"Kau tidak punya pilihan lain selain menikah dengan ku Embun."ucap Alfaro.
Sementara gadis yang kini tengah menundukkan kepalanya itu tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Hanya karena satu peristiwa yang terjadi di malam kelahirannya gadis itu harus terjebak bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Alfaro masih sudah berada di perusahan dia tengah berkutat dengan pekerjaan nya yang menumpuk di meja nya.
Hari ini terasa sangat berat karena Alfaro tidak bisa fokus pada pekerjaannya, pikirannya terganggu karena bayangan tentang Embun yang kemarin malam berbalas chat dengan pria lain.
Sampai saat jam istirahat tiba Alfaro langsung memeriksa cctv rumah nya dan dia menemukan Embun tengah berada di sebuah ruangan yang terdapat beberapa tumpukan bahan dan dua buah mesin jahit yang berbeda fungsi nya itu.w
Hari ini dia terlihat sibuk menata barang-barang yang baru saja datang dan tidak lupa laptop barunya yang kini berada di sebuah meja kecil di ruangan tersebut.
Alfaro pun langsung bergegas pergi untuk makan siang bersama asisten pribadi nya di sebuah restaurant yang cukup jauh dari area kantor nya.
saat tiba di sana dia melihat ada pria yang semalam menjadi penyebab perdebatan antara dirinya dengan Embun.
Alfaro menatap kearah pria yang kini tengah duduk berhadapan dengan klien nya itu. Sampai saat asisten pribadinya mengatakan bahwa menu makanan yang mereka pesan sudah terhidang.
Asisten pribadi nya yang bernama Edo itu terlihat heran bisa-bisanya bos nya itu tidak konsentrasi dan melamun di saat dia sedang berada di keramaian.
"Bos baik-baik saja?"tanya Edo
"Memangnya aku kenapa? aku hanya sedang melihat pria yang sudah membuat fokus istriku teralihkan."ucap Alfaro jujur.
"Boleh saya tau siapa dia supaya bisa mengurus nya."ucap Edo.
"Orang nya ada di pojok sana dia Alvin."ucap Alfaro.
Edo pun melirik kearah yang ditunjukkan oleh Alfaro, dia melihat pria tampan yang tengah meeting penting bersama dengan klien nya itu.
"Bos tidak ingin berikan peringatan padanya."ucap Edo yang heran kenapa bosnya itu tidak bertindak tidak seperti biasanya.
"Aku masih memberikan toleransi untuk saat ini, tapi jika dia kembali menghubungi istriku maka aku akan pastikan bahwa ia akan kehilangan segalanya."ucap Alfaro yang kini mulai menyantap makan siang nya itu.
Setelah dia selesai makan siang dia kembali melihat cctv tapi tidak melihat istrinya ada di dalam kamar atau di ruang lainnya, dia terlihat gusar hingga kemudian dia melihat teras depan rumah nya ternyata Embun tengah duduk di sana entah apa yang dia lakukan yang jelas dia tidak melihat pergerakan dari Embun sampai dia melihat seseorang menghampiri nya dan memberikan sebuah paket.
Alfaro tidak tahu apa itu karena setahu dirinya tidak ada sembarang orang yang akan masuk ke dalam komplek perumahan tersebut.
Embun pun masuk kedalam rumah dan membuka isi paket nya yang ternyata sebuah handphone, pria itu tidak tau siapa yang mengirim sebuah handphone pada istrinya itu hingga Alfaro pamit pada Edo dan meminta Edo untuk menghandle pekerjaan nya karena dia akan menemui istrinya itu.
Alfaro masih terus bertanya-tanya hingga saat ia tiba di depan pintu masuk dia langsung masuk kedalam rumah dan mencari keberadaan Embun.
"Sayang kamu dimana?"ujar Alfaro yang kini mencari keberadaan istrinya.
"Aku disini."ucap Embun yang kini terlihat tengah sibuk dengan gunting yang ia gunakan untuk memotong kain.
