Li Fengran tidak pernah menyangka jika setelah mati, dirinya akan pergi ke dunia lain dan menjadi peserta kompetisi pemilihan ratu. Untuk melarikan diri, dia mencoba yang terbaik untuk gagal, namun perbuatannya justru menarik perhatian Raja dan Ratu Donghao dan membuatnya terlempar ke sisi Raja Donghao.
Hidup sebagai pendamping di sisi Raja, Li Fengran berhadapan dengan tiga siluman rubah yang terus mengganggunya dan menghadapi konflik istana serta Empat Wilayah.
Akankah Li Fengran mampu bertahan di istana dan membuang niatnya untuk melarikan diri? Akankah ia mengabaikan kasih sayang Raja dan memilih mengamankan dirinya sendiri?
*Cover by Pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhuzhu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TCQ 5: Tidak Mau Ikut Pemilihan
“Nona, mengapa kita kembali kemari?”
Xiang Wan tidak mampu memahami jalan pikiran majikannya. Meskipun biasanya majikannya tidak masuk akal dan sangat nakal, kali ini rasanya berbeda.
Beberapa jam lalu dia masih bersikeras pergi dari sini, melarikan diri dari pemilihan terlepas apapun resikonya nanti. Kini, dia justru membawanya kembali.
“Istana ini seperti labirin. Aku tidak sanggup menyusurinya lebih lama.”
“Lalu, apakah Nona akan tetap mengikuti pemilihannya?”
Astaga, Li Fengran melupakan itu!
Benar, pemilihannya. Bagaimana dengan pemilihannya? Berdasarkan informasi dari Xiang Wan, pemilihan itu akan dimulai hari ini.
Li Fengran tidak berniat ikut campur dalam pemilihan itu, dia juga tidak berniat menjadi ratu. Dirinya datang kemari karena suatu kecelakaan, seharusnya hal-hal terkait dengan tubuh ini tidak ada hubungannya dengannya.
Itu hanya sebuah momen yang diciptakan oleh tubuh asli ini sebelum Li Fengran datang. Jika pemilik aslinya sudah mati, bukankah momen kontraknya juga berakhir? Ini adalah kesempatan Li Fengran untuk melarikan diri, tapi jika melihat waktu yang ia punya, itu tidak akan sempat.
“Tidak. Aku ingin tidur.”
Xiang Wan menarik napas lega. Menjadi istri raja bukanlah pilihan yang baik. Xiang Wan lebih suka majikannya tidak menikah ketimbang harus menjadi seorang ratu.
Alangkah baiknya jika bisa menghilang sekarang. Xiang Wan tidak rela majikannya menjadi orang yang terkurung dalam sangkar.
Mungkin, Istana Changsun sementara adalah tempat yang aman. Xiang Wan meletakkan kembali barang bawaan mereka di meja, terduduk di kursi dan tanpa sadar tertidur.
Mantel tebal masih menempel di tubuhnya. Sementara itu, Li Fengran sudah telentang di ranjang, memejamkan mata, dan berharap mimpinya segera berakhir.
“Ya Tuhan, aku ingin pulang! Masih banyak film yang belum kutonton di bioskop. Masih banyak drama bertabur serbuk berlian yang belum kusaksikan. Oh, bagaimana dengan uang-uangku? Mereka pasti menangis karena tidak sempat kubelanjakan!”
Li Fengran meracau seperti orang gila. Malam pertama yang ia lalui di dunia dongeng ini begitu melelahkan. Sekali datang, dua masalah besar menghampirinya tanpa belas kasihan. Dalam hidupnya yang tenteram, aman, damai dan sentosa di dunia modern, dia tidak pernah merasa selelah ini.
Li Fengran punya pekerjaan mapan, karirnya di dunia perkantoran melejit dan sangat stabil. Apartemen mewah, mobil listrik canggih, barang-barang branded, semuanya dia miliki.
Li Fengran secara mandiri membangun sendok emas untuk digunakan olehnya. Sekarang, semua itu sudah hilang.
