Pernikahan bisnis yang sudah di rancang sedemikian rupa terancam batal hanya karna mempelai wanita kabur di hari pernikahan. Bintang, selaku kakak yang selama ini selalu di sembunyikan terpaksa harus menggantikan Lidya.
"Yang ku inginkan adalah Lidya! Kenapa malah dia yang menjadi mempelainya?!" Pekik Damian pagi itu.
"Kita tidak punya pilihan, hanya ada dia."Jawab sang ayah.
Damian menatap Bintang dingin, "Baiklah, akan ku perlihatkan padanya apa yang namanya pernikahan itu."Balasnya dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hinaan Damian
“Bagaimana para saksi, sah?”Tanya seorang penghulu sesaat setelah Damian mengucapkan ijab qobulnya terhadap Bintang. Banyak yang tidak menyangka dengan pernikahan ini, mereka pikir jika Damian akan menikahi Lidya satu satunya putri keluarga Bramono yang selama ini di perkenalkan kepada publik.
“Silahkan pasangkan cincinnya.”Ujar penghulu kepada Damian, dengan enggan pria itu mengambil cincin yang sudah di persiapkan untuk Lidya dan memasangkannya pada jari ringkih milik Bintang.
“Sampai kapan pun pengganti tidak akan pernah menjadi pemeran utama, bahkan cincin ini saja seolah tidak ingin berada di jarimu yang menjijikkan ini.”Ujar Damian tak lama setelah dia memasangkan cincin itu kepada Bintang, pria itu berbisik seolah sengaja agar hanya Bintang yang bisa mendengarnya.
Bintang tersenyum kecut, kemudian menatap cincin yang nampak sangat longgar di jari manisnya itu. Benar apa yang di katakan oleh Damian, dia hanya pengganti yang tidak akan pernah menjadi pemeran utama.
“Senyum.”Titah Damian, mendengar itu Bintang pun langsung mengangkat wajahnya kemudian tersenyum ke arah kamera yang baru saja mengarah kepada mereka.
“Mungkin kamu pikir dengan masuk ke keluarga Wicaksono akan merubah hidupmu yang melarat itu, tapi kamu salah Bintang. Kamu bermain main dengan orang yang salah, aku sangat mencintai Lidya dan tentunya akan ku bawa dia kembali ke sisiku bagaimana pun caranya.”Bisik Damian, pria itu menghadapkan wajahnya ke pipi Bintang seolah nampak sebuah ilusi jika dia sedang mencium pipi gadis itu.
“Jangan harap hidupmu akan baik baik saja setelah menikah denganku, karna aku akan memberitahumu tentang apa yang di namakan dengan penderitaan yang sesungguhnya.”Imbuh Damian lagi.
Bintang diam, tangannya meremas kuat ujung kebaya mahal yang dia kenakkan dengan senyuman palsu yang dia coba untuk ukir selama acara itu. Air mata perlahan luruh pada pipi kirinya, tapi karna dia tersenyum semua orang menganggap itu adalah air mata kebahagiaan, padahal sebaliknya itu adalah air mata penderitaan yang di berikan oleh suaminya bahkan sebelum sepuluh menit mereka menjadi sepasang suami istri.
‘Neraka macam apa lagi ini ya tuhan….’ Lirihnya di dalam hati, dia benar benar tidak tahu lagi penderitaan semacam apa yang akan menunggunya di depan sana yang pasti mungkin itu akan menjadi hal yang jauh lebih sakit dari pada sekedar berada di rumah keluarga Bramono.
Sementara itu di kursi lain, entah kenapa Wicaksono terlihat sangat suka dengan pasangan itu.Rasanya di bandingkan dengan Lidya dia lebih suka pada Bintang, sosok yang tidak banyak bicara dan juga misterius.
“Sepertinya mereka akan menjadi pasangan yang sempurna.”Ujar Wicaksono dengan nada pelan.
“Papa menyukai Bintang?”Tanya Raisa penasaran, sama halnya dengan Wicaksono dia juga melihat aura ketulusan yang terpancar dari sosok itu dan dia juga yakin keduanya akan sangat cocok nantinya.
“Dia seperti anak baik dan rasanya aku pernah bertemu dia di suatu tempat tapi aku lupa dimana.”Ujar Wicaksono, wajah Bintang benar benar tidak asing baginya seolah ini bukanlah pertama kali mereka bertemu.
“Apa pun itu semoga saja Damian akan bersikap baik padanya, mama juga ngerasa jika Bintang adalah gadis yang baik, terlepas bagaimana buruknya latar belakang gadis itu.”Ucap Raisa, dia benar benar tidak membedakan kasih sayangnya kepada Damian dan juga Ken. Meskipun dia hanyalah seorang ibu tiri tapi dia menginginkan yang terbaik untuk Damian dan juga Bintang.
“Semoga saja, ma.”Balas Wicaksono.
