Gimana jadinya kalau kau harus menikah dengan muridmu sendiri secara rahasia?? Arghhh, tidak ini gak mungkin! Aku hamil! Pupus sudah harapanku, aku terjebak! Tapi kalau dipikir-pikir, dia manis juga dan sangat bertanggung-jawab. Eh? Apa aku mulai suka padanya??!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5 : Bertemu calon mertua
Rio berhenti di sebuah rumah megah kawasan elit yang merupakan alamat dari sang kepala sekolah. Awalnya ia sempat ragu untuk masuk tapi setelah memastikan, bertanya dengan satpam yang menjaga pintu gerbang, ternyata alamat yang ditulis itu memang tidak salah.
Jadi, akhirnya Rio memutuskan untuk turun dari motor, merapihkan kembali pakaiannya agar tidak kelihatan berantakan dan memegang seikat bunga mawar merah yang diminta oleh sang guru aka kepala sekolahnya.
"Maaf Pak, apa saya boleh ketemu sama Bu Risa?" Tanyanya dengan sopan kepada si satpam.
"Oalah, Kakaknya mau ketemu sama Bu Risa? Udah ada janji belum?" Tanya balik sang satpam sambil memperhatikan perawakan anak muda di depannya.
"Sudah Pak, makanya saya disuruh kemari," jawab Rio.
"Kalau sudah janji, masuk saja. Sebentar, saya bukain dulu gerbangnya."
Pintu gerbang besar itu pun didorong oleh si satpam, membiarkannya terbuka lebar-lebar.
"Motornya juga masukin saja Kak ke dalam," ujar sang satpam saat Rio berjalan masuk dan malah membiarkan motornya terparkir di luar gerbang.
"Oh, gak apa-apa kok, biar di situ saja," balas Rio yang sebenarnya ragu kalau harus memasukkan motornya ke dalam.
"Lho ya, jangan! Nanti kalau hilang bagaimana? Udah masukin saja, Kakaknya tamu Ibu Risa 'kan? Apa perlu saya aja yang masukin?" Satpam itu sudah bersiap untuk keluar dari pos jaganya.
"Enggak usah, Pak! Biar saya aja yang masukin ke dalam!" Rio buru-buru keluar lagi buat masukin motornya yang masih di luar.
"Nah, gitu 'kan enak, jadi saya enggak kena tegur sama Bu Risa nantinya," ucap sang satpam setelah melihat Rio membawa masuk motornya ke dalam halaman.
"Saya titip di sini saja Pak, jadi gampang nanti kalau mau pulang," ujar Rio yang memarkirkan motornya tepat di samping pos jaga si satpam.
"Iya gak apa-apa, kalau di sini 'kan baru aman."
Akhirnya Rio berjalan menelusuri halaman depan rumah itu yang cukup luas dan ada kebun sendiri dengan berbagai macam tanaman hias dan kolam ikan di tengahnya. Ia menoleh takjub dengan kebun tersebut.
Mungkin jarak antara gerbang dan pintu utamanya ada hampir 30 meter dan di sepanjang jalan itu mata Rio disuguhkan oleh berbagai macam tanaman hias juga aneka ragam bunga. Sampai akhirnya ia menapaki pintu utama yang tertutup.
Rio sempat menelan ludah memperhatikan pintu utama yang tampak begitu kokoh dan klasik. Tapi dia sudah terlanjur janji dan datang, apalagi sudah sampai ke rumahnya Bu Risa. Dia gak ada alasan untuk mundur.
Rio menekan pintu bel yang ada di samping dinding sambil berdoa dia gak akan kena murka sama ibunya Bu Risa.
Gak lama seorang wanita agak tua tapi masih kelihatan segar keluar. Jalannya sedikit membungkuk, rambutnya disanggul rapih ke atas, dan dia memakai pakaian kebaya cream yang sedikit pudar warnanya.
"Apa dia Ibunya si Bu Risa, ya?" Tanya Rio dalam hati.
"Selamat malam Bu, saya Rio," ucap Rio yang langsung meraih tangan wanita itu dan menciumnya.
"Kenapa tangannya bau balsem? Orang kaya pakai balsem juga?" Rio agak kaget dengan bau yang cukup menyengat tercium saat mencium tangan wanita itu.
"Mau ketemu sama Mbak Risa ya mas?" Tanya wanita itu dengan ramah.
