Emma tak pernah menyangka akan mengalami transmigrasi dan terjebak dalam tubuh istri yang tak diinginkan. Pernikahannya dengan Sergey hanya berlandaskan bisnis, hubungan mereka terasa dingin dan hampa.
Tak ingin terus terpuruk, Emma memutuskan untuk menjalani hidupnya sendiri tanpa berharap pada suaminya. Namun, saat ia mulai bersinar dan menarik perhatian banyak orang, Sergey justru mulai terusik.
Apakah Emma akan memilih bertahan atau melangkah pergi dari pernikahan tanpa cinta ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Sergey berdiri lebih dulu, lalu tanpa banyak bicara, ia meraih tangan Eleanor dan menariknya dengan lembut. Eleanor terkejut sejenak, namun ia tidak menolak.
Ia hanya bisa mengikuti langkah suaminya keluar dari ruang makan, meninggalkan Viktor dan Natalia yang hanya menatap kepergian mereka dengan ekspresi sulit diartikan.
Begitu mereka melewati pintu utama, udara malam yang sejuk menyambut. Sergey masih menggenggam tangan Eleanor, membawanya menuruni anak tangga menuju halaman. Lampu-lampu taman berpendar lembut, menerangi jalan setapak menuju mobil mereka.
Eleanor melirik Sergey yang berjalan di sampingnya dengan rahang mengatup. Ada ketegangan di wajahnya, seolah pikirannya tengah dipenuhi sesuatu yang berat.
"Sergey," panggil Eleanor pelan, mencoba menghentikan langkahnya.
Sergey akhirnya berhenti, tapi ia tidak langsung menoleh. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya menatap Eleanor.
"Aku ingin segera pergi dari sini," ucapnya, suaranya terdengar lebih lembut, tetapi tetap mengandung ketegangan yang tersisa dari percakapan di dalam.
Eleanor diam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. Ia tidak tahu pasti apa yang terjadi antara Sergey dan keluarganya, terutama adiknya, tapi ia bisa merasakan ketidaknyamanan yang begitu nyata dari sikap suaminya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Sergey membukakan pintu mobil untuknya. Eleanor masuk, dan tak lama kemudian, Sergey mengitari mobil dan duduk di kursi pengemudi.
Saat mesin mobil dihidupkan, Eleanor kembali melirik Sergey. "Kamu tidak senang adikmu kembali?" tanyanya hati-hati.
Sergey tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan sebelum akhirnya berkata, "Aku tidak tahu apakah ‘kembali’ adalah kata yang tepat."
Eleanor terdiam, ia bisa melihat jelas nada tidak suka yang Sergey keluarkan. Tidak ingin membahasnya lebih panjang, Eleanor lebih memilih diam dan membiarkan Sergey dengan pemikirannya sendiri.
***
Di dalam kamar, Eleanor mulai menggeledah isi lemarinya. Ia menyingkirkan beberapa pakaian yang menurutnya sangat terbuka, pakaian-pakaian itu ia masukan ke dalam koper lalu menyeretnya ke sudut ruangan.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tangannya kembali masuk ke dalam lemari, mencari pakaian lain yang menurutnya kurang pantas untuk segera di masukan ke dalam koper lainnya.
Di balik tumpukan sweater tebal, jari-jarinya menyentuh sesuatu yang familiar. Sebuah kotak kayu kecil, usang, dengan ukiran halus di bagian tutupnya. Eleanor mengangkatnya keluar. Ia duduk di tepi ranjang, menatap kotak itu sejenak sebelum akhirnya membukanya.
Di dalamnya, tersimpan secarik kertas tua, seuntai kalung perak dengan liontin kecil, dan sebuah foto yang sudah mulai pudar. Jari-jarinya gemetar saat ia mengambil foto itu.
"Siapa orang ini?" gumam Eleanor.
Eleanor mengernyitkan dahi, tidak ada ingatan apa pun tentang sosok gadis yang ada di dalam foto tersebut. Ia semakin di buat heran karena foto itu ada di kamarnya, dan jelas sekali bahwa itu bukan adiknya terlebih ia merupakan anak tunggal.
"Apa hubungannya foto ini denganku?"
Di tengah rasa bingung, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dari luar. Sontak Eleanor langsung menoleh, ia melihat sosok Sergey berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Kamu belum memberitahuku, dari mana kamu mendapatkan mobil itu?" tanya Sergey, ia bersandar pada pintu.
"Kenapa aku harus memberitahumu?" Eleanor menatap Sergey heran. "Bukannya kamu pernah bilang bahwa kamu tidak mau tahu urusanku?"
"Jawab saja, dari mana kamu mendapatkan mobil itu?" desak Sergey tak sabar.
