Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.
Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.
Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.
Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.
Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.
Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.
Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 05
Beberapa laporan masuk. Hasil pencarian. Penelusuran yang berujung pada satu nama--dan satu tanggal.
Semuanya berhenti di meja Agam dengan helaan napas berat.
Sejak lama ia tahu ada yang tidak beres. Kejadian-kejadian itu bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari sistem yang digerakkan rapi. Tertutup. Hampir tanpa celah.
Agam bukan tak menyelidiki. Namun setiap langkah selalu berakhir di kata nihil. Seolah ada tangan lain yang lebih dulu menyapu jejak. Lebih cepat. Lebih dekat.
Awalnya ia menduga itu orang-orang Sagara. Bayangan yang bergerak tanpa suara.
Namun ucapan Sagara kemarin di Adinata Medical Center--yang meminta Ariana dihadirkan--menjadi jawaban yang tak perlu dijelaskan.
Bukan dia.
Agam menghela napas ringan. Tangannya bergerak cepat di layar tablet, menyusun langkah, memetakan gerak.
Panggilan telepon menjadi distraksi ringan. Agam mengabaikan. Ia tak pernah suka meninggalkan pekerjaan yang belum selesai hanya untuk mengangkat telepon.
Bahkan sekalipun itu dari Sagara.
Detik berikut, saat pola selesai dibuat, beberapa hal sudah ditandai.
Ponsel pintar Agam bergetar lagi.
Notifikasi dari AMC (Adinata Medical Center)
Ia melirik sekilas, lalu mengangkat ketika panggilan berikutnya masuk.
“Dokter jaga, Pak. Terkait pasien kecelakaan kemarin." Suara dari seberang.
Sepertinya ia telah paham pola komunikasi Agam. Langsung. Tanpa basa-basi.
Agam diam sesaat. Ingatannya kembali pada tubuh ringan yang sempat terlempar ke aspal sebelum ia menginjak rem lebih dalam. Kemarin. Lokasi tak jauh dari gerbang masuk AMC.
“Kondisinya?”
“Stabil. Tidak ada cedera serius. Hanya kelelahan dan benturan ringan."
"Sudah dihubungi keluarganya?"
"Katanya, dia perantau, Pak. Tak punya keluarga di kota ini. Tapi… pasiennya tidak ada di ruang perawatan pagi ini.”
Agam menegang. Alisnya bertaut.
“Pergi?”
“Iya, Pak. Tanpa proses administrasi. Kami baru tahu setelah perawat masuk untuk observasi lanjutan.”
“Data?”
“Masih minim. Pasien tidak banyak bicara sejak masuk. Dan … CCTV lantai tiga sempat mati dua belas menit sekitar waktu yang sama.”
Agam terdiam.
“CCTV itu sedang maintenance, Pak,” dokter itu cepat menambahkan. “Tidak ada indikasi lain.”
"Baik. Saya ke sana."
Agam menutup telepon perlahan.
Seorang gadis yang pergi sendiri.
Tanpa ribut. Tanpa jejak jelas. Agam penasaran. Penasaran dari sebuah rasa tanggungjawab. Karena dialah yang membuat gadis itu tertabrak.
Tak butuh waktu lama, Agam tiba di Adinata Medical Center.
Langkahnya tergesa ke ruang observasi. Dokter jaga menyambutnya, segera berdiri.
Di AMC, siapa yang tidak tahu Agam. Ia bukan pemilik Adinata. Bukan pimpinan rumah sakit. Tapi, ia kepercayaan Sagara, sahabat dekat dokter Raka. Di sana ia punya akses khusus. VIp.
"Kondisinya stabil, Pak. Tidak ada trauma serius.” Dokter jaga langsung melapor sebelum diminta.
Agam mengangguk. “Lalu kenapa ia pergi?”
Dokter itu membuka berkas digital di tablet.
“Mungkin panik. Pak."
Agam tak bertanya mendengar itu. Tapi tatap matanya menuntut dokter untuk tak menahan informasi.
"Pasien sedang hamil. Usia sangat dini.
Dan sepertinya ia juga baru tahu."
"Hamil? Sudah dipastikan?"