"Heh? Kok dia manggil anaknya sendiri kayak gitu?" Rio keheranan.
"Masuk dulu, mas. Kebetulan Nyonya sama Mbak Risa sudah menunggu di dalam, mari." Wanita itu membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan Rio ke dalam. Ternyata eh ternyata, Rio salah-sangka barusan.
"Ya elah, gua kirain dia emaknya Bu Risa!" Ucap batin Rio malu sendiri. Untung saja tadi dia gak manggil Tante!
...****************...
Rio mengikuti wanita tua itu yang ada kemungkinan adalah asisten rumah-tangga di situ atau malah dia beneran tukang urut aja.
Ia berhenti di sebuah ruangan dimana Risa sedang duduk di sana bersama seorang wanita lain. Kali ini Rio yakin, wanita itu pasti ibunya, Bu Risa. Dia tampil sederhana tapi tetap elegan dan jujur saja masih terlihat cantik dan tubuhnya masih ideal meski sudah berumur.
"Silahkan Mas, jangan malu-malu," ujar wanita tua tadi memberi sedikit dorongan agar Rio berjalan mendekat.
Rio menarik napasnya dalam-dalam dan kemudian mendekati dua orang wanita yang kini pandangannya teralih kepada kehadirannya.
"Selamat malam Tante, Bu Risa," ucap Rio yang berdiri hanya beberapa langkah dari keduanya.
"Kamu Rio?" Wanita elegan itu segera berdiri dari tempat duduknya. Ia terlihat ramah saat menyapa.
"I-iya Tante, saya Rio," jawabnya sambil mengernyitkan dahi.
"Ayo kemari, Risa sudah cerita tentangmu." Senyuman wanita itu mengembang dan meminta Rio untuk duduk.
"Oh, iya makasih, Tante." Rio tanpa ragu langsung mendekat dan kemudian duduk di sofa empuk berwarna putih itu.
"Bunga itu untuk Risa?" Tanya si wanita melirik ke arah seikat mawar merah yang sedang dipegang oleh Rio.
Rio menatap ke arah Risa yang kelihatannya cuek. Dia bahkan sudah mendengus. Saat mendengar kalau bunga itu untuknya.
"Kalau dia gak suka harusnya bilang, kenapa malah nyuruh gua bawa beginian?" Rio sepertinya menyadari kalau dia hanya sedang dikerjai oleh Risa.
"Bukan, bunga ini untuk Ibu," jawab Rio yang langsung memberikan seikat bunga tersebut kepada wanita itu yang langsung kaget.
"Ini beneran buat saya??" Wanita itu tampak malu-malu menerima hadiah seikat bunga yang diberikan oleh Rio.
"Iya, itu untuk Tante, sama-sama semakin cantik di usia matang," ujar Rio yang sebenarnya asal sebut. Dia udah kehabisan ide kata soalnya.
"Dasar gombal !" Risa mendecih dalam hati.
"Astaga, bisa-bisanya gua malah gombalin emak-emak !" Rio shock sama kelakuannya sendiri.
"Hahaha, gak apa-apa, paling tidak dia mencoba untuk baik." Batin ibunya Risa senyum-senyum sendiri. Jarang-jarang dia dipuji sama anak muda kayak begini, plus dikasih bunga mawar merah lagi. Siapa yang enggak kepincut?
"Bu, tolong bawa bunganya ke kamar saya, di taro di vas bunga, yang rapih ya." Bunga itu diserahkan kepada wanita tua yang tangannya bau balsem tadi.
"Baik, Nyonya besar," ucap si bibi yang langsung mengambil bunga tersebut dan membawanya keluar ruangan.
"Sekalian bikinin teh manis hangat tiga!" ujarnya lagi setengah berteriak.
"Jadi, saya dengar apa benar kamu kemari ingin melamar anak saya, Marisa?" Pembicaraan kali ini menjadi lebih serius dan ke inti permasalahannya.
"I-iya Tante, sa-saya kemari ma-mau umm, me-melamar Bu Risa...," ucap Rio malah terbata-bata.
"Astaga! Gugup banget gua !!"
"Sebelumnya saya mau tanya, apa malam itu kalian benar melakukannya?"
Pertanyaan itu sontak membuat kedua manusia yang duduk di sana jadi salah-tingkah. Wajah keduanya memerah.
Nah loh, gimana cara mereka menjelaskannya nanti?
.
.
.
BERSAMBUNG....