NovelToon NovelToon
Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / CEO / Penyesalan Suami / Romantis / Romansa / Cintapertama
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Itz_zara

Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.

Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.

Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.

“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”

Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Rutinitas

Setelah kejadian tadi malam, Samira bangun seperti biasa.

Ia langsung menuju kamar mandi, membersihkan diri lebih lama dari biasanya seolah ingin menghapus sisa-sisa perasaan yang masih menempel di kulitnya. Air mengalir membasahi wajahnya, namun yang ingin ia bersihkan sebenarnya bukan tubuhnya… melainkan hatinya.

Selesai bersiap, ia turun ke dapur.

Pagi sudah agak siang, dan itu membuatnya memilih menu sederhana. Ia menyiapkan sandwich isi telur dan sayur untuk Binar, memanaskan susu hangat untuk putrinya, lalu menyeduh secangkir kopi hitam untuk Samudra kopi tanpa gula, seperti biasa. Pahit. Sama seperti hubungan mereka.

Setelah semuanya rapi di meja makan, Samira mengusap tangannya pada celemek, lalu naik ke lantai atas menuju kamar Binar.

Ia membuka pintu pelan.

“Selamat pagi, Bibi…” ucapnya lembut sambil duduk di tepi ranjang. “Bangun yuk, Nak. Kita sarapan sama Papa.”

Mendengar kata Papa, mata Binar langsung terbuka.

Wajah kecil itu seketika berseri.

“Papa?” tanyanya antusias, suaranya masih serak oleh kantuk.

Samira tersenyum tipis. “Iya, Papa di bawah.”

Binar langsung bangkit duduk, rambutnya berantakan, matanya masih setengah terpejam tapi senyumnya lebar.

“Bibi bangun, Ma!” serunya polos.

Samira terkekeh kecil. “Iya, sayang. Sekarang anak Mama yang pintar mandi dulu, ya. Kita siap-siap, habis itu baru sarapan sama Papa. Oke?”

“Okee!” jawab Binar semangat.

Samira membantu putrinya turun dari ranjang, lalu mengantarnya ke kamar mandi. Ia menyiapkan handuk kecil, sikat gigi, dan baju seragam dengan gerakan yang sudah sangat terbiasa gerakan seorang ibu yang hafal ritme kehidupan anaknya lebih dari siapa pun.

Beberapa menit kemudian, Binar sudah rapi. Rambutnya diikat dua, pita kecil menghiasi kanan kiri kepalanya. Ia tersenyum bangga melihat dirinya di cermin.

“Mama, Bibi cantik?”

Samira menatap pantulan putrinya dengan mata hangat. “Cantik banget. Paling cantik di sekolah.”

Binar terkikik malu, lalu memeluk kaki Samira.

“Ayo kita turun!” katanya bersemangat.

Mereka berjalan bergandengan tangan menuju ruang makan.

•••••

Tadi, saat mendengar suara samar dari kamar mandi, sebenarnya Samudra sudah terbangun.

Ia membuka mata sesaat, menatap langit-langit kamar yang masih remang. Ia tahu itu Samira. Ia mengenali suara langkahnya, suara air, bahkan ritme gerakannya—hal-hal kecil yang tak pernah ia akui ia perhatikan.

Namun ia memilih memejamkan mata lagi.

Bukan karena masih mengantuk.

Melainkan karena tak ingin berhadapan dengannya.

Baru setelah pintu kamar terbuka dan langkah Samira menjauh keluar, Samudra membuka matanya sepenuhnya. Ia menghela napas pelan, lalu bangkit dari ranjang. Tanpa berkata apa pun pada ruangan kosong itu, ia berjalan ke kamar mandi dan bersiap seperti biasa.

Saat keluar, ia mendapati setelan kerjanya sudah tergantung rapi di kursi.

Kemeja. Jas. Dasi. Bahkan jam tangan dan parfum sudah tersusun di meja.

Samudra terdiam sejenak.

Ia tahu siapa yang menyiapkannya. Tak mungkin siapa pun selain Samira.

Tangannya meraih kemeja itu. Jari-jarinya sempat berhenti di kerah yang disetrika sempurna. Tanpa sadar, pandangannya melunak sedikit.

Perempuan itu selalu seperti ini.

Diam.

