Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Mungkin Saja ..
"Mungkinkah kemiskinan dan harga diri yang berdarah-darah itu yang membuatmu membangun tembok baja ini? Jika koin dan lembaran uangku kau anggap sebagai belati yang menghinamu, maka mungkin saja... ada jalan lain. Jika aku tak diizinkan menyelamatkan perutmu dari rasa lapar, biar aku mencoba menyelamatkan masa depanmu. Dengan ketulusan yang tak bisa kau beli, dan tak perlu kau bayar." (Buku Harian Keyla, Halaman 82)
Dua minggu telah menguap sejak insiden di koridor perpustakaan itu. Dua minggu yang kujalani layaknya seorang narapidana yang sedang menghitung hari di dalam sel isolasi yang gelap dan kedap suara.
Aku menepati janjiku. Aku benar-benar membunuh eksistensiku di hadapannya.
Aku tidak lagi memutar leherku ke belakang saat jam pelajaran kosong. Aku tidak lagi mencuri pandang melalui pantulan kaca jendela. Aku berjalan melewatinya di lorong tanpa memperlambat langkah, seolah ia benar-benar tak kasatmata. Aku mengunci rapat bibirku, tak pernah lagi mengucapkan kata sapaan, bahkan saat kami tak sengaja berpapasan di pintu kelas.
Aku membiarkan Rendi tenggelam kembali ke dalam kesunyiannya yang absolut.
Namun, sungguh, berpura-pura tidak peduli pada seseorang yang merajai seluruh isi kepalamu adalah pekerjaan paling melelahkan di dunia. Dari luar, aku terlihat seperti Keyla yang sudah move on, Keyla yang kembali tertawa bersama Lidya dan Bella, Keyla yang tersenyum saat Indra membawakan makanan ke kelas. Siska bahkan beberapa kali memujiku, mengira racun nasehatnya telah berhasil mencuci otakku sepenuhnya.
Mereka tidak tahu bahwa di balik tawa renyahku, telingaku selalu terpasang tajam untuk menangkap suara embusan napasnya di belakangku. Mereka tidak tahu bahwa setiap kali aku memakan bekalku, aku harus menahan air mata membayangkan perutnya yang mungkin sedang melilit perih.
Waktu bergulir memasuki akhir bulan November. Langit Jakarta semakin sering menangis, sejalan dengan tekanan akademis yang semakin mencekik leher kami. Ujian Akhir Semester (UAS) ganjil untuk kelas dua belas tinggal menghitung hari. Ujian ini sangat krusial karena nilainya akan menjadi komponen penentu kelulusan dan pendaftaran universitas jalur undangan.
Suasana kelas XII-IPA 1 yang biasanya diwarnai canda tawa kini berubah menjadi sangat tegang. Semua orang sibuk membolak-balik buku tebal, berlomba-lomba membedah soal-soal try out tahun lalu.
Semua orang, kecuali Rendi.
Hari itu, hujan turun rintik-rintik sejak pagi. Bu Endang, wali kelas kami sekaligus guru Fisika yang terkenal tanpa kompromi, masuk ke kelas dengan membawa setumpuk kertas hasil try out Fisika yang diadakan minggu lalu. Wajah Bu Endang terlihat sangat muram. Beliau meletakkan tumpukan kertas itu di atas mejanya dengan bunyi bantingan yang cukup keras, membuat seisi kelas langsung terdiam kaku.
"IBU SANGAT KECEWA DENGAN HASIL UJIAN TRY OUT KELAS INI!," suara Bu Endang menggelegar, memecah suara rintik hujan. "Ada beberapa dari kalian yang nilainya ANJLOK PARAH!. Ibu tidak habis pikir, sebentar lagi kalian ujian penentuan, tapi masih ada yang bersantai-santai seolah masa depan kalian sudah terjamin!"
Bu Endang mulai membagikan kertas ulangan itu satu per satu. Bella mendesah lega saat melihat angka 75 di kertasnya. Lidya tersenyum puas dengan nilai 82 miliknya. Siska, seperti biasa, mendapatkan nilai nyaris sempurna, 95. Aku sendiri mendapatkan nilai 88, cukup aman.
Namun, ketegangan belum berakhir. Bu Endang menghentikan langkahnya tepat di barisan kami. Beliau memegang selembar kertas terakhir dengan rahang yang mengeras. Mata Bu Endang menatap tajam ke arah sudut paling belakang kelas.
