Caramel Willem, cucu mafia terbesar di dunia mengalami transmigrasi ke dalam buku novel.
Ding!
"Selamat datang di dunia paralel, saya sistem 014 akan menemani perjalanan anda."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan
Akhirnya Caramel berhasil membawa Erlangga pergi. Sebelum di kembalikan ke kost, Caramel mengajak Erlangga belanja terlebih dahulu di mall besar. Karena baju sekolah Erlangga kotor, Caramel meminjamkan jaket yang ada di mobil.
Erlangga terlihat senang saat mendorong troli, Caramel hanya tersenyum melihatnya. Membeli beberapa keperluan dapur mulai dari daging, ikan, telur, sayur, buah, perbumbuan hingga makanan cepat saji untuk di makan saat darurat.
Erlangga terus menerus menatap ke rak makanan cepat saji, mungkin sebagai anak kost dia sangat membutuhkan makanan instan seperti itu.
"Makanan istana tidak baik untuk kesehatan, bagaimana jika diganti telur dan uang saku?." Ucap Caramel.
"Eh.. engga Kak, aku cuma liat-liat aja." Ujar Erlangga malu.
"Di dekat kost ada warteg kan, beli makanan di sana mungkin jauh lebih sehat daripada makanan instan." Ucap Caramel menyelipkan yang cash di saku Erlangga.
Erlangga terdiam, melihat Caramel yang kembali fokus berbelanja. Dia mengintip uang di saku nya lalu melotot, jumlah nya terlalu banyak dan mungkin itu uang paling banyak yang pernah dia lihat.
"Kak.. anu." Erlangga jadi sungkan.
"Aku tidak senang dengan sebutan Kakak." Ucap Caramel, dia memang terbiasa memakai bahasa baku sejak kecil.
"Eh.. lalu?." Bingung Erlangga.
"Mama.. panggil aku Mama." Ucap Caramel.
Deg.
Erlangga menatap dengan bodoh, memanggil Mama pada wanita muda yang terlihat sangat modis dan kaya. Dia jadi merasa sedang menjadi gigolo yang di sewa tante-tante cabul, Erlangga jadi ingin melarikan diri karena takut.
"Kenapa wajahmu begitu?." Caramel heran.
"Anu... Kak, eh Tante.. itu.. deh.. mending saya pulang duluan aja udah sore." Erlangga mencari alasan kabur.
"Pfttt..., baiklah kita akan pulang setelah makan. Bagaimana?." Caramel tidak bisa melepaskan begitu saja.
Erlangga dengan berat hati mengikuti, dia untuk pertama kalinya masuk ke dalam restoran mewah di dalam mall. Dia duduk dengan canggung, celingukan kesana kemari dengan gelisah.
"Astaga, jika seperti itu orang-orang bisa mengira aku sedang menculik mu loh." Caramel geleng-geleng kepala.
"Memang benar kan." Ceplos Erlangga.
"Aku kan sudah bilang aku ingin mengadopsi mu, aku akan mengadopsi secara legal dan SAH. Jadi jangan takut akan di jual atau di apa-apa kan." Ujar Caramel.
"Tapi aneh Tante, Tante kan masih muda mending cari anak kecil aja." Ucap Erlangga, terlihat frustasi.
"Tapi aku sudah tua." Ujar Caramel.
"Eh?." Erlangga terkejut.
"Aku sudah berusia 25 tahun, usia kita berdua terpaut 10 tahun kan? menurut ku itu cukup wajar." Ucap Caramel.
"Memangnya suami Tante itu dimana sih? mencurigakan banget." Erlangga akhirnya jujur, karena merasa sangat tidak nyaman.
"Suami ku sedang mengurus perusahaan di luar negeri, dia mungkin akan pulang tahun depan." Ucap Caramel.
"Kenapa tidak ikut saja? memangnya wajar suami istri terpisah selama itu?." Ucap Erlangga.
"Aku tidak suka di sana, makanannya tidak enak dan banyak hal yang kurang cocok denganku." Ucap Caramel, mencari alasan.
"Tapi wajah Tante kaya bule." Jujur Erlangga.
"Aku memang memiliki darah bule dari Ayahku, tapi ya tetap saja jiwa ku ada disini." Caramel berusaha mencari alasan yang logis.
Erlangga menatap Caramel tajam, seakan sedang menembus rahasia di dalam otak Caramel. Caramel sampai menahan nafas karena gugup, siapa sangka menaklukkan anak remaja ternyata se sulit ini.