Di sini, dia bukan hanya orang asing. Menjadi peserta pemilihan calon ratu, dipaksa pergi ke ibukota yang besar dan tinggal di istana bukanlah pilihan hidup yang tepat.
Seperti yang dikatakan Xiang Wan, ada banyak gadis dari wilayah lain yang dikirimkan. Mereka jauh lebih berbakat dan lebih kompeten. Jika Li Fengran ikut serta, bukankah ia akan menjadi bahan tertawaan?
Apalagi, dia tidak tahu seperti apa kompetisi zaman kerajaan. Bukankah itu hanya akan menjadikan dirinya sebuah lelucon yang konyol?
“Tidak, aku tidak akan mengikutinya. Li Fengran, sekarang pejamkan matamu, tidur, dan bangunlah setelah mimpi buruk ini berakhir.”
Matahari terbit terlalu cepat. Salju-salju yang turun semalam menggunung di berbagai penjuru. Ini adalah suasana yang tepat untuk menenggelamkan diri kembali ke dalam mimpi, membenamkan diri di bawah selimut dan bantal disertai tungku pembakaran yang hangat.
Tapi, semua orang dipaksa bangun pagi hari ini. Kompetisi pemilihan calon ratu akan dimulai pukul delapan pagi. Istana Linglong yang digunakan sebagai tempat kompetisi sudah sibuk sejak pukul lima pagi.
Kejadian pecahnya kolam beku milik raja sepertinya tak membuat mereka kelimpungan. Tidak, lebih tepatnya, mereka mungkin tidak tahu ada hal yang lebih luar biasa dari sekadar kolam beku yang pecah.
Semua menteri telah tiba lebih awal dan sudah duduk di tempatnya masing-masing. Gadis-gadis utusan dari Empat Wilayah, yang menjadi peserta pemilihan sudah berkumpul di aula.
Mereka menggunakan gaun dan riasan terbaik untuk memikat hati orang-orang. Ibukota selalu menarik, orang-orang di istana juga sangat menarik.
Mereka menaruh rasa hormat yang tinggi ketika seorang wanita berpakaian hijau tua dengan aksesoris berupa mahkota phoenix di kepala memasuki aula diiringi beberapa pelayan.
Jubah panjang wanita itu mengekorinya di belakang, menyapu lantai aula. Dia begitu anggun dan terlihat agung. Ada kemuliaan yang terpancar lewat fitur wajahnya yang dipolesi riasan sederhana.
“Salam kepada Yang Mulia Ratu,” semua orang membeo memberi salam, dengan postur tubuh khas penghormatan Donghao.
Ling Sui, Ratu Donghao yang terkenal dan sakit-sakitan ini, memberikan senyum indahnya pada orang-orang. Segera setelah mempersilakan hadirinnya kembali duduk, dia melontarkan beberapa kata pembuka yang sebetulnya sudah diketahui semua orang. Mereka bersikap seolah menerimanya hanya untuk memberikan rasa hormat padanya.
Sebelum semua orang merasa bosan, suara dari luar memecah konsentrasi dan membuyarkan kantuk mereka dalam seketika. Sosok berjubah naga bermahkota berjalan memasuki aula dengan langkah tegap tanpa ragu, dengan tatapan penuh dan tegas yang mempesona. Sosok itu kemudian duduk di satu-satunya tempat tertinggi di aula sekaligus di Donghao.
“Selamat datang, Yang Mulia Raja.”
Nangong Zirui mengibaskan jubahnya menyambut salam yang sudah sangat biasa baginya itu. Ekspresinya terlihat datar.
Ketika matanya tanpa sengaja memandang ratunya, dia berdehem kecil dan tidak bicara apa-apa. Sebagian orang yang punya sedikit keberanian berbisik membicarakan interaksi Raja dan Ratu mereka yang sangat kaku dan sedikit.