"Rendi," panggil Bu Endang. Nada suaranya bukan lagi kekecewaan, melainkan sebuah peringatan keras.
Aku menahan napas. Jantungku seketika berdegup kencang. Aku menunduk, menatap kertas ulanganku sendiri, tapi seluruh indraku terpusat ke arah belakang.
Terdengar suara derit kursi yang ditarik. Rendi berdiri. Ia tidak mengucapkan apa-apa. Langkahnya yang pelan dan terseret membawanya maju ke depan kelas untuk mengambil kertas ulangannya.
"Kamu lihat nilaimu?" tanya Bu Endang tajam saat Rendi berdiri di hadapannya. Beliau sengaja tidak merendahkan suaranya, membuat seluruh kelas bisa mendengar dengan jelas. "Dua puluh delapan, Rendi. Dua puluh delapan dari skala seratus! Ini nilai terburuk sepanjang sejarah mengajar Ibu di kelas IPA 1!"
Suara bisik-bisik langsung memenuhi ruang kelas. Deandra yang duduk di barisan depan sebelah kiri sengaja tertawa pelan dan mencibir, "Udah kuduga. Modal tampang sangar doang, otak mah nol besar."
Tanganku di bawah meja mengepal kuat mendengar cibiran Deandra.
"Apa yang terjadi denganmu, Nak?" Bu Endang melanjutkan, kali ini nadanya sedikit melunak, menyiratkan keprihatinan seorang guru. "Dulu kelas sebelas nilaimu selalu di atas rata-rata. Tapi semester ini? Kamu selalu tidur di kelas. Tugas banyak yang kosong. Kalau nilai UAS kamu besok hancur seperti ini, Ibu tidak bisa menolongmu lagi. Kamu tidak akan bisa lulus dengan nilai seperti ini, apalagi bermimpi mendapatkan beasiswa kuliah. Beasiswa bantuan sekolahmu juga bisa dicabut jika prestasimu anjlok."
Kalimat terakhir Bu Endang adalah hantaman godam yang tak kasatmata.
Beasiswa dicabut. Tidak lulus. Duniaku serasa berputar. Jika Rendi kehilangan beasiswanya, ia harus membayar uang sekolah penuh yang jelas tak akan pernah mampu ia lunasi. Jika ia tidak lulus, ia hanya akan berakhir menjadi kuli panggul seumur hidupnya, terjebak dalam rantai kemiskinan yang akan mencekik Nanda juga.
Aku memberanikan diri melirik ke depan. Rendi berdiri kaku mematung. Wajahnya pucat pasi. Ia menerima kertas ulangan itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Kertas putih dengan angka 28 berwarna merah besar itu ia remas pelan di ujungnya.
Ia tidak membela diri. Ia tidak mengatakan bahwa ia tidur di kelas karena semalaman ia harus mencuci piring demi makan. Ia tidak mengatakan bahwa ia tak punya waktu membuka buku karena ia harus menghitung uang receh untuk Nanda. Ia menelan semua penghinaan dan penghakiman itu dalam diam.
"Maaf, Bu," hanya dua kata itu yang keluar dari bibirnya. Suaranya serak, terdengar sangat hampa dan putus asa.
Ia berbalik dan berjalan kembali ke kursinya. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam.
Siska yang duduk di sebelahku mencondongkan tubuhnya ke arahku. "Lihat kan, Key?" bisik Siska dengan sangat pelan, suaranya dipenuhi bisa yang menyakitkan. "Orang malas memang akhirnya akan hancur. Dia sibuk menyalahkan dunia atas kemiskinannya, sampai dia lupa menggunakan otaknya sendiri. Untung kamu udah menjauh dari dia. Bayangkan malunya kalau kamu berpacaran dengan cowok ber-IQ jongkok seperti itu."
Untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku merasakan kebencian yang mendidih pada sahabatku sendiri. Aku menatap Siska dengan sorot mata yang menajam.
"Dia nggak malas, Sis," desisku tertahan, suaraku bergetar menahan amarah. "Kamu nggak tahu apa-apa soal hidupnya, jadi tolong... diam."
Siska terlihat sedikit terkejut melihat reaksi kerasku, namun ia dengan cepat menguasai diri. Ia tersenyum tipis dan kembali menghadap ke depan, seolah sikapku barusan hanyalah luapan emosi sesaat.
