NovelToon NovelToon
Paper Plane Memories

Paper Plane Memories

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Keluarga / Bullying dan Balas Dendam / Ibu Tiri / Balas Dendam / Romantis
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: SellaAf.

Aera, seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya karena meninggal. Setelah ibu tirinya datang, hidup Aera berubah total. Ayahnya yang dulunya sangat mencintainya, kini tidak peduli lagi. Aera merasa sendirian dan terkucil, seperti bawang yang terlupakan. Aera hanya ingin satu hal: mengembalikan kasih sayang ayahnya. Tapi, dia menemukan kebenaran yang mengerikan: ibu tirinya lah yang membunuh ibu kandungnya. Aera merasa marah dan sedih, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suatu hari, datanglah Leonar, seorang laki-laki muda. Dia ramah dan baik, serta peduli pada Aera. Aera merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Leonar membantu Aera untuk membongkar kasus meninggalnya ibu kandungnya, tapi mereka tidak tahu bahwa ibu tirinya akan melakukan apa saja untuk menyembunyikan kebenaran. Bagaimana Aera dan Leonar akan menghadapi bahaya yang mengancam mereka? Apakah mereka akan berhasil membongkar kebenaran dan mengembalikan kasih sayang ayah Aera? Ataukah mereka akan gagal, dan Aera akan tetap menjadi bawang yang terlupakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SMA Marpati

Suara sorak sorai kemerdekaan para siswa dan siswi menggema di seluruh penjuru kelas, riuhnya nyaris mirip demo warga yang menuntut harga pajak diturunkan.

Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Dalam hitungan detik, para siswa/i berbondong-bondong menuju surga duniawi versi sekolah yaitu KANTIN.

Di tengah keramaian itu, muncullah segerombolan anak laki-laki dengan penampilan yang jauh dari kata rapi. Baju sedikit kusut, kancing terbuka satu-dua, dasi entah ke mana, dan rambut acak-acakan seolah baru bangun tidur.

Sekilas? Mirip anak jalanan.

Tapi wajah mereka? *TAMPAN**. Sangat tampan.*

Siapa lagi kalau bukan geng legendaris—ALAXTAR.

Begitu lima laki-laki itu melangkah masuk ke area kantin, suasana langsung berubah drastis.

“AAAAAA—!!!”

Jeritan histeris para siswi langsung memenuhi udara. Semua mata tertuju pada mereka. Bahkan ada yang sampai salah jalan karena terlalu fokus menatap.

Kantin yang sudah ramai kini berubah jadi lautan teriakan.

“GILAAAA— Leo ganteng banget!”

“Davin juga ganteng parah!”

Davin yang mendengar itu langsung tersenyum lebar, tangannya refleks merapikan rambut nya yang berantakan.

“Hello, baby,” sapanya sok keren.

“AKHHH— DAVIN NYAPA KITA!”

“OMG Alex auranya kayak calon suami sah!”

Wain yang berjalan di sebelahnya langsung nyeletuk, “Wih, udah ada yang mau serius.”

Davin ngakak. “Berani banget. Nikah sama Alex mah auranya dingin, kayak mau ngajak debat tengah malam.”

Alex hanya melirik dingin. “Bacot.”

“ZAYYAN LUCU BANGET! GEMES!”

Zayyan mendongak bingung. “Gemes apanya?”

“Ih, pengen nyubit—”

“WOY,” potong Zayyan cepat. “Ngomong yang normal!”

Wain tertawa. “Tenang, Yan. Masih aman.”

Davin menepuk bahu Zayyan sambil ngakak. “Syukurlah masih sopan.”

Salah satu siswi teriak lagi, “Wain, jalannya munduran dikit dong! Gantengnya kebangetan!”

Wain berhenti, lalu menoleh. “Gue harus mundur sejauh apa? Sampai Monas?”

“HAHAHAHA!”

“I LOVE YOU, LEO!”

Wain refleks menjawab, “I love you too.”

Davin langsung menoleh tajam. “WOY! Itu buat Leo, bukan lo!”

Wain nyengir. “Ya siapa tau rezeki.”

Leo—Leonar Andromedra Sky—tetap berjalan paling depan. Wajahnya datar, tatapannya lurus ke depan, seolah semua teriakan itu hanya angin lalu.

Namun justru sikap cueknya yang membuat para siswi semakin histeris. Sungguh, kehadiran mereka selalu sukses menciptakan kekacauan kecil di kantin.