"Kami belum sempat konsul lanjutan, karena pasien sudah tidak ada di kamar saat visit pagi."
Merantau sendirian di kota ini.
Hamil.
Dan sekarang ia pergi.
Agam menatap jam dinding di ruangan. 10-02: 23 WIB
Otak cerdasnya mengumpulkan semua informasi dari dokter jaga, dan mulai menyimpulkan beberapa hal, lanjut merencanakan satu hal.
Ia keluar sambil meraih ponsel. Menghubungi tim IT AMC. Tapi, keputusannya berubah dengan cepat.
Agam turun sendiri ke lantai semi-basement, ke ruangan yang jarang disinggahi kecuali saat jaringan bermasalah atau audit internal dilakukan.
Pintu bertuliskan IT & Surveillance Control --AMC itu terbuka setelah ia mengetuk singkat, bukan meminta izin--lebih pada pemberitahuan bahwa ia masuk.
Tiga orang staf menoleh hampir bersamaan.
“Pak Agam…”
Agam mendekat. Ia tidak membuang waktu.
“Tampilkan seluruh rekaman CCTV hari ini. Fokus jam 8-30 sampai sekarang. Semua akses pintu keluar, parkiran, lobby, koridor IGD, lift, tangga darurat. Saya ingin full playback, bukan potongan.”
Ruang itu hening sepersekian detik setelah instruksinya. Tapi semua tahu dengan jelas. Perintah Agam, adalah perintah Sagara. Tak boleh dibantah. Dan harus dilaksanakan dengan cepat, tepat, dapat.
“Pak, untuk semua titik berarti hampir seratus dua belas kamera aktif---"
“Tarik dari server utama. Jangan dari cache harian.” Suara Agam tenang. Tegas.
“Dan aktifkan pencarian berbasis wajah.”
Salah satu staf segera menggeser kursi ke depan monitor utama.
“Ada foto referensi, Pak?”
Agam terdiam. Foto korban yang ditabraknya? Tidak ada. Tapi sepuluh detik kemudian, ia ingat kalau dokter jaga IGD sempat mengirimkan gambar gadis itu ke ponselnya.
Agam menyerahkan ponsel pintar itu. Foto seorang gadis yang belum tersimpan di galeri. Tapi tertinggal di laman chat terakhir.
“Resolusi tinggi. Gunakan parameter tinggi badan 158–160 sentimeter. Hijab warna krem. Tas selempang hitam. Filter pergerakan satu arah--jika keluar area RS tanpa kembali masuk, tandai.”
Jemarinya bertaut di belakang punggung. Matanya tidak berkedip menatap layar yang mulai menampilkan grid puluhan kamera.
“Nonaktifkan overwrite otomatis untuk jam tersebut,” lanjutnya. “Saya tidak mau ada data hilang karena sistem rotasi.”
“Baik, Pak.” Tim bekerja dengan cepat sesuai arahan Agam.
“Dan cek juga blind spot. Saya tahu area loading dock pernah bermasalah minggu lalu. Pastikan kamera 4C dan 4D aktif.”
Staf IT saling pandang. Mereka tahu--ini bukan sekadar mencari pasien tersesat. Nada Agam terlalu terkendali untuk disebut panik. Justru itu yang membuat suasana semakin tegang.
Layar utama mulai memutar ulang timeline. Timestamp bergerak mundur. Wajah-wajah lalu lalang. Perawat. Keluarga pasien. Petugas keamanan.
Lalu--
“Pause.”
Agam menunjuk layar kiri atas. Kamera koridor rawat inap lantai tiga. Telunjuknya mengarah ke satu sosok.
“Itu.”
Seorang gadis berjalan cepat. Menunduk. Tas di bahu. Tidak ditemani siapa pun.
Shafiya.
“Perbesar. Tracking otomatis. Ikuti sampai frame terakhir.”
Sistem mengunci wajahnya. Kotak hijau mengikuti pergerakannya dari satu kamera ke kamera lain. Koridor. Lift. Lobby.
“Pak, dia tidak turun di lobby utama,” gumam staf IT.
“Split screen semua akses keluar,” perintah Agam.
Tiga puluh dua layar menyala bersamaan.
Dan di sudut kanan bawah--
Loading dock.