Sepanjang sisa jam pelajaran, aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Pikiranku berkecamuk. Vonis Bu Endang terus terngiang di kepalaku. Rendi berada di ujung jurang. Ia tidak mungkin punya uang untuk ikut bimbingan belajar seperti Indra atau Deandra. Ia bahkan mungkin tak sanggup membeli buku latihan soal yang baru.
Malam harinya, di kamarku yang tenang, aku menangis tersedu-sedu. Aku menatap buku-buku pelajaran tebal di atas meja belajarku. Aku memikirkan Rendi.
Dia membencimu, Keyla. Dia menyuruhmu pergi, logika kecilku mengingatkan. Ingatan tentang bagaimana ia membuang suratku dan membentakku di perpustakaan masih meninggalkan rasa perih yang nyata.
Namun, bagaimana aku bisa menutup mata saat melihatnya akan tenggelam? Aku tak bisa memberinya uang. Aku tak bisa membelikannya makanan karena itu hanya akan melukai harga dirinya yang sangat tinggi. Tapi ini soal akademis. Ini soal nilai dan masa depannya.
Mungkin saja... gumamku dalam hati, sebuah harapan kecil kembali menyala di tengah keputusasaan. Mungkin saja ia mau menerima bantuan jika bentuknya adalah ilmu, bukan uang. Belajar bersama bukanlah sedekah. Ini tidak akan melukai harga dirinya sebagai laki-laki miskin, kan? Karena di hadapan pelajaran, kami hanyalah dua orang siswa biasa.
Aku menghapus air mataku dengan kasar. Tekadku sudah bulat. Persetan dengan egoku yang terluka. Persetan dengan permintaannya agar aku menjauh. Aku tidak akan membiarkan Nanda kehilangan harapan hanya karena kakaknya gagal lulus sekolah. Aku akan menelan ludahku sendiri, menghancurkan sisa harga diriku untuk mengemis padanya sekali lagi agar ia mau dibantu.
Malam itu, aku begadang hingga pukul tiga pagi. Aku menyalin seluruh catatan penting, rumus-rumus cepat, dan ringkasan materi dari enam mata pelajaran utama ke dalam sebuah buku binder baru. Aku merangkumnya dengan bahasa yang paling mudah dipahami, memberikan stabilo pada poin-poin krusial.
Ini bukan hadiah mahal. Ini murni hasil jerih payahku yang ingin kubagikan padanya.
Keesokan harinya, sepulang sekolah, hujan lebat kembali mengguyur bumi. Sebagian besar siswa tertahan di koridor atau di kantin, menunggu hujan reda. Lidya dan Bella sudah dijemput oleh mobil orang tua mereka yang menerjang hujan. Indra sempat menawariku tumpangan pulang, namun aku menolaknya dengan alasan aku harus menyelesaikan tugas mading kelas terlebih dahulu. Siska menatapku curiga, tapi aku berhasil meyakinkannya untuk pulang duluan bersama Lidya.
Kini, di kelas XII-IPA 1, hanya tersisa dua orang.
Aku. Dan Rendi.
Rendi duduk di bangkunya. Ia tidak sedang tidur. Ia menatap ke luar jendela yang buram oleh air hujan. Wajahnya menyiratkan kebingungan yang putus asa. Ia tahu ia harus segera berangkat kerja, menjadi kuli panggul di tengah hujan badai ini, namun di sisi lain ia juga tahu bahwa nilai 28-nya akan menjadi belati yang membunuh masa depannya jika ia tak segera belajar.
Tanganku gemetar. Aku meremas ujung binder tebal yang baru saja kuselesaikan semalam. Aku menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh sisa keberanian yang kumiliki, lalu bangkit dari kursiku.
Aku berjalan melangkah ke arah belakang. Suara sepatuku yang beradu dengan lantai keramik memecah keheningan kelas.
Mendengar langkah kaki mendekat, Rendi menoleh. Saat ia menyadari bahwa akulah yang sedang berjalan ke arah mejanya, raut wajahnya yang putus asa seketika mengeras. Benteng esnya kembali terbangun dengan kecepatan cahaya. Matanya menatapku dengan peringatan tajam, menyuruhku mundur.
Namun aku tidak mundur. Aku berhenti tepat di depan mejanya. Jarak kami kembali menipis.
Hening sejenak. Hanya suara derau hujan yang mengisi ruang di antara kami. Rendi menatapku dengan tatapan mematikan, dada bidangnya naik turun menahan amarah yang siap meledak kapan saja karena aku berani melanggar batasannya.