"Bisa berhenti dulu?"ujar Alfaro.
"Sebentar Al ini tanggung sedikit lagi."ucap Embun yang akhirnya menyelesaikan memotong kain tersebut.
"Siapa yang datang tadi dan apa yang diberikan oleh nya."ucap Alfaro yang langsung mengintrogasi Embun sambil mendekat dan merangkul pinggang istrinya itu.
"Satpam kompleks katanya ada kiriman aku juga tidak tau siapa yang kirim isinya ponsel."ucap Embun jujur.
"Hmm...lain kali jangan terima benda sembarangan kamu juga baru disini takutnya ada orang yang berniat jahat."ucap Alfaro yang kini meraup bibir istrinya yang sudah menjadi candu baginya hingga beberapa detik kemudian ia baru melepaskan nya, dan Embun hampir kehabisan nafas.
"Sudah makan hmm... Kamu lagi buat apa?"ucap Alfaro.
"Aku buat dress."jawab istri cantik nya itu.
"Hmm... kamu pintar pilih bahan tapi desain nya buat sendiri atau jiplak karya orang?"ujar Alfaro.
"Kamu lihat saja Al, disana aku sedang buat apa."ucap Embun yang malas menjelaskan semuanya.
"Hmm...mau dikasih brand apa?"ucap Alfaro yang kembali bertanya.
"Aku juga belum tau Al."ucap Embun.
"Begini saja sayang kamu buat apapun itu biar kita kerja sama kamu juga bisa dapat penghasilan di waktu luang mu."ucap Alfaro yang yakin bahwa istrinya sangat berbakat.
"Tidak Al, aku belum bisa memutuskan lagipula ini baru mulai kita lihat saja nanti."ucap Embun.
"Ah baiklah babe kamu bisa pikirkan itu nanti sekarang temani aku istirahat karena nanti malam aku harus pergi ke luar kota."ucap Alfaro.
"Baiklah."ucap Embun yang akhirnya merapihkan semuanya sebelum dia keluar dari dalam ruangan tersebut.
"Sayang kamu ingin oleh-oleh apa hmm?"ucap Alfaro.
"Tidak ingin apa-apa Al, kamu hati-hati saja dijalan."ucap Embun yang membuat Alfaro semakin merasa sayang pada Embun karena dia berfikir Embun sudah mulai membuka hatinya untuk dirinya.
Mereka pun pergi ke kamar, Alfaro kini menatap ke sekeliling ruangan tempat mereka berada saat ini. Embun membantu melepaskan jas yang masih Alvaro kenakan begitu juga dasi dan yang lainnya.
"Thanks sayang."ucap Alfaro yang kini mengecup bibir Embun dengan lembut.
"Sama-sama."lirih Embun yang kini meletakkan jas Alfaro di gantungan khusus yang ada di sana.
"Sayang aku sangat merindukan mu."ucap Alfaro.
"Hmm..."lirih Embun.
"Bagaimana apa kamu betah disini?"ucap Alvaro yang kini menarik Embun keatas pangkuannya dengan lembut.
"Hmm..."lirih Embun.
"Kamu sariawan sayang kenapa dari tadi jawaban mu hanya hmm..."lirih Alfaro yang kini membingkai wajah Embun dengan lembut.
"Al apa yang kamu harapkan dariku kamu tau sendiri aku tidak punya apapun dan seperti yang kamu tau aku adalah anak haram."ucap Embun yang mencoba untuk mencari tahu tentang itu.
"Bukankah sudah kukatakan bahwa aku mencintaimu. Lalu alasan apa lagi yang kamu ingin aku katakan?"ucap Alfaro.
"Aku ingin kita menikah terserah pernikahan itu resmi atau secara siri aku tidak ingin terus berbuat dosa sampai waktu yang akan ditentukan nanti."ucap Embun.
"Jangan harap ada pernikahan resmi Embun sayang kamu tidak akan pernah diakui oleh mereka dan kamu hanya akan mendapatkan rasa kecewa, lagipula kita sudah menikah secara kontrak dan aku mencintaimu apa itu kurang?"ucap Alfaro yang kini menatap lekat wajah cantik itu.