Setelah acara akad yang lumayan menyesakkan itu, sampailah keduanya pada acara inti. Semua acara yang ada di dalam wishlist kedua keluarga terlaksana dengan khidmat, tamu yang memberikan selamat berdatangan bagaikan tali yang tak kunjung putus. Membuat Bintang yang tak terbiasa mengenakkan sepatu hak tinggi sedikit kesakitan di buatnya.
“Auh..”Ujarnya dengan nada pelan, dia benar benar tidak menyangka jika pernikahan orang kaya akan serumit ini. Banyak acara dan juga ritual yang terus di laksanakan bahkan hingga jam menunjukkan pukul lima sore.
“Jangan manja, kamu kan babu. Udah biasa berdiri kayak gini.”Ujar Damian dengan nada dingin, mendengar kata kata itu Bintang pun langsung berdiri tegak dan mengikuti segala macam hal yang di katakan oleh Damian.
“Maaf, tuan.”Ujar Bintang, dia akhirnya memaksakan dirinya untuk tetap di posisinya meskipun kakinya sudah sangat sakit.
“Babu kok manja.”Celetuk Damian, mendengar itu Bintang pun langsung meremas ujung gaunnya kuat bahkan tanpa sadar kuku palsunya pun ikut terlepas dan meninggalkan rasa nyeri yang teramat. Tapi rasa nyeri di tangannya itu sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit hatinya, dia kembali patah untuk yang ke sekian ribu kalinya.
Setelah mendengar hinaan dari Damian itu, Bintang pun menahan segalanya. Entah itu rasa sakit, panas, lelah bahkan lapar sekali pun tetap dia tahan hingga acara itu benar benar selesai tepat pada jam sebelas malam.
“Tamunya rame banget pa, mama sampe kecapean.”Ujar Raisa saat mereka semua sudah hendak pergi dari tempat dimana acara itu di laksanakan. Sesuai dengan kewajibannya, hari ini jelas Bintang akan langsung ikut bersama Damian dia akhirnya akan masuk ke dalam neraka yang mungkin akan langsung menelannya bulat bulat.
“Bintang langsung pulang ke rumah baru Damian pa, kita akan langsung tinggal di sana.”Ujar Damian dengan nada pelan. Pria itu mengumbar senyumannya sehingga membuat Wicaksono dan Raisa percaya jika pria itu sudah menerima pernikahan ini.
“Langsung? Nggak tidur di rumah keluarga besar aja? Besok papa mau lunch sama menantu papa.”Ujar Wicaksono, dia benar benar nampak sangat menyukai Bintang bahkan dia sama sekali tidak segan segan untuk memanggilnya ‘Menantu’ bahkan jika itu di hadapan keluarga Bramono langsung.
“Besok siang aku akan bawa Bintang ke rumah pa, malam ini dia ikut bersamaku.”Balas Damian.
“Tapi papa kan-“ Wicaksono hendak membuka suaranya tapi kata katanya langsung di hentikan oleh sang istri.
“Papa kayak nggak tahu pengantin baru saja, udah kita pulang duluan aja. Kalau begitu kami pulang ya, tuan dan nyonya Bramono.”Ujar Raisa dengan ramah, dia kemudian langsung mendorong Ken dan juga Wicaksono agar segera masuk ke dalam mobil mereka.
“Sampai jumpa besok, kak Bintang!”Ujar Ken yang hanya di jawab dengan senyuman ramah oleh Bintang, dia tidak punya energy lagi. Tubuhnya terasa remuk bahkan lapar yang sedari tadi dia tahan pun mulai menggerogoti perutnya.
“Jaga diri, jaga hati dan juga perasaan nak Damian. Tante benar benar menyesal karna bukan Lidya yang ikut pulang bersama kamu.”Ujar Widya saat Damian hendak meninggalkan tempat itu, sementara Bintang gadis itu sudah masuk terlebih dahulu sesuai dengan instruksi yang di berikan oleh Damian.
“Tante tenang saja, posisi Lidya akan tetap aman dan akan ku pastikan dia menderita bersamaku.”Ujar Damian tanpa ada keraguan bahkan sedikit pun.
“Tante percaya sama kamu, Damian.”Ujar Widya, dalam hatinya dia bersorak gembira. Entah kenapa dia merasa sangat bahagia jika Bintang di perlakukan dengan buruk,rasanya hal itu membuat Widya merasa sangat puas.
“Kalau begitu Damian pulang dulu, tan.”Ujar Damian setelah itu dia pun langsung meninggalkan Widya yang nampak tersenyum puas saat melihat mobil Damian yang mulai menjauh meninggalkannya.
“Rasain, makanya kalo cuma anak pungut jangan sok banyak gaya.”Ujar Widya pelan, setelah itu dia pun langsung masuk dan bergegas untuk menyusun rencana baru bersama dengan Bramono terkait anak mereka yang kabur entah kemana itu.