Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Entah kenapa, tiba-tiba perut Prita merasakan perih yang luar biasa.
Rasa sakit itu datang mendadak, seperti diremas-remas dari dalam, membuat langkah kakinya yang semula bersemangat menuju warung ikan bakar langsung terhenti.
Wajahnya yang tadi berseri mendadak pucat pasi. Ia memegangi perut bagian atasnya sambil meringis kecil.
Abraham yang berjalan di sampingnya segera menyadari perubahan itu.
Ia langsung sigap memegang bahu Prita. "Kenapa, Prit? Wajah kamu pucat banget."
"Perutku, perih banget, Mas. Kayaknya maag-ku kumat," rintih Prita dengan suara tertahan.
Abraham mendesah khawatir. "Itu pasti gara-gara tadi sarapan cuma sedikit, terus minum kopi di mini market tadi."
Ia mengedarkan pandangan ke sekitar area pantai yang cukup terpencil itu.
"Kamu tunggu di sini, duduk di bawah pohon itu. Aku cari penjual obat maag dulu."
Abraham berlari kecil menuju deretan warung, bertanya dari satu kedai ke kedai lainnya.
Beruntung, ada satu pemilik warung yang menyimpan persediaan obat maag cair.
Setelah mendapatkannya, ia segera kembali dan membantu Prita meminumnya.
"Kita cari makanan lain saja ya, yang lebih lembut buat lambung kamu. Jangan makan ikan bakar dulu, apalagi bumbunya pedas begitu," ujar Abraham sambil mengusap peluh di dahinya.
Prita mengerucutkan bibirnya, meski sedang menahan sakit, sifat keras kepalanya muncul.
"Tapi Mas, aku mau ikan bakar. Kita kan ke sini jauh-jauh memang mau makan itu."
Abraham menggelengkan kepala dengan tegas. "Lain kali saja, Prit. Perut kamu sakit. Kalau dipaksakan makan yang pedas dan asam sekarang, nanti di jalan pulang kamu bisa makin parah. Aku nggak mau ambil risiko."
Prita terdiam, tidak mampu membantah lagi. Ada ketegasan dalam nada bicara Abraham yang justru membuatnya merasa sangat dilindungi.
"Terus kita makan apa?" tanya Prita pelan.
"Kita cari bubur atau nasi hangat dengan sop di jalan pulang nanti. Pokoknya yang aman buat perutmu," jawab Abraham sambil mulai merapikan barang-barang mereka. "Ayo, pelan-pelan. Kita pulang sekarang."
Sambil berjalan menuju parkiran motor, Prita menyadari bahwa rencana hidupnya yang ingin "sendiri saja" mulai goyah.
Ternyata, memiliki seseorang yang bisa bersikap tegas demi kebaikannya adalah perasaan yang sangat menenangkan.
Abraham melajukan motornya dengan sangat pelan, sebisa mungkin menghindari lubang agar guncangannya tidak membuat perut Prita semakin melilit.
Di sebuah persimpangan jalan menuju arah kota, ia berhenti di sebuah warung makan sederhana yang menyediakan menu sop ayam hangat.
Uap mengepul dari mangkuk yang disajikan di depan Prita.
Aroma kaldu ayam yang gurih dan jahe yang hangat terasa sangat menenangkan.
Abraham dengan sabar meniup-niup sesendok kuah sebelum memberikannya pada Prita.
"Ayo, dimakan pelan-pelan. Biar perutnya hangat dulu," ucap Abraham lembut.
Setelah beberapa suap masuk, Abraham menatap Prita dengan serius.
"Habis makan ini, kita ke mess sebentar ya."
Prita mengernyitkan dahi bingung. "Ke mess? Mau ngapain, Mas?"
"Aku ambil mobil kantor buat antar kamu pulang. Udara makin sore makin dingin, Prit. Aku nggak mau kamu makin sakit kalau kena angin motor lagi sepanjang jalan sampai ke rumah," jawab Abraham tegas.
Mendengar itu, pertahanan Prita runtuh. Rasa sakit di perutnya, rasa lelah, dan rasa haru karena diperlakukan dengan begitu istimewa oleh pria yang awalnya ia remehkan, bercampur menjadi satu.
Air matanya tiba-tiba menetes, jatuh tepat ke dalam mangkuk sop di depannya.
"Mas, maaf, aku malah merepotkan begini," ucap Prita terisak pelan.
"Harusnya hari ini kita senang-senang, tapi malah aku jadi beban buat Mas Abraham."
Abraham terdiam sejenak. Ia meletakkan sendoknya, lalu menarik beberapa lembar tisu untuk mengusap air mata di pipi Prita.
Tangannya yang kasar terasa sangat lembut saat menyentuh kulit Prita.
"Prit, dengerin aku," ucap Abraham sambil menatap lekat mata Prita yang sembap.
"Nggak ada yang direpotkan di sini. Menjaga kamu itu bukan beban buat aku. Berhenti minta maaf buat sesuatu yang bukan kemauan kamu."
Prita menunduk, mencoba meredam isakannya. Dalam hati ia bertanya-tanya, bagaimana bisa seorang pria yang ia anggap "bukan tipenya" ini bisa memberikan rasa nyaman yang bahkan belum pernah ia dapatkan dari siapa pun sebelumnya?
