Pernah di khianati oleh Wanita yang dicintainya, Membuat Kaivan menutup hati pada semua wanita karena rasa traumanya.
Tapi siapa yang menyangka, Kalau dia harus terseret dalam hubungan percintaan putri majikannya. Kaivan harus diminta menggantikan sang calon pengantin pria yang merupakan asisten majikannya itu dalam sebuah pernikahan yang telah disiapkan.
"Kamu yang telah mengakadku.. Dalam pernikahan ini, Tidak ada suami pengganti atau suami rahasia.. Mulai sekarang kamu adalah suamiku yang sah.." Raisha Azzaira Pangestu.
"Aku berjanji akan menjaga pernikahan ini dengan baik. Dan aku juga akan berusaha belajar mencintaimu.." Kaivan Anugerah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menantu Yang Tak Diinginkan
Hans memasuki kamarnya, Pria itu langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya. Matanya menatap langit-langit kamarnya seraya menghela nafas panjang.
Ingatannya kembali pada tadi siang, Dimana dia dan calon istrinya yaitu Raisha pergi ke toko perhiasan untuk memesan sebuah cincin pernikahan.
Pernikahan keduanya akan di laksanakan sekitar bulan depan, Mepet memang, Akan tetapi desainer perhiasan menyanggupi pesanan tersebut dan berjanji kalau cincin itu akan jadi dua minggu kedepan.
Begitupun dengan sepasang pakaian pengantin yang akan dikenakan saat resepsi. Gaun dan tuxedo nya pun sudah memesan sekitar dua bulan yang lalu karena ini yang akan menikah adalah putri dari seorang Damian pangestu. Tentu saja Damian akan mengadakan pesta yang besar-besaran.
Dan siang tadi, Hans kembali melakukan kesalahan yang sama dan bahkan lebih parah dari yang sebelumnya. Dimana Hans kembali meninggalkan Raisha dan lebih mengutamakan Ajeng dan Haura.
Raisha merasa kecewa dengan Hans. Lagipula wanita mana yang tidak kecewa. Bukan karena Haura yang Hans pedulikan lebih dulu, Seharusnya Hans lihat siapa yang celaka. Namun kejadian tadi Hans tak melihat ke arah Raisha sama sekali seakan-akan Raisha tak penting.
"Tapi aku harus bagaimana? Aku udah janji sama Abang kalau aku akan menjaga mbak Ajeng dan Haura.." Ucap Hans sembari menatap fotonya bersama sang kakak.
Memang sebelum Bram pergi pria itu meminta Hans untuk menjaga Ajeng dan Haura. Tapi menjaga memastikan bahwa mereka selalu baik-baik saja bukan menjaga setiap saat bahkan apapun akan Hans lakukan demi seorang Ajeng dan Haura. Bagaimana Hans mau menikahi Raisha kalau seperti ini ceritanya. Sekarang saja Raisha selalu dinomorduakan apalagi ketika menjadi istrinya nanti..
Tak dapat di pungkiri, Hans seolah punya tanggung jawab atas Ajeng dan Haura. Padahal sebenarnya Hans tak perlu bertanggung jawab karena orang tua Ajeng masih ada, Lengkap dan masih sehat wal afiad.
Dan anehnya Ajeng bukannya pulang kerumah orang tuanya tapi malah masih menetap di rumah tempat tinggalnya bersama Bram. Sebenarnya tidak menjadi masalah wanita itu mau pulang kerumahnya sendiri atau masih menetap dirumahnya bersama sang suami. Yang jadi masalah kenapa Ajeng selalu mengganggu hubungan Hans dan calon istrinya, Itulah yang harus dipertanyakan.
Dan pada malam ini, Hans tak dapat memejamkan matanya. Ucapan kekecewaan Raisha tadi sungguh mengganggu pikirannya hingga sebuah dering telfon membuyarkan segalanya.
"Mbak Ajeng.." Gumam Hans begitu nama 'Mbak Ajeng' Muncul di layar ponselnya. Dengan cepat Hans menggeser icon hijau itu.
"Halo mbak..
"Hans.. Kamu bisa datang kesini gak? Tadi ada ular disini.." Hans langsung bangkit. Pria itu berlari menuju lemari kemudian meraih jaketnya.
"Ok mbak.. Aku akan kesana.." Tanpa melihat ini jam berapa Hans langsung keluar dari kamarnya. Baru saja hendak membuka pintu utama..
"Mau kemana kamu malam-malam begini Hans?" Pergerakan Hans terhenti setelah mendengar suara lantang sang ibunda.
"Bunda..
Fatimah mendekati sang putra. Wanita paruh baya itu menelisik sang putra dari atas sampai bawah. Jika dilihat-lihat sepertinya putranya ini belum sempat istirahat sama sekali. Terlihat dari matanya yang sangat lelah..
"Kamu baru aja pulang, Belum seberapa lama kamu istirahat sudah mau pergi lagi, Mau kemana?" Hans terdiam, Pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan bingung harus bagaimana.
"E.. Itu Hans mau.. ..
Ddrrttt... Ddrrttt...
Ponsel Hans kembali bergetar, Calon suami Raisha itu menelan salivanya. Ajeng kembali menelfon..
"Halo mbak..
"Hans.. Cepet ...Mbak takut banget ini.."
"Okey.. Ini aku mau berangkat.. " Seakan tak peduli dengan sang Bunda, Hans kembali membuka pintu.