"Kamu tuli, Keyla?" suara Rendi memecah keheningan. Nadanya sangat rendah, serak, dan penuh bisa. "Atau kamu memang tidak punya urat malu? Saya sudah bilang jangan pernah mendekati saya lagi."
Tusukan pertama berhasil membuat mataku memanas, namun aku menahan air mataku sekuat tenaga. Aku menatap langsung ke dalam mata elangnya, menolak untuk menunduk atau terlihat memelas.
"Aku nggak tuli, Ren. Dan mungkin aku emang udah nggak punya urat malu," balasku dengan suara bergetar, namun penuh ketegasan.
Aku meletakkan binder tebal berwarna biru dongker itu ke atas mejanya. Rendi menatap binder itu dengan kening berkerut dalam, curiga bahwa aku kembali menyelipkan uang di dalamnya.
"Aku tahu kamu benci aku," ucapku pelan, mataku tak lepas dari wajahnya. "Aku tahu kamu menganggap aku anak orang kaya yang manja dan suka ikut campur. Aku janji, ini yang terakhir kalinya aku ganggu hidup kamu. Setelah UAS selesai, aku nggak akan pernah noleh ke arahmu lagi."
Rendi terdiam. Ia menatap mataku, mencoba mencari tahu apa yang sedang kurencanakan. "Apa ini?" desisnya menunjuk binder itu tanpa menyentuhnya.
"Itu rangkuman semua materi dari semester satu. Semuanya udah aku rangkum pakai poin-poin singkat biar kamu nggak perlu baca buku cetak yang tebal," jelasku dengan napas tertahan.
"Ambil kembali," tolak Rendi seketika, suaranya tak terbantahkan. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela. "Saya nggak butuh belas kasihan akademis dari kamu. Kamu pikir saya sebodoh itu sampai harus mengemis catatan pada perempuan?"
"Ini bukan belas kasihan!" sergahku, suaraku sedikit meninggi, membiarkan setetes air mata lolos. "Ini kerja keras. Ini nggak ada hubungannya sama uang atau kemiskinan kamu! Di sekolah ini, kita sama-sama siswa. Waktu kamu habis buat kerja, aku tahu. Kamu nggak punya waktu buat ngerangkum. Anggap aja aku teman sekelas yang kebetulan minjemin catatannya."
Rendi menoleh kembali menatapku. Rahangnya berkedut marah. "Saya tidak pernah menganggapmu teman sekelas."
"Bagus!" balasku cepat, menahan isak tangisku. "Anggap aku musuhmu kalau perlu. Tapi kumohon, kali ini aja, kesampingkan harga diri kamu yang kaku itu! Nilai kamu 28, Rendi! Kalau kamu gagal lulus, kalau beasiswa kamu dicabut... siapa yang bakal ngurus Nanda?!"
Kata 'Nanda' bekerja layaknya pelatuk senjata.
Mata Rendi melebar sempurna. Ia berdiri dari kursinya dengan kasar, mendorong mejanya hingga berdecit nyaring. Ia memajukan tubuhnya, menatapku dari atas dengan kilat amarah yang sangat mengerikan, mengintimidasiku hingga aku harus mundur selangkah.
"Jangan bawa-bawa nama adik saya dari mulutmu!" geram Rendi. Tangannya mencengkeram pinggiran meja dengan sangat kuat. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang dia!"
"Aku tahu bahwa dia butuh kakaknya lulus dan dapat kerja yang lebih baik!" bantahku dengan air mata yang kini mengalir deras. Aku tak peduli lagi pada rasa takut. "Kamu boleh siksa diri kamu sendiri, Ren! Kamu boleh jadi kuli atau badut seumur hidupmu buat nahan egomu! Tapi jangan seret adikmu ikut hancur cuma gara-gara kamu gengsi nerima bantuan rangkuman buku!"
Napas Rendi tersengal. Dadanya bergemuruh hebat. Kata-kataku menghantam titik terlemah di dalam jiwanya dengan telak. Ia menatapku seolah ia ingin mencekikku detik itu juga, namun di dasar matanya, aku melihat sebuah keputusasaan yang sangat dalam. Ia tahu bahwa setiap kata yang kuucapkan adalah kebenaran yang tak bisa ia sangkal. Ia memang berada di ujung tanduk.