Embun pun hanya diam dia tau dia tidak akan pernah mendapatkan apapun dari apa yang dia ungkapkan saat ini karena cinta pria itu tidak sempurna untuk nya.
...🧸🧸🧸...
Satu minggu sejak Alfaro pamit dia tidak pernah datang atau pun memberi kabar pada Embun dan Embun yang sadar akan posisinya itu hanya bisa diam dan menjalani harinya dengan berkarya, dia sudah membuat empat gaun dan empat setelan jas, diantara jas yang iya buat ada jas blazer jubah dengan warna merah maroon yang dipadukan dengan warna hitam di bagian kearah nya dan juga di bagian saku yang membuat siapapun pasti sangat mengagumi nya.
Tidak hanya itu, disana juga ada gaun pesta berwarna senada dan itu untuk pasangan yang sengaja dia buat, dan tidak lupa dengan beberapa dress yang bisa digunakan untuk acara formal ataupun harian.
Dan saat ini dia sedang membuat rok midi dengan belahan samping berwarna hitam dan aksen pita di sudut belahan yang hampir memperhatikan paha atas itu, dan ada crop top yang akan menjadi pasangan dari rok midi tersebut.
Tidak sampai dua jam dia sudah selesai menjahit nya hingga suara langkah sepatu terdengar nyaring di rumah yang sepi itu.
"Sayang kamu dimana."ucap seseorang yang sudah tidak asing lagi bagi Embun yang kini menghampiri pria yang baru saja datang dengan asisten pribadinya yang kini tersenyum manis padanya.
"Ini diletakkan dimana nona Embun?"tanya Edo.
"Ah disana saja."jawab Embun yang kini berada di dalam dekapan Alfaro.
"I miss you so much babe."ucap Alfaro yang kini mengecup kening Embun dan itu membuat Edo baper sebelum dia akhirnya beranjak pergi.
"Hmm... apa kabar mu Al?"tanya Embun.
"Aku sengsara karena jauh darimu my dear."ucap Alfaro yang kemudian meraup bibir manis yang selama ini sangat Alfaro rindukan.
"Hmm... sudah makan?"tanya Embun lagi.
"Belum tapi aku ingin makan kamu dulu honey."ucap Alfaro yang tidak meminta persetujuan pada Embun dan langsung membawa istrinya ke atas menuju kamar mereka.
"Al aku belum mandi aku baru selesai bekerja."ucap Embun.
"Tidak apa-apa kamu masih sangat wangi sayang aku benar-benar sangat merindukan mu."ucap Alfaro yang kini membuka kemeja yang digunakan oleh Embun yang kini menampakkan dua gunung kembar yang sangat menggoda iman itu, hingga Alfaro menelan ludah nya dengan cepat dan langsung membuka pelindung yang ada itu.
Sampai saat mereka berdua benar-benar larut dalam percintaan, Alfaro bahkan tidak memberikan Embun kesempatan untuk beristirahat, hingga saat ia puas dan sudah berulang kali menuju puncak dan Embun pun langsung terlelap dalam tidurnya saking lelahnya setelah percintaan yang telah menghabiskan waktu berjam-jam itu, seakan Alfaro tengah balas dendam padanya.
Alfaro pun menarik selimutnya menyelimuti tubuh nya dengan tubuh Embun yang sama-sama polos di sore hari itu hingga akhirnya Embun terjaga dia melihat kamarnya sudah gelap dan Alfaro masih terlelap dalam tidurnya, dia pun bangkit dan berjalan menuju kamar mandi meskipun tubuhnya terasa remuk redam tapi dia harus menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
Embun yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian pun langsung bergegas menghampiri Alfaro setelah dia menyiapkan air untuk mandi Alfaro.
"Al bangun sudah malam ayo mandi dulu aku sudah siapkan air hangat untuk mu mandi."ucap Embun dengan lembut.