Tak menuntut.

Tak meminta balasan.

Seolah keberadaannya memang hanya untuk memastikan hidup orang lain berjalan rapi.

Samudra mengenakan pakaiannya perlahan. Semua pas. Semua tepat. Bahkan pilihan dasinya pun sesuai dengan jadwal meeting hari ini warna gelap, formal, tegas.

Ia mengingat.

Ia tak pernah memberi tahu jadwalnya.

Artinya…

Samira memperhatikan.

Tanpa diminta.

Tanpa diketahui.

Tanpa diakui.

Samudra menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya tetap datar seperti biasa, tapi matanya… tidak sepenuhnya sama.

Ada sesuatu yang bergerak pelan di sana.

Sesuatu yang ia tekan dalam-dalam.

Ia meraih jam tangan, memakainya, lalu berjalan keluar kamar.

•••••

Saat turun ke bawah, Samudra mendapati meja makan sudah tertata rapi. Sandwich tersusun di piring saji, segelas susu hangat diletakkan di sisi kecil meja, dan secangkir kopi hitam mengepul pelan di dekat kursinya.

Namun Samira tidak ada di sana.

Samudra tak perlu bertanya. Ia sudah tahu.

Pasti perempuan itu sedang menyiapkan Binar untuk berangkat sekolah.

Ia menarik kursi, lalu duduk dengan tenang. Tangannya bertumpu di atas meja, matanya menatap hidangan di depannya tanpa benar-benar melihat. Rumah terasa sunyi, hanya suara samar langkah kecil dan suara lembut Samira dari lantai atas yang terdengar sesekali.

Ia tidak langsung menyentuh ponselnya.

Tidak juga membuka laptop.

Ia menunggu.

Beberapa menit kemudian, suara langkah kecil berlari terdengar dari tangga.

“Papaaa!”

Binar turun dengan tas sekolah yang hampir sebesar punggungnya. Wajahnya cerah seperti biasa. Di belakangnya, Samira menyusul dengan langkah tenang, memastikan pita rambut anak itu sudah rapi.

Samudra menoleh. Tatapannya langsung jatuh pada Binar, lalu tanpa sadar bergeser ke Samira.

Sepersekian detik.

Cukup lama untuk membuat Samira menyadarinya.

Ia refleks menunduk sedikit. “Maaf nunggu lama, Mas.”

Samudra menggeleng tipis. “Nggak.”

Satu kata. Pendek. Biasa.

Tapi tetap membuat Samira diam sesaat.

Mereka duduk.

Samira membantu Binar membuka bungkus sandwich, lalu meniup susu hangatnya agar tidak terlalu panas. Gerakannya telaten. Penuh perhatian. Tanpa suara.

Samudra memperhatikan.

Diam-diam.

Ia memperhatikan cara Samira menyeka remah roti di sudut bibir Binar. Cara perempuan itu tersenyum kecil saat anak itu bercerita. Cara tangannya refleks merapikan kerah seragam yang sedikit miring.

Hal-hal kecil.

Hal-hal yang selama ini tidak pernah ia lihat.

Atau mungkin… tidak pernah ia izinkan dirinya untuk melihat.

“Papa,” panggil Binar tiba-tiba.

“Hm?”

“Nanti Papa jemput aku?”

Samudra terdiam sebentar. Pertanyaan sederhana itu membuat udara terasa menggantung.

Biasanya jawabannya selalu sama: Papa kerja.

Namun kali ini, entah kenapa, ia tidak langsung menjawab.

Matanya justru beralih pada Samira.

Perempuan itu sedang menunduk, memotong sandwich menjadi ukuran kecil. Seolah ia tak ingin ikut campur. Seolah keputusan apa pun bukan urusannya.

Samudra kembali menatap Binar.

“Nanti Papa lihat jadwal dulu.”

Binar mengangguk ceria, seolah itu sudah cukup seperti janji pasti.

Samira sedikit mengangkat wajahnya.

Dan tanpa sengaja... mata mereka bertemu.

Hanya satu detik.

Namun cukup membuat napas Samira tercekat kecil.

Samudra yang pertama mengalihkan pandangan.

Ia meraih cangkir kopinya, menyesap pelan, lalu berkata datar...

“Nanti kalau keluar… kabarin.”