"Aku nggak minta kamu berterima kasih," ucapku memohon, suaraku kini kembali melembut. "Aku juga nggak akan ngasih kamu uang lagi. Aku cuma nawarin satu hal: ayo belajar bareng."
Rendi terdiam mematung.
"Setengah jam," lanjutku cepat, menawarkan kompromi. "Setiap hari sepulang sekolah, kasih aku waktu setengah jam aja. Aku bakal jelasin poin-poin yang keluar di ujian. Habis itu kamu bebas pergi kerja. Kamu nggak perlu ngeluarin uang, kamu nggak perlu ngerasa berutang budi. Anggap aja kita barter. Kamu bantu aku dengerin hafalan aku, aku bantu kamu pahamin rumus. Setengah jam, Ren. Cuma sampai UAS selesai."
Hening yang menyiksa kembali menguasai ruang kelas. Hanya suara hujan di luar yang terdengar.
Rendi menatap binder biru di atas mejanya. Ia menatap tangannya sendiri yang kasar dan kapalan. Lalu ia menatap mataku yang sembab oleh air mata.
Ada perang besar di dalam kepalanya. Egonyanya, harga dirinya yang telah terluka berkali-kali oleh orang kaya, menolak keras tawaranku. Namun cintanya pada adiknya, ketakutannya akan masa depan Nanda jika ia sampai putus sekolah, memohon padanya untuk menurunkan senjatanya sejenak.
"Saya nggak bisa bayar waktu kamu," ucap Rendi akhirnya. Suaranya sangat pelan, sangat serak, dan penuh dengan kepahitan. Sebuah pengakuan akan ketidakberdayaannya.
"Aku nggak butuh bayaran," jawabku mantap, menghapus air mataku dengan punggung tangan. "Aku cuma butuh kamu lulus."
Mata elang itu menatapku dalam-dalam. Selama berminggu-minggu, ia selalu membuang muka. Namun kali ini, ia menatapku seolah sedang mencoba mencari niat busuk di balik permintaanku. Ia mencari-cari rasa iba yang merendahkan, namun ia hanya menemukan ketulusan yang keras kepala.
Rendi memejamkan matanya, menghela napas panjang yang terdengar seperti sebuah kekalahan yang teramat berat. Ia perlahan duduk kembali di kursinya.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia menarik binder biru dongker itu mendekat ke arahnya. Ia tidak membukanya, hanya membiarkannya berada di wilayahnya.
Ia tidak mengucapkan 'iya'. Ia tidak mengucapkan terima kasih. Namun fakta bahwa ia tidak melempar buku itu ke wajahku, adalah sebuah jawaban yang lebih dari cukup.
"Setengah jam," desis Rendi tanpa menatapku. Suaranya sedingin es, kembali membangun jarak. "Hanya untuk membahas materi ujian. Tidak ada obrolan lain. Tidak ada pertanyaan pribadi. Dan jangan pernah berani menatap saya dengan tatapan mengasihani itu."
Jantungku melonjak girang di dalam dadaku. Air mata kelegaan kembali menetes. Aku berhasil. Meski dengan syarat yang seketat penjara militer, aku berhasil membuka sedikit celah pada tembok bajanya.
"Setengah jam," anggukku cepat, tak mampu menyembunyikan senyum tulusku yang mengembang. "Nggak ada obrolan lain. Aku janji."
Rendi membuang muka ke arah jendela, menolak melihat senyumku. "Mulai besok. Hujan di luar sudah reda. Saya harus kerja."
Aku mengangguk. "Hati-hati di jalan, Ren."
Laki-laki itu bangkit, menyambar tas ranselnya dan binder biru itu, lalu berjalan meninggalkanku di dalam kelas yang sepi.
Aku menatap punggungnya yang menjauh. Mungkin saja... gumamku dalam hati dengan dada yang membuncah. Mungkin saja, meski kemiskinan telah membuat hatinya beku, ketulusan yang konsisten bisa meretakkannya.
Namun aku tidak tahu, bahwa di balik senyum kemenanganku sore ini, sebuah badai yang jauh lebih besar sedang bersiap untuk menghancurkan sisa-sisa kewarasanku di hari-hari mendatang. Siska, Deandra, dan duniaku yang terbiasa sempurna... tidak akan pernah membiarkanku mendekati gunung es itu dengan mudah.
semangat ya kak
so happy next cerita mereka dah dewasa
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik