NovelToon NovelToon
SAUH (HTS Kandung)

SAUH (HTS Kandung)

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Idola sekolah
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Asry Ulfa

Kenan tahu diri. Dengan badan yang "lebar" dan jerawat yang lagi subur-suburnya, dia sadar bahwa mencintai Kala—sang primadona sekolah—adalah misi bunuh diri. Namun, lewat petikan gitar dan humor recehnya, Kenan berhasil masuk ke ruang paling nyaman di hidup Kala.
​Magang menyatukan mereka, melodi lagu mengikat perasaan mereka. Saat Kenan mulai bertransformasi menjadi idola baru yang dipuja-puja, dia justru menemukan fakta pahit: Kala sedang menjaga hati untuk seorang lelaki manipulatif yang bahkan tak pernah menganggapnya ada.
​Bertahun-tahun berlalu, jarak Yogyakarta - Padang menjadi saksi bagaimana rasa yang tak pernah terucap itu perlahan mendingin. Sebuah lagu lama yang tiba-tiba viral menjadi jembatan rindu yang terlambat. Saat Kenan akhirnya menemukan "kembaran" Kala pada wanita lain, dan Kala dipaksa menyerah pada perjodohan, apakah melodi mereka masih punya tempat untuk didengarkan?
​"Kita dulu sedekat nadi, sebelum akhirnya kau memilih menjadi asing yang paling aku kenali."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asry Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melodi Ruang Musik

Ruang musik SMK siang itu terasa pengap. Maklum, AC tua di pojok ruangan lebih banyak mengeluarkan suara ngik-ngok daripada udara dingin. Bau debu karpet bercampur dengan aroma kayu gitar elektrik yang khas. Kenan berdiri di depan stand mikrofon, memegang kabel dengan tangan yang sedikit berkeringat. Di belakangnya, Jovan sudah siap di kursi drum, memutar-mutar stik drumnya dengan gaya sok jagoan—padahal tadi pagi dia hampir jatuh dari motor gara-gara menghindari kerupuk terbang.

​"Nan, fokus! Jangan kau tengok pintu terus. Macam nunggu antrean sembako saja kau," tegur Jovan sambil menghentakkan pedal drum. Dug! Dug!

​"Sabar, Van. Katanya tadi Kala mau mampir. Aku harus pastikan suaraku sudah ready di nada yang pas. Cek... cek... satu... dua... tiga... dicoba..." Kenan mengetes mic dengan suara yang dibuat se-nge-bass mungkin.

​"Sudahlah, Nan. Suara kau sudah oke. Yang tak oke itu muka kau. Tegang betul, macam mau menghadapi sidang tilang," ejek Jovan.

​Tak lama kemudian, pintu kayu ruang musik terbuka perlahan. Sosok yang ditunggu-tunggu muncul. Kala masuk bersama Elin, membawa aroma wangi bunga matahari yang seketika mengalahkan bau debu di ruangan itu. Kala memakai seragam pramuka karena hari itu ada jadwal ekskul, dan hijab cokelatnya membingkai wajah manisnya dengan sempurna.

​"Hai, Kenan! Wah, sudah mulai ya?" sapa Kala sambil duduk di kursi panjang di pojok ruangan.

​Kenan mendadak salah tingkah. Dia hampir saja menjatuhkan mic-nya. "Eh, baru mau mulai, Kal. Pas betul kau datang. Ini... lagu pemanasan dulu ya."

​Kenan memberi kode ke teman-teman bandnya. Mereka mulai memainkan intro lagu dari Geisha yang berjudul "Takkan Pernah Ada". Kenan memejamkan mata, mencoba meresapi setiap petikan gitar. Begitu masuk ke bagian verse, suaranya mengalun lembut, mengisi setiap sudut ruangan.

​"Ku ingin kau tahu isi hatiku... Kaulah yang terakhir dalam hidupku..."

​Kala tampak terpaku. Dia menopang dagu dengan tangannya, menatap Kenan tanpa berkedip. Di mata Kala, Kenan yang biasanya konyol dan suka melawak, mendadak berubah menjadi sosok yang berkharisma saat sedang bernyanyi. Suara Kenan yang jernih seolah-olah sedang bercerita tentang perasaannya sendiri.

​"Tak ada yang lain hanya kamu... Tak pernah ada... Takkan pernah ada..."

​Selesai lagu itu, Elin bertepuk tangan kencang.

"Gila, Nan! Suara kau makin paten saja. Kalau kau ikut audisi di Jakarta, kurasa juri-jurinya bakal pingsan semua karena terpesona... atau karena bau parfum melati kau kemarin," canda Elin.

​Kala ikut bertepuk tangan, senyumnya lebar sekali. "Bagus banget, Nan. Aku nggak nyangka lagu itu kalau kamu yang nyanyiin jadi beda rasanya. Lebih... dapet sedihnya."

​Kenan mengusap tengkuknya yang tak gatal. "Ah, biasa saja, Kal. Itu karena ada penonton spesial saja, makanya jadi semangat."

​"Cieee! Siapa tuh penonton spesialnya? Elin ya?" goda Jovan dari belakang drum.

​"Bukan Elin, tapi hantu penunggu ruang musik ini!" balas Kenan cepat, membuat semua orang tertawa.

