenyapkan diri ke dalam kabut pagi jalanan distrik kumuh.
Tujuan Yang Chen bukan pasar makanan. Makanan manusia biasa—nasi, gandum, sayur—tidak akan cukup. Yang Chen membutuhkan Essence Flesh. Daging monster.
Dan tempat terdekat untuk mendapatkannya secara gratis adalah Hutan Kabut (Misty Forest), yang terletak lima kilometer di utara gerbang kota.
Perjalanan menuju gerbang utara adalah siksaan tersendiri.
Setiap langkah yang diambil Yang Chen membutuhkan kendali penuh. Inti Monster di perutnya terus berdenyut, mengirimkan gelombang panas yang membuat pandangan Yang Chen sesekali kabur menjadi merah. Insting hewan buas dari Rock Python itu mencoba mengambil alih, membisikkan dorongan untuk menyerang siapa saja yang lewat.
Saat Yang Chen berpapasan dengan seekor anjing liar di pinggir jalan, anjing itu langsung lari terbirit-birit sambil melolong ketakutan. Hewan itu bisa mencium bau predator puncak yang memancar dari tubuh Yang Chen.
"Tenang," perintah Yang Chen pada gejolak di perutnya. "Kau hanyalah baterai. Jangan bertingkah seperti majikan."
Akhirnya, tembok raksasa Gerbang Utara terlihat.
Gerbang ini berbeda dengan Gerbang Barat tempat Yang Chen masuk kemarin. Gerbang Utara dijaga lebih ketat. Ini adalah pintu keluar menuju wilayah liar. Orang-orang yang lewat sini bukan pedagang sayur, melainkan kelompok pemburu (Hunter Squad), tentara bayaran, dan petualang yang mencari peruntungan.
Yang Chen antre di belakang rombongan pemburu yang berisik.
Kelompok di depan Yang Chen terdiri dari lima orang pria kekar yang membawa kapak dan busur besar. Mereka tertawa-tawa membicarakan wanita dan arak, bau alkohol masih tercium dari napas mereka.
"Hei, lihat si kecil di belakang itu," salah satu pemburu yang botak menyenggol temannya, melirik Yang Chen. "Sendirian? Pakai jubah hitam kedodoran? Apa dia mau bunuh diri di hutan?"
"Mungkin dia patah hati dan mau memberi makan serigala," sahut temannya tertawa.
Yang Chen tidak merespons. Sang pemuda menundukkan kepala, menyembunyikan mata yang mulai berubah warna menjadi kekuningan karena lapar. Jika Yang Chen mengangkat wajah, para pemburu itu mungkin akan kencing di celana melihat tatapan predator di mata Yang Chen.
Giliran Yang Chen tiba di depan penjaga gerbang.
Penjaga itu, seorang prajurit paruh baya dengan tombak panjang, menatap Yang Chen curiga.
"Biaya keluar satu keping tembaga," kata penjaga itu. "Dan peringatan: Jika kau mati di luar sana, kami tidak akan mengurus mayatmu."
Yang Chen menjentikkan keping tembaga ke udara. Penjaga itu menangkapnya.
Tanpa sepatah kata pun, Yang Chen melangkah melewati garis batas gerbang.
Udara berubah seketika.
Di dalam tembok, udara berbau manusia dan asap dapur. Di luar tembok, udara berbau tanah basah, getah pinus, dan... darah samar yang terbawa angin.
Jantung Yang Chen berdegup kencang, kali ini bukan karena sakit, tapi karena kegembiraan. Alam liar adalah rumah bagi yang kuat. Di sini, tidak ada hukum kerajaan. Tidak ada sopan santun palsu seperti di Rumah Lelang. Di sini, aturannya sederhana: Memakan atau dimakan.
Yang Chen mempercepat langkahnya. Dari berjalan cepat, lalu berubah menjadi lari kecil (jogging).
Jalan setapak menuju hutan mulai sepi. Rumput liar tumbuh semakin tinggi di kiri kanan jalan. Pohon-pohon besar mulai menjulang, menghalangi sinar matahari pagi.
Satu kilometer. Dua kilometer.
Yang Chen mulai merasakan perubahan pada fisiknya. Dulu, berlari seratus meter saja membuat Zhao Wei (pemilik tubuh asli) sesak napas. Sekarang, Yang Chen sudah berlari dua kilometer tanpa henti, dan napasnya masih teratur.
Inti Monster di perutnya berhenti memberontak saat Yang Chen mulai bergerak aktif. Energi Earth mengalir ke kaki Yang Chen, memberikan stamina yang seolah tak terbatas. Setiap pijakan kaki Yang Chen meninggalkan jejak yang dalam di tanah keras, tanda betapa berat dan kuatnya langkah kaki itu sekarang.
Akhirnya, Yang Chen sampai di Tepi Hutan Kabut.
Pohon-pohon di sini tingginya mencapai tiga puluh meter. Batangnya berlumut tebal. Kabut putih abadi melayang-layang di antara pepohonan, membatasi jarak pandang hanya sekitar sepuluh meter.
Yang Chen berhenti sejenak di perbatasan hutan.
"Makan siang," gumam Yang Chen, lidahnya membasahi bibir yang kering.