Kalimat itu jelas ditujukan padanya.

Samira menggenggam ujung rok rumahnya pelan. “Iya, Mas.”

Tak ada yang menyadari perubahan kecil itu.

Tak ada yang membicarakannya.

Namun pagi itu… jarak di antara mereka yang biasanya terasa sejauh langit dan bumi... sedikit berkurang.

Bukan karena cinta.

Belum.

Tapi karena untuk pertama kalinya Samudra mulai menunggu kehadiran Samira di meja makan.

•••••

Beberapa menit setelah mereka selesai sarapan, Samudra langsung berdiri. Ia meraih tas kerjanya yang sudah tersandar rapi di kursi, lalu mengambil kotak bekal yang sejak tadi diletakkan di sisi meja.

Ia tak pernah menolak bekal itu.

Bagi Samudra, masakan Samira selalu pas di lidahnya. Tidak berlebihan. Tidak aneh-aneh. Sederhana, tapi tepat. Seperti perempuan itu sendiri tenang, tidak menuntut, dan nyaris tak pernah menyusahkan.

Namun sebelum sempat melangkah pergi, seperti rutinitas setiap pagi...

Binar berlari kecil menghampirinya.

“Papa!”

Anak itu langsung memeluk pinggangnya erat.

“Selamat kerja, Papa!”

Samudra menunduk sedikit. Tangannya terangkat, lalu mendarat di kepala kecil itu. Mengusap pelan.

Setiap kali Binar melakukan itu, ada sesuatu yang terasa hangat di dadanya. Sesuatu yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Seolah semua beban, semua pikiran, semua tekanan dunia luar… berhenti sebentar hanya karena pelukan kecil itu.

Seolah ia pulang.

“Iya,” jawabnya pelan.

Binar tersenyum puas, lalu melepas pelukannya.

Samudra mengangkat pandangan.

Dan seperti biasa... tatapannya menemukan Samira.

Perempuan itu berdiri tak jauh dari meja makan. Tangannya saling menggenggam di depan perut. Sikapnya tenang, tapi jelas ada jarak tak kasat mata yang selalu ia jaga.

Samudra menatapnya beberapa detik.

Samira refleks menunduk sedikit. “Hati-hati di jalan, Mas.”

Nada suaranya lembut. Tidak manja. Tidak berharap dibalas.

Hanya… ucapan biasa seorang istri.

Samudra tak langsung menjawab. Rahangnya mengeras tipis, seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan namun tertahan di tenggorokan.

Akhirnya ia hanya mengangguk singkat.

“Iya.”

•••••

Hai Semuanya!

Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!

Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.

Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!

Terima Kasih!

1
Favmatcha_girl
akhirnya ya🥺
Favmatcha_girl
Betul itu😍
Favmatcha_girl
Biarin😝
Favmatcha_girl
Gak jadi kayaknya mah, anaknya lagi kecintaan🤭
Favmatcha_girl
Tumben amat🤭
Favmatcha_girl
Gampang ya nyuruh² orang😅
Favmatcha_girl
Huhuhu🥺 kasihan nya
Favmatcha_girl
Lagi bahagia sayang🥺
Favmatcha_girl
Lagi kasmaran mungkin😅
Favmatcha_girl
Masakin batu dan kayu aja🤭
Favmatcha_girl
Baik dong kan ajaran ibu yang baik😍
Favmatcha_girl
Anak lagi masa pertumbuhan🥺
Itz_zara: Iya nih makannya makan banyak
total 1 replies
Favmatcha_girl
Tumben ngomong maaf🤭
Itz_zara: Jarang ya😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gengsi aja digedhein😑
Itz_zara: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Emang cantik, baru tau ya, lo🤭
Itz_zara: Selama ini dia tutup mata🤭
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gas lah ma jodohin aja Samira sama duda kaya raya🤭
Itz_zara: Hahaha Duren kan ya🤭
total 1 replies
Favmatcha_girl
Rasain deh🤭 gak diinget anak
Itz_zara: Rasakan😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gemes banget si kamu😍
Itz_zara: Maacih🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Santai Pak jawabnya 😡
Itz_zara: Gak bisa😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Kasihan pasti dah anggap mantu kaya anak sendiri 🥺
Itz_zara: Udah sayang level tinggi kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!