​Setelah latihan selesai, Kenan menawarkan diri untuk mengantar Kala ke perpustakaan. Jovan dan Elin sengaja memberi ruang, pura-pura ada urusan lain di kantin. Mereka berjalan berdua di koridor sekolah yang mulai sepi. Cahaya matahari sore yang berwarna jingga masuk lewat celah-celah jendela, membuat suasana terasa sangat romantis—setidaknya bagi Kenan.

​"Nan, kamu rajin banget ya latihan. Padahal anak Akuntansi biasanya sibuk sama kalkulator," ujar Kala memecah keheningan.

​"Musik itu pelarian, Kal. Kalau sudah pusing lihat angka yang tak seimbang di neraca, ya aku lari ke gitar. Sama kayak aku kalau lihat kamu, pusingnya hilang, ganti jadi deg-degan," celetuk Kenan, mencoba keberaniannya lagi.

​Kala terkekeh. "Kamu ini ya, ada saja jawabannya. Eh, ngomong-ngomong, salepnya sudah dipakai belum?"

​"Sudah dong. Nih, sudah halus lagi leherku. Makasih ya, Kal. Kamu perhatian banget sama aku," Kenan menatap Kala, berharap ada jawaban yang lebih dari sekadar pertemanan.

​Kala terdiam sejenak. Dia menatap sepatunya sambil berjalan. "Iya, Nan. Kita kan teman. Aku senang kalau teman-temanku sehat dan semangat."

​Kata 'teman' itu rasanya seperti es batu yang mendadak dimasukkan ke dalam baju Kenan. Dingin dan bikin nyesek. Tapi Kenan tetap mencoba tersenyum.

​"Iya, teman... Teman tapi mesra boleh tak?" canda Kenan lagi, meski hatinya sedikit perih.

​Kala hanya tersenyum tipis. Tiba-tiba, HP Kala bergetar di dalam sakunya. Dia mengambilnya, dan raut wajahnya langsung berubah. Ada binar bahagia sekaligus cemas di sana. Dia menjauh sedikit dari Kenan untuk mengangkat telepon itu.

​"Halo? Iya, Revan... Aku baru selesai tugas kelompok. Oh, kamu sudah di sana? Iya, besok kan kita janjian..." suara Kala berubah menjadi sangat lembut, jauh lebih lembut daripada saat dia bicara dengan Kenan.

​Kenan berhenti berjalan. Dia berdiri mematung di tengah koridor. Nama itu lagi. Revan. Jadi benar, Revan itu nyata. Bukan sekadar gosip atau ancaman SMS gelap kemarin. Mendengar Kala menyebut nama itu dengan nada yang begitu mesra membuat Kenan merasa seolah-olah suaranya yang merdu tadi tak ada gunanya sama sekali.

​Kala menutup teleponnya dan kembali mendekati Kenan dengan wajah yang berseri-seri. "Nan, maaf ya. Aku harus duluan. Tadi pacarku telepon, dia lagi di perjalanan mau ke kota ini buat ketemuan besok."

​Kenan memaksakan senyum paling tulus yang pernah dia buat dalam sejarah hidupnya. "Oh, pacar kamu datang? Syukurlah. Hati-hati ya, Kal."

​"Iya, Nan. Makasih ya sudah ditemani jalan. Kamu duluan saja, aku mau nunggu angkot di depan," kata Kala sambil melambaikan tangan dan berjalan cepat menuju gerbang.

​Kenan hanya berdiri di sana, melihat punggung Kala yang perlahan menjauh. Langit jingga yang tadi terasa romantis, sekarang terasa panas dan menyesakkan. Dia mengambil HP-nya, melihat pesan teror kemarin: "Sadar diri, badan kamu saja kayak raksasa jerawatan."

​Dia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan berat. Dia berjalan menuju parkiran motor dengan langkah gontai.

Sesampainya di motor Supranya, dia melihat Jovan yang sedang asyik makan bakpao.

​"Kenapa muka kau, Nan? Macam habis tertelan biji durian?" tanya Jovan heran.

​"Revan mau datang besok, Van," jawab Kenan pendek.

​Jovan berhenti mengunyah. "Oalah... jadi pangeran berkuda putih itu mau datang? Terus kau mau gimana?"

​Kenan menghidupkan motornya, suaranya menderu di parkiran yang sepi. "Aku mau pulang. Aku mau ngaca lama-lama di rumah. Mau kulihat, seberapa hancurnya muka raksasa jerawatan ini kalau lagi patah hati."

​"Jangan sedih lah, Nan! Besok kita cari tahu, siapa itu Revan. Kalau dia cuma menang tampang tapi kelakuan macam kaleng rombeng, kau masih punya peluang!" seru Jovan menyemangati.

​Kenan tidak menjawab. Dia hanya memacu motornya membelah jalanan kota.

*******

​Malam itu, Kenan memutuskan satu hal. Jika Revan datang besok, dia harus melihat sendiri cowok seperti apa yang bisa membuat Kala begitu bucin. Bukan untuk menyerah, tapi untuk mengukur sejauh mana dia harus bertarung—atau seberapa jauh dia harus mundur untuk menyelamatkan hatinya yang mulai retak.

1
Erni Fitriana
mampirrrr...mampirrrr
Jumi Saddah
moga cerita ini banyak peminat nya,,seperti nya kisah ini asyik deh,,
Riry AU: aamiin, terimakasih sudah mampir kakak 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!