Shafiya melangkah ke area yang seharusnya steril untuk distribusi obat dan logistik.
Agam menarik napas pelan.
Ruang IT AMC tidak berisik. Hanya dengung server dan pantulan cahaya monitor pada wajah-wajah serius tim keamanan digital rumah sakit.
Empat layar besar menampilkan grid kamera: lobby, koridor rawat inap, lift, tangga darurat, farmasi, hingga lorong-lorong yang jarang dilewati keluarga pasien.
“Timestamp terakhir?” suara Agam rendah, terkontrol.
Salah satu staf memperbesar layar.
“09-15: 43 WIB. Area koridor farmasi, lantai dua.”
Shafiya terlihat jelas. Tidak terburu-buru. Tidak panik. Langkahnya terarah.
Agam mendekat satu langkah.
“Tracking lintasan. Ikuti dari kamera sebelumnya.”
Rekaman diputar mundur. 08-35: 02 ia keluar dari ruang observasi. 08-50:56 berhenti sejenak di depan papan direktori. 09-18:53memasuki lift.
“Lift mana?” tanya Agam cepat.
“Lift B, Pak. Kamera kabin aktif.”
Frame berpindah.
09--23:09 WIB --Shafiya berdiri sendiri di dalam lift. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tegas. Tangannya menggenggam tas kecilnya erat.
“Tujuan lantai?” tanya Agam.
“Terlihat tombol 4 menyala, Pak.”
Layar berganti ke koridor lantai empat.
09--28:02 WIB --pintu lift terbuka. Shafiya keluar.
Teks kecil di sudut layar:
LANTAI 4 — SPESIALIS OBSTETRI & GINEKOLOGI.
Agam menegakkan tubuhnya.
“Zoom koridor timur.”
09--45 : 27 WIB---Shafiya berjalan melewati papan nama:
Sp.OG -- dr. Zulaika M.Ked(OG), Sp.OG.
Agam menahan napas.
“Apakah ada yang bersamanya?” suaranya berubah lebih pelan.
“Negatif, Pak. Tidak ada interaksi dengan staf atau pasien lain. Ia sendirian sejak keluar dari ruang observasi.”
Agam langsung memutar badan.
“Lock recording segmen ini. Backup ke server utama.”
Tanpa menunggu jawaban, ia sudah berjalan cepat menuju lift terdekat.
Jam di pergelangan tangannya menunjukkan 10--21: 17.
Seharusnya saat ini gadis itu telah bertemu dokter Zulaika.
Agam mengambil ponsel pintarnya. Menelepon dokter Raka.
"37 menit lagi." Suara Raka langsung terdengar. Menyebut waktu. Mengingatkan Agam dengan cara tajam, perjanjian mereka untuk membawa Ariana ke Adinata Residence--bertemu Sagara.
"Panggil dokter Zulaika ke ruanganmu sekarang." Agam bukan mengabaikan peringatan itu. Justru ia sedang memindai polanya.
"Untuk?"
"Panggil saja. Sekarang!"
Dan Agam langsung mematikan sambungan. Tanpa peduli Raka akan mengikuti kemauannya atau tidak. Tapi, itu harus.
Dan tepat seperti dugaannya, Agam menemukan gadis itu. Shafiya, tengah duduk di kursi tunggu, ruang praktek dokter Zulaika.
...
...
Shafiya duduk tegak di kursi tunggu. Kedua tangannya bertaut di atas tas kecilnya.
Ia mendengar langkah mendekat itu sebelum melihat pemiliknya.
Sepatu formal. Mantap. Tidak ragu.
Agam berhenti tepat di depannya.
Sunyi.
Gadis itu mendongak perlahan.
Agam tidak langsung bicara. Matanya menyapu wajahnya, membaca, menimbang.
Lalu satu kalimat.
“Anda meninggalkan ruang rawat sebelum visit akhir. Itu pelanggaran prosedur.”
Shafiya terhenyak.
Mendongak, menatap sejenak, lalu menunduk. Diam. Masih diam.
Agam melanjutkan, suaranya tetap datar.
“Dan pergi dengan cara seperti itu bukan keputusan bijak bagi perempuan dengan usia kehamilan dini."