"Hmm...jam berapa ini."ucap Alfaro yang kaget karena saat ini dia sudah janji akan makan malam bersama tunangannya.
"Baru pukul 18:30 aku masak dulu untuk makan malam."ucap Embun.
"Tidak usah sayang untuk kamu saja aku harus segera pulang."ucap Alfaro yang tidak mendapatkan respon apapun dari Embun hanya tatapan lekat dari mata sayu itu.
"Aku ada janji makan malam bersama keluarga ku, maaf mungkin lain kali aku akan temani kamu makan malam."ucap Alfaro yang tidak tega dengan Embun.
"Setidaknya kamu mandi dulu aku siapkan baju nya."ucap Embun.
"Terimakasih sayang baiklah aku mandi dulu."ucap Alfaro.
Sementara Embun langsung turun kebawah mengambil setelan jas yang dia buat beberapa hari lalu.
Tidak lama dia kembali dengan setelan jas yang ia ambil, dan saat itu Alfaro baru keluar dari dalam kamar mandi dia terpaku di tempatnya saat melihat apa yang Embun bawa.
"Ini mungkin tidak memiliki brand tapi ini aku buat dengan tangan ku sendiri siapa tau kamu suka."ucap Embun yang kini menggantung setelan jas itu di tempat nya.
"Sayang ini sangat keren, kamu bisa buat semua ini sebaiknya segera berikan keputusan untuk tawaran ku saat itu.*ucap Alfaro yang kini melihat hasil karya cemerlang istrinya itu.
"Tidak Al aku sudah putuskan untuk buat butik sendiri setelah nanti aku punya uang."ucap Embun yang tidak ingin bekerja sama dengan suaminya itu meskipun keuntungan yang ditawarkan sangat besar.
"Baiklah terserah kamu sayang dan aku akan menjadi pelanggan pertama mu."ucap Alfaro yang kini tersenyum manis pada Embun.
"Ayo gunakan sebelum terlambat."ucap Embun lagi.
Pria itu pun menahan langkah Embun yang kini berbalik pergi meninggalkan dirinya.
"Bantu aku untuk mengenakan nya sayang."ucap Alfaro.
Embun pun memejamkan matanya kemudian berbalik dan membantu Alfaro berpakaian hingga Alfaro benar-benar mengagumi hasil karya yang membuat dia terlihat jauh lebih tampan dari biasanya itu.
"Sudah selesai terimakasih babe aku sangat mencintaimu."ucap Alfaro yang kini merangkul pinggang istrinya dan memberikan kecupan mesra di bibir Embun.
"Aku pergi dulu hati-hati di rumah ."ucap Alfaro yang kini membawa istrinya kedalam dekapannya.
"Kamu juga hati-hati di jalan."ucap Embun.
Embun pun berjalan berdampingan dengan Alfaro yang kini turun kebawah bersama, Embun yang hendak membuat makan malam untuk nya, sementara Alfaro bergegas pergi setelah Embun mengantar dia sampai carport rumah nya itu.
Alfaro melambaikan tangan sebelum dia tancap gas, sebenarnya dia tidak ingin pergi tapi sudah terlanjur buat janji karena ibunya selalu memaksa nya.
Alfaro sesekali menatap kearah spion melihat pakaian yang ia kenakan dia benar-benar sangat menyukai apa yang ia kenakan saat ini karena itu dibuat oleh istrinya sendiri untuk dirinya.
Sampai saat Alfaro tiba di restaurant tempat mereka janjian, Alfaro melihat Alvin baru saja akan keluar dan dia mendengar percakapan pria itu dengan orang di sebrang telfon.
"Aku sudah bayar kalian dengan harga tinggi, masa untuk menemukan seorang gadis saja kalian tidak becus. Aku tidak mau tau jika dalam satu minggu kedepan kalian tidak juga berhasil aku akan meminta uang itu kembali."ucap Alvin.
ajaran dari mana itu ????????