Eleanor menghela napas panjang lalu menjawab, "Dari ayahku, dia memberikannya padaku."
"Kamu dari sana?" reaksi Sergey tampak sangat terkejut.
Eleanor menghela napas panjang, merasa lelah dengan pertanyaan Sergey.
"Untuk apa kamu datang ke rumah orang tuamu tanpa mengajakku?" tanya Sergey, bersandar di ambang pintu dengan tatapan tajam.
Eleanor menatapnya dengan kening berkerut. "Kenapa aku harus mengajakmu? Bukannya kamu sendiri yang bilang tidak mau tahu urusanku?"
Sergey mendengus pelan, lalu melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. "Jawab saja, Eleanor. Apa yang kamu lakukan di sana?"
Eleanor menyilangkan tangan di dada. "Aku hanya menemui ayahku. Itu saja."
Sergey memperhatikan ekspresinya, lalu matanya beralih pada kunci mobil di meja. "Jadi, mobil itu... dari dia?"
Eleanor mengangguk tanpa ragu. "Ya. Dia memberikannya padaku."
Ekspresi Sergey berubah. Ada ketegangan di wajahnya yang sulit dijelaskan. "Kamu tahu apa artinya itu?"
Eleanor menelan ludah, merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Maksudmu apa?"
Sergey mendekat selangkah, menatapnya lurus. "Kalau dia memberimu sesuatu, berarti dia menginginkan sesuatu darimu. Kamu tidak seharusnya menerimanya begitu saja."
Seketika tawa Eleanor pecah, wanita itu meletakan kembali liontin dan juga foto yang sempat ia keluarkan ke dalam kotak kayu. Lalu, ia beranjak dan mendekati Sergey.
Eleanor terpaksa mendongak, karena tingginya hanya sebatas pundak pria itu. Mereka saling bertatapan untuk beberapa saat, hingga akhirnya suara Eleanor memecahnya lebih dulu.
"Tentu saja, aku sudah mengatakan niatku bahwa aku menerima tawaran ayah untuk meneruskan perusahaan." Jawab Eleanor santai.
"Apa?" Sergey menegakan tubuhnya dan menepuk kedua pundak istrinya tiba-tiba. "Lea, apa kamu tahu... kandidat yang sempat di kabarkan untuk menggantikanmu itu orang yang bengis."
"Really? sebengis apa? apakah dia lebih bengis darimu?" terdengar nada mengejek dalam cara bicara wanita itu.
Sergey menghela napas berat, jari-jarinya masih mencengkeram pundak Eleanor seolah ingin memastikan wanita itu tidak mengatakan sesuatu yang konyol.
"Lea, ini bukan lelucon. Orang itu, Noah... dia bukan hanya bengis. Dia kejam, licik, dan tidak segan-segan menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalannya."
Eleanor tersenyum tipis, seakan tidak terpengaruh oleh peringatan Sergey. "Lalu? apa itu berarti aku harus mundur dan menyerahkan segalanya begitu saja?"
Sergey menatapnya dalam. "Ini bukan hanya tentang perusahaan, Eleanor. Ini tentang keselamatanmu."
Eleanor mendengus kecil, lalu perlahan menyingkirkan tangan Sergey dari pundaknya. "Aku tidak selemah yang kamu kira, Sergey. Lagipula, aku yakin ayah tidak akan menyerahkan posisiku jika dia tahu aku tidak bisa menghadapinya."
Sergey mengusap wajahnya, frustrasi. "Lea, kamu tidak mengerti. Noah bukan orang yang bermain bersih. Begitu dia tahu kamu sudah resmi mengambil alih perusahaan, dia tidak akan tinggal diam. Kamu akan jadi target berikutnya."
Eleanor mengangkat dagunya sedikit, matanya menantang. "Biar saja. Kalau dia ingin bermain kotor, aku akan memastikan dia menyesal telah meremehkanku."
Sergey langsung terdiam. Di satu sisi, ia tahu Eleanor bukan wanita lemah. Dulu sebelum menikah, Eleanor adalah wanita independen yang tegas dan tidak takut dalam menghadapi masalah.
Tapi di sisi lain, ia juga tahu betapa berbahayanya Noah. Meski Noah merupakan sepupu Eleanor, tapi pria itu sangat membenci Eleanor.
"Lea, kenapa kamu bergerak sejauh ini?" tanya Sergey terlihat frustasi.
Sudut bibir Eleanor terangkat, ia menunjuk dada bidang Sergey kasar. "Karena aku bukan Eleanor yang dulu, aku tidak akan membiarkan orang-orang yang membenciku berhasil mengacaukan kehidupanku kali ini."
thor 😄😄😄😄😄😄