"Kau se tidak mau itu dengan ku?." Caramel murung.
"B-bukan begitu maksudku Tante, hanya saja aku ngga cocok jadi anak Tante. Soalnya Tante kan bule, masa anaknya begini." Ucap Erlangga.
"Emangnya ada apa dengan wajahmu?." Ujar Caramel sedih.
"Ya.. begini, coba Tante lihat deh kulit aku aja gelap. Ngga cocok banget kan sama Tante yang glowing." Ucap Erlangga, ingin menolak sekuat tenaga.
"Ada yang namanya skincare, kau bisa glow up setelah memakai itu. Sudah lah terlalu banyak alasan, kau memang tidak mau dengan ku kan. Maaf kan aku sudah memaksamu, ayo aku antarkan pulang." Ucap Caramel, memilih pura-pura menyerah saja.
Erlangga jadi tidak enak hati, di dalam mobil mereka jadi canggung. Sampai di kost, Erlangga masuk ke dalam kost nya dengan pikiran berkecamuk. Melihat uang dan makanan pemberian Caramel, membuatnya kepikiran.
"Harusnya gue kembaliin aja duitnya." Gumam Erlangga.
Setelah hari itu, Erlangga memutuskan untuk tidak lanjut sekolah dan fokus mengumpulkan uang saja. Dia bekerja dari pagi sampai sore di tempat cuci mobil, lalu pulangnya dia akan memulung.
Jika wanita kerap mendapat pelecehan verbal dan fisik. Laki-laki kerap kali mendapat kan masalah pemalakan, Erlangga sering kali di palak oleh preman gang dan jika tidak memberi dia akan di pukuli dan di tandai wajahnya sebagai musuh.
Seperti sore ini, Erlangga terpaksa terlibat perkelahian karena uang pemberian Caramel yang ingin dia kembalikan justru di palak. Erlangga menahan uang itu sekuat tenaga, meskipun dia di kroyok dan mendapatkan luka menyakitkan dimana-mana.
TIIIINN
Suara klakson mobil keras dan panjang terdengar, para pemalak langsung lari kocar-kacir saat melihat ada mobil melaju dengan cepat ke arah mereka. Itu adalah Caramel, dia kebetulan lewat dan mendapatkan jackpot tidak terduga.
"Hei kau baik-baik saja?." Caramel menghampiri Erlangga, yang terlihat acak-acakan.
"Tante... ko bisa disini." Kaget Erlangga.
"Ya kan ini jalan raya, siapa saja boleh melewati jalan umum." Ujar Caramel.
"Iya juga sih, oh ini aku mau kembaliin uang Tante." Erlangga mengerahkan uang yang hampir di rampok.
"Uang?." Bingung Caramel.
"Iya, aku ga pantes dapet bantuan dari Tante. Mending Tante cari anak lain aja yang mau di adopsi." Ucap Erlangga.
"Erlangga, para preman itu masih menunggu di balik gang." Ucap Caramel.
"Gapapa kok Tante, udah biasa emang disini." Ucap Erlangga, pura-pura santai.
Caramel terdiam, dia tau watak Erlangga di usia ini mungkin masih penakut dan lemah. Tapi mungkin ada kejadian tertentu yang membuatnya ditakuti dan menjadi bos di tempat ini, Caramel bimbang harus membiarkan berjalan sesuai alur atau tidak.
"Jika aku membawanya sekarang, maka dia tidak akan berkembang menjadi kuat. Mungkin aku akan membawanya setelah hari itu tiba." Batin Caramel memutuskan.
"Ini, simpan nomor ini baik-baik. Jika terjadi sesuatu yang membahayakan langsung telepon saja." Ucap Caramel.
Akhirnya Caramel pergi, membiarkan Erlangga berkembang sesuai alurnya. Jika Erlangga tidak berubah menjadi pemberani, maka dia akan kesulitan menghadapi dunia yang gila.
Caramel tidak lagi mengintai atau memaksa Erlangga untuk ikut dengannya. Caramel memilih fokus bersantai sebentar, sampai waktu dimana Erlangga meminta bantuan padanya akan tiba.
"Baru lewat dua minggu, tapi rasanya lama sekali. Kapan Arga akan kembali, ternyata hidup sendirian tidak enak." Gumam Caramel, makan malam sendirian dengan sedih.
aneh ga sih 🤔🤔🤔