Setelah menempuh perjalanan yang cukup pelan, motor Abraham akhirnya memasuki gerbang sebuah kompleks bangunan sederhana yang menjadi mess para teknisi.
Suasananya cukup tenang karena sebagian besar rekan kerja Abraham sedang berada di lapangan atau sedang beristirahat.
Abraham memarkirkan motornya tepat di depan deretan kamar.
Ia membantu Prita turun dengan sangat hati-hati, tangannya masih siaga memegang lengan Prita yang tampak masih sedikit lemas.
"Ayo, masuk ke kamarku dulu. Istirahat sebentar di dalam supaya perutmu nggak mual kena angin," ujar Abraham sambil membuka pintu kamar nomor tujuh.
Prita sempat ragu sejenak, namun rasa perih di perutnya membuat ia tak punya pilihan lain.
Begitu masuk, ia tertegun. Kamar itu sangat rapi untuk ukuran seorang pria lajang yang bekerja di lapangan.
Tidak ada pakaian kotor berserakan, hanya ada tumpukan buku teknik dan beberapa peralatan kerja yang tertata di sudut meja.
"Kamu rebahan saja di situ, jangan sungkan. Aku bersihkan mobil kantor dulu ya, mumpung kuncinya sudah aku pegang," kata Abraham sambil mengambil kunci mobil dari gantungan di tembok.
Prita menganggukkan kepalanya pelan. "Iya, Mas. Makasih banyak ya."
Prita duduk di pinggiran tempat tidur Abraham yang tertutup sprei biru tua yang bersih.
Aroma maskulin yang khas—campuran sabun dan parfum yang biasa dipakai Abraham—menyeruak masuk ke indra penciumannya, memberikan rasa tenang yang aneh.
Dari balik jendela kaca yang sedikit terbuka, Prita bisa melihat Abraham di luar sana.
Pria itu sudah melepas jaketnya, menyisakan kaos singlet hitamnya yang kini basah oleh air saat ia mulai menyemprot mobil double cabin putih milik kantornya.
Prita memperhatikan otot-otot lengan Abraham yang mengeras saat ia mengelap kaca depan dengan cekatan.
Ada rasa hangat yang menyelinap di hati Prita. Ia yang selama ini selalu mendambakan pria dengan kehidupan yang "steril" dan mapan, kini justru merasa sangat terlindungi oleh pria yang tangannya kasar karena kerja keras ini.
Prita menyandarkan kepalanya di bantal, matanya mulai terasa berat.
Di dalam kamar sempit milik seorang teknisi lapangan itu, Prita mulai meragukan keyakinannya sendiri.
"Apakah benar semua pria itu menyakitkan? Ataukah ia hanya belum pernah bertemu dengan seseorang yang tulus seperti Abraham?" ucap Prita dalam hati.
Sinar matahari sore yang mulai menguning masuk melalui celah ventilasi, menyinari debu-debu halus yang menari di udara kamar Abraham.
Setelah memastikan mobil double cabin putih itu bersih dan siap jalan, Abraham menyeka keringat di dahinya dengan kaus dalam, lalu melangkah masuk ke kamarnya dengan sangat pelan.
Langkahnya terhenti di ambang pintu. Ia mendapati Prita sudah terlelap pulas di atas tempat tidurnya.
Gadis itu tidur menyamping, meringkuk kecil seolah mencoba menghalau rasa perih yang tersisa di perutnya.
Wajahnya yang tadi tegang karena menahan sakit, kini tampak sangat tenang dan polos.
Abraham terdiam sejenak, hanya berdiri di sana sambil menatap sosok yang selama ini ia anggap sebagai "tuan putri" yang sulit digapai.
Ada rasa iba sekaligus kasih sayang yang membuncah di dadanya.
"Dasar keras kepala," bisik Abraham sangat pelan, hampir tak terdengar.
Ia mendekat ke lemari kecil di sudut ruangan, mengambil sebuah selimut kain bermotif
kotak-kotak yang aromanya sangat khas dirinya.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati—bahkan ia menahan napas agar tidak menimbulkan suara—Abraham membentangkan selimut itu di atas tubuh Prita.
Ia menarik ujung selimut hingga menutupi bahu Prita, memastikan gadis itu tidak kedinginan oleh embusan angin sore.
Saat tangannya berada dekat dengan wajah Prita, ia sempat ragu, namun akhirnya ia memberanikan diri untuk merapikan sehelai rambut yang menutupi kening gadis itu.
Prita sedikit melenguh dalam tidurnya, namun tidak terbangun.
Ia justru semakin menenggelamkan wajahnya ke bantal milik Abraham yang aromanya sangat ia kenali.
Abraham tersenyum tipis. Ia memutuskan untuk memberikan Prita waktu lima belas menit lagi untuk beristirahat sebelum mereka benar-benar berangkat pulang.
Ia duduk di kursi kayu dekat meja kerjanya, menjaga Prita dalam diam, sambil sesekali melirik jam tangan elektroniknya.
Di kamar sempit itu, waktu seolah berhenti berputar, menyisakan ruang bagi Abraham untuk sekadar mengagumi wanita yang perlahan-lahan mulai mengubah cara pandangnya tentang cinta.