Ling Sui agak terkejut akan kedatangan Nangong Zirui, karena sejak kesepakatan pemilihan ini dibuat, Nangong Zirui sama sekali tidak pernah menanyakannya. Bahkan dia menyerahkan segala sesuatunya pada ratunya. Ratu Donghao tidak menduga bahwa di hari pembukaan pemilihan, suaminya datang dengan sukarela tanpa diduga.
“Beritahu semua orang siapa saja yang akan berpartisipasi dalam pemilihan ini,” ucap Ling Sui pada pelayannya.
Sebuah dekret diserahkan dari tangannya kepada pelayan, kemudian seorang menteri maju menerima dekret itu. Itu adalah Menteri Urusan Wilayah, yang menjadi koordinator hubungan Empat Wilayah dengan Raja Donghao. Pria setengah tua itu segera membacakan nama-nama gadis bangsawan yang ikut dalam kompetisi kali ini.
“Su Min dari Beichuan,” setelah itu, gadis berpakaian biru muda berdiri dan memberi hormat pada semua orang sebagai perkenalan dirinya.
“Fei Jia dari Nanchuan,” gadis berpakaian putih tulang berdiri dan melakukan ritual yang sama.
“Shen Lihua dari Zichuan,” gadis berpakaian kuning berdiri dengan senyum merekah yang anggun.
“Li Fengran dari Dongchuan…”
Hening. Semua orang saling pandang. Menteri Urusan Wilayan mengulanginya lagi. “Li Fengran dari Dongchuan…”
Tidak ada yang maju. Perbincangan mulai dipicu dari sebuah pembicaraan mengenai utusan yang satu itu.
Para gadis dari tiga wilayah juga saling melemparkan pandangan dan bertanya. Ling Sui mengerutkan dahinya, meminta penjelasan kepada Menteri Urusan Wilayah.
Menteri Urusan Wilayah mulai berkeringat. Bukan hanya mendapat tatapan menukik dari ratunya, dia juga mendapat tatapan yang tak kalah tajam dan lebih dingin dari rajanya. Belum lagi tatapan semua orang yang juga meminta penjelasan padanya. Menteri Urusan Wilayah merasa dikuliti hidup-hidup.
“Li Fengran dari Dongchuan…”
“Ck… Kamu membuang waktuku,” decakan malas, yang terucap dengan nada datar namun sangat menusuk di telinga seketika menggema.
Menteri Urusan Wilayah langsung bersimpuh memohon ampun. Nangong Zirui menghela napas malas, dengan gerakan mata memerintahkan Wang Bi untuk bertindak. Tapi sebelum itu, Ling Sui bicara padanya lebih dulu.
“Yang Mulia, apakah Yang Mulia ingin menunggunya?”
Nangong Zirui menatap Ling Sui, kemudian dia berkata, “Terserah kamu. Lagipula pemilihan ini diadakan olehmu.”
Ling Sui mengangguk kecil, kemudian memerintahkan pelayan untuk pergi ke Istana Changsun. Kompetisi ini sangat penting, semua peserta harus hadir.
Apalagi, Nangong Zirui juga ada di sini untuk menyaksikan acara pembukanya. Yah, setidaknya dia harus tahu, seperti apa calon ratu barunya nanti, kan?
“Apakah utusan Dongchuan ini tidak tahu malu? Dia berani membuat Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu menunggu?” cibir salah satu menteri.
“Mungkin dia tidak berniat mengikutinya,” ucap yang lain.
“Tidak menuruti dekret adalah pelanggaran. Tuan Besar Dongchuan tidak akan sanggup menanggung hukuman dari Yang Mulia.”
“Mengapa Tuan Besar Dongchuan mengirimkan seseorang yang kurang ajar seperti itu?”
Bisik-bisik itu meskipun sangat jauh, tapi dengan gelagatnya, Ling Sui dapat melihatnya dengan jelas. Mendapat tatapan yang berarti teguran, orang-orang yang bicara kembali menutup mulut.
Ling Sui juga bertanya-tanya mengapa Dongchuan mengirimkan orang seperti itu, padahal sebelumnya dia sudah memberikan kriteria untuk wanita yang pantas menjadi peserta.