NovelToon NovelToon
Rerindang Dan Mira

Rerindang Dan Mira

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Fantasi Wanita / Fantasi / Romansa
Popularitas:493
Nilai: 5
Nama Author: Chiknuggies

Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.

Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.

Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.

sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5 Sepedah Butut

Hari ini, menurut bapak aku boleh beristirahat. Beberapa hari bekerja di ladang, membuat seluruh tubuhku terasa nyeri.

Sudah beberapa obat pereda nyeri aku minum, tapi tetap saja tidak dapat mengobati pegal dan sakit yang aku rasakan.

Jam menunjukkan pukul 10 pagi, aku masih berada di dalam selimut, meringkuk kedinginan. Kepalaku pusing dan berputar-putar, padahal aku sudah makan dan minum obat.

Jika terus berada di dalam kamar dan tidur-tiduran satu hari penuh, sepertinya aku tidak akan kunjung membaik. Aku harus keluar dan mencari kegiatan.

"Yah-, Abis." Aku memegang bungkus obat yang ternyata sudah habis.

Aku berjalan merayap pada dinding, membuka pintu dan tidak sengaja berpapasan dengan ibu. Dia tampak sedang membawa satu ember baju bersih yang hendak dia jemur.

Ibu berhenti di depanku, bertanya mau kemana aku padahal sedang kurang enak badan begini. Aku menjawab kalau, "Mira bosen bu, mau cari angin sebentar. Sama sekalian beli obat di warung."

Ibu sempat melarang, namun aku berhasil meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja. Toh aku hanya akan keluar sebentar, dan langsung kembali lagi.

Berbekalkan uang sepuluh ribu dalam genggaman, aku melangkah keluar rumah. Baru sampai di pekarangan, aku dengar suara gaduh kendaraan bermotor yang digeber dengan kencang, dari rumah sebelah.

"Hmm~ menyebalkan." Gumamku. Aku menahan langkahku sejenak, menoleh ke arah suara bising itu

Dari balik pagar tetangga, kulihat seorang pemuda sedang memanaskan motor tuanya, gas ditekan berulang-ulang hingga suara knalpot memecah udara pagi.

Bau asap bercampur dengan dingin embun, membuat kepalaku yang sudah pusing semakin berdenyut.

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. "Kalau begini terus, bisa pecah kepala," batinku.

Namun, aku tetap melangkah keluar pekarangan, menapaki jalan tanah yang masih basah oleh sisa hujan semalam.

Aku menggenggam uang sepuluh ribu lebih erat, seakan itu adalah bekal terakhir yang harus kujaga.

Langkahku pelan, tubuhku masih terasa berat, tapi ada dorongan aneh dalam diriku. Semacam rasa ingin bebas dari kamar pengap dan rasa sakit yang mengekang.

Saat melewati tikungan kecil menuju warung, aku melihat sesuatu yang membuatku berhenti. Di bawah pohon jambu, seorang anak laki-laki duduk termenung, menatap tanah dengan wajah murung. Di sampingnya, sebuah sepeda kecil tergeletak, rantainya terlepas.

Aku ragu sejenak. Aku bisa saja langsung ke warung, membeli obat, lalu pulang. Tapi ada sesuatu pada tatapan anak itu, seperti cermin dari rasa lelah dan sakit yang kurasakan sendiri.

Dengan suara serak, aku berkata, "Kenapa, dek? Sepedanya rusak ya?"

Anak itu mengangkat wajah, matanya berkaca-kaca. "Iya, Kak. Rantainya copot. Aku nggak bisa pasang lagi."

Dengan sedikit pengalamanku bersepeda, aku jongkok perlahan, menahan rasa nyeri di punggung. Tanganku meraih rantai yang terlepas, dingin dan berlumur tanah. Anak itu menatapku penuh harap, seakan aku adalah satu-satunya yang bisa menolongnya saat itu.

"Kalau mau dipasang lagi, harus sabar," kataku pelan, mencoba tersenyum meski kepalaku masih berputar.

Aku mengangkat sepeda kecil itu, memutar pedal perlahan, lalu memasukkan rantai ke gigi roda. Tanganku bergetar, bukan karena sulit, tapi karena tubuhku sendiri terasa rapuh. Anak itu mendekat, menahan napas, seolah takut gerakannya mengganggu.

Beberapa kali rantai terlepas lagi, membuatku menghela napas panjang. "Hmm, keras juga ya," gumamku. Tapi akhirnya, dengan sedikit dorongan dan putaran pedal, rantai itu kembali menempel pada tempatnya.

"Sudah," ucapku, sambil menepuk-nepuk tangan yang kotor.

Wajah anak itu langsung berubah cerah. Senyumnya lebar, matanya berbinar. "Terima kasih, Kak!" serunya, lalu ia mencoba mengayuh sepeda. Roda berputar, rantai bergerak, dan ia melaju pelan di jalan tanah yang basah.

Aku berdiri, meski agak goyah. Ada rasa hangat yang tiba-tiba muncul, menyingkirkan sedikit rasa sakit di tubuhku. Seolah membantu anak itu memperbaiki sepedanya juga memperbaiki sesuatu dalam diriku.

Anak itu berhenti sejenak, menoleh padaku. "Kak, mau aku antar ke warung?" tanyanya polos.

Aku tersenyum samar. "Tidak usah, dek. Kakak bisa sendiri. Kamu main saja." Ia mengangguk, lalu kembali mengayuh sepedanya dengan riang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!