...----------------...

Setelah melewati kerumunan penonton yang menyoraki mereka dengan berbagai celetukan dan gombalan maut dari para fans akhirnya mereka berlima pun duduk di kursi yang sudah di khususkan untuk mereka berlima, tidak boleh ada yang menduduki kursi tersebut kecuali mereka berlima.

"Tadi kalian mau ngobrolin soal apa?" Tanya Leo mulai membuka suaranya.

"Jadi gini..." jawab Wain, ia mulai melirik ke kanan dan ke kiri takut ada yang melihat percakapan mereka.

Wain menatap mereka dengan sesama dan kembali berkata," Jadi sebenarnya waktu malam minggu kemarin lo pergi kemana? tanya Wain kepada Leo.

"Setelah kejadian balapan malam itu, Alfino dan geng Black tigger datang ke markas kita, mereka hampir membakar markas kita." Lanjutnya.

"Iya, untung waktu itu kita semua pulang duluan ke markas. Kalau tidak, sudah di pastikan markas kita terbakar hangus." Potong Davin.

"Iya, betul. " Sahut zayyan sambil menganggukkan kepalanya.

“Jadi sebenarnya apa yang terjadi sama lo?” tanya Alex akhirnya, suaranya tenang tapi menusuk.

“Kalau lo kalah balapan, harusnya lo balik ke sirkuit. Tapi lo malah ngilang gitu aja.”

Leo terdiam. Tatapannya menunduk, rahangnya mengeras. Jelas terlihat ia sedang memilih kata yang tepat.

Ia menarik napas panjang. “Sorry…” ucapnya pelan. “Gue waktu itu langsung buru-buru ke rumah sakit.”

Empat pasang mata langsung membulat.

“Hah?”

“Rumah sakit?”

“Ngapain?”

“Siapa yang sakit?” tanya Wain, kali ini nadanya serius, tak ada bercanda.

Leo akhirnya menceritakan kejadian malam itu—tentang kecelakaan, tentang gadis asing yang kondisinya tidak baik-baik saja, dan tentang keputusan spontan yang membuatnya menghilang begitu saja.

Setelah Leo selesai bicara, suasana mendadak hening.

Alex mengangguk pelan. “Pantes.”

Wain menyandarkan punggungnya. “Kalau gitu… masuk akal.”

“Jadi sekarang,” Alex menatap Leo tajam, “lo mau pindah sekolah?”

Leo mengangguk singkat. “Iya.”

“Kenapa harus pindah segala sih, Bos?” protes Wain. “Kan masih bisa bolak-balik. SMA Marpati ke SMA Galaksi juga deket.”

“Iya!” timpal Davin kesal. “Cuma beberapa menit doang. Nggak perlu drama pindah sekolah segala.”

Leo menghela napas berat. “Gue pengen cari tahu lebih dalam soal gadis itu,” katanya jujur. “Banyak kejanggalan. Dan entah kenapa… gue nggak bisa cuek.”

Zayyan langsung duduk tegak. “Kalau gitu, gue ikut pindah.”

“Hah?” Leo menoleh.

“Gue juga,” sambung Wain cepat.

“Eh, eh… gue juga dong!” Davin menunjuk dirinya sendiri. “Masa ninggalin Bos sendirian?”

Leo menyipitkan mata, menatap mereka satu per satu.

“Serius?”

“SERIUS, BOS!” jawab ketiganya kompak.

Leo terdiam sejenak, lalu mengalihkan pandangan ke satu orang yang belum bicara.

“Lo sendiri gimana, Alex?”

Alex menarik napas panjang, lalu mengangkat bahu. “Terserah. Gue ngikut aja.”

Zayyan langsung melonjak berdiri. “YEEEE! PINDAH SEKOLAH!”

“Ssst!” Davin buru-buru menutup mulut Zayyan.

“Berisik, Cil! Mau seantero sekolah tahu?”

Zayyan meringis. “Hehe… kebablasan.”

Leo menatap mereka semua. Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibirnya terangkat tipis.

“Kalau gitu,” ucapnya pelan tapi mantap, “ALAXTAR pindah bareng.”

Dan tanpa mereka sadari, keputusan spontan di siang hari itu akan membawa mereka pada serangkaian konflik, rahasia, dan pertemuan yang akan mengubah hidup mereka semua—terutama satu nama yang terus terngiang di kepala Leo. Yaitu—AERA

1
SellaAf
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!