"Kamu mau kemana?" Fatimah mencekal lengan putranya menahan putranya itu agar tidak pergi.
"Bun.. Tolong izinkan aku untuk pergi.. Mbak Ajeng lagi butuh aku Bun.. Dirumahnya katanya ada ular, Dia..
"Ajeng lagi? Bisa gak sih kamu itu stop jangan pergi kerumah Ajeng.." Ucap wanita itu tak suka.
"Bun.. Maaf, Hans harus pergi.." Hans melepaskan cengkraman tangan ibunya dan berlalu pergi tak peduli dengan teriakan bundanya.
"Hans! Ingat ya.. Ipar adalah maut!! Jangan sampai kamu terjebak dalam situasi itu...!!" Teriak Fatimah namun tetap tak di pedulikan oleh putranya itu. Seorang pria paruh baya yang merupakan suami Fatimah atau ayah Hans menepuk pelan pundak istrinya.
"Dia mau kerumah Ajeng lagi?" Tanya pria yang biasa di panggil Pak mansyur didaerah sana.
"Iya Yah.. Bunda udah gak tahu harus gimana lagi.. Bunda capek.. Kalo begini terus, Lama-lama pernikahan Hans dan Raisha batal hanya karena sikap Hans..." Ucap Bunda Fatimah pada sang suami.
"Ayah juga gak habis pikir sama Hans.. Bisa-bisanya Hans lebih perhatian sama Ajeng.. Udah sekarang kita masuk kamar.. Ini sudah malam.." Pak Mansyur mengajak istrinya untuk masuk kekamar. Keduanya naik di atas tempat tidur..
"Yah.. Bunda itu cuma khawatir aja.. Bunda takut apa yang terjadi sama Bram, Terjadi sama Hans juga.." Ucapnya sembari mengingat apa yang pernah terjadi pada putra sulungnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ya, Sebenarnya Ajeng adalah menantu yang tidak di inginkan oleh Fatimah dan Mansyur. Semua itu berawal dari Bram yang memiliki hubungan dengan Ajeng.
Ajeng dulunya adalah seorang karyawan biasa. Sementara Bram, Pria itu bekerja sebagai seorang manager dikantor yang sama. Bram dan Ajeng punya hubungan yang cukup dekat bahkan keduanya hendak sampai di pelaminan.
Semua memang baik-baik saja. Fatimah dan Mansyur pun dulu setuju saja dengan hubungan keduanya hingga semua berubah sejak Ajeng selalu menolak ajakan Bram menikah.
Keduanya menjalin hubungan selama empat tahun. Setiap Bram mengajak Ajeng menikah, Wanita itu selalu menolak dengan alasan masih ingin bekerja.
Hingga suatu hari, Ajeng ketahuan selingkuh dengan pria kaya pemilik cafe. Ajeng benar-benar tidak menginginkan Bram lagi. Ajeng pergi dengan pria tersebut dan kabarnya telah menikah.
Bram merasa sakit hati, Bahkan saking sakit hatinya Bram seakan depresi. Pria itu tak mau makan, Dan selalu mengurung diri dirumah.
Fatimah dan Mansyur jelas merasa prihatin dengan putra sulungnya yang seperti itu. Orang tua mana yang tidak sedih melihat putranya menjadi depresi hanya demi seorang wanita.
Sebagai orang tua, Dengan secara perlahan Fatimah dan Mansyur berusaha menyembuhkan sang putra. Dan pada akhirnya Bram pun akhirnya sembuh, Namun pria itu tak lagi menjalin hubungan dengan wanita manapun, Trauma mungkin.
Hingga dua tahun berlalu, Ajeng kembali. Kembalinya Ajeng membuka luka lama Bram yang belum sembuh sepenuhnya itu. Akan tetapi pada saat itu Ajeng meminta maaf pada Bram, Wanita itu mengaku menyesal karena sudah meninggalkan Bram demi pria lain. Ajeng mengaku kalau dia menikah dengan pria pilihannya lalu mendapatkan kekerasan dari pria itu hingga akhirnya bercerai.
Bram yang sebenarnya masih punya rasa pun merasa iba dan akhirnya memaafkan Ajeng dengan lapang dada. Dengan rayuan serta kata-kata manisnya dari Ajeng Bram pun luluh kembali. Keduanya kembali menjalin hubungan bahkan lebih dari itu. Tak lama, Ajeng mendesak Bram agar segera menikahinya dengan alasan waktu itu hamil.
"Tinggalkan wanita itu Bram.. Ingat! Dia pernah meninggalkanmu demi pria lain nak.."
"Maafkan Bram Bun.. Tapi Bram masih cinta dan sayang sama Ajeng. Apalagi sekarang Ajeng sedang mengandung anak Bram ayah, Bunda.." Pengakuan itu tentu saja membuat Fatimah drop.
Dengan terpaksa, Fatimah dan Mansyur merestui pernikahan mereka. Meski tak dapat dipungkiri bahwa sampai saat ini Fatimah dan Mansyur tak pernah menganggap Ajeng sebagai menantu. Pada Haura pun Fatimah tidak terlalu sayang.
Entah mengapa Fatimah merasa kalau Haura bukanlah anak dari putranya. Wajah Haura tak ada kemiripan sama sekali dengan Bram bahkan tak ada mirip-miripnya dengan keluarga mereka lainnya. Wajah Haura begitu asing..
"Kalau sampai Hans terjerat oleh Wanita itu.. Jangan anggap Bunda ini ibunya lagi..
•
•
•
TBC